Maafkan Aku Bukan PNS..

1/06/2019
Kamu kerja dimana sekarang?loh kok ga jadi PNS?kan enak toh?
Memasuki dunia kerja yang mungkin bagi saya terbilang masih baru, baru 10 tahun menghirup aroma menjadi karyawan setelah 16 tahun mengenyam pendidikan.*ya ampun lama juga*. Jika ditanya apakah pekerjaan saya?saya dengan bangga menyebutkan saya seorang HRD.

Lalu pertanyaan selanjutnya yang tentu menyambung dari pertanyaan sebelumnya adalah "Kerja dimana emang?"

Saat menjawab kerja di perusahaan yang mungkin tidak familiar didengar dan diucapkan maka tak terhenti sampai disitu, pertanyaannya akan bergulir kepada "Kok kenapa ga jadi PNS saja?kan enak bla..bla.."

Pernahkah menerima pertanyaannya seperti itu?kalau saya sering banget bahkan bapak saya sendiri terus bertanya tiada henti "udah liat pengumuman CPNS belum?ayo ikutan".

Lalu dikepala saya akhirnya yang saya ingat PNS, PNS, PNS, PNS, PNS karena bapak juga kalau telepon seolah tiada pirtinyiin lain selain PNS.


Saya sendiri jujur tak menampik menginginkan status Pegawai Negeri Sipil menggunakan seragam, jam kerja tak selama di tempat swasta bahkan berbagai kompensasi yang menjanjikan bikin angan-angan mendadak setinggi langit. *bener ga yah? RUMPUT TETANGGA MEMANG SELALU LEBIH HIJAU :p

Sejak lulus kuliah saya sudah teramat RAJIN mengikuti tes CPNS, dari yang kirim lamaran via POS hingga lamaran online, dari tes ngurek-ngurek lembar jawaban sampe akhirnya merasakan tes CAT semuanya sudah saya ikuti. Hasilnya?alhamdulilah "Gagal Maning-Gagal Maning".

Baca ini lagi deh : selalu gagal tes kerja?yuk move on


Wow apa ga sakit hati tuh gagal terus?udah biasa hahaha. Tak banyak pula yang menawarkan masuk PNS berbayar saking terharu dengan kegagalan saya *kesian*. Padahal saya sendiri paling anti buat bayar-bayar gitu.


Maaf Aku Bukan PNS, curahan hati karyawan swasta,




Status PNS Bikin Bangga Keluarga


10 tahun bekerja di perusahaan swasta bahkan kini menjadi blogger yang mata duitan namun tetap status pekerjaan saya dimata bapak hanyalah BURUH PABRIK yang biasa banget.

Jujur saja saya sedih, bertahun-tahun saya mengenyam bangku pendidikan *rayap kali ah* mengukir prestasi dari juara 1 hingga wisudawan terbaik se-angkatan tetap tydack berarti buat bapak karena pekerjaan saya seperti ini.

Penghasilan saya memang PAS, pas bisa gaji ART, pas bayar sekolah, pas buat tabungan, pas buat cicilan, pas buat zakat, pas banget buat kasih sedikit ke ortu. Namun kembali lagi saya mensyukuri dengan pencapaian saya saat ini.

Saya merasa terbenam hanya dengan status pekerjaan yang tidak sesuai harapan bapak. Padahal kalau saya melihat dari kacamata pribadi saya, saya tidak merepotkan orang tua ditengah-tengah dahaganya dan kebimbangan rumah tangga saya yang perekonomiannya carut marut.

Yang saya ketahui masih ada anak yang sudah rumah tangga merongrong (bukan temennya Bona yah!) orangtuanya. Meminta belas kasih orangtuanya agar dibantu dalam perekonomian keluarganya.

Saya tydack begitu, bahkan akang suami juga mengajarkan saya untuk mandiri (ga tau deh dia bangga ga yah punya istri cem saya wkwkwk >> saya haus banget pengakuan :p

Disaat anak-anak lain masih minta-minta sama ortunya, Saya tidak pernah mengiba untuk hubungi orangtua dan melakukan drama dengan menangisi kesedihan perekonomian rumah tangga saya.

Bapak sama sekali tidak tahu kesedihan saya kecuali dia baca tulisan ini. Semakin menuntut status PNS semakin membuat saya enggan terima telepon bahkan sekedar basa basi bertanya kabar pun tak pernah saya balas lagi kecuali saya mengabarkan saya telah mentransfer sejumlah uang yang baginya mungkin kecil.

Saya kecewa saat tahu apapun semua yang bapak lakukan ternyata dengan lantang beliau bilang ke kakak saya "sudah tidak perlu bicara sama ademu tidak ada gunanya". Iya karena saya tidak punya penghasilan wah.

FYI, kakak saya adalah PNS di Bekasi. Betapa bangganya bapak mengumandangkan ke semua orang tentang pekerjaan kakak saya.

Saya menangis dalam diam meski bapak sudah meminta maaf karena itu, hal ini membuat saya semakin dan semakin menaruh jarak terlebih bapak memilih juga untuk menikah kembali dibandingkan dengan mendengarkan nasehat saya si bungsu yang terabaikan.

Saya masih ingat pulak, saat mengangkat teleponnya satu hari. Beliau membicarakan sodara saya yang bekerja di BUMN dan itu membanggakan secara tidak langsung isi pembicaraan telepon siang itu dia meremehkan saya.



Maafkan Aku Bukan PNS



Karena ambisi bapak yang seolah mewajibkan saya jadi PNS, membuat saya juga seolah mendikte Alloh menuntutNya dalam setiap doa. Saya ingin jadi PNS, iyah segitunya saya karena ingin membuktikan saya mampu membanggakan bapak.

Dalam doa yang saya lafalkan permohonan menjadi PNS adalah permohonan wajib yang tidak boleh saya lupakan.

Kenyataannya?saya gagal terus, dan kini hanya tersisa 3 tahun lagi untuk mewujudkan status PNS sesuai dengan ketentuan bahwa CPNS dibuka dengan batas minimal 35 tahun.

Saya tidak tahu apakah 3 tahun kedepan saya berhasil atau tidak karena tahun 2018 saja saya sudah menyerah dan merasa sia-sia menghabiskan berbelas-belas tahun mengejar untuk jadi PNS.

Saya lalu memikirkan kembali, jika saya jadi PNS so what?emangnya akan merubah juga pandangan bapak kalau ternyata penghasilan saya masih PAS juga,

Atau setidaknya ada kebanggan terselip dan ia bisa umumkan pake toa mesjid jika saya adalah anaknya berstatus PNS.

Maafkan saya yang pada akhirnya saya memilih jalan lain. Saya suka dengan dunia pekerjaan saya. menjadi HRD dan kini sudah 4 tahun menjadi blogger.

Baca lagi : Pilih Jadi HRD atau Blogger?


Jadilah Dirimu Sendiri

Be Your Self And Be Better Everyday_Josef Bataona

Saya menuliskan ini bukan untuk membuka urusan keluarga tapi ini sebagai reminder saya yang kini sudah menjadi orangtua. Bahkan jadikan pengalaman saya ini untuk pembelajaran buat temans sekalian.

Kenyataanya menjadi diri sendiri bagi saya adalah cara terbaik bagi saya untuk membuat saya HAPPY.

Saya enjoy acapkali mendengarkan rutinitas karyawan di pabrik, saya suka disela-sela pekerjaan menulis blog atau blogwalking.

Saya hepi waktu ada karyawan mengucapkan terimakasih sudah memilihnya bergabung di kantor bahkan saya gembira saat ada pembaca tulisan blog ini email terimakasih tulisannya bermanfaat untuk saya bisa berubah.

Mempunyai blog ini, saya merasakan menjadi orang yang setidaknya masih ada GUNAnya buat orang lain meski disisi lain ternyata ada yang menganggap saya tidak berguna. so sad nyak..

Saya yakin diluar sana barangkali ada yang seperti saya, tertekan dengan ambisi orangtuanya, tersudut merasa rendah diri karena tuntutan orangtuanya. Sudahi itu semua temans.

Saya sudah berdamai dengan diri sendiri untuk tetap menjalankan semuanya mengalir. Saya sudah melepaskan puzzle PNS dalam diri saya.


Don't care dengan judgement orang atau cibiran idih IPK tinggi cuman kerja gitu doang *bodo amat* bahkan kini saya merasa bangga karena apa yang saya sukai, apa yang saya inginkan berjalan sesuai dengan seharusnya yang saya mampu.

Percayalah temans, mau sampe Lucinta Luna sumpah pocong ga ngaku transgender lebih baik fokus sama diri sendiri. Asah kemampuan yang tersembunyi, jika suka menulis ya menulislah mau buku, blog atau apapun, jika suka memasak ya bikin cateringlah, jika suka make up bikin usaha make up.

2 (dua) kali saya ikut Kelas Inspirasi Bandung meyakinkan saya bahwa saya bisa menjadi diri sendiri bahkan dengan bangga saya kenalkan profesi HRD ke anak-anak SD.

Saya bukan PNS tapi saya bahagia!


Well temans pada dasarnya saya mau mengingatkan kembali bahwa setiap anak punya potensi dan TAKDIR masing-masing yang sudah jadi ketetapanNya jangan menjadi orangtua menyebalkan yang selalu menuntut anak!

Jangan terus bersikap tidak adil kalau anaknya ada yang begitu dan begini. Mengapresiasi sedikit saja apa yang sudah anak lakukan tentunya bikin hepi bukan?

Saran saya jangan pernah mengecilkan hati anak, karena ketika posisi saya menjadi anak. Sungguh tidak menyenangkan sekali saat orangtua sendiri meremehkan.

Baca Lagi : Anakku Bukanlah Aku, Aku Bukanlah Anakku



***


116 komentar on "Maafkan Aku Bukan PNS.."
  1. wah malah aku dan suami menyarankan anak2 gak masuk PNS, krn banyak yang tidak sehat di sana, banyak hal. Dua anaku berkerja di swasta

    BalasHapus
  2. Aku pun mbak, tiap tahun ditanyain gak ikut tes gak ikut tes? Gak kerja gak kerja? Wkwk

    Orang dulu mikirnya yang sejahtera itu ya yang pekerjaannya terjamin sampai tua soalnya dulu jarang yang melek investasi dan literasi keuangan. Sekarang mah jadi freelancer aja hidupnya bisa terjamin asal tau caranya ngatur keuangan jangka pendek dan panjang.

    BalasHapus
  3. Aq orang yang memilih untuk gak pernah ikut tes cpns, krn kecewa melihat kinerja mereka. Maaf untuk pr pekerja cpns lainnya, Alhamdullilah ya ortu pun gak maksa anakny untuk jd cpns, 3 anaknya 3 mantunya gak ada yg cpns.

    Semoga bapak terbuka mata hatinya, yg terbaik adalah anak bekerja mencari rejeki halal untuk dirinya dan keluarganya, bekerja untuk mjd mandiri secara secara financial tak lagi merepotkan ortu. Terlepas dimanapun tempatnya dan statusya.

    Peluk buat teteh, semangat selalu yah teh.

    BalasHapus
  4. Sing sabar ya Teteh Bella sayang *ngunyahpeuteuy*, Insya Allah suatu hari hati Bapak terbuka. Doakan Bapak setiap abis sholat.

    Pernah diremehin juga di keluarga karena urusan pendidikan. Secara akademis, aku biasa aja dibanding adik2ku yg pinter. Secara pendidikan, aku juga cuma lulus diploma dari kampus swasta, sementara adik2ku lulus an terbaiq dari UI. Yg satu dari sastra belanda, satu lagi dari fakultas hukum. Otomatis Ibuku kadang suka keceplosan ngebandingin hehehehe.

    Berbesar hati adalah koentji melewati semuanya. Tahun kemarin ada satu titik dimana Ibuku akhirnya sadar bahwa 6 anaknya itu spesial dan berbeda2 passionnya.









    BalasHapus
  5. BUndaaa, saya bangga dengan bunda Herva yang sangat produktif menulis, rajin berbagi, rajin curhat eldebra eldebra. Rajin jualan ice cream, rajin kasih semangat dan menebar pesona. Kalo ada pemilihan bunda terbaik se kecamatan Cimahi, aku akan milih Bunda Herva. Kalo perlu, kita siarkan langsung di 8 stasiun se Indonesia. Biar bapak makin bangga dengan bunda.


    Ketjup ketjup

    BalasHapus
  6. Posisi sebagai PNS memang masih menjadi primadona di kalangan sebagian besar masyarakat kita. Sampai-sampai belum jadi "orang" kalau belum jadi PNS. Saya selalu nggak setuju dengan hal-hal seperti ini, karena kenyataannya setiap profesi melengkapi, dan setiap orang punya jalan rezeki masing-masing. Tetap semangat ya, Teh. Yakin ini yang terbaik. Semoga masa depan tetap cerah meskipun tanpa status PNS. Keep shinning!

    BalasHapus
  7. Serupa tapi tak sama hihihi, orangtua saya sih ngak menuntut tapi lingkungan tempat tinggal saya sangat menjunjung tinggi profesi PNS yg ngak pernah saya capai. Tapi waktu membuktikan sukses ngak harus bermula dari PNS. Semangat mbak

    BalasHapus
  8. Kalau suamiku PNS, adikku juga PNS, istrinya PNS. Bapakku wiraswasta yang menginginkan anaknya jadi PNS karena kalau di daerah gini kan lebih terpandang gitu. Katanya, loh. Meski mau bekerja apa kalau halal dan berhasil juga terlihat mentereng.

    BalasHapus
  9. mbaa, jujur yaaa, aku tuh ga tau apa sih kelebihan pns sampe dielu2kan banget?? alhamdulillah keluargaku ga prnh maksa utk jd pns, mungkiiiin, krn papa dari dulu kerja di oil company sampe pensiun. trus keluarga2 nya dan keluarga mama kebanyakan pengusaha. yg jd pns di keluargaku, bisa diitung ama 1 tangan doang. krn kita memang ga tertarik jd pns. Papa sbnrnya sempet kok mba ketrima jd pegawai pajak sebelum masuk oil company. tp cm setahun dan dia kluar. alasannya, itu bukan cara kerja berkah yg dia mau, bukan jenis uang yg dia mau ksh ke istrinya utk makan keluarga. Kita akuin aja, kalo duluuuu terlalu banyk uang2 ga jelas begitu. ga tau sekarang. dan papa tipe yg agamis sangaaat. makanya dia memilih kluar drpd hrs terpaksa kerja dgn cara begitu. alhamdulillah dptnya jauh lbh bagus. makanya sampe skr, mindset keluargaku, harus swasta ato pengusaha. itu aja pilihannya. swasta dengan etos kerja yg disiplin tinggi, sop jelas, auditnya jelas. pengusaha juga hrs kreatif supaya bisa survive. ga ada waktu terbuang.. :) . Jujur aja, utk anak2pun aku sedikit mengarahkan supaya mereka nantinya jd pengusaha ato kerja di bidang swasta , kyk aku dan suami :D.

    aku bangga kerja di swasta. gaji dan benefit besar, yg aku tau banget, pns ga mungkin ada yg sama begini benefitnya :p. cutiku setahun 22 hr utk level staff. temenku yg pns, cutinya sktr 12 harian doang. so, kenapa hrs berpaling ke pns?? :D.itu yg bikin aku ga ngerti alasanny apa knpa banyak ortu dulu pgn banget anaknya pns??

    BalasHapus
    Balasan
    1. huah mb Fan emang kece banget deh cuti sampe 22 kereennnn bangetss

      Hapus
  10. Saya jg bkn pns tapi saya bangga dengan hasil kerja keras saya. Profesi yg kita jalani patut diapresiasi setidaknya oleh dirisendiri aja dulu dan gak perlu minder

    BalasHapus
  11. Salam kenal mbak. 😊
    Wahh tulisannya nompol banget.
    Nggak pa2 mb. Abaikan saja. Toh roda berputar tak kan pernah tahu endingnya di mana.
    Husnuzon sj mb.
    Tetap baik sm bpk ya mb, walau kalimatnya nggak nyaman di telinga.
    Jika beliau sdh tiada, minimal menurut gusti Alloh track record kita msh baik kepada beliau.
    Semangatt mbakkuh. πŸ˜—

    BalasHapus
  12. Terkadang orang Khwatir kalau tidak bisa makan dll, sehingga lahirlah solusi kerja jadi PNS ajah, tapikan nasib orang beda2, iya toh.....

    Siapa sich yg tak mau jadi PNS ? rata2 orang pada mau.

    Tapi itu tadi balik ke Nasib juga.

    BalasHapus
  13. Saya kyknya dari dulu ngak pernh kepikiran jadi PNS mbak, sama sekali ngak pernah. Soalnya saya gerah liat pns yang kebanyakan kerjanya ngak beres , tapi skrng sih mereka mungkin harus kerja keras krn banyak dibidik sama pemerintah.

    BalasHapus
  14. Sedih aaya bacanya. Pingin nangissss. Saya ampek sekarang masih sering nelpon mamak buat minta duit jajan anak. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  15. Kayaknya generasi orang tua kita memang taunya kerja enak ya PNS. Saya juga kalau ada acara keluarga suka bingung jelasin profesi saya. "Kerja apa wid?" , profesi saya di dunia digital gak ada yg paham itu kerjaannya apa πŸ˜… Yanasippp... Akhirnya klo ada yg nanya, saya jawab aja nulis di internet sama bikin status di Fesbuk (instagram juga pada gak ngerti) πŸ˜†πŸ˜‚

    BalasHapus
  16. Samaa mbak, saya juga punya kesempatan 3 kali lagi. Dimanapun berada status PNS selalu dianggap lebih wah

    BalasHapus
  17. Wah, padahal jadi HRD pun kece lho sebenarnya..

    Apa yang Mbak Herva alami, sama persis dengan yang suami saya alami. Mertua saya sering nyuruh suami untuk daftar PNS, tapi suami saya nggak mau. Bukan apa-apa, passionnya bukan di situ. Saya paham sih, alasan mertua ya supaya saya dan anak-anak terjamin hidupnya. Tapi kalau untuk itu saya harus mengorbankan kebahagiaan suami, trus suami jadi stress, kan ngga asik juga yaa nantinya...

    Semoga Mbak Herva kelak bisa membuat bapak bangga yaa.. aamiin :)

    BalasHapus
  18. Nangis baca ini
    Dah tu aj bun
    Luka lama kembali kebuka sampe kujadiin status wa

    BalasHapus
  19. Teh Herva, ada ortu punya ambisinya demi mereka sendiri bukan demi anak. Ambisi demikian memang menekan. Tinggal ganti doa saja agar hati Bapak terbuka, tak melulu nyuruh jadi PNS.
    Gaji sebagai HRD juga sudah alhamdulillah jika cukup meski pas. Namun setidaknya bisa hidup.BNerrsyukur masih bisa bekerja daripada tidak sama sekali.
    Agar lebih adem, sering melihat ke bawah saja. Untuk mengingatkan pada nikmat syukur dari Allah. Salam.

    BalasHapus
  20. Sepertinya ini kunjungan saya yang pertama di blog mak, salam kenal ya mak ^_^
    Terbangun malam2 karena mau cek duo krucilku, lalu sempet cek fb, ada postingan mak di timeline salah satu group fb (sampe gak cek apa nama groupnya kwkwkwkwk), liat judulnya, langsung klik dan baca.
    Saya tidak begitu paham dunia pns, secara keluarga besar jarang (pake banget) yang jadi pns, kebanyakan pegawai swasta dan pengusaha/wirausaha, tapi memang gaung kenikmatan menjadi pns terlihat dari aura orang2 yang ada di sekitar tempat tinggal saya sekarang (di daerah euy hehehe).

    Saya cukup lama tinggal di jakarta, sepertinya gaya teman2 saya di jakarta kalah sama gaya beberapa pns di sini yang saya kenal :D
    Mungkin gaji mereka memang yahud :D

    Btw, suka baca tulisannya :)
    Setuju banget mak, jadi diri sendiri bikin kita lebih enjoy menikmati hidup :)
    Salam hangat dari Cepu-Jawa Tengah

    BalasHapus
  21. Wah padahal hebat loh udah jadi HRD!

    BalasHapus
  22. hahaha sekalipun aku belum pernah ikutan tes cpns.. suami juga seperti itu.. yah walau basic keluarga banyak yang PNS/BUMN, kami berusaha untuk selalu bersyukur sih sama apapun itu pekerjaannya, dibandingnya nganggur.. alhamdulillah orangtua cukup memaklumi, jd gak ada paksaan untuk sama seperti beliau..

    BalasHapus
  23. Saya justru sangat tidak tertarik utk jadi PNS, Teh Bella. Saya jenuh melihat lingkungan saya yg kebanyakan PNS. Jadi saya paham karakter2 PNS dr jaman papa saya sampai skrg. Dan saya nggak tertarik, walau saya hidup dari uang PNS. Xixixi..

    Saya lebih bangga jika melihat pengusaha. Makanya dr kecil saya didik Abang Fi utk jadi enterprenuer atau guru. 2 profesi yg disebut dalam al quran. PNS ga disebut di alquran jadi saya abaikan.. hahaha.. maafkan saya para PNS πŸ™πŸ™

    BalasHapus
  24. Miriiiip... Apalagi dulu awal2 nikah setiap ada pembukaan diarahkan terus untuk ikut cpns. Cuma namanya bukan passion sampai detik ini aku masih nyaman menjalani profesiku sekarang. Semangat, yang penting terus tebar manfaat.

    BalasHapus
  25. Keluarga intiku nyaris semuanya PNS teh, dan mereka memang nggak pernah menuntut soal aku harus jadi PNS, tapi pandangan keluarga yg lain dan masyarakat di lingkungan sekitar tuh... bikin capek. Karena aku besar ditengah keluarga yg 95% PNS, mereka mengira aku pasti jadi PNS juga. Akhirnya aku ikut deh seleksi tahun kemarin, dan gak lulus. hahaha.
    Nggak tau mau ngapain, bikin lelah hati aja dengerin komennya.

    Makasih ya Mba udah nulis ini, jadi reminder apapun keputusan yg kita ambil Just be yourself. Jadi ASN, jadi Ibu rumah tangga, jadi apapun itu yang penting hati merasa cukup dan merasa bahagia. :)

    Yg aku lihat dan rasakan sekarang sudah cukup bikin aku belajar, aku nggak pengen jadi ortu yg maksa atau jadi tetangga yg julid dg keputusan juga nasib orang lain.

    BalasHapus
  26. Akupun juga di suruh PNS dll..gak aku dengerin..aku cm mau cari berkahnya aja dari allah..toh itu cuma dunia..kalau di agamaku di ajarkan kita kejar akhirat maka dunia akan ngikut...ya udah masa bodo orang bilang apa..toh hidup di dunia sejatinya cuma sementara..bersyukur masih bisa makan dan sehat....coba googling berapa jumlah orang sakit di dunia ini hari ini pasti jutaan..hihi

    BalasHapus
  27. Saya sejak lulus kuliah malah gak pernah ikutan tes PNS, karena menyadari bukan disana minat saya hehe, kerja dimanapun yang penting happy ya teh

    BalasHapus
  28. ehehe kayak nemukan kembaran nih saya.
    Ini mah saya banget.
    Masih mending mba Herva masih kerja, lah saya ibu rumah tangga.
    Sudahlah gak dilirik sama sekali ama keluarga hahaha
    Emang keluarga kami kebanyakan PNS, dan dulu tuh masuk PNS apapun dilakukan demi bisa makai seragam tsb hahaha

    Sayanya males, bukan males jadi PNS, tapi males kalau jadi PNS tapi kudu merelakan uang banyak buat itu.

    Sejak lulus kuliah, sampai 2 tahun lalu baru deh ortu berhenti nyuruh pulng biar bisa jadi PNS :D

    BalasHapus
  29. Stay true to yourself mbaak yak, yg penting bahagia mengerjakan apa yg disuka, sesuai dengan passion diri. Kadang emang kita perlu ndak peduli sama omongan orang lain, ndak jadi PNS juga bahagia. bisa ttp berbagi kebermanfaatan buat sekitar, bisa ttp berkarya jugaa :) aku termasuk yg terinspirasi sama cerita" mbaak di blog, makasiih mbak bellaa :)

    BalasHapus
  30. Wah teteh, jadi pengen peluk teteh rasanya. Pasti bertahuj-tahun teteh tertekan dengan bapak begitu. Aku bacanya ikut sedih. Semoga pintu hatinya di bukakan ya dan melihat di disisi yang lain. Suami aku PNS tapi aku sngaja ga jdi PNS, biar bisa mendampinginya kemana pun dia dimutasi *eaaaa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  31. Sabar Mbak...Mau PNS atau bukan yang penting berkah
    Memang masih banyak orang tua seperti tipikal Bapak Mbak Herva di sekitar kita. Dan kita sebagai anak memang enggak bisa memilih orang tua kita musti siapa dan menuntut harus bagaimana.
    Kalau Mbak Herva ikhlas malah berlimpah kebaikannya.
    Aku bertahun-tahun disepelekan mertua karena jadi IRT. Padahal jadi IRT karena "mengabdi" ke anaknya karena ikut pindah kemana-mana. Jadi yang salah siapa hahaha. Terus, Beliau baru "nganggap" ada dan memakluminya di saat anak perempuannya (adik iparku) akhirnya harus ngkiut suami pindah dan jadi IRT juga...
    Tuh..
    Ada saatnya nanti Bapak akan tahu dan sadar serta semua itu akan indah pada waktunya.
    Sementara jadi HRD enak bisa jadi "jalan" pekerjaan orang..ya kan ya kan?

    BalasHapus
  32. yah walau basic keluarga banyak yang PNS/BUMN, kami berusaha untuk selalu bersyukur sih sama apapun itu pekerjaannya, dibandingnya nganggur.. alhamdulillah orangtua cukup memaklumi, jd gak ada paksaan untuk sama seperti beliau..

    BalasHapus
  33. Saya jadi PNS karena kemauan ortu, satu sisi saya ikhlas aja menjalani. Tapi di satu sisi seringkali stres karena saya tahu ini bukan passion. Gara-gara yang saya alami ini, saya bertekad Mukhlas nanti bebas mau jadi apa aja selama halal dan nggak melanggar hukum. Karena saya tahu rasanya "dairahkan demi kebaikan" tapi nggak bahagia sepenuhnya. Keep strong mbak syg :)

    BalasHapus
  34. teh ternyataaa kamu rayap juga ya :p sama kayak akuuh makan bangku :))
    bapak aku ingin banget smua anaknya bisa jadi pns, sayangnya nggak ada yg mau ikut tes. Semua ambil jalur masing2. Entah sih kuat apa nggak jiwa saya klo jadi seorang pns. dulu paping pernah kerja di instansi pemerintahan, dia nggak kuat harus bgini bgitu.
    Teh, yg penting nggak ngeluh ya sama ortu, pasti bapak bangga kok..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mba Ucigg sharingnya menguatkan *yuk makan bangku lagi :D

      Hapus
  35. Pertanyaan yg sama yg kepp saya terima beberapa waktu lalu saat tes CPNS dibuka mba. Hiks. I know how it feel. Utk menjadi bermnafaat dan bahagia ga nesti jd PNS ya mba. Yg penting BAHAGIA dg profesi saat inim thats it.

    BalasHapus
  36. Sabar ya Kak, pasti Tuhan akan tunjukkan jalannya. Dulu dosen senior di kampus saya seperti Kakak, berjuang jadi PNS sampai umur hampir maksimal. Tapi lalu tiba-tiba dia mogok ga mau ikutan tes lagi. Pas kami tanya kenapa, dia cuma bilang "kalau keterima pun apa bisa saingan sama yang lebih muda. Saya punya pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun, gelar S2. Yang umurnya 10 tahun dibawah saya pengalaman mengajar memang lebih sedikit, tapi sudah S3, pengalaman kuliah dan kerja di luar negeri". Terus dia berhenti dari univ negeri yang statusnya dosen eh malah langsung diangkat jadi kaprodi di salah satu univ swasta. Jalan hidup kita nggak tau kan Kak.

    BalasHapus
  37. Memang terkadang banyak orang yang berlomba-lomba untuk bisa meraih posisi PNS ya mbak. Karena terlihat lebih keren dengan jenjang karir dan pensiun yang jelas. Kakakkupun dulu ambiai banget untuk jadi PNS tapi karena gagal berkali2 akhirnya milih jadi Staff di perusahaan swasta aja

    BalasHapus
  38. Aku malah gak pernah tes CPNS mba, dari awal selalu apply lamaran di perusahaan swasta dan aku bahagia. Kebetulan papaku memang gak suka anaknya jadi pns :)

    BalasHapus
  39. Aku pun juga bahagia karena bukan PNS. Teteh keren ya jadi HRD yang menurutku oke banget. Aku aja yang cuma pernah jadi kuli pabrik aja bahagia banget. Tapi sekarang bahagia juga sih walau hanya jadi babysitter. Aduh, malah curhat.

    BalasHapus
  40. Persis teh seperti kedua orang tua ku. Mau kerja di swasta sebagus dan gaji sebesar apapun, PNS tetap terbaik walau gaji kecil. Mereka memikirkan masa pensiunnya sih. Kadang suka gimanaa gitu gara-gara bukan PNS. Huhu. I feel youu

    BalasHapus
  41. Bener banget PNS itu dambaan semua orangtua. Menurut mereka kalau sudah PNS masa depan lebih terjamin. Seperti aku terlahir dari keluarga yang semuanya hampir PNS.

    BalasHapus
  42. Entah kenapa saya tidka pernah tertarik menjadi PNS. Makanya ketika baru lulus, saya melamarnya ke berbagai perusahaan swasta. Untung aja keluarga saya tidak ada yang berpikir PNS lebih keren daripada lainnya. Mungkin karena profesinya campur-campur. Seperti papah saya PNS, sedangkan mamah karyawan swasta.

    Tetapi, memang di beberapa kalangan masyarakat masih ada yang berpikir menjadi PNS adalah dambaan. Jadi pelajaran juga buat saya untuk mengubah mindset seperti ini. Apapun pekerjaannya yang pentin baik dan happy

    BalasHapus
  43. ya ampun, masih ada juga ya case seperti ini. AKu jutsru paling gak mau masuk PNS. berkali-kali ditawarin, dibujuk dll, kekeh gak mau. gak tau deh, udah antipatif aja gitu rasanya. masih banyak bidang lain yang gak kalah keren kok ya mba. semangat mba sayang.

    BalasHapus
  44. aku lahir dari keluarga PNS.. kakek PNS.. begitupun mama-papa, om-tante, sepupu2 rata2 PNS.. tapi entah kenapa belum ada satupun dari aku dan adik2ku yg bercita2 jadi PNS.. mungkin kami butuh suasana baru yg bisa lebih mengembangkan potensi kami di bidang lain :)

    BalasHapus
  45. Setiap orang kan punya pemikiran masing-masing ya. Sebenarnya gak perlu sampai memaksakan harus PNS atau kerja swasta saja. Paling penting kan kerjaannya berkah dan dilakukan dengan serius.
    Aku termasuk deretan yang gagal CPNS soalnya hehehe

    BalasHapus
  46. Padahal kerj di perusahaan swasta, malah lebih gede gajinya dibanding pns.

    Aku bertahun2 juga jd pejuang pns. Aku tahu juga ortuku kecewa mba. Apalagi klau endingnya IRT kayak aku. Klopun sekarang bisa nyari uang lewat ngeblog, tp bagi banyak orang...blogger itu bukan profesi

    BalasHapus
  47. Hihi baca judulnya aja udah ketebak ini pasti pertentangan antara anak era thn 80an sama orangtuanya yg terobsesi anaknya pns. Dan itu akuh, dulu diposisi itu hiks.

    BalasHapus
  48. Wah kita samaan nih masih punya kesempatan 3 kali lagi buat ngedaftar tapi aku udah lelah! Wkwkwkk. Semenjak jadi bloger meuni enak atuh kerja freelance. Aku sering cerita sih ke keluarga aku, penghasilan bloger ngehits itu sebulan bisa mencapai 12 juta, lha aku mungkin sepersepuluhnya aja entah nyampai entah nggak. Wuahahaha tapi aku tetap bangga dan senang dengan pekerjaan ini.

    Tetap semangat ya Teteh LCB!!

    BalasHapus
  49. saat ini kami sedang melawan harapan kejayaan masa lalu orang tua, menjadi pns. ya harapan ingin masa tua yang dibiayai negara ketika sudah pensiun.
    saya malah pengen jadi karyawan swasta dan buka usaha .

    BalasHapus
  50. Yang dulu kyk gitu itu ibuku, mbak. Tiga anak orang tuaku ga ada yg jadi PNS. Adikku malah wiraswasta.

    Ponakan ibuku malah yang jadi PNS. Ada juga yg di BUMN. Pokoknya yang ibuku inginkan malah terlaksananya di ponakannya. Gimana tuhπŸ˜…πŸ˜…

    Baru berhentu nyuruh setelah umur kamu lewat😁

    Tapi tetep di grup wa rajin nyuruh poakan yg belum kerja untuk ikut tes cpns.

    No comment lah daku πŸ˜…

    BalasHapus
  51. Maafkan, saya pun bukan PNS. Saya penulis buku kumpulan soal untuk lulus tesCPNS.halaah..hahaha..

    BalasHapus
  52. masih jadi idola orang tua ya sepertinya PNS ini, apalagi musim kampanye sekarang *eh* hihihihi ^^v

    Alhamdulillah di keluarha enggak ada yang memaksakan mau menjadi apa, yang penting barokah halal ayem. Baca cerita mbak Herva jadi self reminder buat kita para orang tua jaman now ya mbak.

    Tfs :)

    BalasHapus
  53. Wah baru sekarang saya baca ada orangtua yang ngotot banget anaknya jadi PNS. Kalau orangtua saya malah pengen anaknya jadi swasta, tapi malah saya sempat jadi PNS walaupun akhirnya keluar krn harus menjaga anak yang sakit2an terus ditinggal kerja. Waktu awal keluar kerja saya juga sempat disinisi Bapak (sudahlah waktu jadi PNS tidak bisa ngasih banyak, ujung2nya berhenti pula), tapi saya dan suami (PNS juga) Bismillah aja dan Alhamdulillah sekarang bisa mandiri. Memang sih sampai sekarang pun belum bisa memberi sebanyak yang diharapkan oleh Bapak tapi hati tenang karena bisa fokus menjaga anak. Lagipula suami selalu ingatkan bahwa bakti terbesar saya sekarang pada dia, dan kalau saya jadi istri dan ibu sholehah insya Allah pahalanya pun sampai ke bapak ibu.

    BalasHapus
  54. ahhhhhh keren teh tulisannya... sama sepertiku.. tapi ahhh sudahlah. karena Allah lebih tahu bagaimana kehidupan kita kan ya? mungkin jika jadi PNS tidak membuatku baik maka Allah tidak kabulkan itu... aku juga sempet sedih.. tapi mau gimana lagi toh? be the best we can be... ^^

    BalasHapus
  55. saya dr dulu ga pernah bercita2 pns, meski keluarga rata2 inceran pns, kk saya jg pns guru, saya sih bodo amat:D disuruh kuliah keguruan aja nyimpang ke desain krn emang ga ada minat kesana. cita2 kalau menikah juga kalau bisa suami jangan pns, tapi wiraswasta terus hobbynya travelling..asli hayalan banget, pokoknya ga terikat kedinasan gitu, dan ga tertarik dgn pria berseragam, tapi nasip malah mempertemukan dgn pria berseragam pns pula..trima nasip

    BalasHapus
  56. iya memang PNS sampai saat ini masih jadi harapan besar orang tua. tapi apapun pekerjaannya yang penting halal. hehehe

    BalasHapus
  57. Orang tua biasanya masih bergaul dengan lingkungan gen-X: bahwa pekerjaan yang membanggakan satu-satunya adalah PNS atau pegawai pemerintah lainnya.
    Hal ini juga yang membuat saya 'hijrah' ke tengah kota daripada hidup dengan cibiran karena tidak jadi PNS di tengah keluarga besar bapak yang rata-rata PNS.
    Alhamdulillah, masih bisa hidup dengan baik. Dan saya selalu mengatakan hal yang sama kepada teman-teman yang masih mencibir mereka yang gagal PNS: bahwa rejeki sudah ada yang ngatur, kalau jadi PNS semua, siapa yang jualan bakso dan nasi padang yang selalu bikin lidah bergoyang? hehe

    BalasHapus

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun