Pengalaman Tes Kerja Menjadi Guru TK di Cimahi

tahapan tes menjadi guru TK Tridaya Cimahi, pengalaman tes kerja, cara menjadi guru TK, Tes masuk guru TK

Pengalaman Tes Kerja Menjadi Guru TK di Cimahi

Udah lama banget yah ga nulis seputaran tes kerja atau tulisan isinya curhat tentang kerjaan hahaha..

Jadi pengen menuliskan kembali pengalaman-pengalaman seputar tes masuk kerja yang pernah saya ikuti.

Temans, kapan terakhir apply lamaran lalu mengikuti tes kerja? saya sendiri 2 tahun lalu terakhir ikut tes dan ujungnya gagal :D


Kali ini saya mau cerita pengalaman waktu ikut tes buat jadi GURU TK di Cimahi.

Dulu saya mikir jadi Guru TK ya gampang modal sabar dan pandai nyanyi hahaha..Palingan ga ada tes masuknya, ternyata itu SALAH gaes!

Jadi sekolah TK yang saya lamar punya prosedur tes untuk merekrut gurunya.

Apa jadi guru TK pake tes juga? IYASS...nah berikut pengalaman membahagiakan saya saat melamar menjadi Guru TK Tridaya Tunas Bangsa Cimahi.


tahapan tes menjadi guru TK Tridaya Cimahi, pengalaman tes kerja, cara menjadi guru TK





Awal Mula Tertarik Menjadi Guru TK


Tahun 2014, kala itu Neyna masih beberapa bulan usianya. Namun harus saya titipkan di Daycare "Ya Ibna" yang beralamatkan depan RS. Mitra Kasih Cibabat ( orang Cimahi kalau butuh jasa Daycare bisa ke sini ). 

Saya masih aktif bekerja di perusahaan ritel sebagai recruitment spesialist yang fisiknya di kantor cabang Cimahi sementara statusnya head office Cileungsi.

Hal ini tentu saja membuat saya terkadang harus datang ke Cileungsi, sementara daycare hanya menerima hari dan jam tertentu. 

Keadaan seperti ini jelas membuat saya kerepotan, pada akhirnya juga ada keputusan untuk diminta kembali ke kantor pusat namun saya memilih untuk resign.



Sebelum memikirkan resign, terlebih dahulu saya cari alternatif pekerjaan agar tidak menganggur. Apalagi waktu itu kondisinya kami sedang membangun rumah.

Waktu itu saya berfikir, sebaiknya mencari pekerjaan yang tidak menyita waktu bisa menitipkan Neyna hanya sebentar saja. Kalau bisa dapat pekerjaan yang juga tidak perlu MOBILE karena sebagai recruiter saya dituntut mobile terus.

Saya mencoba search lowongan kerja pada situs penyedia loker dan mata ini tertarik dengan iklan loker bertuliskan "Dibutuhkan Guru TK Tridaya Tunas Bangsa Cimahi".


Sepertinya saya beruntung apa yang saya harapkan langsung muncul. Fikir saya jika jadi Guru TK maka waktu kerjanya sebentar paling jam 12 siang sudah pulang. Begitu sih kata kerabat yang profesinya Guru TK.

Makin semangatlah saya untuk mengirimkan lamaran. Saya langsung melamar kalau tidak salah saya kirimkan CV melalui email. Dan alhamdulilah saya langsung dihubungi untuk mengikuti PSIKOTES.


Alur Tes Menjadi Guru TK


1. Mengikuti Psikotes Dan Interview Kerja




Kaget dan bahagia ketika menerima undangan psikotes oleh Biro Psikologi yang bekerja sama dengan Yayasan Tidaya Tunas Bangsa ini.

Saya mengikuti psikotes bukan di gedung TK Tridaya-nya akan tetapi saya wajib datang ke Biro Psikologi yang letaknya di Bandung.

Perjuangan mengikuti psikotes ini juga penuh drama, saya yang baru kehilangan sepeda motor akhirnya harus pinjam motor orang lain demi memburu waktu.

Alhamdulilah hari itu, kantor lama saya sedang merayakan hari kemerdekaan jadi ada acara kantor dan karyawan dibebaskan dari rutinitas bekerja. Maka pergilah saya mencuri waktu setengah hari ke Bandung.

Sesampainya di Biro Psikologi, saya mengikuti serangkaian tes dari tes kecerdasan hingga tes deret angka yang bikin pegel.

Dan setelah selesai psikotes saya mengikuti interview dengan Psikolog. Seputar motivasi kerja, interpersonal, pengalaman bekerja hingga ditanyakan tahu darimana info loker menjadi Guru TK. Pasalnya adik kelas saya di kampus ternyata sudah menjadi Guru TK di sana.

Padahal jelas saya tahu infonya dari situs penyedia loker. 

2. Interview Dengan Pihak Guru 

Tak lama dari psikotes, saya dihubungi kembali kalau saya dinyatakan LOLOS Psikotes dan bisa melanjutkan interview dengan Miss. XXX.

Saya lupa kepala sekolah atau gurunya Miss. XX waktu itu, proses interviewnya hanya sebentar.

Saya ditanya beberapa pertanyaan dan diminta kembali lagi untuk mengikuti tes lanjutan yakni membuat modul planning alur mengajar. Dan kembali mengirimkan via email. Saya lupa kirim email atau datang lagi.

3. Praktek Mengajar Langsung


Tahapan selanjutnya dalam tes kerja kali ini yaitu saya diminta untuk terjun langsung dalam kelas. Memberikan cerita dan berinteraksi langsung dengan siswa-siswa TK.

Masih ingat dalam ingatan saya, saya praktek langsung bersama adik-adik kecil yang berkebutuhan khusus.

MasyaAlloh butuh ekstra perjuangan untuk bisa menyampaikan pesan dan cerita yang akan saya sampaikan.

Bagaimana perasaan saya? jelas deg-degan terlebih lagi direkam dong oleh yang berkepentingan saya lupa siapa pokoknya 2 orang yang merekam serta melihat program mengajar yang saya buat sebelumna.

Bagi saya ini tes kerja paling menantang, biasanya saya yang memberikan intruksi buat kandidat yang usianya dewasa kini harus mengajarkan anak-anak.

Salut banget buat Guru-guru TK yang penuh kesabaran :)




4. Interview Terakhir Dengan Pemilik Yayasan


Tahapan terakhir dalam tes kerja menjadi guru TK Tridaya Tunas Bangsa ini adalah saya diundang mengikuti interview dengan pemilik yayasan.

Interview juga hampir sama dengan interview yang sebelumnya, pertanyaan yang diajukan hanya seputar pengalaman bekerja dan motivasi bekerja.

Saya sangat yakin jika saya bisa memenuhi kriteria guru di TK Tridaya ini *ampun PD tingkat RW.

Namun yang membedakan adalah adanya pertanyaan seputar GAJI. User menanyakan gaji saya sebelumnya lalu bagaimana jika gajinya tidak sebesar dari yang sebelumnya?

Waktu itu saya sempat mengobrol dengan salah satu kandidat yang sama-sama melamar menjadi guru di TK Tridaya ini. Sebut saja Mba Mawar, dia bilang kepada saya gaji dia di sekolah sebelumnya menjadi guru TK itu xxxxxxxxx..pokoknya bikin saya melambung dan mengharapkan juga gaji di TK Tridaya segitu :D

Maka saat ditanya gaji ya sudah saya percaya diri sekali bilang GPP gajinya ga sebesar di perusahaan sebelumnya ( fikir saya juga jam kerjanya setengah hari *kekeuh pengen kerja setengah hari hahaha )

Siang itu saya menyelesaikan interview terakhir dengan hati berbunga-bunga, siap menjadi guru TK.

5. Tanda Tangan Kontrak


Dari seluruh rangkaian tes tersebut akhirnya tibalah keputusan akhir. Saya kembali dihubungi oleh pihak sekolah dan dinyatakan LOLOS. *kan bener saya lolos hahaha..

Saya diminta kembali datang ke sekolah untuk mengikuti tanda tangan kontrak. Datanglah saya sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Ketika nama saya dipanggil ke ruangan, pihak sekolah meminta saya untuk membaca surat kontraknya.

Biasanya saya itu jarang baca kontrak namun hari itu spesial karena dalam surat kontraknya tertulis point-point dan Upah yang akan saya terima.

Result :

SAYA MEMBATALKAN SURAT KONTRAK tersebut dan tidak jadi GURU TK.

Beberapa point yang menjadi pertimbangan saya kala itu adalah :


  • Jam kerja, masuk dari jam 7 sampe pukul 16.00 wib
  • Upah alias gaji, melihat point jam kerja saja sudah tidak masuk dengan gaji karena pertimbangannya saya harus titip Neyna ke Daycare gaji saya ga akan cukup buat membayar daycare hahaha
  • Kalau tidak salah ingat ada point penalti jika resign sebelum kontrak berakhir
Dengan berat hati, akhirnya saya melepaskan pekerjaan Guru TK ini. Mohon maaf nih temans jangan bully saya yah karena jujur dulu kebutuhan ekonomi keluarga sedang masa kritis, baru saja kehilangan sepeda motor, sedang membangun rumah serta belum menemukan ART yang cocok pilihan daycare menjadi solusi. 


***

Well, temans demikian sharing saya kali ini pengalaman mengikuti tes menjadi Guru TK. Tugasnya berat namun kompensasi upahnya masih sedikit hehehe *emak matre :p sedih juga semoga guru-guru bisa mendapatkan kesejahteraan yang layak.


Adakah yang juga pernah mengikuti tes menjadi guru? yuk kita sharing..




102 komentar

Avatar
Lisdha Kamis, 27 Juni, 2019

nice sharing mbak herva. saya juga salut sama guru2 TK. berkaca dari pengalaman ngajar Sekolah Minggu di gereja, ngajar anak2 kecil itu butuh pengetahuan dan ketrampilan khusus. Terlebih khusus, butuh kesabaran berlimpah:)

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

sama-sama mba semoga guru-guru kelak mendapatkan kesejahterann yang warbiyasah sebanding dengan kerja mereka y mba

Reply Delete
Avatar
Gita sarrah Kamis, 27 Juni, 2019

Uwuwu trnyata pengalaman kita hampir serupa tapi tak sama😃. Bedanya saya sengaja ambil PGTK dulu slm 3 bln. Smpet job training yg guru disananya trnyata ada yg tipe bully.jd bikin ga betah haha. Dan giliran ngelamar kerja. Baru kerja seminggu sy lgsg resign. Karena gaji ga sebanding sm ongkos dr rmh ke sekolah.ujung ke ujung. Plus tujuan awal yg memang 'tergoda sm jam kerja yg kyknya cm bntr' dsb. Intinya akupun salut sm perjuangan seorang guru. Ternyata ga mudah dan banyak tantangannya.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

sok teh Git ceritain di blog hahaha

Reply Delete
Avatar
Muhammad Candra Wijaya Kamis, 27 Juni, 2019

Ya.. kadang jadi guru ada gak enaknya juga ya utk soal upahnya, teh. Saya jga pengen jadi guru, skrg lagi pngn daftar kuliah dulu sambil kerja buat biaya kuliah. Semoga aja bisa.

Reply Delete
Avatar
Bety Kristianto Kamis, 27 Juni, 2019

Aku pernah juga mba hampir jadi guru SMA, udah ngambil beasiswa segala untuk studinya. Pas tau gaji dan penempatannya, langsung mundur. Alhasil bukannya dapet kerja malah harus balikin pinalti uang beasiswa 2x lipat hahaha... untungnya abis itu dapet gawean.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

hihihi ya begitulah ya mb

Reply Delete
Avatar
t h y a Kamis, 27 Juni, 2019

wuaahh.. itu sih kerja nya sama aja kayak pegawai lainnya, sampai jam 4. Tapi muridnya mah gak pulang jam 4 kan ya? upah nya juga rendah ya mba, padahal ngajar anak TK itu capek.

aku juga pernah jadi guru, ngajar anak dari SD sampai SMA. dan yang paling capek itu ya ngajar yang anak SD karena mereka masih gak bisa diem banget anaknya. Apalagi anak TK, lebih capek lagi pasti.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

ga mba muridnya jam 12 juga pulang hehhee

Reply Delete
Avatar
Mpo Ratne Kamis, 27 Juni, 2019

Gaji guru tk sangat kecil tapi amal nya wow karena mengajar hal hal dari sedari kecil.

Itu kata teman mpo. Makanya ia bikin tk sekarang

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

betul Mpo amalnya wow, sabarnya fantastis tapi minim sekali apresiasinya :(

Reply Delete
Avatar
Akarui Cha Kamis, 27 Juni, 2019

Ternyata nggak selalu jadi guru TK itu jam 12 sudah pulang ya mba.


Saya pernah ngajak SMK sih, cuma 3 bulan, dan saya bukan tipe sabar banget pun dengan gaji unyil unyil gitu saya jadi kurang happy dulu. Akhirnya pindah ke kantor yang full time juga.

Makasih sharing-nya Mba.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba sama-sama, aku juga shock klo mesti pulang sore hahhaa

Reply Delete
Avatar
Dewi adikara Kamis, 27 Juni, 2019

Ya ampun pengalaman yang penuh perjuangan ya mbak... Memang hidup itu pilihan ya mbak, harus disesuaikan juga dengan keadaan kita. Salut juga dwngan guru-guru TK yg bs bertahan semoga diberi kesejahteraan...

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba salut banget sedih pas tahu gajinya ya sudahlah hahhaa

Reply Delete
Avatar
Irma Kamis, 27 Juni, 2019

Kalau ga salah saya pernah kenal dengan mba herva di S*T Cileungsi cuman mba katika saya mutasi posisinya sudah hendak ke bandung saya istrinya Mas Seto, sama mba dulu saya setelah menikah juga berfikiran yang sama jam daycare itu jam kerja apa lagi kita sudah harus dinas luar ikutin jobfair atau ngetest ditempat lain anak kita pasti kasihan kita jemput lama , ga kebayang di sekolah dia harus sendiri yg lain pada pulang belum lagi kita bayar lembur perjamnya hal hasil tulisannya mba sama kya kisah saya cuman bedanya mba di TK saya di SMP sebagai konselor atau sering dikenal orang Guru BK atau guru BP, ketika kita yg dri perusahaan pindah ke pendidikan itu sesuatu hal yg berbeda bangat klo di perusahaan kita berhadapan sama2 dengan orang dewasa yg sudah mengerti setidaknya suatu atauran, bahasa yang disampaikan dan bertingkah laku dewasa sama seperti kita jadi tidak terlalu susah susah penyesuainnya dan mengerrjakan tutinas pekerjaan hanya perlu fokus pada pekerjaaan untuk bisa berinvasi, dan berkreatif agar bisa menunjukan performa kerja yg baik tapi klo dipendidikan selain utu ada hal yg harus kita m

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

Hai Mba Irma, senang bisa jumpa di blog aku :) iya mba aku maish hafal mba hahaha..betul banget yang mba sampaikan makasih sharingnya ^_^ agak susah juga adaptasinya dari industri ke pendidikan ya mba

Reply Delete
Avatar
Maya Rumi Kamis, 27 Juni, 2019

udah lama banget gak buat cv teh, kayanya sih bakalan awet dikantor yang sekarang. sekarang karena anaku sudah tk, semept terpikir juga, enak banget deh jadi guru tk, banyak liburnya, kerja juga cuma beberapa jam aja, eh tapi aq baru tahu setelah baca ini, masuknya jam 7 pulang jam 4, udah gitu kalo guru kan gak boleh telat yah.. gak kaya kita yang kerja di kantoran bisa izin-izin dan datang telat selama bos mengizinkan

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya kayaknya enakan kantoran mba May, jiwa sering bolosnya ga bisa ditinggalkan wkwkkwk

Reply Delete
Avatar
fenni bungsu Kamis, 27 Juni, 2019

Alhamdulillah Teh ke terima jadi guru TK, daku pernah dulu nyaris ke terima hanya saja nggak diambil karena lokasinya lumayan jauh

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

keterima tapi ga diambil mbaee hahaha

Reply Delete
Avatar
Yeni Sovia Kamis, 27 Juni, 2019

Waw lama juga ya jam kerjanya. Soalnya dulu waktu aku ngajar di TK. Jam kerjanya dari jam 8 sampai jam 1 siang aja. Tpi bener teh, menurut aku dari ngajar anak Gede paling menantang itu ngajar anak TK teh apalagi klo anaknya berkebutuhan khusus gtu. Jdi kudu lebih sabar, kreatif lagi n harus lebih pke hati lagi. Klo ngajar anak gede, aku cukup duduk tenang n jelasin smua beres. Tpi ngajar anak2 tk ga bisa gtu. Beuratttttt 😂

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba Yen beurat pisan :D

Reply Delete
Avatar
Arda Sitepu Kamis, 27 Juni, 2019

Senang banget mbak seandainya bisa jadi guru TK bertemu dengan anak-anak hebat. Namun, memang kembali banyak pertimbangan ya mbak untuk memilih pekerjaan tersebut.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba banyak petimbangan hahaha

Reply Delete
Avatar
diahagustina65.com Jumat, 28 Juni, 2019

Jadi teringat ketika awal menjadi guru TK, bener banget apa bila berhenti kerja sebelum habis masa kontrak bakalan kena penalti 3x lipat gaji..

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

nahkan mules aku bayanginnya mba :D

Reply Delete
Avatar
Ida Raihan Jumat, 28 Juni, 2019

Untuk menjadi guru TK aja testnya begitu banyak ya Mbak. Baru tau saya. Kirain lebih gampang

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

hahaha iya mba panjang banget :p

Reply Delete
Avatar
Artha Amalia Jumat, 28 Juni, 2019

Setidaknya ada pengalaman ya kak. Walau gak jd kerja karena ternyqta bakal lebih lama ninggalin anak. Saya pribadi juga bakal nolak kalau di posisi mbak

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

syukurlah ga dibully krn matre wkwkwkwkwk

Reply Delete
Avatar
sopyan nc Jumat, 28 Juni, 2019

Kerja dimana saja hrs siap jam kerja
Hehe cuma ya itu terkadang ada pengelola yg memberikan hak kpd pegawai tidak sesuai dengan jam kerja

Namun jadi pengalaman juga bisa mencoba ngelamar walau nggak sempet terjun kerja

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya memang harus siap tapi krn pertimbangan sallary juga tak sebanding dg kebutuhan maka kutolak dengan Bismillah

Reply Delete
Avatar
Monica Anggen Jumat, 28 Juni, 2019

Jadi tahu proses tes untuk jadi guru TK dan ternyata pakai psikotest juga ya. Memang sih banyak dengar cerita dari teman-teman yang berprofesi sebagai guru. Selain pengetahuan, kesabaran juga diperlukan saat mengajar anak-anak

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba pake psikotes juga

Reply Delete
Avatar
Monica Anggen Senin, 01 Juli, 2019

Berarti ya sama yang seperti melamar pekerjaan pada umumnya, psikotest, lalu wawancara, kalau udah baru ada keputusan diterima atau tidak

Reply Delete
Avatar
Ameliasepta Jumat, 28 Juni, 2019

Woahh seru banget kak pengalamannya jadi guru TK walau hanya untuk interview. Sama sih kak aku juga salut banget deh sama yang jadi guru TK itu karena emanag harus ekstra sabar dan sayang anak-anak. Walau akhirnya ditolak seengganya jadi pengalaman berharga yah kak

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya pengalaman karena prosesnya panjang juga ga semudah aku bayangin

Reply Delete
Avatar
Kartika Jumat, 28 Juni, 2019

Keputusan yang tepat teh...saya sudah pasti akan sama seperti teteh, menolak gaji di bawah perhitungan jam kerja apalagi memiliki baby..kalau gaji minimal ga 6jt ga akan saya terima, karena mesti bayar pengasuh..dan waktu berharga kita telah kita berikan ke pada anak anak lainnya

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba kalau gajinya segitu udah pastikuterima hahahha

Reply Delete
Avatar
Keke Naima Jumat, 28 Juni, 2019

Waktu anak-anak saya TK, sekolahnya pernah mengadakan program untuk orang tua murid untuk sehari menjadi guru. Saya termasuk yang ikutan. Eyaampun baru sehari aja kayaknya saya udah pusing hahaha. Padahal saya gak ngajar sendirian. Barengan sama beberapa orang tua murid lainnya. Salut sih sama guru-guru yang bisa sabar mengajar anak TK :D

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

mantap nih programnya jadi ortu bisa merasakan ya mba gmn pusingnya jadi guru TK

Reply Delete
Avatar
Sapti nurul hidayati Jumat, 28 Juni, 2019

Memang mbak, guru TK itu justru pekerjaan dan tanggung jawabnya berat. Mendidik dan mengurus anak di sekolah yang terkadang toilet trainingnya belum tuntas. Salut dengan mereka...

Reply Delete
Avatar
Siska Dwyta Jumat, 28 Juni, 2019

Wah ketat juga yah test untuk mendaftar jadi guru TK tapi sepertinya di kota saya Testnya nggak sampai seketat itu sih. Tapi yah untuk jadi guru TK juga nggak mudah sih. Mengurus anak2 yang dikiranya mudah diatur seperti anak SMA saja riwehnya minta ampun apalagi anak2 yang masih duduk di bangku TK. Btw thanks sharingnya ya Mbak, meski nggak sampai jadi guru TK tapi setidaknya ada pengalaman yang bisa dibagikan.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

sama-sama mba semoga ga ada yang sepelein juga profesi ini

Reply Delete
Avatar
Indah Nuria Savitri Jumat, 28 Juni, 2019

Memang menjadi guru itu tidak mudah ya mba, apalagi untuk TK dan PAUD. Dedikasi dan kesabaran menjadi kata kunci untuk menjalaninya ya.. semangat mba, hope you can find better options

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba Indah tapi ga jadi kuambil hahha

Reply Delete
Avatar
Jiah Al Jafara Jumat, 28 Juni, 2019

Itu TKnya kaya apa kok sampai jam 16.00? Full time gitu kah

Kalau di desa, kayanya sih enggak terlalu ketat soal interview. Temanku yang ngomong aja jadi Guru TK. Aku sampai gak bisa mikir dia ngajarnya kaya gimana. Guru TK kan kudu byk omong dan aktif. Ya tapi tiap sekolah punya aturan sendiri ya

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

anaknya sampe jam 11/12an mba gurunya yang sampe sore kutydak kuasaaa hahaha

Reply Delete
Avatar
Diah Alsa Jumat, 28 Juni, 2019

Pernah Mbak, waktu itu nekat juga ikut tes menjadi guru les di sebuah bimbel di daerah PIK, Jakarta Utara. PD banget dari Kendari terbang ke Jakarta untuk ikutan tes. Dapat infonya juga via online, jobstret, hasilnya saya juga Alhamdulillah keterima. Tapi tung itung lagi, biaya hidup dan gajinya gak sebanding, jadilah saya batalkan dan pulkam, hihihih

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

duh keren effortnya mba :( tapi ya pilihan ya mba

Reply Delete
Avatar
Anita d'Caritas Jumat, 28 Juni, 2019

Jadi guru TK pasti lebih berat ya Mba, mengingat yang kita hadapi adalah anak-anak. Salut buat para guru TK yang pasti memiliki kesabaran ekstra :)

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya betul mba kesabarannya pasti ekstra banget

Reply Delete
Avatar
Rizka Edmanda Jumat, 28 Juni, 2019

aku dulu punya cita cita jadi guru TK karena aku suka anak anak, sekarang udah punya anak, pengen tak masukin paud cepet cepet supaya emaknya bisa ikut ke paud dan ikutan maen sama anak anak lain hahah

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

mantap mba Rizka pertimbangannya bukan materi euy :)

Reply Delete
Avatar
Elly Nurul Jumat, 28 Juni, 2019

Jadi tambah info nih, jadi kalo mau jadi guru tk ini salah satu prosesnya harus wawancara dengan psikolog dulu ya? beneran harus menyiapkan mental untuk jadi seorang guru, apalagi mendidik anak tk yang memang butuh kesabaran ekstra ya mbak

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba Elly ga sembarangan juga tesnya hahaha

Reply Delete
Avatar
khairiah Jumat, 28 Juni, 2019

padahal aku ada niat juga ingin jadi guru tk karena mikir jam kerjanya hanya sampai jam 12. tapi kok sampai jam 4 seh? padahal anak tk pulangnya jam 12 kan?

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya anaknya pulang jam 12an mba hahaha

Reply Delete
Avatar
Utie. Adnu Jumat, 28 Juni, 2019

Akupun pernah jd guru Kan mamah mertua punya TK tapi hiks gak tahan euy mesti ekstra sabarnya, ekstra waktunya juga,,,

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya betul ekstra waktu juga mba

Reply Delete
Avatar
Kurnia amelia Sabtu, 29 Juni, 2019

Aku salut sama guru TK karena guru yang paling sabar dan pendidikan karakter anak itu lebih banyak dibentuk disana makanya harus tes ini itu.

Reply Delete
Avatar
lendyagasshi Sabtu, 29 Juni, 2019

Pernah bangeett...
Dan TK yang aku lamar ini TK mahal looh...tapi, etapi....gajinya ga sebesar SPP anak-anak per-bulannya.

Kata suami, terlalu beresiko aaah..((maksudnya, cape doaaank...kan ngajarin anak orang, nanti pas pulang, ngajarin anak sendiri...apa ga dapet sisa-sisa energi tuuh?))

Akhirnya gajadi kerja guru.

Hhahaha...cemen aku mah, teh...
Kalo ada susah sedikit, langsung mundur teratur.

Reply Delete
Avatar
Anne Adzkia Sabtu, 29 Juni, 2019

Saya salut sama profesi guru TK atau daycare caretaker. Menurut saya ini pekerjaan yang tanggung jawabnya besar dan harus dilakukan dengan hati (well semua pekerjaan juga harus dengan hati sih ya). Butuh skill khusus dan hati seluas samudera. Hehehe. Ngebayangin ngadepin anak orang yang beda karakter. Anak sendiri aja saya suka keder sendiri.

Reply Delete
Avatar
Uniek Kaswarganti Sabtu, 29 Juni, 2019

Aku dulu pernah jadi guru SD mba, ngga pake tes sih. Hanya karena faktor keberuntungan kepala sekolahnya lewat di depan rental komputer dimana aku dan teman2ku kerja di situ. Saat melihat ada tulisan 'menerima terjemahan', beliau punya ide untuk mengajak kerja sama untuk mengajar Bahasa Inggris di sekolahnya. Tahun 2000 belum banyak kan SD Negeri yang ada pelajaran bahasa asingnya. Jadi deh ngajar. Tapi ya gitu deehh... kompensasinya hanya cukup buat makan seminggu :))

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

nah itu sedih ya mb Lis kompensasinya duh :(

Reply Delete
Avatar
Astin Astanti Sabtu, 29 Juni, 2019

memang bener sih Mbak, kalau hitungan logika, upah atau gaji lebih kecil daripada pengeluaran untuk menitipkan anak ke daycare atau ART, mungkin pilihan saya adalah resign dan tidak bekerja dulu. Tapi ya semua tergantung pertimbanga masing-masing juga ya. Itu guru TK sampai jam 16, lama juga ya, apa ada dua gelombang siswa TK masuk atau ada daycarenya jga?

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

ga mba katanya gurunya emang pulang jam segitu buat prepare dan diskusi (klo ga salah ingat)

Reply Delete
Avatar
April Hamsa Sabtu, 29 Juni, 2019

Ya Allah lama sekali dari jam 7 sampai 4 sore. Tapi sedih ya gaji guru gak imbang, pdhl jd guru TK itu sulit :(
Aku dulu kyknya pernah nglamar jd guru TK tapi kyknya gak lulus di tes psikologi atau mungkin wawancaranya wkwkwkw tau deh ya mungkin karakternya gak cucok bu jd guru TK :D

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

wkwkwk ngakak ga lolos tes psi-nya sabar eaaa mb April

Reply Delete
Avatar
Siti Hairul Dayah/ catatansiemak Sabtu, 29 Juni, 2019

Aku pernah mbak jadi guru TK dan PAUD. Seneng soalnya banyak pengalaman lucu. Kadang yg ga asyik itu malh ortunya hahahaha

Reply Delete
Avatar
Nataraksa Senin, 16 September, 2019

Mengajar TK itu menyenangkan ,tdk terasa hampir 22 tahun membersamai anak2 TK ,banyak hal -hal yang dapat kita pelajari tiap harinya tentang perkembangan anak ,setiap tingkah anak lucu dan menggemaskan.
ya kadang ada orang tua muridnya yang agak rese ,ill feel ,ada juga ortu murid yang asyik untuk di ajak diskusi ttg perkembangan anak dan mencari solusi bersama-sama utk kemajuan putra-putrinya.

Reply Delete
Avatar
dudukpalingdepan Sabtu, 29 Juni, 2019

Saya dulu juga kepengenan jadi guru TK. Mama saya pernah jadi guru paud dan TK. Tapi anaknya nggak dibolehin, mungkin karena tahu gajinya kecil. Huhuhu. Salut untuk pengabdian guru-guru.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

betul mba En salut buat pengabdian guru2

Reply Delete
Avatar
Azzuralhi Sabtu, 29 Juni, 2019

Rasanya udah lama banget nggak ikut test masuk kerja gini. Dan kalau dilakukan secara dadakan mustilah saya ngeblank..wkwk

Dan,yeppss, aku salut banget sama mereka para guru TK atau PAUD gitu. Stok sabarnya mesti banyak padahal bayarannya ga seberapa. Huhhu

Reply Delete
Avatar
cifer Sabtu, 29 Juni, 2019

duh sayang banget mbak.. tapi jadi punya pengalama tes guru tk yaa..
tapi kalo aku dengan pertimbangan yang mbak tulis itu, juga akan tetep mundur, hehe.. ga sepadan sih keliatannya :D InsyaAllah ada jalan lain yang lebih baik ^^

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

iya mba kumules bayanginnya hahaha

Reply Delete
Avatar
Arda Sitepu Sabtu, 29 Juni, 2019

Rangkaian tes menjadi guru itu suatu pengalaman yang menyenangkan ya mbak. Aku pernah juga nih ikutan tes jadi guru, apalagi kalau TK pasti menyenangkan ketemu banyak anak-anak. Namun, kembali pekerjaan jadi pilihan yang berat untuk dibandingkan dengan pilihan keluarga ya mbak.

Reply Delete
Avatar
lendyagasshi Minggu, 30 Juni, 2019

Jadi guru TK memang super menantang yaa..
Aku kagum sama kesabarannya mengurusi anak-anak mungil yang kadang ngomong aja belum jelas.
Hiihhi...kebayang kalau ada lebih dari satu anak yang begitu.
Uwooo~

Reply Delete
Avatar
Fanny F Nila Minggu, 30 Juni, 2019

sebagai org yg sangat ga sabaran ngadepin anak2, aku slelau salut makanya dgn para guru TK. kuat dan sabaaar y mereka ngadepin anak2 bgini.. kalo aku rasanya udh meledak dan besok minta resign wkwkwkwkw... ama anak sendiri aja kdg bisa emosi, apalagi ngadepin anak orang lain ;p..

jam krjanya lumayan jg yaaa mba :D.. tp kalo memang ga masuk dgn gaji, akupun mungkin ga akan trima kok.. biar gmn, gaji itu poin penting kok :D

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Senin, 01 Juli, 2019

wkwkwk yass mba Fan gajinya ga masuk :p

Reply Delete
Avatar
mawardi Senin, 01 Juli, 2019

jadi guru TK itu unik dan menantang

Reply Delete
Avatar
Miranti | jendelakeluarga.com Senin, 01 Juli, 2019

Gpp mbaa, pengalaman serunya yg bernilai luar biasa banget buat hidup mba insyaAllah. Semoga dimusahkan semua urusannya ya mba, termasuk kondisi keuangan keluarga mba. Aamiin

Reply Delete
Avatar
Wisnu Tri Senin, 01 Juli, 2019

Ini yayasan punya dua TK gitu teh, atau gimana? Tak kira peserta didiknya anak-anak normal pada umumnya, tapi pas tak baca kok praktek mengajarnya sama anak-anak berkebutuhan khusus?

Salut lah, sama ibu guru - ibu guru TK. Sabarnya bukan main

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Rabu, 03 Juli, 2019

satu TK kang hahahaha cuman ada kelas buat anak ABK

Reply Delete
Avatar
Prima G Chandra Selasa, 02 Juli, 2019

Sayang ya...padahal sepertinya sudah semangat 45 tuh jadi guru TK. Semoga segera dimudahkan urusan finansialnya, jadi bisa follow your passion jadi guru TK tanpa harus mikir berapa upah yg diterima.

Semangat mbak.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Rabu, 03 Juli, 2019

hahaha ini kejadian tempo doeloe hahaha

Reply Delete
Avatar
Yesi Intasari Senin, 08 Juli, 2019

justru jadi guru tk banyak banget tantangannya ya mba, makanya test nya aja sampe ada terjun langsung mengajar nya juga biar ketahuan cocok atau ngga nya dengan profesi yg satu ini.. salut deh

Reply Delete