Halo Effects Or Devils Effect?

Blog ini berisikan seputar parenting, travelling, lifestyle, kesehatan, kecantikan, seputar pejuang ASI dan pengalaman sebagai working mom

Halo Effects Or Devils Effect?

Dalam kehidupan ga kan lepas dari namanya penilaian kita kepada orang lain. Jika kita berhadapan dengan orang baru tentunya penilaian secara fisik yang akan terekam lalu menjudge jika orang itu bla..bla..misalnya kita ketemu sama cowo ganteng, rapih, penampilannya klimis banget dah maka yang ada dalam fikiran kita menyimpulkan kalau cowo itu pasti pandai, kaya, baik dan sebagainya.

Inilah yang biasa dikenal dengan istilah Halo Effect. Halo Effect sendiri cara pandang kita yang menafsirkan jika sesuatu itu sempurna. Padahal kesempurnaan hanya milik Alloh bukan xixixi. Nah realita Halo Effect sendiri sering terjadi di dunia kerja loh. Dari mulai perekrutan, interview sampe pas kerjanya.

Hebat yah yang nemuin istilah ini *dadah-dadah buat Mr. Edward L. Thorndike. Ia melakukan penelitian secara empiris. Dalam penelitian psikologi yang dipublikasikan tahun 1920, Thorndike meminta komandan perang untuk menilai para prajuritnya. 

Dari situ, Thorndike menemukan hubungan yang tinggi antar semua sifat positif dan semua sifat negatif. Seseorang biasanya tidak menilai orang lain dengan penilaian yang bercampur aduk, melainkan kita akan menganggap setiap orang sebagai baik atau buruk dalam berbagai kategori pengukuran. 


Sebagai recruiter tentunya saya mesti lepas dari Halo effect ataupun Devil's effect. Devil's effect sendiri kebalikan dari halo effect dimana ketika kita sudah menilai negatif kepada seseorang maka akan terus saja fikiran kita memandang jelek terlepas ada sisi positif dalam dirinya. 

Bahaya toh jika keduanya sampe terjadi baik halo effect maupun devil's effect. Akibatnya jika terjadi kedua effect tersebut adalah "False Hire". Yang rugi jelas perusahaan dong sapa siy yang mau merekrut orang yang salah, imbasnya adalah kami tim rekruiter mempertanggungjawabkan hoho (berat sist...). 

Apa yang terlihat oleh visual suka berbeda, ada pengalaman menarik pas saya interview, waktu itu ada kandidat cewe penampilannya pokonya wow, rapih, bersih, cantik, saya liat CV oke ni pengalaman dan prestasinya.

Psikotes lolos lanjut Interview, pas interview di gali lebih dalam tiba-tiba dia nangis sampe sesenggukan waktu itu cuman ditanya kenapa tertarik melamar ke sini. 

Dia bilang karena dulu ibu saya ulangtahun terus dapet kejutan dari Al**mart makanya saya mau masuk, dan dia cerita sampe nangis jadi saya bersama rekan kerja saya saling berpandangan dan sesi interviewpun gagal karena kami nungguin dia reda nangis hahaha. 

Posisi yang kami butuhkan ga cocok dengan pribadi yang begitu sensitif terlebih nanti jika berhadapan dengan yang tidak sesuai mestilah dia nangis begitu. 
 
Biasanya tuh user siy yang saat interview mesti mandang dulu secara fisik kalau keliatannya uda ga enak uda pasti dah di tolak hahaha ini nih uda kena devils effect.

Di lingkungan kerja pun masih ko pada kena kedua virus ini, jika ada yang cuantik fisiknya kalau salah ya termaafkan beda yang fisiknya biasa saja kalau salah mmm tiada maaf bagimu bisa jadi besok uda mesti dadah pamitan wkwkwk karena tekanan batin cin karena jadi korban ketidakadilan hahaha mengapa harus aku yang salah terus?apa salahku? sambil nangis dipojokan. 

Saya sendiri paling banget ga suka sama user yang kalau minta orang syaratnya : mesti cantik atau ganteng. Padahal masih banyak yang pengalaman dan kemampuannya lebih baik ketimbang cuman liat fisik doank (betul ga sodarah-sodarah?). 

Selama bertahun-tahun di dunia perekrutan saya mencoba untuk menetralisir dalam memberikan pandangan kepada semua kandidat karena mereka masing-masing punya kesempatan yang sama untuk gabung. 

Dengan cara begitu saya bisa mengambil keputusan mana yang layak diperjuangkan untuk masuk mana yang belum beruntung untuk saya bantu xixixi.

Demikian sekilas info pesan saya :
"Siapapun kita, seberapapun pengalaman & pengetahuan kita jangan tergesa-gesa menilai orang siapapun dia."

Posting Komentar