Search

Perlukah Memberitahukan Kabar Kehamilan ke Atasan?

Halo temans, apa kabar? semoga tetap sehat dan terus produktif. Jangan lupa dengan targetnya di tahun 2017 ini semoga masih bisa direalisasikan aamiin. 

Tulisan kali ini terinpirasi dengan moment kemarin sore yang saya rasakan. Ketika Pak Boss datang menghampiri meja saya dan untungnya leptop sedang tidak buka yang aneh-aneh 😀. Lalu terjadilah percakapan berikut :

👨 : "Herva, kamu sedang hamil?"
👸 : "iya pak" cengengesan
👨 : "Wah berapa bulan?"
👸 : "5 bulan pak, baru keliatan sekarang ya pak?"
👨 : "Iya saya perhatikan ada yang beda" lalu pak Boss memberikan selamat dan sebelum percakapan diakhiri saya langsung menentukan jadwal cuti saya di tahun depan. 

Memang belakangan tak hanya pak Boss akan tetapi rekan kerja yang berpapasan pasti akan menanyakan hal yang sama bahkan tukang es kelapa-pun kaget ketika kemarin saya bilang iya sedang hamil.

Pasalnya ga keliatan sedang hamil 😂. Padahal saya ga menyembunyikan kehamilan ini loh. Mungkin badan saya yang kecil dan saat ini saya lebih suka mengenakan rok jadi tidak terlihat perut ini membuncit.

Dari kasus saya sebenarnya jadi pertanyaan juga bukan? perlu ga sih beritahukan kabar kehamilan kita ini di kantor?

Sebenarnya agak sungkan juga ketika saya hamil lalu ujug-ujug saya langsung bilang ke atasan "Pak saya sedang hamil" kesannya seperti meminta tanggung jawab LOL.

Saya sendiri lebih memilih ketika awal hamil hanya memberitahukan kepada rekan kerja sebelah saya yang sekarang sudah resign dan sedang hamil pulak. Selebihnya sampe memasuki usia 5 bulan akhirnya mau tak mau saya ceritakan hal bahagia ini kepada siapapun yang kepo.



💕 Tapi temans, setelah saya berfikir sepertinya atasan juga penting mengetahui tentang kehamilan kita. 
Bagi temans yang bekerja dan ketika masuk trimester 1 tentunya ada yang tidak seperti saya tidak mengalami mual, muntah ataupun yang sampai harus bedrest maka jika kondisinya sebaliknya sebaiknya temans menceritakan hal ini kepada atasannya.

Sehingga ada pemakluman dan sedikit toleransi buat temans untuk bisa di approve cuti dan menunda pekerjaan yang tertumpuk di kantor. Jangan memaksakan kondisi kita untuk porsir mengerjakan semua pekerjaan kantor.
Selain itu juga mungkin bisa jadi masukan buat atasan menyusun ulang agendanya selama 3 bulan kita cuti dan prepare untuk hire orang baru sementara atau meng-hold pekerjaan sampai dengan kita kembali lagi bekerja.

Bilangnya gimana yah?
💕 Tak hanya kepada atasan, penting juga kita sharing kehamilan dengan rekan kerja kita. 
Alasannnya juga agar rekan kerja kita kelak sudah siap apabila kita cuti melahirkan selama 3 bulan ia bisa mem-backup semua pekerjaan kita, menghandle dulu case-case yang masuk selama kita tidak ada di kantor. 

Ga lucu kan kalau tiba-tiba rekan kerja pengsan karena selama ini tahunya perut kita emang buncit sebagai bentuk kewajaran sebagai mamak-mamak bukan karena sedang hamil. Berujung stress hadepin tugas-tugas dadakan yang bikin ia akhirnya ga kuat. So baiknya bilang aja jujur sama rekan kerja.

***
Ada beberapa sih menurut saya mengapa bagi sebagian karyawati memilih untuk menyembunyikan kabar kehamilannya. Menurut versi saya itu karena :
  • Takut atasan ga terima dan memiliki mindset ibu hamil itu membebani dan kualitas kerjanya menurun
  • Takut nanti atasan merasa ibu hamil kebanyakan ga masuk jadi mempengaruhi kerjaan dan target
  • Takut nanti rekan kerja tiba-tiba resign pas tahu cuti melahirkan 3 bulan
  • Takut ga diperpanjang kontraknya (kalau karyawati baru)
  • Takut digantikan sama rekan kerja yang baru selamanya
  • Sungkan sama atasan terlebih atasannya takut jawab "So What geto loh?" >> ini mah mindset akooh 😂
Bener ga temans seperti itu? kalau saya pribadi sih memang belum memberitahukan sungkan takutnya ya tadi takut nanti terus kenapa? gw yang mesti tanggungjawab? LOL.

Nunggu jawaban pak boss be like
Berita kehamilan mungkin bisa jadi dua sisi, sisi bahagia untuk kita sebagai ortu dan sisi ga enaknya mungkin adakalanya kantor galau jika harus mencari ganti posisi kita selama ini. 

Namun saya yakin setiap perusahaan sudah memikirkan dengan baik ketika kebijakan mereka mau meng-HIRE perempuan bergabung diperusahaannya. Salah satu konsekuensi yang diterima adalah Kehamilan lalu Cuti Melahirkan. 

Apakah butuh waktu kheseus buat umumkan kehamilan ke atasan? saya rasa itu pilihan masing-masing temans. Sekiranya di trimester pertama ga ada masalah seperti yang saya jalani kayaknya ga dulu hahaha tapi sebaliknya kalau kondisinya ga memungkinkan sebaiknya sudah berbicara ke atasan agar atasan pun enak untuk memaklumi kondisi kita juga mendelegasikan tugas kepada rekan kerja yang lain.

Gimana kalau atasan atau rekan kerjanya bereaksi negatif? ya sudah terima NASIP temans 😂 tapi semoga tidak mengganggu kesehatan kita sebagai ibu hamil yang tetap memilih bekerja. Perlu diingat kondisi janin juga tergantung ibunya, be happy dalam kerja biar baby di perut juga happy. Yang penting tetap bekerja profesional dan tanggung jawab meskipun sedang hamil.


Kondisi stress bekerja juga rentan terhadap kondisi baby, buat temans yang punya rekan kerjanya atau saudaranya atau istrinya atau temannya sedang hamil namun tetap bekerja yuk dukung dan terus berikan semangat bukan malah memberikan sugesti negatif.

Membahagiakan orang lain kan tidak perlu harus memberi something akan tetapi support dan selalu menjaga perasaan juga termasuk membahagiakan juga loh *ini versi saya sih 😂 ga perlu di takut-takutin dengan segala mitoslah kesian. 

Demikian sekelumit cerita #curhat dong versi saya ada yang mau share tentang ini juga? yuk kita saling sharing yang bermanfaat 💋.


Tidak ada komentar

Posting Komentar

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun