Memetik Hikmah Dari Kisah Abu Qilabah

Kisah Abu Qilabah, Cara untuk bersyukur

Memetik Hikmah Dari Kisah Abu Qilabah

Beberapa waktu lalu saya dapati teman SMA saya mengunggah foto bayi mungilnya yang baru ia lahirkan dan ia nanti-nanti setelah sekian lamanya.

Dalam captionnya bukan lagi kebahagiaan akan tetapi kesedihan, bayi yang telah ia nantikan, yang ia jaga selama 9 bulan dalam kandungan ternyata hanya bertahan beberapa jam saja.

Bagaimana rasanya?pasti sakit sekali, pedih sekali. Saya yang tidak ada dalam lingkaran dekatnya saja menyaksikan itu pilu.

Lalu ada yang tertimpa musibah mobilnya kena tabrak motor, anaknya sakit, ayahnya meninggal, tertipu orang dan  lain sebagainya.

Ada macam ujian yang akan ditimpa oleh kita, ada yang diuji hartanya, anaknya, fisiknya, keluarganya. Dan setiap orang pasti punya masalah masing-masing. Termasuk saya sendiri. Yang bagi saya, Ujiannya yang datang hampir sama.

Saya merasa lelah, capek ya ampun apalagi drama yang harus saya lewati ini?pengen rasanya saya lari. Lari keliling gunung bohong mungkin berfaedah tapi lari dari kenyataan nyatanya sulit yes?

Saat hati mulai galau dan bimbang, Alloh tuntun saya dan saya menemukan kisah ini. Sengaja saya tuliskan di blog siapa tahu ada juga yang alami bimbang dan bisa memberikan insight.

bersabar dan bersyukur menjalani hidup

Sebuah kisah tentang Abu Qilabah.




Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas, di dalamnya ada seorang tua, ternyata orang ini kedua matanya buta, kedua tangannya buntung dan sebatang kara. Kulihat bibirnya mengucapkan beberapa kalimat.
Akupun mendekat untuk mendengar ucapannya dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut "Segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas banyak manusia".
Kuperhatikan keadaanya lebih jauh, ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi. Kedua tanganya buntung, matanya buta dan ia tak memiliki siapapin. Aku mendekatinya dan ia merasakan kehadiranku. lalu ia bertanya 'Siapa?'
"Assalamualaikum, aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini. Kamu sendiri siapa?mengapa kau sendirian?di mana istri dan anakmu?tanyaku. Aku seorang yang sakit, semua orang meninggalkanku dan kebanyakan keluargaku telah meninggal jawabnya, "kenapa kau mengulang-ulang perkataan segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas banyak manusia?Apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu sedangkan keadaanmu seperti ini?ucapku"
"aku akan menceritakannya kepadamu, tapi aku punya satu permintaan, maukah kau mengabulkannya?tanyanya"
"jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu" kataku
"engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Alloh atasku, akan tetapi segala puji bagi Alloh yang melebihkanku diatas banyak manusia. Bukankah Alloh memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa berfikir?"
"betul" jawabku lalu katanya "berapa banyak orang yang gila?"
"banyak" jawabku maka segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas banyak manusia jawabnya" Bukankah Alloh memberiku pendengaranyang dengannya aku bisa mendengar adzan dan memahami ucapan?' tanyanya
"benar"jawabku
"Maka segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas orang banyak" jawabnya
"Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar?"katanya
"banyak juga"jawabku
"maka segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut" katanya
"Bukankah Alloh memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir?lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara?maka segala puji bagi Alloh yang melebihkanku di atas orang banyak tersebut"
Pak tua terus menyebut kenikmatan Alloh atas dirinya satu persatu. Aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Betapa banyak orang yang sakit tetapi mereka mengeluh dan menangis. Mereka tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Alloh atas musibah yang menimpa mereka.
Tiba-tiba pak tua bertanya, "bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang?maukah kamu mengabulkannya?
"iya apa permintaanmu"? kataku
"tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku, melainkan seorang bocah berumur 14 tahun. Dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku. Sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali.
Aku tak tahu apakah ia maish hidup atau tidak. Kamu tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta ini tidak bisa mencarinya."ujarnya.
Kutanya ciri-ciri orang tersebut dan ia menyebutkannya, Aku berjnaji akan mencarikannya. Setelah berjalan, nampaklah dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah pak tua. Di atas bukit tersebut ada sekwananan burung gagak yang mengerumuni sesuatu.
Takkala kuhampiri, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong. Rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung. Aku bingung harus mengatakan apa dan mulai darimana?
Lalu terlintaslah di benakku kisah Nabi Ayyubm maka kutemui pak tua itu. Ia mendahuluiku dengan bertanya : "dimana si bocah?" namun kataku "jawablah terlebih dahulu, siapakah yang lebih dicintai Alloh?engkau atau Ayyub?tanyaku
Tentu Ayyub, jawabnya "lantas siapakah diantara kalian yang lebih berat ujiannya?" tanyaku kembali. Tentu Ayyub jawabnya lagi. Kalau begitu berharaplah pahala dari Allohm karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung. Ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya "jawabku,
Maka pak tua pun tersedak-sedak seraya berkata "Laa ilaaha illallaaah" sedakannya semakin keras. aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Kututupi jasadnya dengan selimut. Akupun keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya. Kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta, Nampaknya mereka adalah para musafir, kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku.
Kukatakan, "disini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa. Maukah kalian menolongku memandikan, mengkafani dan menguburkannya?" tanyaku. Mereka menjawab "iya".
Mereka masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak tua, namun ketika mereka menyingkap wajahnya mereka saling berteriak "Abu Qilabah" ternyata Abu Qilabah adalah seorang ulama mereka.
Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah, ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna. Ia berjalan-jalan di tanah yang hijau, maka aku bertanya kepadanya. "Hai Abu QIlabah, apa yang menjadikanmu seperti ini?'
"Alloh telah memasukkanku ke dalam Jannah dan dikatakan kepadaku salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu maka inilah surga sebaik-biak tempat kembali"
Diriwatkan oleh Al Imam Ibnu HIbban dalam kitabyna "Ats Tssiqaat"




Kisah yang cukup memberikan pelajaran untuk bisa bersabar dan bersyukur menjalani hidup. Dari kisah tersebut mengajarkan saya bahwa ujian saya ga ada apa-apanya dibanding Abu Qilabah. 

Dimana ia senantiasa beryukur dengan terus memuji sang Pencipta, lah saya baru dikasih ujian begini udah kesel. Emang mesti harus belajar dan belajar lagi buat sabar.

Yang jelas kisah yang saya baca ini bikin saya merenung halah apalagi yang harus saya dustakan so enjoy sajalah.

Daripada memikirkan hal ga penting, saya fikir mendingan kita produktif berkarya. 

Demikian yang bisa saya bagi, ditengah kegalauan ini semoga kita semua diwaraskan yah untuk selalu bersabar dan bersyukur menjalani hidup ini aamiin.❤

95 komentar

Avatar
indra hidayat Selasa, 18 September, 2018

yup, apa pun keadaannya bersyukur menjadi kunci untuk menguatkan keimanan

Reply Delete
Avatar
Evrinasp Rabu, 19 September, 2018

Huhuhu aku nangis bacanya, pengingatnya banget, secara aku termasuk orang yg gak sabaran dan sering mengeluh padahal nikmat yg diberikan lebih banyak ketimbang keluhanku, makasih atas pengingatnya ya

Reply Delete
Avatar
maya rumi Rabu, 19 September, 2018

syukur dan sabar, dua kata yang yang akan menjamin kehidupan kita di akhirat tapi susah banget buat prakteknya di dunia, terima kasih remindernya teh herva

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Rabu, 19 September, 2018

iya teh prakteknya butuh usaha banget semoga kita senantiasa selalu bersabar dan bersyukur terus aamiin

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres Rabu, 19 September, 2018

Bunda terima kasih telah membuatku untuk kembali mengingat betapa besar nikmat yang Allah berikan kepadaku sehingga aku pun tak mudah mengeluh. Tadi berangkat kantor lihat orang jalan bawa cangkul, lihat mereka sedih karena belum tentu mau makan apa. Kita besok makan nasi aaja, masih aja mengeluh

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 20 September, 2018

iya ummi jika kita peka dengan lingkungan sekitar maka kita selalu bersyukur untuk keadaan kita saat ini :)

Reply Delete
Avatar
Damar Aisyah Kamis, 20 September, 2018

Betul sekali, Teh. Syukur adalah nikmat, ketika kita mampu hidup dengan mensyukuri setiap perjalanan, sebenarnya kita telah mendapatkan nikmat kehidupan. So inspiratif ceritanya

Reply Delete
Avatar
indah nuria Savitri Kamis, 20 September, 2018

memang tidak mud tapi kita harus selalu sabar dan bersyukur yaaa

Reply Delete
Avatar
Rizka Edmanda Kamis, 20 September, 2018

MasyaAllah iya mba, dalam keadaan apapun harus tetap bersyukur. Makanya kita disunnahkan mengucapkan Alhamdulillah Alakulli hal (segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan)

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 20 September, 2018

makasih mba Rizka sudah mampir :)

Reply Delete
Avatar
Apura Kamis, 20 September, 2018

Ah, emang kadang manusia tidak pandai bersyukur ya. Padahal itu caranya biar hidup selalu tenang dan bahagia

Reply Delete
Avatar
Melly Feyadin Kamis, 20 September, 2018

Bersabar dan bersyukur itu cara terbaik utk tetep bisa menjalani hidup saat banyak tertimpa masalah.

Reply Delete
Avatar
emanuella aka nyonyamalas Kamis, 20 September, 2018

Hmmmm.... aku jadi merenung. Berkaca banget ni Mbak, semoga kita jadi orang yang makin hari makin bersyukur ya....

Reply Delete
Avatar
Ira Hamid Kamis, 20 September, 2018

Betul banget, Mba Herva. Masing-masing dari kita ujiannya berbeda, hanya saja penerimaannya yang mungkin berbeda, ada yang tetap bersyukur, bersabar dan ikhlas, ada juga yang mengeluhkan ujian yang diterimanya. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur, sabar dan ikhlas yaa 😊

Reply Delete
Avatar
Echi Mustika Kamis, 20 September, 2018

Terima kasih mba atas kisah Abu Qilabahp, membuka mata ku akan terus bersyukur apa yang sudah aku miliki dan aku jalani

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 20 September, 2018

sama2 mba makasi sudah mampir

Reply Delete
Avatar
Eryvia Maronie Kamis, 20 September, 2018

Masya Allah.. Sampai nangis bacanya.
Makasih pengingatnya, mbak.
Semoga kita semua, yang selalu mengingat Allah dan bersyukur atas segala karunianya, ditempatkan di jannahNya nanti.
Aamiiin allahumma aamiiin.

Reply Delete
Avatar
Yulie Kamis, 20 September, 2018

Aku juga baru dirundung duka mbak, mama ku baru berpulang ke pangkuan Illahi.
Berat banget rasanya, seperti kehilangan semangat untuk segalanya.
Tapi aku bersyukur, mama-ku yang 3 tahun terbaring sakit kini sudah tenang dan bahagia di sisi-Nya. Aamin.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 20 September, 2018

Innalilahi wa inna ilaihi rojiun turut berduka mba semoga mba sll diberikan kesabaran :)

Reply Delete
Avatar
Diah Kamis, 20 September, 2018

MasyaAllah Mbak, merinding bacanya.. Huhuhuh, masih banyak ngeluh ini hiikss. Semoga bisa slalu ingat ini, kurangi ngeluh perbanyak syukur.

Makaasih ya Mbak:)

Reply Delete
Avatar
Djangkaru Bumi Kamis, 20 September, 2018

Saya pernah membaca kisah tersebut dan saya punya bukunya. Kesabaran akan berbuah manis. Tapi memang tidak semua orang bisa melewatinya.

Reply Delete
Avatar
Keke Naima Kamis, 20 September, 2018

Terima kasih sudah mengingatkan, ya. Kebetulan juga salah satu keluarga besar saya juga saat ini lagi ada cobaan. Dari pagi semua keluarga udah rame untuk saling menenangkan. Malamnya baca tulisan ini. Jadi sejuk lagi :)

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 20 September, 2018

alhamdulilah semoga senantiasa sabar dan syukur y mb

Reply Delete
Avatar
Untari travel notes Kamis, 20 September, 2018

memang kadang banyak hal yang buat kita ga bersyukur dan mengeluh terus. tapi kadang kita ditegur langsung di depan mata bahwa orang lain ada yang lebih menderita dan sedih. Astaghfirullah kufur nikmat banget kalau ga ingat betapa kita sudah diberikan banyak hal yang baik bahkan setiap hari bernapas adalah karunia

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 20 September, 2018

iya mba suka lupa yah padahal nikmatNya lebih banyak dibandingkan ujiannya

Reply Delete
Avatar
Marda Wiah Kamis, 20 September, 2018

Masya Allah, semoga kita dapat mengambil hikmah atas kisah Abu Qilabah itu yah.

Reply Delete
Avatar
Dewi Sulistiawaty Kamis, 20 September, 2018

Kalau untuk bersabar, mungkin saya masih mampu Mba, tapi untuk ikhlas dan bersyukur atas apa yang sudah diberikan sang Pencipta ini yang saya masih terus belajar hingga kini. :')

Reply Delete
Avatar
Sissassy Kamis, 20 September, 2018

Terima kasih Kak ceritanya, pengingat banget buat kita yang kadang terlalu berfokus sama rumput tetangga, padahal kenikmatan yang kita punya sudah banyak

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Jumat, 21 September, 2018

betul semoga makin bersyukur dan sabar atas ujiannya

Reply Delete
Avatar
Farida Pane Jumat, 21 September, 2018

Masyaallah, sukses nangis bombay saya. Terimakasih sdh mengingatkan ya 😢

Reply Delete
Avatar
Lendy Kurnia Reny Jumat, 21 September, 2018

Barakallahu fiik, teh Herva.
Aku langsung nangis bacanya.

Ya Allah...
Memang kematian adalah sebaik-baik pengingat bagi yang masih hidup.
Bahwa ujian ini tiada yang berat sedikitpun, kecuali saat kematian menghampiri.

Tabarakallahu.

Reply Delete
Avatar
Noe Traveler Jumat, 21 September, 2018

Aamiin ya Allah. Aku juha nih, semoga selalunsabar dan bersyukur dlm hidup. Dengan betitu semuanya jadi lebih mudah dijalani

Reply Delete
Avatar
Rosanna Simanjuntak Jumat, 21 September, 2018

Ini dia salah satu manfaat BW!
Menemukan pencerahan dan diingatkan kembali.
Jadi, tambah semangat BW ne ^^

Semoga jadi amal sedekah jariyah ya, mbah Herva...
Insya Allah, Insya Allah...

Reply Delete
Avatar
Jiah Jumat, 21 September, 2018

Kemarin aku sedih dan galau gara2 videoku pada rusak. Lalu ada berita kalau baby sepupuku meninggal. Ternyata dukaku gak seberapa. Gini kok gak mau bersyukur

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Jumat, 21 September, 2018

yuk kita sama2 belajar y mba

Reply Delete
Avatar
Pu Jumat, 21 September, 2018

Tuhan ngasih cobaan sesuai kemampuan kita. Jum'at berkah ya Mbak. Semoga kita selalu bersyukur

Reply Delete
Avatar
Astin Astanti Jumat, 21 September, 2018

bisa dibayangkan mbak, sayapun saat melihat televisi atau kabar dr teman yang sedang diberikan ujian, dalam bentuk apapun, sedih dan degup di dada bergemuruh. Kisah Abu Qilabah mengajarkan kita semua untuk senantiasa bersyukur, apapun keadaannya. Makasih yo, mbak. Hari Jumatku berwarna dapat ilmu dari blogwalking ini

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Jumat, 21 September, 2018

masyaAlloh makasih mba uda mampir juga

Reply Delete
Avatar
Leyla Hana Jumat, 21 September, 2018

Masya Allah.. luar biasa kesabaran para ulama salaf ya. Semoga kita bisa meneladaninya.

Reply Delete
Avatar
Helena Jumat, 21 September, 2018

Ya Allah, sabar dan syukur yaa Abu Qilabah. Jadi malu dengan diri sendiri yang mudah mengeluh padahal baru dapat sedikit cobaan.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Jumat, 21 September, 2018

sama aku juga mba makanya baca ini langsung nyesss

Reply Delete
Avatar
Arinta Adiningtyas Jumat, 21 September, 2018

Mbaaaak, terima kasih untuk tulisan ini. Saya jadi belajar juga.

Kadang kita merasa jadi orang yang paling malang, terus mengasihani diri sendiri, dan membuat kita jadi lupa untuk bersyukur. Padahal, di luar sana masih banyak yang lebih menderita dari kita. Makasih Mbak.. Btw, saya sudah subscribe yaa.. Semoga jadi bisa sering2 baca tulisan-tulisan bermanfaat selanjutnya. 😊😊

Reply Delete
Avatar
Lidya Jumat, 21 September, 2018

Duh aku aja masih suka mengeluh padahla gak seberapa ya. Makasih ya sharingnya mudah-mudahan kita selau bisa bersyukur

Reply Delete
Avatar
rani yulianty Jumat, 21 September, 2018

Beberapa minggu terakhir ini, ada aktivitas baru setiap bangun tidur sehabs shalat subuh yaitu memperbanyak bersyukur, diabsen satu-satu mulai dari syukur atas kesehatan,organ tubuh yang bekerja baik dll, tujuannya agar bisa lebih bersyukur dan lebih sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Jumat, 21 September, 2018

alhamdulilah sesuatu yang kadang kita sepelekan ya teh

Reply Delete
Avatar
Desy Oktafia Jumat, 21 September, 2018

Masyallah. Abu qilabah.
Ulama besar.
Jleb baca tulisannya mba.
Terima kasih sudah mengingatkan tentang syukur :(

Reply Delete
Avatar
Yati Rachmat Jumat, 21 September, 2018

Cerita yg inspirative sekali
Renungan bagi kita yg diberi Allah kelengkapan indera, materi yg cukup, utk belajar ikhlas, bersabar dan bersyukur. Semiga kita semua diberi keikhlasan dlm hal apa pun. Karena keikhlasan itu tdk mengurangi sedikutpun yg kita miliki, bahkan ikhlas menambah keberkahan buat kita Aamiin

Reply Delete
Avatar
Lubnah Lukman Sabtu, 22 September, 2018

Masyaa allah mba pengingat untuk terus bersyukur dan ikhlas yah mba :(

Nikmat mana lagi yang kau dustakan :'(

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 25 September, 2018

iya mba semoga makin bersabar dan besryukur yah

Reply Delete
Avatar
Sri Widiyastuti Sabtu, 22 September, 2018

Bersyukur dan tawakal.pada ketetapan Allah Koentji dari segala bahagia di dunia ini mbak. InsyaAllah dengan bersyukur hati akan semakin lapang

Reply Delete
Avatar
Ika Hardiyan Aksari Sabtu, 22 September, 2018

Setiap manusia memiliki kadar masalah sendiri2 ya, Mbak. Yang kuhindari ya kalau bisa nggak iri sama orang. Karena fokus sama hidup orang menjadikan kita lupa untuk bersyukur. Fokus, tetap berkarya, dan berharap yang terbaik dariNya.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 25 September, 2018

betul mba jangan sampai iri :) ttp bersyukur y mb

Reply Delete
Avatar
Naqiyyah Syam Sabtu, 22 September, 2018

terima kasih tulisannya sangat mencerahkan ya Mbk jadi emang lebih tenang hidup dengan syukur dan sabar karena Allah akan tambah nikmatnya ya

Reply Delete
Avatar
Uniek Kaswarganti Sabtu, 22 September, 2018

Thanks untuk sharingnya ya mba. Bener banget nih, kadang kita terlalu sering mematok standar kebahagiaan dengan apa yang dimiliki orang lain dan justru menyalahkan kondisi kita sendiri. Kisah Abu Qilabah ini bakalan kuingat-ingat tiap kali rasa bersyukur mulai menipis di jiwa.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 25 September, 2018

sama2 mb mjd penginatku juga :)

Reply Delete
Avatar
Eka.Ms Sabtu, 22 September, 2018

Hanya sabar dan syukurlah sebaik2 nya penolong dikala duka dan suka.
Aku benaran baru tau kisah yang satu ini. Aku share ya ke adik2 ku.

Reply Delete
Avatar
Dania Minggu, 23 September, 2018

Menginspirasi sekali Mbak ceritanya. Saya baru pertama kali baca cerita ini. Terima kasih sudah sharing.

Reply Delete
Avatar
Maria Soraya Minggu, 23 September, 2018

hiks galau itu gak enak, karena suka bikin lupa bersyukur sama yg udah dikasih gusti Allah ... klo aku lagi galau, biasanya ngaji .. klo masih galau berarti kudu banyak liat yg ijo2 seger alias tanaman

Reply Delete
Avatar
Yasinta Astuti Minggu, 23 September, 2018

Sabar dan bersyukur itu emang satu - satunya jalan agar hati tenang juga. Bagiku pribadi dimulai dengan ga membandingkan diri dengan orang lain. Cerita nya menginspirasi teh, aku jadi malu kalau masih suka ngeluh.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 25 September, 2018

iya teh ceritanya bagaskara :)

Reply Delete
Avatar
Gotravelly Jumat, 12 Oktober, 2018

Nangsi aku bacanya mbak. selam ini saya berkonsentraasi dengan msalah yang datang menerjang. setiap hari shalat, berdoa agar masalahku terselesaikan. dan 'sepertinya' jauh dari solusi, mbulet. dan setelah baca ini, ya Allah semua panca inderaku lengkap dan akalku masaih sehat. Astaghfirullah....

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Jumat, 12 Oktober, 2018

semoga kita semakin bersyukur y mba

Reply Delete