Search

Begini Cara Mengajarkan Anak Berbakti Kepada Orang Tua

Pernah mendapati anak dibilangin lalu gerutu apalagi ada yang sampe memukul? nah itu sedang terjadi pada Neyna si sulung yang sebentar lagi resmi dipanggil Teteh. Entah darimana ia imitasi respon memukul dan mencubit jika keinginannya tidak segera terpenuhi.

Terlebih kalau misalnya dia sedang asyik dengan kegiatannya lalu saya panggil maka dia akan marah dan berkata "bundaaaa iiiiihhhh" dengan alis mengerung dan gerutu dari bibirnya terdengar. Duh berasa banget pengen mites kalau anak udah kayak gitu. 

Apabila sudah "kumat" maka saya akan memberikan wejangan buat Neyna, biasanya saya hanya bisa menasehati. Nasehat pada umumnya ibu kepada anaknya namun  agar Neyna lebih menghayati akan saya bilang bahwa "Alloh selalu menyaksikan dan malaikat Raqib -Atid selalu mencatat".

Hasilnya? masih saja diulangi, respon memukul, mencubit, gerutu dan berkata 'ih'. Menginjak usianya bertambah terus saya tidak ingin ini menjadi habit buatnya. Tidak hanya kepada orangtuanya tapi saya ingin dia bisa memuliakan siapapun dengan respon yang lebih baik bahkan mengingkan ia bersikap santun kepada siapapun.


Memang selama respon memukul atau gerutu diakhirnya Neyna selalu meminta maaf tanpa harus saya suruh tapi tetap saja respon awal begitu membuat saya jengkel. Kalau saya lagi simpen stock sabar yo wis diemin aja tapi kalau lagi saya kumat berentet dah kultum dengan nada soprano 😂.

Berangkat dari fenomena tersebut membuat saya berfikir bagaimana untuk bisa menghilangkan respon yang agresif macam itu. Selama ini yang saya lihat Neyna memang tipe anak yang menangkap sesuatu dari hasil dongeng. Makanya saya sebagai mamaknya pandai-pandai mengarang.

Waktu Neyna keasyikan nonton, cara saya menghentikannya dengan menceritakan kisah Cici si Kelinci yang saya karang sendiri sehingga pada akhirnya Neyna sudah taklagi asyik nonton.


Nah untuk case yang saya satu ini tentu saja saya ga bisa bebeas mengarang tapi saya ingin mengisahkan kisah real yang ada agar bisa menginspirasi Neyna. Berbicara tentang memuliakan orangtua saya jadi ingat buku "Birrul Walidain" yang ditulis oleh Mba Izzah Annisa.

Buku ini berisi dengan 20 kisah teladan  dari orang-orang saleh yang sangat berbakti kepada orang tua. Sebelum saya ceritakan kepada Neyna, biasanya saya baca terlebih dahulu agar saya bisa menyampaikan dengan baik.

Setiap kisahnya ditulis dengan apik oleh Mba Izzah, meskipun setiap kisahnya ditulis berkisar 1-3 lembar saja namun tidak mengurangi esensi dari setiap kisah yang disampaikan. Gaya bahasanya juga simple tidak terlalu monoton karena memang diperuntukkan untuk anak-anak.

Saya pernah membeli buku anak dengan gaya bahasa yang menurut saya ga cocok buat jadi buku cerita anak. Sangat kaku bahkan terkesan monoton, bagi saya orang dewasa saja malas untuk membacanya apalagi anak-anak.

Kisah-kisah yang disajikan juga benar-benar bisa diaplikasikan dan diteladani oleh anak-anak. Tak hanya untuk anak-anak tapi juga bisa reminder loh buat kita orang tuanya. Dan lagi setiap kisahnya diakhiri dengan satu kesimpulan baik hadits maupun ayat dalam Al-quran yang menunjang bagaimana berperilaku baik kepada orang tua.

💟 Bagaimana Cara Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Yang Telah Tiada?💟
Seseorang datang kepada Rasullah saw dan bertanya, "Wahai Rasullah, apakah masih tersisa sesuatu sebagai baktiku kepada kedua orang tuaku setelah keduanya tiada?" Beliau bersabda. " Ya, engkau mendoakan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, menunaikan janji keduanya, memuliakan teman keduanya, dan silaturahmi yang tidak tersambung kecuali dengan keduanya" (HR al-Hakim)  (Hal.58)


Ilustrasi kisahnya juga menarik yang disajikan dengan warna-warna yang soft. Membuat saya dan Neyna betah memandangi setiap lembaran ceritanya. Bahkan Neyna berulang kali selalu meminta saya bacakan kembali.

Dari 20 kisah yang ada, Neyna suka dengan kisah Uwais Al-Qarni bahkan ia mampu menceritakannya kembali meski versi Neyna maunya Uwais ngangkat "Embe" selama latihan sebelum mengangkat ibunya berhaji *wes sakarepmu weh 😂.

Dan kisah  Iyas Bin Muawiyah yang menangis begitu mendalam takkala ibunya meninggal karena baginya kedua orang tuanya adalah pintu syurga. Duh masyaAlloh saya yang bacainnya aja terharu biru apalagi Neyna yang menyimak dan ingin seperti Iyas.

So, bagaimana dengan perubahan Neyna setelah saya bacakan kisah-kisah orang saleh dalam buku ini? Alhamdulilah ada  perubahan. Pas waktu Neyna ga sabar pengen diambilin minum dia mencubit pelan tangan saya lalu terjadi percakapan berikut :

B : Hayo nyubit bunda, orang saleh kayak di buku ini ada yang nyubit bundanya ga?
N : aku ga nyubit bunda tadi cuma ngelus, hayoh bunda ga boleh boong Alloh menyaksikan
B : *pingsan* bocah cilik ini bisa ngelesnya 😂

Minimal ia tidak se-agresif sebelumnya ada sedikit-sedikit perubahan yang terjadi dengan dibacakannya kisah-kisah teladan dari buku ini.

Juga ada satu kisah tentang Haiwah bin Syuraih Bin Shafwan yang mana beliau adalah seorang ulama besar, suatu ketika ia sedang mengajarkan ilmu agamanya lalu ibunya mendatanginya dan memintanya untuk memberikan makanan kepada hewan peliharaan.

Haiwah lantas segera menuruti perintah ibunya dan memberikan makanan kepada hewan-hewan peliharaannya. Kisah ini jadi inspirasi buat Neyna juga, karena di rumah ada si kucing gendad makanya Neyna juga mau kalau saya minta kasih makan.

Akan ada banyak cara untuk mengajarkan anak-anak kita berbakti dan memuliakan kita sebagai orang tuanya. Salah satunya seperti yang sudah saya ulas dengan membelikan buku yang memuat kisah-kisah teladan dari orang-orang saleh bagaimana berperilaku baik dan begitu sayangnya kepada orang tua.

Harapan saya semoga Neyna dan adiknya kelak bisa meneladani kisah-kisah dalam buku ini dan bertambahlah sayangnya untuk saya dan ayahnya. Aamiin

Demikian yang bisa saya ulas, temans tertarik dengan bukunya? segera aja beli di tokbuk langganan. Kalau saya kebetulan tokbuk di Cimahi ga ada jadi beli online.Semoga bermanfaat yah 💋.

Judul Buku : Kisah-Kisah Birrul Walidain yang melegenda
Penulis        : Izzah Annisa
Ilustrator     : Alif Mustofa
Penerbit       : Tiga Ananda
ISBN           : 978-602-366-352-1
Cetakan 1-Solo Oktober 2017
72 Halaman



Tidak ada komentar

Posting Komentar

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun