Search

Kayuh Roda Dua : Bebaskan Bumi Dari Emisi Karbon


"Bun, ayah mau beli sepeda lipat yah" 

"pokoknya mau bike to work"

Demikian usulan Akang Suami dipertengahan tahun 2020 lalu, saya fikir dulu keinginannya membuncah karena sepeda lipat sedang naik daun.

Bahkan harga untuk sepeda melambung naik seiring dengan tren bersepeda baik untuk kesehatan! 

Ditengah pandemi covid-19, berolahraga menjadi satu usulan paling penting selain berjemur demi antibodi yang baik!

Iya, setelah dinyatakan secara resmi bulan maret 2020 Bumi pertiwi terinfeksi covid-19 segalanya berubah.

Titik balik gaya hidup berubah sejak pandemi covid-19 diumumkan. Lebih banyak hal positif dari sisi kebersihan namun ada juga hal negatifnya.

Salah satu yang tak bisa dipungkiri adalah meningkatnya pengguna kendaraan pribadi karena rasa takut tertular virus corona jika menggunakan kendaraan umum.

Hasilnya?

Kualitas udara makin memburuk dan terjadi kemacetan.

Bisa dilihat bukan ternyata secara tidak langsung keputusan ini membuat nyata perubahan iklim.

bike-to-work

Adaptasi Transportasi : Mitigasi Perubahan Iklim

Keinginan suami untuk membeli sepeda akhirnya terwujud, setelah saya coba cermati dari berbagai aspek yang ternyata mengayuh roda dua memiliki banyak keuntungan.

Adapun manfaat yang dirasakan dengan bersepeda diantaranya adalah :

👌 Sisi Kesehatan

Tak bisa dipungkiri, bersepeda memang membantu meningkatkan kesehatan fisik dari kekuatan otot, imun tubuh, kesehatan jantung, menurunkan resiko kanker dan jantung bahkan mampu menurunkan risiko depresi jadi ga cuman kesehatan fisik saja akan tetapi untuk kesehatan mental pun bisa.

Hal ini juga diakui oleh suami, dimana tidur pun jauh lebih pulas yang biasanya insomnia setiap malam. Saya sendiri sudah coba bersepeda 11 km, dan itu lumayan banget sebagai pengidap asma dengan bersepeda ternyata bisa melatih pernafasan juga.

👌 Sisi Relasi

Semenjak punya sepeda, Akang suami juga akhinya tergabung dalam komunitas sepeda lipat Bandung. Melalui komunitas ini bisa menambah relasi suami dengan berbagai kalangan tua dan muda.

Saya sempat mau diajakin masuk komunitas, sayangnya mental saya masih ciut jika bersepeda di jalan yang ramai lalu lalang kendaraan besar. Belum berani dan masih kagetan jika ada klakson tiba-tiba di belakang saya :D

👌 Sisi Ekonomi

Keputusan "bike to work" oleh akang suami ternyata juga mempengaruhi pengeluaran untuk BBM.

Ditengah pandemi dengan kondisi gaji dipangkas tentu saja kami semua harus menghemat dari berbagai arah.

Dan bersepeda nyatanya lebih ekonomis, jarak rumah ke kantor suami itu sekitar 22km. Biasanya menggunakan mobil itu pengeluaran yang harus dikeluarkan setiap minggunya untuk BBM Rp 400.000,-/minggu belum untuk isi tol pulang pergi Rp 20.000,-.

Jadi total pengeluaran sebulan menggunakan mobil Rp 2.000.000,- sungguh nominal fantastis hanya untuk isi bahan bakar.

Maka keputusan bersepeda menjadi paling tepat artinya kami bisa saving Rp 2.000.000,- sebulan.

👌 Sisi Lingkungan

Tak bisa dipungkiri hantaman pandemi mencuri semua perhatian hingga terlupakan jika bumi alami perubahan iklim. 

Hayoh merasa ga sih kalau ekstrimnya cuaca? jangan sampe yah bencana terjadi karena kita semua luput menjaga Bumi tercinta ini.

Bersepeda menjadi salah satu solusi, kendaraan roda dua ini merupakan kendaraan yang ramah lingkungan.

Karena tidak menghasilkan emisi karbon seperti kendaraan bermotor. Temans bisa bayangkan nih emisi carbon itu merupakan sumber polusi yang utama. Kadarnya yang tinggi di atmosfer memicu efek rumah kaca yang memicu pemanasan global.

Dilansir dari Detik Health, Bersepeda tak hanya menyehatkan diri sendiri, tetapi juga dapat mengurangi tingkat polusi dan risiko kematian yang ditimbulkannya. Menurut penelitian, tiap tahun para pegowes telah mengurangi 9 juta kg emisi CO2 dan mencegah 12 kematian.

mmm...sungguh menarik bukan temans?

Saya juga sempat membaca jika dengan bersepeda tidak membutuhkan energi yang harus dikeluarkan baik energi listrik ataupun bahan bakar. Cukup andalkan kekuatan tubuh saja.

Efisiensi bahan bakar dapat, sehatpun dicapai..

 

aksi-adaptasi-transportasi-untuk-lingkungan

#UntukmuBumiku Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Memang tidak mudah untuk beradaptasi transportasi, dari yang tadinya enak banget tinggal ngeng...serr duduk manis langsung sampe lalu berubah mengayuh. 

Pasti butuh banget upaya dan proses adaptasi yang ga cepat. Setidaknya apa yang seperti suami saya lakukan bisa menjadi inspirasi jika ada kemauan pasti bisa banget mengubah gaya hidup yang lebih ramah dengan lingkungan.

Buat temans yang mau mencoba bersepeda, saya punya tips yang saya dapatkan dari suami. 

Tips"bike to work"  ala suami:

🚴 Pastikan sepeda dalam keadaan baik, biasanya suami saya selalu mengecek rutin setiap pagi dari pemberian angin ke ban, pemberian oli rantai hingga rem. Dan tentunya membawa pompa kemanapun sehingga bila kempes tinggal pompa.

 
🚴 Membawa tas khusus sepeda yang dipasangkan di depan, berhubung suami bekerja menggunakan leptop dan pastinya akan berat jika membawa tas punggung maka beli tas khusus sepeda itu penting. 

Hal ini juga menghindari penjambretan yang marak terjadi pada pengguna sepeda jika membawa tas selendang atau tas punggung.


🚴 Menggunakan helm sepeda, sebagai perlindungan kepala.


🚴 Menggunakan celana yang tidak gombrong, sehingga tidak mengganggu saat mengayuh. Saya pernah alami celana saya masuk rantai karena longgar jadi pastikan ujung celana yang nyaman.


🚴 Membawa baju ganti, sudah pasti bersepeda dari Cimahi ke Samsat Bandung berkeringat. Maka suami pasti bawa bekal kaos ganti. Apalagi setelahnya itu harus bekerja.


🚴 Menggunakan jam tangan yang bisa mengukur detak jantung. Ini bocoran dari suami agar ia bisa mengontrol kecepatan mengayuhnya jangan sampai lebih dari 165 heart rate detak jantungnya karena bisa berakibat fatal.

Saat bersepeda, jantung akan berdetak lebih cepat karena sedang berusaha memompa darah terus-menerus. Jangan terlalu memaksakan, pasalnya kemampuan jantung ada batasnya.

“Kita harus terbuka terhadap kemungkinan bahwa ada batas dalam bersepeda dan jika melewati batas tersebut bisa berakibat buruk pada jantung,” ujar ahli jantung dr. James O’Keefe dalam jurnal Mayo Clinic Proceedings. hellosehat.com

🚴 Membawa minum sendiri menggunakan tumblr, sebagai upaya ramah lingkungan juga. Bawa minum saat bersepeda penting banget nih temans. Jangan sampe dehidrasi yah apalagi seusia kita butuh asupan air 2 liter sehari. 

Ditambah dengan bersepeda maka harus ditambah karena hidrasi yang sehat itu jumlah air yang masuk ke dalam tubuh dan keluar harus seimbang.

Nah buat #Mudamudibumi sekecil apapun gaya hidup yang bisa kita ubah dan ramah lingkungan tentu saja ini menjadi hal baik bagi Bumi kita tercinta. 

Kalau bukan kita yang memulai mau sampai kapan? saatnya #TimeForActionIndonesia. Saya sendiri sudah tertarik dengan melihat suami yang bike to work.

Ditambah lagi di kantor juga saya melihat manager yang biasa membawa mobil kini bersepeda lipat.

Saya bersumpah jika sudah kumpul keberanian melewati jalanan curam menuju kantor, saya ingin ke kantor bersepeda saja dibandingkan naik mobil atau motor!

Baca yang ini juga : 

***

Well, temans demikian yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga apa yang saya tuliskan bisa bermanfaat yah dan syukur sekali jika ada temans yang bisa terinspirasi lalu menerapkannya!

Terima kasih ^_^ salam sehat untuk Bumi kita tercinta!

Referensi :

1. Heryanto Agus, 2020 : https://portalsepeda.com/manfaat-bersepeda-ke-tempat-kerja-bike-to-work/

2. Komitmeniklim, 2021 :  https://komitmeniklim.id/4-manfaat-bersepeda-bagi-lingkungan-dan-krisis-iklim-nomor-4-penting-banget-loh/




34 komentar

  1. Sayangnya kami sudah tua. Tak boleh lagi olahraga terlalu berat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk MudaMudi Bu semoga bisa terinspirasi hehe..terima kasih kunjungannya ibu

      Hapus
  2. Yups Betul sekali apa yang telah dijelaskan diatas dengan lengkap.😊😊😊


    Saya malah setiap hari kekantor goes dengan sepeda.😊😊 Meski jaraknya 9Km karena sering jadi tidak serasa capai.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Kang, alhamdulilah yah sehatnya dapat, bumipun semoga terjaga :) SEMANGAT BIKE TO WORK

      Hapus
  3. Bersepeda untuk berolah raga atau untuk kebutuhan berkendara ke tempat lainnya, salah satu cara bijak dalam berkontribusi untuk bumi yang lebih sehat. Bisa juga dilakukan dengan cara lain, yang masih berhubungan dengan transportasi. Seperti kami, walau ada mobil, tapi dalam 3 tahun terakhir (sejak sebelum pandemi) sudah membiasakan diri untuk menggunakan transportasi umum seperti KRL jika ke Jakarta, atau jabodetabek. Kalau pergi ke tempat - tempat yang dekat, jika memungkinkan jalan kaki, jika tidak bermotor saja. Mobil hanya digunakan bila benar2 penting dan perlu pergi ramean dengan anak-anak.

    Jika setiap orang berpikir tentang efisiensi bahan bakar, mempraktekkannya, dan konsisten dengan itu, dampaknya akan besar bagi kesehatan bumi. Semoga!

    BalasHapus
  4. Saya pengguna sepeda mba, bersepeda bisa sambil berwisata :) tapi jarak kantor saya terlalu dekat sekitar sekilo doang, jadi lebih enak jalan kaki :)

    BalasHapus
  5. Wahh, saving 2juta perbulan mayan buangeett ini Mbaaa
    dalam setahun, cukup bgt buat dipake umroh!
    Yap, kita memang kudu melakukan hal2 baik, agar Bumi makin nyaman dihuni yaakkk

    BalasHapus
  6. Hahhaaa, kalo untuk bersepeda ke kantor dan urusan lain keknya aku belom sangggup ,melihat jarak dan kondisi jalanan perlu diperhitungkan juga.Kecuali kalo bersepeda untuk olah raga tipis2 masih oke. Ku masih cinta sama motorku kmana mana, menyampingkan mobil yang jadi penghuni garasi. Lumayan mengurangi kemacetan, hahaa.
    Btw, aku salut sama mereka yang bener bener terniat pake sepeda ke tempat kerjaan dengan beberengkes kebutuhnnya, lanjutkaan!!

    BalasHapus
  7. Mantap bundaa, suaminya semangat buat sepedaan. Dan sepakat banget kalau sebetulnya sepedaan ke kantor banyak manfaatnya ya bun. Lebih hemat dan juga sehat. Dan juga membantu mengurangi emisi karbon

    BalasHapus
  8. Bener banget teh ada banyak sekali manfaat untuk bersepeda itu ya. Selain untuk kesehatan kita juga untuk ramah lingkungan. Kasian iklim kita udah kurang bersahabat sekarang. Jadi kalau nggak diminimalisir kerusakannya bisa lebih parah ya. Suami aku juga kepikiran pengen pake sepeda juga ke kantor katanya

    BalasHapus
  9. cara asik membebaskan bumi dari emisi karbon nih.. ngebanyangin kalo kita bisa bebas bersepeda untuk mobile di sekitaran kota masing-masing.. pasti asik..

    BalasHapus
  10. Wah kantor suaminya di samsat teh? Lumayan ya sepedahan dari ujung ke ujung, mantap...
    Sehat plus ramah lingkungan...
    Tapi memang serem sih ya sepedahan di bandung, enggak kaya di luar negeri yang nyaman, hehehe...

    BalasHapus
  11. Adik bungsuku demen gowes. Bahkan belakangan ini dia dan gengnya sepedaan sampai Cirebon. Sebelum pandemi, dia sering bike to work lho. Ternyata cara ini turut membebaskan bumi dari emisi karbon ya. Mesti toss nih sama suami mbak Herva hahaha :D

    BalasHapus
  12. Mantap banget! Anak saya yang suka sepedaan. Dia pernah ke sekolah naik sepeda. Itung-itung sekalian berolahraga juga. Selain untuk mengurangi emisi karbon.

    BalasHapus
  13. Setuju mba, #TimeforActionIndonesia harus dimulai dari diri sendiri dan semoga bisa jadi inspirasi buat orang lain untuk melakukan hal yang sama

    BalasHapus
  14. Jadi teringat pengalaman saya di kampung dulu sebelum pandemi saya menggunakan sepeda dicemooh masyarakat. Sampai tukang ojek pun ngeledek saya.
    Eh pas pandemi sepeda banyak diminati, masyarakat banyak yg bersepeda juga. Termasuk mereka yg awalnya mencemooh saya itu. Kalau tidak takut dosa, ingin rasanya saya tertawa keras di hadapannya. Hehehe

    BalasHapus
  15. akutuh berharap banget di setiap jalan yang ada di Jabodetabek mulai dimarakkan jalur khusus sepeda, soalnya agak gak nyaman juga kalo sepeda, sepeda motor, mobil, dan truk jalurnya sama. Pas lagi macet tuh, aduuhh numpuk deh semua.

    semoga juga mulai banyak yang bersepeda ya agar membebaskan bumi dari emisi karbon

    BalasHapus
  16. wah aku baru tahu lho maksimal heart rate olahraga tuh 165 jadi lebih waspada ya

    BalasHapus
  17. Wah lumayan saving sekian karena ubah gaya hidup jadi bike to work ya Mbak. Setuju jika kita mau ikut berkontribusi maka bumi bisa terbebas dari makin menggilanya emisi karbon akibat moda transportasi

    BalasHapus
  18. Keren mbak udah lah berpartisipasi melindungi bumi yg sudah makin tua, badan kita jadi makin fit. Plus masih ada bonus bisa saving. Harua dicontoh ni

    BalasHapus
  19. Penting sekali ya, Teh menggunakan jam tangan yang bisa mengukur detak jantung saat bersepeda. Supaya mencegah terlalu lelah dan membahayakan jantung.

    BalasHapus
  20. Naik kendaraan pribadi selain nambah polusi juga biaya BBM nya yang wow banget, ya.

    Memilih bike to work ini beneran pilihan yang bijak banget. Selain nambah sehat juga bisa mengurangi emisi karbon.

    BalasHapus
  21. wah keren banget suaminya mbak, semoga diikuti oleh teman teman kerjanya dan semua orang yang melihatnya naik sepeda ke tempat kerja. Dulu saya juga seringnya naik sepeda mbak kemana-mana. cuma emang orang kita itu, kadang enggak siap dengan perubahan demikian karena dianggap sepeda buat anak anak bukan buat orang dewasa. Makanya pada heran saya naik sepeda ke pasar, ke toko dekat rumah aau anter pesenan orang. Emang harus dibiasakan ya. Kalau sudah banyak yang menggunakan sepeda untuk mengurangi emisi, tentu bumi akan semakin sehat

    BalasHapus
  22. wah iya, suamiku juga ada program bike for work mbak
    jadi upaya kantornya untuk mengurangi emisi
    memang sebenarnya banyak langkah kecil namun berdampak untuk menjaga kelestarian lingkungan

    BalasHapus
  23. Ada hikmah positif ya dari pandemi jadi rajin olahraga, bisa sepedaan ke kantor harus tetap dipertahankan nih untuk mengatasi perubahan iklim yang sedang terjadi.
    Pingin punya sepeda lipet, ada sih tapi punya anak-anak.
    Curam banget ya mbak jalannya di sana? aku belum pernah sepedaan di jalanan turun naik, paling di sini sih jembatan Summarecon :-D

    BalasHapus
  24. Meskipun bersepeda kini menjadi trend, tapi aku pikir bagus juga kok jika kebiasaan ini konsisten dilakukan masyarakat, karena banyak manfaatnya ya tidak hanya untuk kesehatan tubuh tapi juga kesehatan bumi yang kita tinggali ini. Apalagi saat ini pemerintah sedang giat-giatnya menerapkan Zero-Net Emissions, yang tentunya harus kita dukung agar bumi lebih sehat dan bersih.

    BalasHapus
  25. Kayak jalan cepat atau lari, juga ada batasannya ya. Sepeda juga, makanya suamiku juga pakai jam tangan ini untuk tahu maksimal heart rate saat gowes. Apalagi dia udah pasang ring jantung

    BalasHapus
  26. Saya sebenarnya pengen banget bisa menjalani Bike to Work setidaknya satu kali dalam seminggu tapi ya gitu adaaa saja halangannya padahal nggak terlalu jauh juga jarak rumah ke tempat kerja. Pas bangetlah kalau untuk 30 menitan bersepeda. Semogfa ke depan di saat sepedanya saya perbaiki dulu.

    BalasHapus
  27. Saya nih doyan banget ke mana mana jalan kaki. Makanya sering heran sama yang keluar ke minimarket depan gang aja kok ya pakai motor. Epicnya adalah, justru orang-orang dimarih yang sering heran plus pada kasihan kalau lihat saya jalan kaki :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk...padahal hidup sehat bebas emisi karbon yes mba

      Hapus
  28. Aku jadi ingat kalau awal-awal pandemi sangat bersemangat sekali mengayuh sepeda bersama suami dan anak-anak. Sekarang, huhu...uda paling males karena sepedanya ditaruh di bagian belakang rumah. Padahal dengan membiasakan bersepeda, badan sehat, hati riang plus bisa menjaga lingkungan dari emisi gas karbon.

    BalasHapus

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun