Selasa, 20 Maret 2018

Anakku Bukanlah Aku Dan Aku Bukanlah Anakku...

Tahun lalu saya sempat menuliskan tentang kisah seseorang yang menjadi korban ambisi orang tuanya karena itulah saya tuangkan disini Mengapa Harus Berambisi?. Hasil dari interview seorang karyawan yang dilema mengikuti keinginan pribadinya atau ambisi orangtuanya.

Hasil akhirnya si karyawan tetap resign keyakinannya membahagiakan orang tua lebih baik dibandingkan dengan meneruskan apa yang ia sukai. Cerita ini tentu sering kali kita dengar, rasanya sebagai pendengar saya gemas kepada orang tuanya MENGAPA sedemikiannya?hingga tak memikirkan apa, bagaimana dengan kondisi dan situasi anaknya.

Lalu apa yang terjadi dengan saya?saat ini saya sudah menjadi orang tua, putri sulung saya Neyna bahkan sudah sekolah. Sebagai orang tua saya senang dengan kemampuan saya yang mampu memberikan pendidikan untuk anak sesuai dengan KEINGINAN saya.

Karena itu pada awal bersekolah saya meminta pendapatnya apakah ingin sekolah?dan jawaban anak saya ia mau untuk sekolah tak hanya sekolah RA akan tetapi juga sekolah ngaji. Saya merasa senang dengan keputusan dan keinginannya yang sesuai juga dengan harapan saya.

Mendidik anak tak semudah yang saya bayangkan dari teori yang pernah terjejali selama masa kuliah maupun seminar parenting yang pernah saya ikuti. Dalam teori maupun pengalaman narasumber di seminar parenting terasa mengalir begitu saja. Nyatanya dalam kehidupan saya semuanya tak semulus teori maupun pengalaman narasumber yang dibagi kepada audience.

Pengennya serba ideal namun nyatanya proses mendidik anak bagi saya itu sulit pake bingits.😓😓


Beberapa bulan yang lalu, Neyna dihadapkan dengan Ujian Tengah Semester. Iyes anak TK zaman now udah ada UTS-nya. Jujur aja karena masih TK, malam hari saya ga intens untuk mengulang kembali apa saja yang Neyna sudah dapatkan di sekolah.

Singkat cerita, kisi-kisi UTS sudah dibagikan oleh pihak sekolah. Ditempel dalam buku catatan hariannya Neyna. Materi yang diujikan berupa bahasa inggris, bahasa sunda, hafalan surat pendek, hafalan al-mahfudzot, menulis serta berhitung. Banyak yah?iyah banyak banget.

Seminggu sebelum ujian, saya melatih Neyna untuk bisa menghafal surat pendek, al-mahfuzdot hingga kosa kata dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Sunda. Alhamdulilah semuanya bisa meski terkadang ada yang lupa-lupa.

Lalu mendekati hari H, saya mulai mengajari berhitung. Disinilah saya baru tahu jika Neyna masih belum bisa hafal angka apalagi menghitungnya. Apa yang terjadi?saya gemas luar biasa dan Neyna pun menangis karena dia merasa sudah tak sanggup belajar menghitung.

gemas campur ga sabar wkatu ngajarin be like
Kejadian ini membuat saya flashback dengan apa yang pernah saya alami saat kecil. Saya merasa di usia yang sama dengan Neyna, saya sudah pandai berhitung bahkan untuk menulis pun sudah lumayan. Makanya sejak dulu saya menyukai hitung-hitungan.

Akhirnya saya membanding-bandingkan kemampuan Neyna dengan kemampuan saya sendiri *astagfirullah* emosi tak terbendung lagi takkala kemampuan belajar berhitung Neyna tidak ada perubahan.

Esok harinya pun demikian Neyna masih kesulitan untuk belajar berhitung, bagaimana dengan saya?saya tetap menyudutkan Neyna dan tetap membandingkan Neyna dengan kemampuan saya saat kecil tanpa menyadari bahwa Neyna bukanlah saya!

Hingga akhirnya saya lelah dan meninggalkan Neyna yang masih menangis sambil berusaha untuk menuliskan angka-angka. Saat itu saya langsung solat, saya menangis mohon ampun karena saya tak mampu mengendalikan emosi saat mengajarinya. Saya sangat menyesal sekali berlaku seperti itu, saya bener-bener lupa dengan kondisi "Memahami", saya benar-benar khilaf dengan terus membandingkan antara saya dan Neyna.

Baca Lagi Yuk : Sebuah Teguran

Selepas solat, saya melihat Neyna dengan perasaan berdosa. Saya melihat wajahnya yang benar-benar sedih sambil tangannya masih mencoret-coret menuliskan deretan angka. Saya dekati Neyna kembali siapa yang menyangka dengan raut kesedihan dan terlihat beban berat diwajahnya ia berkata "maafin aku bunda".

Meleleh dan haru, padahal saya yang begitu keras kepadanya mengajarkan dengan suara Sopran saya. Saya pun memeluknya dan meminta maaf pula.

Akhirnya saya mengikhlaskan dan tak mau menuntut Neyna berlebihan toh masih panjang waktu untuknya belajar. Namun bersyukur sekali ketika pembagian hasil ujiannya ternyata untuk soal berhitung ia selesaikan dengan sempurna tanpa bantuan gurunya ia mampu menuliskan jawaban dengan benar meski kata bu guru Neyna paling terakhir menyelesaikannya.

Saya bangga dengan kemauan dan usahanya, saya sangat mengapresiasi sekali apa yang Neyna lakukan.

Kejadian tersebut membuat saya terobsesi sendiri bahwa Neyna harus SAMA seperti saya. Padahal jelas meski dalam tubuhnya mengalir darah saya belum tentu kemampuannya juga mengalir sama.

Saya jadi teringat dengan film pendek seorang anak lelaki yang terus-terusan dapat nilai jelek untuk berhitungnya sementara ayah ibunya begitu pandai. Namun ibunya terus menerus memintanya belajar dan belajar tapi hasilnya tetap buruk. Ternyata dibalik kelemahannya di akademik dia punya bakat melukis.

Mengingat film pendek itu, saya merasa sama saja dengan ibunya tidak mampu memahami hanya bisa MENUNTUT saja kepada anak *astagfirullaH*. Temans, rasanya memang tidak mudah menjadi orang tua. Benar adanya ungkapan menjadi orang tua harus belajar setiap hari.

Neyna bukanlah saya dan saya juga bukanlah Neyna, so apa yang harus saya lakukan?beberapa hal berikut menjadi catatan untuk saya pribadi, diantaranya adalah :

1. Stop Membandingkan
Tidak ada yang suka dibandingkan bahkan antara  adik dan kakak kandungpun membenci untuk dibandingkan apalagi saya sebagai orang tua membandingkan kemampuan saya dengan anak saya sendiri duh. 

Saya selalu yakin jika Neyna punya potensi yang berbeda dengan saya, ga melulu harus terjebak dengan ambisi dan obsesi saya. Karena itu, saya mulai berubah tak lagi harus melihat dan membandingkan kemampuan saya yang dulu.

2. Ceklist Setiap Kelebihan Anak
Memaksakan Neyna menjadi seperti yang saya lakukan sama saja saya mematahkan secara perlahan potensi yang secara alamiah sudah Alloh berikan kepadanya.

Saya mencoba untuk mengurutkan apapun yang Neyna bisa di usianya sekarang.

Di usia sekarang Neyna sudah mampu mandi sendiri, makan sendiri, sedikitnya hafal bacaan solat bahkan meski dengan berat hati dan minta korting rokaat solat ia sudah mau melaksanakan solat. 
Lain dari itu dia sudah terbiasa menyebutkan 3 mantra ajaib dalam hidup, Terimakasih, Maaf dan Tolong. 
Bahkan ia sudah berani tampil menyanyi sendiri, sudah mau mengakui kesalahan, bisa pakai kaos kaki dan sepatu sendiri. Sudah terbentuk empatinya dan bikin haru ketika ia punya uang Rp 2000 yang ia dapat dari eninnya, ia memberikan kepada saya dan berkata "ini buat bunda yah biar bunda punya uang". *so sweet*

Saya menyadari jika kemampuan akademik Neyna tak seperti yang saya harapkan namun kemampuan lainnya ia jauh lebih baik daripada saya waktu seusianya.

Inilah yang membuat saya akhirnya bisa merubah diri saya.

3. Menerima Dengan Lapang Dada Dan Bersyukur

Saya selalu yakin setiap kemampuan itu diberikan sesuai dengan porsinya maka alangkah indahnya jika saya menerima bahwa porsi kemampuan Neyna seperti itu. Dan utamanya adalah menysukuri bahwasanya Neyna masih tumbuh dan berkembang sesuai tugas perkembangannya.

Maka tugas sayalah sebagai orang tua bisa memfasilitasinya, mendukungnya bukan hanya menuntut apalagi menekannya. Saya tidak mau menjadikannya anak yang terkotakkan karena ambisi dan obsesi saya sendiri. 

***

Sejak minggu lalu hingga minggu ini, Neyna sedang ujian akhir semester di TK A. Belajar dari moment sebelumnya kali ini saya tidak memaksakan memporsir Neyna belajar untuk mendapatkan nilai sempurna tapi saya mendampingi belajarnya sesuai dengan porsi kemampuannya.

Buat temans yang juga anaknya sedang ujian pasti rasanya deg-degan banget, khawatir dengan hasil akhirnya. Percayalah anak kita juga pasti sudah berusaha sebisa mungkin yang ia bisa bekalilah mereka dengan kejujuran, iringilah mereka dengan doa kita sebagai orang tua dan dampingilah mereka saat mereka mulai tidak percaya diri. 

Hal ini saya tuliskan agar menjadi reminder saya sendiri. Jangan pernah menggantungkan obsesi kita sebagai orang tua, karena anak kita bukanlah kita dan kita bukanlah anak kita.

Temans, pernah mengalami yang saya rasakan?yuk kita sharing disini 💋 semoga bermanfaat yah.

62 komentar:

  1. Pernah banget, bercandaan sama ponakanku dengan membanding-bandingkan kelebihan adik dan kakak tersebut. Meski itu sungguh sangat menyakitkan, karena dibanding2kan itu nggak enak, dan emang setiap anak punya dan kelebihan dan bakat yang berbeda-beda, huhuuu... jadi soal banding2an kayak gitu sering sekali aku jumpai di keluargaku mbak, Tapi dari situ, mbakku jadi lebih fokus dengan kelebihan ponakanku tersebut, jika kakaknya jago di bidang hafalan quran, dia selalu support di situ, sedang di adiknya, diumur yg masih unyuk saat kakaknya kecil dulu sudah bisa lancar ngajinya, tapi adiknya nggak. Cuman adiknya paling rajin belajrnya ketimbang kakaknya, hhee
    TFs ya Bunda Neynaa,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sharingnya mba :) makanya pentingnya jadi ibu yang peka dan bisa merubah mindset ya agar anak2 terfasilitasi sesuai dengan kemampuan masing2

      Hapus
  2. Peluk teh Herva (dan Neyna)..
    Beberapa bulan lalu saya mengalami posisi yang sama teh.. Ziqri belum hapal huruf diusia 3,5 tahun saat saya sudah fasih menulis sekaligus membaca. Rasanya gemas tapi saya akhirnya menyesal dan ujung-ujungnya membiarkan saja sampai semana kemampuannya. Toh, sebenarnya saya sendiri galau dengan banyaknya teori parenting sekarang yang mengatakan bahwa sebaiknya anak tak diajari calistung sebelum usia 7 tahun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. peluk balik teh :)
      nah itu teh sekarang menyudahi untuk tidak membandingkan terus :)

      Hapus
  3. Subhanallah baper bacanya, suka sedih n nyesel kalo marah2 huhu gakan lagi marahin anak apalagi pas tumbuh gigi btw zaman now anak tk udah ada ujian ya, bener mba kita gabole maksain ya huhu makasih sharingnya 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mba San :) sabar itu qoentji oetama hehehe

      Hapus
  4. Oala...sedih ya kalau diri kita sendiri aja dibanding-bandingkan dengan orang lain. Kasian anak sekarang banyak bener pelajaran dan hapalannya. Zaman kita dulu kan masih biasa2 aja. Yaa...meskipun katanya supaya bangsa kita ga ketinggalan pinternya dengan bangsa lain tapi jadi keblinger deh :( Moga2 kita bisa mengajari anak sesuai dengan kemampuannya ya mb Herva aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin iya mba Nurul semoga kita ga memaksakan apalagi menuntut anak kita :)

      Hapus
  5. Saya sekarang sudah berhenti menjadi ibu profesional, menjadi ibu yang sempurna. Saya hanya ingin menjadi ibu yang bisa menjadi kawan anak dan menemaninya bertumbuh dengan hebat

    BalasHapus
  6. Akmal juga lagi ujian minggu lalu. Aku biarin aja. Gak ada mengulang-ulang pelajaran di rumah. Cukup main. Hehehe. DUh baca ini jadi baper soalnya aku juga sering kesel kalau ngajarin Akmal gak bisa-bisa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya teh ga usah dipaksa biarin aja :)

      Hapus
  7. Memang gak mudah jadi orang tua, Teh. Perlu proses belajar yang panjang. Dulu waktu anak-anak masih kecil, saya juga melakukan kesalahan yang sama, hiks. Seiring waktu, saya banyak baca dan belajar, akhirnya berusaha untuk bisa mengontrol emosi. Dan selalu berprinsip jika anak-anak tidak selalu sama dengan saya. Mereka pasti punya kelebihannya masing-masing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener teh kudu banyak belajar terus dan sabar tiada henti :)

      Hapus
  8. Serius itu TK ada UTS sampai kisi-kisi segala? Heuuu, aku skip deh kalau ada TK seperti ini. Bikin stres ibu dan anak. Semangat yaa Neyna, untunglah punya ibu yang segera sadar buat ga nge-push anak harus bisa semuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba untung sadar kalau ga jadilah aku sang diktator :/

      Hapus
  9. Dan akupun syok saat baca yg bagian anak TK ada UASnya :( ga cocok sama sekali anak TK dikasih beban gitu.... Anakku baru mau TK tahun ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga lancar y mba masukin sekolahnya :)

      Hapus
  10. Pernah nemuin orang tua murid yg ambisi banget sama anaknya. Selain anak, gurunya juga ikutan di 'terror'. "Bu anak saya kok jadi suka ngelawan ya? Di sekolah gimana?" "Bu, anak saya kok jadi males ngaji ya kalau di rumah?" padahal anaknya cuapek bgt harus ngikutin ambisi ibunya yg nyamain anaknya harus sama kayak ortunya. Pinter, rajin, etc. Kasian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita dijauhkan dari ambisi dan ego yang besar sebagai ortu y mba

      Hapus
  11. Aduh sampai ikutan nangis bacanya. Awalnya nerasakan kesedihan Neyna tapi akhirnya terhatu saat dia bilang "maafin aku bunda".
    Saya juga merasakan hal yang sama ke Kalki, dua suka nulis yang aneh-aneh kalau ada PR menulis yang sudah ditentukan kata apa untuk ditulis ulang. Kadang hurufnya dibalik-balik lah, atau malah nulis tanda baca. Saya kunta dia hapus dan tulis yang sesuai, tapi dia ga mau akhirnya jadi adu emosi. lama-lama saya biarin cuma sesekali aja diingatkan untuk menulis yang benar. Biar hasil tulisannya guru di sekolah yang menilai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebisanya anak y mba jangan memporsir :)

      Hapus
  12. Jd inget dulu kerja ditempat kerjaan pilihan ortu, niat nyenengin ortu eh pada akhirnya keluar dan pilih jalan sendiri hehehe. Skrg jg ke anak2 aku gak mau memaksakan mereka harus bisa ini itu, cukup diarahkan saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes betul mba diarahkan dan difasilitasi saja

      Hapus
  13. Aku selalu mendokrin seperti itu ke adikku mba. Padahal sadar punya kelebihan dan kekurangan yang beda. Tapi, entah kenapa masih aja suka nyeletuk "Kamu mah gitu aja gak bisa." dan blablabla... lainnya. Sekarang sedang belajar untuk lebih berfikir dewasa, takutnya malah kebawa ke anak kalau sudah besar nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kelak ga begitu lagi mba hehehe

      Hapus
  14. aku jadi inget salah satu artis pernah bilang, kalo kelemahan anak di salah satu pelajaran jgn dipaksain buat dapet nilai yang bagus, tapi harus liat kelebihan anak di bidang laen, dan kalo bisa harus didukung biar anak bisa lebih fokus sama bidang yang disukainya itu. Intinya mah jangan terlalu memaksakan ke anak ya Teh hehe.. TFS teteh, insyaAllah jadi reminder aku juga kalo udah punya anak nanti hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya aku setuju sama pendapat artisnya :)

      Hapus
  15. Ma kasih tipsnya, Mak. Kadang memang lupa... :(
    padahal ya anak dan kita itu beda sekali memang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba makanya aku juga nulis ini biar reminder juga buat aku :)

      Hapus
  16. Berbekal pengalaman saya di masa lalu yang melakukan apapun yang diinginkan ortu, tanpa pernah mempertanyakan apalagi membantah, walau perasaan tertekan, saya bertekad untuk tak melakukan hal yang sama pada anak-anak.

    Tapi... saat anak2 tiba2 mempertanyakan suatu hal yang saya berlakukan untuk mereka, kadang sungut saya udah naik duluan. Harus menghela nafas dulu sebelum menjelaskan

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah makanya jangan sampe y mba anak2 tertekan PR kita masih terus lanjut sbg ortu :)

      Hapus
  17. Standar TK sekarang begitu ya mba, gimana jaman Mukhlas nanti ckckck.
    Betul sekali setiap anak punya kelebihan dan kekurangan dan nggak bisa disamakan standarnya dengan orang tuanya atau saudaranya. Nice sharing, bun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba aku juga kaget hehehe makasi uda mampir :)

      Hapus
  18. Halo adek Neyna cantik, jadi ingat film biarkan bintang menari :D

    Btw TK nya uwow banget ya mba, pakai UTS segala, tapi enaknya pas SD anak jadi udah gak kagok lagi.

    Anak saya juga gitu, waktu TK agak kurang di tambah kurang, nyaris depresi saya ngajarnya.

    Atuh mah saya gak pintar jadi guru hehehe :D

    BalasHapus
  19. Jadi inget kayaknya pas mulai SD dulu sering ga cocok belajar sama ibu sendiri. Padahal waktu itu ibuku guru jg. Haha. Beda cara belajar yg ibu pengen dan aku pengen aja sih kayaknya. Baca ini jadi inget lagi dan semoga nanti ga lupa biar jadi self reminder supaya support anak ga maksa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba jangan sampe memaksa, menuntut anak :)

      Hapus
  20. duh semoga aja nanti saya bisa menahan diri untuk nggak membandingkan diri sendiri di masa lalu dengan anak saya nanti. memang kadang kita suka tanpa sadar membanding-bandingkan anak, ya, mbak. padahal anak jaman sekarang bebannya mungkin jauh lebih besar ketimbang beban kita dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba zaman dulu n skrg emang beda makanya bener2 harus prepare :)

      Hapus
  21. Aku termasuk anak yang besar dengan sering banget dibanding-bandingkan dengan anak orang lain dan Itu menyakitkan sekali. Anehnya pengalaman menyakitkan ini lantas tak membuat saya sadra. Terkadang tanpa sadar melakukan hal yg sama ke anak-anak saya yang hanya bisa saya sadari setelah itu lepas dari mulut saya.
    Itulah sebagai orang tua, kita hanya perlu belajar dan belajar di setiap harinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes mba harus terus upgrade diri sebagai ortu :)

      Hapus
  22. Setuju banget, dibandingin itu ga enak, ga nyaman di hati...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya kita juga memahami untuk tidak membandingkan

      Hapus
  23. Ternyata Anak TK sekarang kok sudah ada UTSnya? Pasti berat banget bago mereka apalagi df tuntutan orang tua yang tidak mau kalah dengan anak yang lain. Zaman saya sekolah dulu gak ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba makanya PR buat ortu menyesuaikan sesuai zamannya :)

      Hapus
  24. Ya Allah, Ummi kalau dekat Neyna bakalan Ummi peluk kenceng-kenceng trus Ummi cubit Bunda. Bundaaa tegaaa *lemparin lipstik 10 ke Bunda*. Hehhe. Sabaar ya Bundaa. Ayyas juga kalau belajar ya susah. Dia masuk SD belum bisa membaca sama sekali. Pas ngajarin hitung menghitung jagoan bapaknya, tapi bapaknya nggak sabaran kalau ngajarin anaknya. Tapi memang benar ya bahwa anakku bukanlah aku. Terima kasih buat jadi bahan introspeksi ya Bun. Kecup Muah muaah

    BalasHapus
  25. Wah saya ikut sedih denger ceritanya Bun. Terima kasih sudah berbagi, jadi mengingatkan saya juga. 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mba semoga tidak terjadi y mba :)

      Hapus
  26. Kejadian yg sama terjadi dgn anak pertama saya. Sampe anak saya mogok sekolah dikelas dua, krn terlalu di push sama emaknya.

    Anak kedua, udah lebih santai.
    Di omongin kiri-kanan, anak ga disekolahin, ga diajar ini itu. Tutup kuping aja.

    Bagi kami, saat anak melakukan sesuatu dengan bahagia, pasti ada hal yang dia pelajari disitu. (Mungkin kita belum bisa melihatnya sekarang)

    BalasHapus
  27. Muungkin krn aku merasa sebagai orang yg tidak punya kelebihan ya jadi aku gak nuntut anak. Karena aku percaya bahwa cintalah yang melahirkan kehendak. Jadi aku fokus anaknya suka dulu

    BalasHapus
  28. Aku nggak dikaruniai anak, namun karena sering dekat sama anak, jadi ngerti kaalu setiap anak itu spesifik membawa karaketr masing-amsing ya mba.
    Jadi memberlakuakn mereka sesuai karakter, mungkin itu yang terbaik

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul mba :) makasi sharingnya mba

      Hapus
  29. Kok aku jadi pengen nangis baca tulisan Herva ini. Salam sayang buat Neyna yaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam sayang kembali buat teh Efi :)

      Hapus
  30. Konon anak-anak di usia TK tidak diwajibkan untuk belajar membaca, menulis maupun berhitung. Namun, faktanya ntah karena tuntutan zaman dll, untuk masuk SD ada tes calistung meskipun bentuk soalnya sederhana..

    BalasHapus
  31. Bener bgt! Ortu kalo punya ambisi untuk diri sendirinya aja. Gak usah dibebanin ke anak. Cedih kan, anak kan orang ya. Bukan orang-orangan.

    BalasHapus
  32. Jadi haru dan nanti kalo jadi orang tua gak memaksakan kemauan si anak, pokoknya yang terbaik, orang tua mendukung.

    BalasHapus

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design