Sebuah Teguran

Teguran, cara menegur, menerima teguran

Sebuah Teguran

Adakalanya ketika kita membuat satu kesalahan barangkali ada orang lain yang peduli untuk menegur sebagai reminder untuk kita jangan sampai melakukan kesalahan lagi. Tapi sayangnya teguran tak pernah berujung manis jika yang menegur salah dalam pendekatan cara menegurnya. Yang terjadi justru konflik yang meruncing bukan memperbaiki kesalahan yang ada.

Kebanyakan dari kita lebih banyak menegur dengan fokus pada kesalahannya tanpa mengetahui terlebih dahulu sebab musabab mengapa orang lain berbuat seperti itu melakukan suatu kesalahan. Kadang pula kita melupakan situasi dan kondisi orang yang kita tegur. Balik lagi pasti bukannya menyelesaikan masalah tetapi memperburuk keadaan.
Ada yang bisa menyadari kesalahannya dan banyak pula yang tidak menyadarinya. Ego masing-masing yang mengendalikan rasa bersalah. Tidak mudah memang ketika ingin mengakui satu kesalahan. Lidah terasa kelu dan begitu sulit untuk mengakui kesalahan. Saya pun sama seperti itu, kadang saya merasa paling benar sehingga kena teguran menjadikan saya bukan merasa bersalah namun menganggap orang lain yang menegur itu sok tau. xixixi

Teguran, cara menegur, menerima teguran

Anak saya usia 3 tahun, jika dia berbuat salah dia belum bisa mengakui kesalahannya. Disini yang saya pahami anak kecil masih belum menyadari bahwa misalnya jalur A adalah sesuatu yang benar atau salah sehingga sulit membedakan. Saya tanyakan apa kesalahannya yang keluar hanyalah reflek permohonan maaf atau pura-pura tak melakukan kesalahan.

Tentunya berbeda cara menegur saya kepada anak, misalnya kejadian baru-baru ini anak saya ngompol di kasur. Reflek saya kaget dan jangan ditanya pasti kesel berujung marah. Lumrah bagi setiap orang reaksi refleknya kalau ga kaget, marah. Lalu setelah cooling down karena saya katarsis dengan mengganti sprei akhirnya energi marah saya hilang untuk beresin kasur yang basah. 

Selanjutnya saya panggil anak saya untuk bicara. Dia berulang kali bilang "maafin y bun qu ga sengaja" sambil nunduk. Bagi saya sebagai ibu stock maaf untuk anak pasti tersedia apalagi dia baru belajar mengenai true or false dalam kesehariannya. Lalu saya balik tanya apakah Neyna tau kesalahan Neyna? anak saya geleng-geleng kepala. Yang saya pahami dia sedih karena menyesal membuat saya kesal.

Saya jabarin akan 3 kesalahan yang telah dia lakukan :
1. sudah ngompol di kasur
2. ngompolnya di celana
3. tidak pernah mendengarkan nasehat 

Ketiga kesalahan itu saya tujukan dengan reasoning tentunya, saya jabarkan jika pipis itu harusnya dimana?dia bilang toilet. Saya tanyakan apa sebabnya sampe ngompol lagi di kasur? lagi-lagi anak saya menjawab maafin qu bun qu ga sengaja *pasang muka melas*. Saya hampir ketawa padahal lagi serius. Ujung dari pembicaraan tersebut membuat dia berjanji untuk tidak ulangi lagi dan bikin meleleh dia meluk saya sambil bilang terimakasih.

Ini yang bisa saya pelajari, bagi orang dewasa tak mungkin memberikan reaksi yang sama seperti anak-anak. Ditanya kesalahan tentunya sudah mampu menjawab tapi sayangnya kebanyakan menggunakan jurus defence. Mungkin juga cara yang salah dalam memberikan teguran kepada orang lain. Karena seperti yang saya ulas sebelumnya kita kebanyakan fokus pada kesalahan tanpa menggali terlebih dahulu historynya.


Belajar dari anak saya, ditegur ia minta maaf, ia mengucapkan terimakasih meskipun ia belum memahami akar kesalahannya. Mungkin berbeda dengan orang dewasa, butuh pendekatan khusus agar mereka mampu menyadari kesalahannya. Saya pernah ceritakan disini ketika saya meng-assessment seseorang berujung curhat. Sulit sekali saya menembus benteng defencenya harus menggunakan teknik membangun baru akhirnya saya bisa masuk ke ranah kekurangannya.

Teguran yang Alloh berikan pun sama kepada setiap manusia dengan berbagai macam bentuknya, hanya yang membedakan cara kita menangkap isyarat tersebut sehingga mampu membuka mata kita untuk segera bertobat dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Reaksi kita apakah kita menantang pemilik diri kita? marah kepada Alloh? atau bahkan cuek? jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Cukuplah mengingat setiap tingkah laku yang kita perbuat. Yang saya tahu setiap teguran yang datang merupakan tanda kasihNya kepada kita untuk tetap berada dalam koridor yang benar.

Demikian ulasan saya, menegur tak mesti harus menggunakan emosi, menegur perlu waktu yang tepat, jangan selalu fokus sama kesalahannya tapi mengkorek dulu alasannya, hingga di akhirnya sama-sama berkomitmen untuk perbaikan diri.



59 komentar

Avatar
Nita Lana Faera Sabtu, 13 Agustus, 2016

Yang nggak ngenakin itu memang, orang yang menegur saya di hadapan orang banyak, dengan intonasi yang lebih menghakimi dan menghina.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Sabtu, 13 Agustus, 2016

Baiknya memang klo ingin menegur adalah face to face jika didpn org bnyk bkn menegur tp menjatuhkan y mba :)

Reply Delete
Avatar
Carolina Ratri Minggu, 14 Agustus, 2016

Setuju banget! Kadang yang negur juga udah yang nyalahin duluan sih. Kalau negur orang, saya biasanya nanya dulu. Ini kok gini ya? Nah, biasanya dari situ terbuka diskusi sih.

Ah, kadang kita memang perlu belajar dari anak-anak kita soal ketulusan hati :')

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 15 Agustus, 2016

iya mba anak2 adalah cermin ketulusan :) makasih mba uda mau berkunjung ^^

Reply Delete
Avatar
Vety Fakhrudin Minggu, 14 Agustus, 2016

biasanya banyak orang dewasa yang ditegur malah marah balik. ujung2nya yg ditegur lebih galak daripada yang negur...serem

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 15 Agustus, 2016

iya mba karena sudah kebentuk defence hahaha..

Reply Delete
Avatar
April Hamsa Minggu, 14 Agustus, 2016

Soal ego itu ya, org dewasa kalau lagi kuat2an ego yg ada masalah gak kelar2
Jd malu sama anak kecil ya mbak...
Moga2 bisa lha mengatur ego ini
TFS :)

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 15 Agustus, 2016

sama2 mba :)
terimakasih sudah berkunjung

Reply Delete
Avatar
Hairi Yanti Senin, 15 Agustus, 2016

Perlu seninya emang tegur menegur ini ya. Agar kita ga berasa menghakimi juga yang ditegur ga tersinggung. Kalau udah dekat bisa ngomong pelan2 dulu...

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 15 Agustus, 2016

Betul Mba ada seninya, apalagi kalau orang yang ga di kenal misal di jalan nemuin yang salah wajib di tegur nah seni menegur yang dibutuhkan biar sama2 enak :)

Reply Delete
Avatar
Lidha Maul Selasa, 16 Agustus, 2016

menegur bercampur dengan kemarahan, cara terbaik adalah menunda. Ini yang biasa saya terapkan. Karena yg ditegur tidak akan mencerna nasehat kita cuma akan mengambil kemarahan kita yang biasanya dia akan marah balik.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Rabu, 17 Agustus, 2016

betul mba, emosi hanya membuat luka dibanding saat kita sudah reda dan menggunakan logika :)

Reply Delete
Avatar
Ummi Nadliroh Rabu, 17 Agustus, 2016

Ya, menegur saat situasi dan kondisi tidak konfusif malah membuat yg ditegur menjauh. Pdhal maksud kita baik. Harus belajar menegur di saat yg tepat, nih...

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 18 Agustus, 2016

betul mba, sama saya juga sedang belajar dan terus belajar :)

Reply Delete
Avatar
Gustyanita Pratiwi Jumat, 19 Agustus, 2016

ga kebaayang wajah si dedeknya pas dikirain bundanya marah tapi malah nahan ketawa hihi

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Sabtu, 20 Agustus, 2016

mukanya uda mirip kucing si shrek mba :p

Reply Delete
Avatar
Amanda Ratih Senin, 22 Agustus, 2016

Saya masih mengelola emosi ini nahan-nahan nggak mempermalukan anak di depan umum, soalnya anak saya pecicilan bangeeeeeet... *Sabar--sabar*

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 23 Agustus, 2016

Sabar mba coba dengan strategi lain dalam bernego dengan anaknya :) semoga stock sabarnya ga tipis y mba ^^

Reply Delete
Avatar
Reni Dwi Astuti Senin, 05 Juni, 2017

Kalau aku habis marah sama anakku gitu rasanya menyesaaall banget, dan pasti tak kan terlewatkan aku akan minta maaf sama si kecil dan berusaha sharing dengannya mengapa tadi ibunya marah bla bla...

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 05 Juni, 2017

iya sama kadang suka kasian melas liat mukanya yang unyu jadi sedih hahhaa

Reply Delete
Avatar
Nyi Penengah Dewanti Senin, 05 Juni, 2017

Apalagi bulan puasa ya bun, emosi kudu dijaga banget dalam mengurus anak-anak :-D Semangat selalu bun. Meski saya juga membayangkan wajah si adek memelas hahahah geli

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 05 Juni, 2017

iya mba bener hehehe aku klo bln puasa gini banyakin diem aja ntar pas buka langsung bla..bla..bla :D

Reply Delete
Avatar
Kanianingsih Senin, 05 Juni, 2017

panjang ya proses ngajarin anak utk menerima teguran dan memperbaiki kesalahan..

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Rabu, 07 Juni, 2017

biar anak tahu kesalahannya memang ada prosesnya mba ketibang kita ngomel ga jelas tp anak ttp ga mudeng salahnya apa?hehehe

Reply Delete
Avatar
Vika Hamidah Senin, 05 Juni, 2017

Tapi mbak emang bagusnya lebih baik sih ya mba ditegur kalau salah asal calm aja mba jangan pake emosi.. yang penting dia ud mulai tau mana yang salah dan yang bener. Karena jika dibiarin kita gakan tau dia tau kalau itu salah atau rngaknya

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Rabu, 07 Juni, 2017

nah itu dy mba Vika hehehe :)

Reply Delete
Avatar
sri rahayu Selasa, 06 Juni, 2017

setuju.. teguran tak harus emosi. tapi aku masih susah prakteknya nih hihihi.. Btw templatenya cantik

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Rabu, 07 Juni, 2017

makasi mba :) yuk kita praktekin ala biasa jadi bisa :)

Reply Delete
Avatar
Leyla Hana Rabu, 07 Juni, 2017

Itu jadinya cuma 2 kesalahannya karena no 1 & 2 bisa digabung..kalau ngompol pasti di celana hehe... Anak saya masih ngompol setidaknya sampai umur 7 tahun karena kondisi tertentu, misalnya udara dingin atau setelah nonton film horor jadi mimpi.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Rabu, 07 Juni, 2017

alhamdulilah anakku sudah ga ngompol lagi mba belum 4 tahun karena memang targetku jangan sampe nanti gedenya malu hahaha

Reply Delete
Avatar
Wahyu Widyaningrum Rabu, 07 Juni, 2017

Kudu sabar memang ya Mbak

Btw btw, kadang menegur aku masih pake emosi hikss

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Rabu, 07 Juni, 2017

iya mba belajar sabar pisan :)

Reply Delete
Avatar
prana ningrum Jumat, 09 Juni, 2017

Bundanya bijak banget...kadang kita marah2 lebih dulu ya mbak :)...

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 16 November, 2017

wah skrg uda emosi jiwa mba wkkwwkk

Reply Delete
Avatar
Ayunovanti Kamis, 23 November, 2017

Pas banget mbak, aku lagi mengajari toilet training ke anakku. Jadi ibu memang harus sabar ya mbak, karena menegur anak-anak itu ada caranya sendiri. Aku kayaknya butuh katarsis nih :).

Kalau negur orang dewasa tantangannya takut orang ybs sakit hati, menegur anak-anak beda lagi. Mengerti kalau sedang ditegurpun tidak, lebih ke memberikan penjelasan supaya mereka menyadari kesalahannya.
Makasih mbak buat sharingnya :)

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 23 November, 2017

sama-sama mba makasi udah mampir kembali :)

Reply Delete
Avatar
Bunda Erysha Kamis, 23 November, 2017

Sama Bun, Erysha juga kalau suka mukul bundanya. Sudah mau minta maaf trus meluk bundanya. Udah gitu rasanya saya langsung meleleh hahahah

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 27 November, 2017

iya kan belajar dari anak y mba mereka sll berpositif :)

Reply Delete
Avatar
Nurul Sufitri Kamis, 23 November, 2017

Orang yang ditegur tekadang malah sakit hati. Padahal si penegur hanya ingin memberikan masukan misalnya. Susah juga kalau ada yang seperti ini. Cara negurnya aja kali harus diperbaiki. Begitu juga dg yang ditegur jgn apa2 langsung baper hehehe.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 27 November, 2017

nah itu dia mba makanya cara negur kita yang mungkin disiasati

Reply Delete
Avatar
dudukpalingdepan Jumat, 24 November, 2017

suka banget tulisan bunda nameera pasti bijak banget deh, thanks yaa bisa untuk saya belajar mendidik anak tentang salah dan minta maaf :D

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 28 November, 2017

alhamdulilah makasi uda mampir mba :)

Reply Delete
Avatar
Ade ufi Jumat, 24 November, 2017

Nice sharing, mba.. aku juga melakukan hal yang serupa dengan si Abang waktu kecil. Akhirnya skrg jadi anak yg kritis. Selalu aja ada jawaban yg menurut kita logis tapi bikin kesel, mba.. hahaha.. mak ga sabaran. Karena defend dia. Tapi masuk akal loh..

Skrg aku mengajarkan empati saat menegur dia. Dengan memposisikan dia di pihak yg dia bikin kesel.

Reply Delete
Avatar
ungayossydotcom Sabtu, 25 November, 2017

Betul banget itu mbak. Saya juga setuju. Banyak hal juga yang bisa kita jadikan contoh. Berproses semoga menjadi lebih baik. Baik jadi sng penegur ataupun yang sudh ditegur 😁😁

Reply Delete
Avatar
Ammar Dental Minggu, 26 November, 2017

Begitulah kehidupan mba. Gajah di pelupuk mata tak nampak sedang kuman di seberang lautan nampak.

Reply Delete
Avatar
Vanisa Desfriani Minggu, 26 November, 2017

iya, menegur memang perlu waktu yang tepat. kalo ga tepat malah jadi salah faham..

Reply Delete
Avatar
PIPIT Minggu, 26 November, 2017

Semakin bertambah umur semakin pula belajar, kalau apa yang dilakukan anak-anak itu lebih mulia ketimbang kita yang lebih dewasa. Coba kalau yang melakukan kesalahan yang dewasa gini, pasti kebanyakan ngelak atau ngeles, dan bahkan ada yang g terima.

Reply Delete
Avatar
Ade anita Minggu, 26 November, 2017

Suamiku cerita bahwa keponakan dia biar gak ngompol pusernya ditempeli capung...tapi jaman sekarang susah ya nyari capungnya

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 28 November, 2017

hahaha dulu aku gitu mba ga ngaruh aku ttp ngompol :p

Reply Delete
Avatar
Jiah Selasa, 28 November, 2017

Aku lagi ajarin keponakan biar dia bilang Maaf dan Terima kasih dan itu juga ngajarin aku sendiri biar tdk lupa ngucapin itu

Reply Delete
Avatar
Ria Tumimomor Rabu, 29 November, 2017

saya mah skrg udah tuir mbak... hahahah... (siapa yg nanya). maksudnya udah capek bantah2an... udah kl memang salah biasanya saya ngaku aja dan minta maaf. Kecuali kl memang bukan salah saya ya... :)

Reply Delete
Avatar
Heripal Danindra Minggu, 03 Desember, 2017

teruguran bukan kita tak peduli malah kita pengen dia jadi lebih baik,,kan membantu dia juga.

Reply Delete
Avatar
Ria Kiyandra Minggu, 22 Juli, 2018

Bagus sekali pointnya, komunikasi dengan anak memang penting ya.. Smoga bs dipraktekin klo entar sy punya anak 😁

Reply Delete
Avatar
www.ninonurmadi.com Sabtu, 06 Juli, 2019

Visit Your Blog, Thanks you For Sharing , Make it share and keep going to do....

Reply Delete