Tuesday, August 29, 2017

Ketika Psikotes Menjadi MASALAH

Hai temans?apa kabar semuanya?semoga baik-baik saja meskipun cuacanya sedang ga enak. Bahasan saya kali ini tentang Psikotes, mungkin sebelumnya pernah saya bahas sekilas tentang hasil psikotes DISINI.

Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca status seseorang yang berbunyi kurang lebih seperti ini "Buat apasih ada Psikotes?di Luar Negeri aja sudah ga pake tuh yang namanya psikotes kalau mau masuk kerja tinggal interview dan melihat skill saja, kalau disini ribet banget mesti ada Psikotes dan saya ga lulus". Sudah dipastikan status ini terlihat bagaimana orang itu kecewa dan menyalahkan "psikotes" sebagai penyebab ia susah diterima kerja.

Masih ingat dengan Proaktif dan Reaktif yang pernah saya bahas sedikit tentang Moment Sabar Menjadi Recruiter dimana seorang pelamar marah-marah karena tidak saya bolehkan untuk ikuti psikotes, dia menyalahkan orang lain bukannya intropeksi diri. Pun sama dengan orang ini reaktif dengan menyalahkan psikotes.

Dalam keseharian kita memang yah paling mudah itu menyalahkan orang lain, melemparkan kesalahan kepada orang lain, defence akut ketika segala sesuatunya tidak berjalan dengan rencana. Sama seperti kasus dalam status orang tersebut, bagaimana ia menyalahkan psikotes padahal menurut saya psikotes sudah ada dari zaman doeloe kala bahkan ada alat test yang sejak tahun 1800-an masih sama bentuknya.

Saya jadi tergelitik menanggapinya, memang konon dari beberapa kabar burung saya dapatkan jika di luar sana sudah tidak lagi menggunakan psikotes *katanya* untuk keakuratannya sendiri saya ga tahu bahkan pendidikan saya yang masih segede biji kacang ijo ini belum sanggup untuk menyatakan jika psikotes sudah tidak memiliki arti lagi dalam fungsi kerja.





Kalau pendapat saya yang memang dulu belajar dan saat ini kerja di bagian HRD, Psikotes itu memungkinkan recruiter untuk MEMPREDIKSI potensi performa pekerja sebelum mereka bekerja. Ibaratnya jangan sampe niy perusahaan seperti membeli kucing dalam karung, si karyawannya ga ada sama sekali profile potensinya.

Kebayang ga siy hal ini jadi memudahkan recruiternya?namun banyak pula yang sering nyalahin recruiternya kalau ternyata si calon karyawan gagal masuk. Sebenarnya gini Psikotes itu kan memberikan informasi yang sulit didapat jika hanya mengandalkan pengamatan / penilaian secara umum. Ingatlah wahai calon pekerja, Recruiter bukan cenayang atau mbah M*jan yang suka kasih label tertentu hanya dengan melihat sekilas.

Lagian niy temans kalau saya cuman ngandelin pengamatan saya sendiri tentunya saya akan melakukan Hallo Effect atau Devils Effect. Ga bisa dipungkiri, setiap calon pekerja, ketika mengikuti tes tentunya berusaha untuk menciptakan kesan pertama yang positif. 

Kesadaran bahwa dirinya sedang dinilai sama saya selaku recruiter pasti membuatnya untuk menunjukkan dirinya yang terbaik. Jika yang ditunjukkan bukanlah kondisi yang sebenarnya, maka tentu saat ia bekerja, hasil kerjanya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Dannnn Psikotes dapat ‘mendeteksi’ hal tersebut, sehingga dapat membedakan orang-orang yang terlihat baik karena mereka memang benar-benar baik dan orang-orang yang terlihat baik karena mereka sedang menyembunyikan hal-hal yang buruk. 

Sudah kebayang temans sedikit tentang Psikotes?oke saya lanjutkan kembali lain dari itu psikotes bisa membantu memetakan karyawan untuk mengisi posisi yang sesuai dengan dirinya. Hal ini bukan hanya untuk menguntungkan perusahaan karena dapat memiliki orang-orang terbaik untuk mengisi posisi yang ada, tetapi juga menguntungkan karyawan yang bekerja di dalamnya karena akan membuatnya bekerja sesuai dengan minat dan kemampuannya.


Untuk proses recruitmen dalam perusahaan sendiri itu tidak hanya mengandalkan hasil psikotes saja namun diantaranya merupakan gabungan hasil dari :

💦 Interview HRD maupun Interview User
💦 Tehnikal Test
 


Dan beberapa hasil sesuai dengan standar yang ada di perusahaan masing-masing. Lulus atau tidaknya menjadi calon karyawan tentunya tergantung dengan hasil psikotesnya apakah sesuai potensi dan kepribadiannya dengan posisi yang sedang membutuhkan. 

Buat temans yang merasa gagal tes kerja terlebih karena gagal psikotes, jangan patah semangat terus perbaiki diri, terus usaha untuk menaklukan psikotesnya namun jangan juga menghalalkan cara yang tidak baik. Belakangan memang beredar alat tes psikologi berseliweran bahkan sedihnya ada yang jual sampai kunci jawabannya. 

Baca Lagi : Selalu Gagal Tes Kerja Yuk MOve On! 

Selalu ingat loh teman curang dalam tes bahkan bisa mengelabui semua orang belum tentu ketika berada dalam situasi kerja yang sesungguhnya bisa bertahan. So, untuk hasil maksimal dan terbaik mulailah dengan usaha yang baik pula. 

Baca Lagi : Hindari Proses Recruitment Berbayar 

Akhirul kalam saya mau sampaikan, psikotes hanyalah tools untuk memprediksi jika di kemudian hari si pekerjanya tidak sesuai dengan hasil tesnya bisa jadi karena banyak faktor. Mungkin kesempatan yang menjadikan karyawannya nyeleneh atau berbuat yang tidak sesuai, bisa jadi karena untuk lolos psikotes ia menghalakan berbagai cara. 

Dan menurut saya bukan psikotesnya yang bermasalah namun diri kitalah yang bermasalah jika ternyata tes kerjanya gagal. Bukan menyalahkan namun terus perbaiki diri. Karena kita terbiasa menganggap enteng tentang psikotes alah cuman begitu doank nyatanya?silahkan jawab masing-masing 😃.

Semoga bermanfaat yah 💋


44 comments:

  1. Aku lulus terus tes psikotes.. #eeaaa #pamer :D
    Psikotes memang menjadi salah satu benchmark yg tepat untuk banyak perusahaan. Tapi untuk perusahaan tertentu, ada yang tidak mengharuskan pake psikotes, tentunya dengan penilaian lain.
    Jadi kalau gagal wae psikotes, carilah perusahaan yg tidak mementingkan hasil psikotes.. :D #inikomenapaaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk terutama carilah perusahaan dimana ada relasi didalamnya yang tidak mengharuskan kita ikut tes dulu sebelum masuk >> faktanya ada aja yang begini :D

      Delete
  2. Ada yang bilang test psikotest itu gak bisa jadi patokan gimana prilaku orang tsb, soalnya saat test tergantung mood juga sih. Jadi inget dulu ikut test psikotes saat daftar masuk kuliah, sempet protes sih buat apaan sih test beginian, ahaha.. tapi ya emang gak lulus juga sih, belum jodoh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tentu keadaan akan mempengaruhi hasil tesnya mba karenanya jika ga lolos mugkin saja dipengaruhi keadaan diri yang ga konsen atau tidak fit juga

      Delete
  3. ngomongin psikotes jd inget awal bulan agustus si Babang ikut psikotes disekolahnya. Kalau saya enggak masalahin psikotesnya, tapi biayanya mahal bgt huhuhu untuk sebuah test yg cuma disuruh gambar dikertas kosong dan tebak gambar (gambarnya fotocopy hitam putih) tp mudah2an bagus untuk Babang kedepannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya biayanya emang mahal makanya beruntunglah yang ikut tes lalu ikutan psikotes secara gratis tis :D
      semoga hasilnya bagus y mba

      Delete
  4. Saya rada-rada menikmati kalau psikotest. Penasaran aja sama hasilnya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau penasaran tanyain ke bagian HRDnya itupun kalau HRDnya berkenan hahaha kalau psikotes sendiri biasanya akan diberi tahu hasilnya :)

      Delete
  5. *ngangguk-ngangguk
    Gitu toh. Memang bikin kesel kalau kita nyatanya gagal cuman karena sikotes ini.
    Tapi seperti yang mbak Herva bilang banyak orang ahli di suatu bidang tapi ga terlalu peka untuk improvisasi. Ini yang bahaya. Disaat ada hal yang ga sesuai dengan situasi SOP, karyawan harus bisa ngambil tindakan cepat dan tepat. Ini yang bisa dinilai dari sikotes tadi.

    Kayak dosen psikologi aja saya yah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha gpp feel free buat comment kang :)

      Delete
  6. Nice infonya mbak, memang penting sih adanya psikotes

    ReplyDelete
  7. Saya pernah gagal ikut psikotest huhuhu

    ReplyDelete
  8. Saya kalau ikut psikotest malah sering penasaran sama hasilnya, meski jarang banget ikut psikotest karena dulu waktu masih aktif ngantor ga pernah diadain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sok atuh mba Ipeh psikotes mandiri biar tahu hasilnya hehehe

      Delete
  9. Sering ikut pas awal2 fresh grad, smpe kdg pas test di satu perushn ke perusshaan lainnya testnya samaan soal,
    Psikotest itu mending belajar dulu pa ngerjsin spa adanya di mb herv?

    ReplyDelete
    Replies
    1. belajar boleh biar ada gambaran tapi bukan dijadiin patokan mba Nit karena beberapa posisi yang dibutuhkan bisa jadi match dengan hasil psikotes yang mungkin biasa saja ga tll maksimal :) *semoga menjawab hahha

      Delete
  10. Jadi ingat waktu tes masuk pegawai, saya buta sama sekali sama yang namanya psikotes, pernah baca soalnyapun enggak, apalagi belajar. Haha..

    Tapi alhamdulillah lulus, soalnya saya kerjain pake logika aja, jadi bener-bener pikiran polos dan murni (coret dari kata polos dan murni) dari saya. haha

    ReplyDelete
  11. Psikotest perlu juga ya sih menurut saya

    ReplyDelete
  12. Saya juga pernah apply kerjaan di kantor, ada psikotes, lantas ga diterima. Lalu apply ke course dan so far selama pindah2 memang ga ada psikotes. Masing2 perusahaan tentu punya kebijakan untuk merekrut timnya. Si orang yg ribut di socmed mungkin hanya berpikir, gue sarjana dg IP keren. Lah, kalau cuma nyari yg kayak gini doang mah ya HRD macam Teteh Bella ga perlu pusing ya.
    Intinya... welcome to the nyari duit world di mana banyak hal yg bisa jadi penilaian selain yg didapat di bangku sekolah :D

    ReplyDelete
  13. Selalu lolos ikut psikotes. Tapi gagal di tes yg lain hahahahah. Yah emang enak nyalahin orang lain :D padahal klo disuruh ngaca mah harusnya perbaiki diri sendiri dulu aja.

    ReplyDelete
  14. Emang bikin pusing dan setreees hahahaha.. tp bener juga ini utk menyaring secara mental. Bisi ada yg disembunyikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisi ini mah ya teh bisi ternyata pelamarnya teh kumaha kumaha hahha

      Delete
  15. pernah berkali-kali ikut tes phisikotes di berbagai perusahaan dan saya sendiri gak pernah berharap akan pernah berhasil :D

    ReplyDelete
  16. Jadi pelajaran menarik nih buat ngelamar kerjaan suatu saat nanti
    Makasih infonya mbak.

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah aku lukus psikotes pas dulu apply di bank yg skr :D. Banyak temen2 yg ikutan bilang tesnya susah krn dlm bahasa inggris. Tp kalo aku bilang, psikotes yg di bank asing ini justru paling gampang krn walopun bhs inggris, tp kita diizinkan bawa alat hitung. Perusahaan2 yg tesnya aku ikutin sblm di HSBC justru pake bhs indo, ga boleh bawa kalkulator, dan aku yg g lulus wkwkwkwk..

    ReplyDelete
  18. Karena siap/tidaknya seseorang jadi pekerja bisa dilihat dari psikotesnya. Begitu ya teh. tfs teh

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah aku selalu lulus deh kalo psikotes2 gini jaman dulu hihihi. Btw kalo emang nggak lolos sih emang belum rejekinya ya Mbak

    ReplyDelete
  20. saya memang selalu senewen kl psikotest tp saya pikir itu memang bagian dari seleksi sih. Either you pass it or not. lagian org skrg itu kok ya bawel amat sih... situ yg butuh kerja kok situ yg atur2 mesti gimana perusahaannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya dia yang cari kerja tapi dia yang marah-marah

      Delete
  21. Hampir selalu lolos kalo psikotes, tp suka gagal dites2 lainnya malah haha. Menurutku penting banget ah adanya psikotes, berdampak juga buat kinerja dari seorang karyawan/pegawai pemerintah. Biar lebih bener kerjanya hehe

    ReplyDelete
  22. Psikotest sering aman, tapi yang lainnya kadang keok. Hehe

    ReplyDelete

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design