Tumbuh menjadi orang tua dengan kesulitan zaman kecil dulu membuat saya belajar, bahwa anak-anak saya kini tentunya tidak boleh merasakan hal yang sama.
Marah, kecewa, insecure, capek, malu semuanya menjadi bola hidup yang terpendam dalam diri saya dulu. Sebenarnya dikatakan sulit tidak terlalu sulit juga tapi kalau dibayangkan kembali, kecil saya dulu sering harus makan bubur dengan kerupuk aci saja plus kecap😂. Jajan juga 25 perak saja untuk snack krip-krip (masih ada ga yah?).
Jika materi kurang apakah kasih sayang juga kurang? sepertinya tidak. Mendiang ibu selalu ada karena beliau mengabdikan untuk menjadi ibu rumah tangga. Meski demikian, jobdesc-nya tidak ada antar jemput anak-anaknya.
Sejak kelas 1 SD, saya biasa pergi dan pulang sekolah sendiri jalan kaki (lah iya wong deket kok sekolahnya) dan part lucu adalah dulu sahabat kelas 1 saya merupakan anak pemilik warung Padang! Ingat ges zaman tahun 1990-an pemilik resto Padang adalah HORANG KAYA wkwk.
Dan saya paling suka kalau diajak main ke rumahnya yang besar! *ya..ya..kelian pasti tahu mengapa suka main ke sana? yes berharap maksi menu resto Padang 😂.
Sehingga pernah satu waktu ketika saya diam-diam pulang sekolah main ke rumah sahabat saya itu, saya kena cegat mendiang ibu dari jarak jauh yang meminta saya tidak main dengan teriakannya membahana disertai dengan jari telunjuk terangkat ((PULANGGGG!!). Selamat tinggal makan siang menu Padang, saya kembali nanti jika diizinkan 😂.

Luka Kecil yang Tumbuh Menjalar
Sejujurnya kalau dibayangkan saat ini itu menjadi part lucu namun saat itu yang saya rasakan justru kepahitan. Beraneka tanya dalam benak berputar-putar, elah kenapa sih nggak boleh main?, kenapa hidup terasa dibatasi?, kenapa rumah orang lain kelihatannya lebih menyenangkan?
Sebagai anak kecil, saya tidak punya kosa kata untuk menjelaskan perasaan itu. Semua hanya disimpan. Dan tanpa sadar, perasaan-perasaan itu ikut tumbuh bersama usia.
Saya menjadi suka melamun, membayangkan ih enaknya kalau berangkat sekolah bisa dianterin pake mobil, dibukain sama supir. Zaman dulu ya kan zaman sinetron banget, akhirnya saya sebagai bocil membayangkan hal serupa bahkan saya berniat untuk ((GANTI NAMA)). Biar kalau dipanggil terdengar pantas diawali dengan sapaan “Non”. *duh saya ngakak guling-guling menuliskan ini.....
((Non Amanda)) *iya ini nama khayalan yang sering dibayangkan wkwk...emang ye generasi 1980-an kebanyakan nonton jadi khayalannya tingkat tinggi. Dengan ketinggian khayalan mencapai puncak gunung Semeru, akhire saya merasa makin insecure *emang cari penyakit sendiri 😂*.
Rasa syukur dalam diri saya HILANG, saya merasa harus menjadi tokoh dalam khayalan sendiri dikarenakan ketidakmampuan in a real life...huhuhu sedihnya.
Keinginan yang tidak tersalurkan dimasa kecil inilah yang menurut saya akhirnya menjadi luka tanpa disadari.
Pernah ga temans merasa, jika waktu kecilnya tuh susah buat beli baju akhirnya pas sekarang dewasa lalu Allah cukupkan maka saat dewasa impulsif belanja merasa untuk membuktikan jika kini saya mampu membeli baju banyak.
Buku pertama yang dibelikan Bapak adalah Harry Potter and The Sorcerer's Stone. Saya ingat betul perasaan saat memegang buku itu. Hingga semalaman saja saya tidak tidur melalap novel itu wkwk. Mungkin karena itulah, sampai sekarang saya masih tetap membeli buku.
Ta..ta..tapi sudah 3 bulan terakhir ini saya dapat gratis karena sebagai Affiliator di Tiktok dan Shopee loh. Alhamdulilah budget beli buku kini nyaris Rp 0 karena dikasih seller.
Dari sini saya belajar satu hal penting:
Luka masa kecil tidak selalu membuat kita lemah. Kadang ia justru membentuk kecintaan, kebiasaan, bahkan identitas. Tapi tetap saja, jika tidak disadari, ia bisa berubah menjadi kompensasi tanpa batas.
Apa yang tidak kita dapatkan di masa kecil, seringkali kita kejar mati-matian di masa dewasa. Dan di titik inilah, sebagai orang tua, saya mulai bertanya lagi pada diri sendiri, Apakah saya ingin anak saya nanti membeli sesuatu bukan karena suka? tapi karena sedang menambal luka?
Ataukah saya ingin mereka mengenal keinginan secara sehat, tahu kapan cukup, tahu kapan berhenti, dan tahu bahwa mereka aman meski tidak memiliki segalanya?

Ketika Masa Kecil Diam-Diam Membentuk Cara Kita Mengasuh Anak
Menjadi orang tua dengan kesulitan di masa kecil membuat saya belajar satu hal penting, anak-anak saya tidak harus merasakan hal yang sama.
Semua cerita ini akhirnya membawa saya kembali pada satu pertanyaan:
Apakah anak saya wajib merasakan kesulitan orang tuanya di zaman kecil dulu?
Dulu saya mikirnya bahwa kesulitan adalah guru terbaik. Tanpa rasa kurang, orang tidak akan belajar bersyukur. Tapi setelah melihat luka-luka kecil saya sendiri yang menjelma menjadi insecurity, pembanding hidup, saya mulai sadar bahwa kesulitan yang tidak dipahami anak seringkali bukan membentuk karakter, tapi membentuk kekosongan.
Tugas saya sebagai orang tua bukan menciptakan ulang masa kecil saya, melainkan menciptakan versi yang lebih sehat untuk masa depan anak saya. Bukan berarti semua dituruti. Bukan berarti semua dimudahkan.
Tapi setiap batas diberi penjelasan. Setiap “tidak” diberi alasan. Dan setiap emosi diberi ruang. Karena hidup memang bisa keras, tapi rumah seharusnya selalu lembut.
Dan jawabannya kini jelas bagi saya: Tidak. Anak saya tidak wajib merasakan kesulitan saya dulu. Cukup saya yang pernah menjalaninya dan mereka tidak perlu.
***
Pesan saya singkat saja,
Selesaikan luka kecilmu, agar kau tidak tamak pada masa kini yang seharusnya sudah selesai.
Karena tidak semua keinginan hari ini lahir dari kebutuhan. Sebagian hanya datang dari masa lalu yang belum sempat kita peluk. Menjadi dewasa bukan soal mampu membeli segalanya, tapi mampu berhenti ketika cukup dan tahu bahwa dirimu yang kecil sudah aman sekarang.
Demikian temans, yang bisa saya bagikan kali ini. Gimana setuju ga dengan apa yang saya tuliskan? yuk sharing yuk...





