Friday, April 22, 2016

Say "NO to jurus Taichi" Dalam Menghadapi Masalah

Taichi identik dengan ilmu bela diri kalau dengar taichi suka pengen pasang kuda-kuda buat lemparin satu serangan hahaha. Taichi berasal dari Cina Kuno yang merupakan perpaduan latihan pernapasan dan meditasi yang terangkum dalam satu gerakan pada perang kuno. Manfaat taichi banyak sekali bisa nanti cari sendiri ya. Skip...skip...skip yang saya ingin soroti bukan manfaat atau praktek taichi-nya tapi disini saya mau bahas mengenai kebiasaan untuk melempar kesalahan kepada orang lain karena itu biasanya si di tempat kerja suka melabelkan individu yang suka lemparin kesalahan itu dengan sebutan melakukan taichi (dengan gerakan tangan keatas seolah melempar sama seperti gerakan taichi karena itu disebut jurus taichi master).

Contoh ilustrasi dimana ternyata masih ada orang yang suka pake jurus taichi ini, contoh ini saya copas dari buku. Respon orangtua ketika tahu anaknya menjadi nakal, menggunakan narkoba atau hamil di luar nikah (tinjauan dari film, sinetron, novel dan ada observasi keseharian) :
1. Tahun 1970-1980-an, ayah menoleh kepada ibu dan menghardik "Ibu sih anak dimanjakan terus makanya anak kita jadi begini!" dan sang ibu hanya bisa menangis
2. Tahun 1980-1990-an, orangtua memarahi anak, "kamu sih mainnnya sama teman-teman gak bener, begini jadinya!"
3. Tahun 1990-2000-an, orangtua menyalahkan televisi lewat surat pembaca koran. "ini gara-gara TV mengajarkan hal-hal yag gak benar lewat film, sinetron maka anak-anak kita jadi tercemar
4. Tahun 2000- sampai sekarang, orangtua menulis di media sosial ramai-ramai menyalahkan media sosial dan internet. "ini anak-anak jadi nakal karena pengaruh media sosial dan internet"

Begitulah seterusnya lebih banyak mencari pihak ketiga, melempar semua kesalahan pada yang lain. Dalam konteks psikologi itu menunjukkan juga bahwa kita adalah orang yang memiliki konsep diri negatif (catet niy). Merasa kurang dan rendah dan merasa harus melindungi diri dengan cara melihat keburukan orang lain. Kita merasa selamat ketika melihat keburukan orang lain dan menghibur diri, tenang saja ada orang lain yang lebih buruk dari kita. (ini kata psikolog perkembangan Bu Yeti).

Sumber : Google
Ada banyak hal dan masalah namun secara tidak sadar kita selalu melempar kesalahan itu kepada pihak lain alias lebih suka ber-taichi (hiat ni saya lemparin ke dia wong saya mah uda bla...bla...) akhirnya timbul defence segala macam cara untuk menangkis dan tetap ber-taichi. ya keles kalo yang dilempar duit sekoper nah ini dilempar pitnah dan kesalahan yang ga diperbuat gimana ga bikin pala berbie muter hahaha.

Coba tanyakan dalam diri kita, jangan-jangan tanpa sadari kita juga suka pake jurus taichi saat dihadapkan masalah. woy bangun woy ga kesian liat orang lain kena semprotan mending kalau semprotan st*ella xixixi. Ada yang bilang 1 jari telunjuk mengarah kepada orang lain maka ada 4 jari lain yang tertuju untuk diri kita sendiri, saya sepakat dengan ini. Apakah susah untuk mengakui kesalahan diri/memang susah sekali sama seperti emak yang susah nurunin berat badan hahaha.

Saya sendiri masih suka gunakan jurus taichi master ini ketika ada masalah, saya masih perlu perbaikan diri karena saya ga sesuci biksu tom dalam kera sakti (apa sih nyambung aza hahaha).
Macet di pagi hari nyalahin angkot ngetemlah, nyalahin jalanan rusaklah, ada saja reason buat jurus taichi ini padahal kalau diruntut step by step yang mesti disalahin telat ngantor ya saya sendiri napa kagak berangkat lebih pagi, memanage waktu yang baik. Kenapa jadi angkot yang disalahin lah orang emang hobinya ngetem jangan salahin dunk hahaha, uda tau jalanan rusak berharap nek motornya bisa kenceng namanya ngundang celaka malah disalahin hahaha.

Kira-kira seperti itu yang saya bahas kali ini, semoga bermanfaat yah. Intropeksi diri dan selalu berusaha menyadari kesalahan kita sendiri. Susah dunk?emang tapi kan belajar dan membiasakan makanya lama-kelamaan biasa untuk tidak selalu nyalahin orang lain.

Sumber : Buku Sebening Air Perigi Ananda (hal .38) karya Yeti widiati

16 comments:

  1. iya mbak..setuju kita sebagai ortu seringnya menyalahkan pihak lain tapi tidak menonjok diri sendiri ibarat pepatah...gajah di pelupuk mata tidak keliatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Y mba lbh bnyk defence dan ber-taichi ria hehehe kyk kasus diatas sbg ortu apa yg uda kita lakuin sampe anak bisa kelolosan gtu semoga lbh bnyk intropeksi diri dan ttp menyadari u/ tdk melempar salah kpd pihak lain :)

      Delete
  2. wah..wah... kayak..orang-orang didekat ku..nih..
    hmmm yang oaling dekat sih... ..*celingak celinguk..* Eh... ternyata saiiyaaaa... sendiri..hahahha

    ReplyDelete
  3. Hmm iya banyak orang kaya gitu, apalagi kalau kita nunjuk dengan satu telunjuk bakal ada yang menujuk lebih dari satu itu memang benar mbak, hmm ternyata kita harus lebih hati hati lagi ya mulai sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kang mesti hati2 sebelum nunjuk pihak lain :)

      Delete
  4. selalu mengkambing hitamkan sosmed, padahal peran lingkungan keluarga harus lebih di perhatikan ya mbak, hmm.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup betul peranan kita sbg ortu uda maksi ato blm jgn sampelah kecolongan hehe

      Delete
  5. Wah reminder ni buatku..
    Bener juga, makin ke sini harusnya kita makin dewasa ya mb menyikapi setiap problem kehidupan, n no jurus taichi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyes mba hehehe kadang defence diri yg merasa kita benar dia salah :)

      Delete
  6. aku jg masih sering nyalahin hehehe...musti perbaikin diri...makasih sharingnya mbak

    ReplyDelete
  7. Mbak Herva pintar deh menganalogikannya

    ReplyDelete
  8. Kalau saya tukang nyalahin macet misalnya telat 😀 emang ga enak sih ya dilempar kesalahan, apalagi difitnah 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Miss hehehe bikin baper klo uda ujungnya fitnah siy

      Delete

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design