Memetik Hikmah Dari Kisah Abu Qilabah

Kisah Abu Qilabah, Cara untuk bersyukur

Memetik Hikmah Dari Kisah Abu Qilabah

Beberapa waktu lalu saya dapati teman SMA saya mengunggah foto bayi mungilnya yang baru ia lahirkan dan ia nanti-nanti setelah sekian lamanya.

Dalam captionnya bukan lagi kebahagiaan akan tetapi kesedihan, bayi yang telah ia nantikan, yang ia jaga selama 9 bulan dalam kandungan ternyata hanya bertahan beberapa jam saja.

Bagaimana rasanya? pasti sakit sekali, pedih sekali. Saya yang tidak ada dalam lingkaran dekatnya saja menyaksikan itu pilu.


Lalu ada yang tertimpa musibah mobilnya kena tabrak motor, anaknya sakit, ayahnya meninggal, tertipu orang dan  lain sebagainya.

Ada macam ujian yang akan ditimpa oleh kita, ada yang diuji hartanya, anaknya, fisiknya, keluarganya. Dan setiap orang pasti punya masalah masing-masing. Termasuk saya sendiri. Yang bagi saya, Ujiannya yang datang hampir sama.

Saya merasa lelah, capek ya ampun apalagi drama yang harus saya lewati ini?pengen rasanya saya lari. Lari keliling gunung bohong mungkin berfaedah tapi lari dari kenyataan nyatanya sulit yes?

Saat hati mulai galau dan bimbang, Alloh tuntun saya dan saya menemukan kisah ini. Sengaja saya tuliskan di blog siapa tahu ada juga yang alami bimbang dan bisa memberikan insight.

bersabar dan bersyukur menjalani hidup

Sebuah kisah tentang Abu Qilabah.




Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas, di dalamnya ada seorang tua, ternyata orang ini kedua matanya buta, kedua tangannya buntung dan sebatang kara. Kulihat bibirnya mengucapkan beberapa kalimat.
Akupun mendekat untuk mendengar ucapannya dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut "Segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas banyak manusia".
Kuperhatikan keadaanya lebih jauh, ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi. Kedua tanganya buntung, matanya buta dan ia tak memiliki siapapin. Aku mendekatinya dan ia merasakan kehadiranku. lalu ia bertanya 'Siapa?'
"Assalamualaikum, aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini. Kamu sendiri siapa?mengapa kau sendirian?di mana istri dan anakmu?tanyaku. Aku seorang yang sakit, semua orang meninggalkanku dan kebanyakan keluargaku telah meninggal jawabnya, "kenapa kau mengulang-ulang perkataan segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas banyak manusia?Apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu sedangkan keadaanmu seperti ini?ucapku"
"aku akan menceritakannya kepadamu, tapi aku punya satu permintaan, maukah kau mengabulkannya?tanyanya"
"jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu" kataku
"engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Alloh atasku, akan tetapi segala puji bagi Alloh yang melebihkanku diatas banyak manusia. Bukankah Alloh memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa berfikir?"
"betul" jawabku lalu katanya "berapa banyak orang yang gila?"
"banyak" jawabku maka segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas banyak manusia jawabnya" Bukankah Alloh memberiku pendengaranyang dengannya aku bisa mendengar adzan dan memahami ucapan?' tanyanya
"benar"jawabku
"Maka segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas orang banyak" jawabnya
"Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar?"katanya
"banyak juga"jawabku
"maka segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut" katanya
"Bukankah Alloh memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir?lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?maka segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut"
Pak tua terus menyebut kenikmatan Alloh atas dirinya satu persatu. Aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Betapa banyak orang yang sakit tetapi mereka mengeluh dan menangis. Mereka tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Alloh atas musibah yang menimpa mereka.
Tiba-tiba pak tua bertanya, "bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang?maukah kamu mengabulkannya?
"iya apa permintaanmu"? kataku
"tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku, melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku. Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali.
Aku tak tahu apakah ia maish hidup atau tidak. Kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta ini tidak bisa mencarinya."ujarnya.
Kutanya ciri-ciri orang tersebut dan ia menyebutkannya, Aku berjnaji akan mencarikannya. Setelah berjalan, nampaklah dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah pak tua. Di atas bukit tersebut ada sekwananan burung gagak yang mengerumuni sesuatu.
Takkala kuhampiri, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong. Rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung. Aku bingung harus mengatakan apa dan mulai darimana?
Lalu terlintaslah di benakku kisah Nabi Ayyubm maka kutemui pak tua itu. Ia mendahuluiku dengan bertanya : "dimana si bocah?" namun kataku "jawablah terlebih dahulu, siapakah yang lebih dicintai Alloh?engkau atau Ayyub?tanyaku
Tentu Ayyub, jawabnya "lantas siapakah diantara kalian yang lebih berat ujiannya?" tanyaku kembali. Tentu Ayyub jawabnya lagi. Kalau begitu berharaplah pahala dari Allohm karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya "jawabku,
Maka pak tua pun tersedak-sedak seraya berkata "Laa ilaaha illallaaah" sedakannya semakin keras. aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Kututupi jasadnya dengan selimut. Akupun keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya. Kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta, Nampaknya mereka adalah para musafir, kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku.
Kukatakan, "disini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa. Maukah kalian menolongku memandikan, mengkafani dan menguburkannya?" tanyaku. Mereka menjawab "iya".
Mereka masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak tua, namun ketika mereka menyingkap wajahnya mereka saling berteriak "Abu Qilabah" ternyata Abu Qilabah adalah seorang ulama mereka.
Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah, ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna. Ia berjalan-jalan di tanah yang hijau, maka aku bertanya kepadanya. "Hai Abu QIlabah, apa yang menjadikanmu seperti ini?'
"Alloh telah memasukkanku ke dalam Jannah dan dikatakan kepadaku salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu maka inilah surga sebaik-biak tempat kembali"
Diriwatkan oleh Al Imam Ibnu HIbban dalam kitabyna "Ats Tssiqaat"




Kisah yang cukup memberikan pelajaran untuk bisa bersabar dan bersyukur menjalani hidup. Dari kisah tersebut mengajarkan saya bahwa ujian saya ga ada apa-apanya dibanding Abu Qilabah. 

Dimana ia senantiasa beryukur dengan terus memuji sang Pencipta, lah saya baru dikasih ujian begini udah kesel. Emang mesti harus belajar dan belajar lagi buat sabar.

Yang jelas kisah yang saya baca ini bikin saya merenung halah apalagi yang harus saya dustakan so enjoy sajalah.

Daripada memikirkan hal ga penting, saya fikir mendingan kita produktif berkarya. 

Demikian yang bisa saya bagi, ditengah kegalauan ini semoga kita semua diwaraskan yah untuk selalu bersabar dan bersyukur menjalani hidup ini aamiin.❤

Posting Komentar