Tuesday, May 10, 2016

Dibalik Psikotes

Seringkali ada yang menanyakan mengapa si A yang masuk sedangkan saya yang jauh lebih pandai ga masuk *nangis guling-guling atau ada pertanyaan dari user (atasan) mengapa si B tidak perform sementara hasil psikotesnya jauh lebih baik dari si C? *tolong jelaskan apa maksudnya.
Sepenggal pertanyaan yang bikin hayati lelah lalu lari ke hutan hahaha.

Psikotes merupakan serangkaian tes yang diberikan kepada calon karyawan dalam dunia kerja. Dalam dunia klinis juga ada psikotes dengan tujuan yang beda. Kalau di dunia kerja tentunya untuk melihat potensi maupun kompetensi calon karyawan yang hendak gabung bersama di kantor maka tentunya saya maupun tim HRD akan memberikan serangkaian tes yang disesuaikan dengan kebutuhan pada posisi tertentu sesuai permintaan user (atasan) berdasarkan aturan yang ada dalam manajemen. Sedangkan di dunia klinis pun sama melihat potensi individu namun lebih ke ranah psikisnya misalnya mau liat individu skizofrenia maka akan diberikan serangkaian tes untuk melihat kecenderungan potensi skizofrenia tersebut.

Setiap tes yang diberikan masing-masing perusahaan ada yang berkiblat pada psikotes general ada yang develop sendiri biar menyesuaikan dengan visi, misi maupun corporate culture suatu perusahaannya. Yang kiblatnya psikotes general ada loh yang menggunakan alat tes yang uda di bawa dari tahun 1983 (kata Fasilitator siy) tanpa adanya modifikasi. Padahal seiring berkembangnya zaman tuh soal uda kagak relevan sama kondisi kekinian. Yang sering ngelamar dan ikut psikotes pasti hafal banget sama tes ini hahaha (cung yang tahu tes apa ini?). 

Psikotes sendiri biasanya kalau dunia kerja mengarah kepada intelegensi dan kepribadian. Jadi untuk yang berbau intelegensi ada standar hasil kelolosannya kalau hasil tesnya minimal sori dori mori stroberi anda gagal cin yang tabah ya dunia ga berakhir sampe sini kok hehehe. Kalau untuk berbau kepribadian kadang fleksibel tergantung posisi yang di lamarnya. Pernah ada yang komen jika tes kepribadian ini tidak ada jawaban benar dan salah, memang betul karena kan kita melihat kecenderungan individu memiliki tipe seperti apa karena itu kebanyakan tes kepribadian gampang ga kayak tes intelegensi. 

Apabila sudah diapatkan hasilnya maka akan di combine sama tim rekruitmennya, jika hasil tes intelegensi memenuhi syarat dan tipe kperibadiannya cocok dengan posisi yang dilamar maka akan lanjut Interview. Misalnya gini sedang dibutuhkan admin, maka kami akan mencari tipe yang teliti, teratur, ga banyak omong sedangkan hasil psikotesnya ga perlu yang bagus sekali karena menyesuaikan kerjaan rutinitas yang ga perlu problem solving. Beda lagi ketika mencari kandidat marketing manager tentunya diperlukan yang pandai menjalin relasi, bisa mempengaruhi orang lain, komunikasinya baik dan hasil psikotesnya akan mencari yang hasilnya tinggi karena selevel manager tentunya diperlukan kemampuan problem solving, decision making maupun analisa. Kira-kira seperti itu.

Sampai disini jelas ya kalau misalnya ada lagi yang bilang saya bisa ngerjain dan saya lebih pandai dari dia tapi ga diterima maka terjawab sudah seperti yang telah diuraikan di atas. Jika yang sudah diterima namun tidak perform mungkin saja lingkunganya ga menerima maka dari itu potensinya tenggelam seiiring lingkungan yang ga dukung individu tersebut.

Tapi dibalik itu semua, psikotes hanyalah tools yang digunakan oleh kami para recruiter dalam mencari pria idaman calon karyawan yang tepat. Recruiter bukanlah Tuhan yang mampu memprediksi si A akan begini, si B akan begitu. Ampun bapak dan ibu jika di kemudian hari ada yang ga beres sama karyawannya hahaha. Karena seketat apapun kita awasi tentunya hanya pribadi masing-masing yang mau jujur dalam memberikan penilaian terhadap dirinya. Jika ia faking good so sorry mereka telah mengelabui kita. Ini yang ga akan bisa kita kendalikan. Kecuali si individu memang merasa terawasi oleh yang Diatas dan takut dicatat kedua malaikat disamping kiri dan kanannya akan beda ceritanya.

Sumber : google
Sudahkah kita jujur dalam psikotes?semoga kita tidak akan membohongi orang lain apalagi membohongi diri sendiri. Dibalik Psikotes terdapat Individu yang Unik, dibalik psikotes terdapat kejujuran dalam pengisian, Men sana in corperisano Gw kesana elo kesono hahaha (ga nyambung)
Semangatttt Pagiii....

28 comments:

  1. Jadi inget waktu dulu saat melamar pekerjaan ada tes psikotes dan tes interviu, tes psikotes itu butuh konsentrasi yang tinggi, jujur dan lumayan susah juga mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha susah susah gampang :p

      Delete
    2. Iya mbak bener sekali susah-susah gampang mbak .. hehehe paling susah itu tes psikotes grafik perhitungan cepat mbak :D

      Delete
    3. itu mah gampang mas wong itungannya angka satuan hehehe

      Delete
  2. masih gak ngerti manfaatnya ada tes begituan pas masuk kerja :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Analogi sederhananya gini, akang punya rumah apakah orang baru bisa seenaknya masuk buat bantu2 bersihin rumah?minimal akang bisa interview orangnya dulu sebelum dia masuk. Nah fungsi psikotes y sebagai penyortir siapa aza yang boleh masuk ke rumah. Hasil psikotesnya bisa merekomendasikan kira-kira ini orang boleh masuk atau ga?bisa develop perusahaan atau ga. Karena itu tim recruitment perlu sebagai pintu masuk awal calon karyawan melalui tools psikotes gtu kang :) semoga bisa mengerti

      Delete
  3. Sampai sekarang penasaran, kalau ada tes gambar gtu beneran bisa diakalin or gk sih mbak? Soalnya dulu ada yg bilang bisa, hyaaahh... penasaran wae hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau tes gambar masuk tes proyeksi, dipelajari bisa aza tapi kan tetap akan terlihat proyeksi pribadinya hanya psikolog yang bisa membaca heheehe..kalau saya kebetulan cuman belajar sedikit untu tes proyeksi ini.
      Kayak misal grafologi, Mba bisa manipulasi untuk paragraf diawal tapi nanti paragraf diakhir akan terlihat proyeksi pribadinya tanpa disadari lagi. Kira-kira gtu mba :p maklum blm profesi jadi seadanya hehehe salam kenal ^^

      Delete
  4. terakhir psikotes 5 tahun lalu, setelah itu kalo kerja langsung interpiew aja udah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti kang Erwin jam terbangnya uda tinggi ga perlu psikotes hehhee

      Delete
  5. Menurut saya psikotes itu gampang-gampang susah :) soalnya harus konsentrasi penuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oleh karena itu disarankan sblm psikotes istirahat yg cukup tidur 8jam :)

      Delete
    2. saya suka psikoes. seru dan menegangkan. apalagi kalau dibatasi waktu. pertama ikut psikotes tertulis dan wawancara waktu tamat sa dan ngelamar di Garuda. lulus keduanya dan pengujinya senyum sentum saat wawancara sambil nanya, "tahu enggak berapa nilai psikostes kamu?"
      Bodohnya saya, saya bilang enggak tahu dan kemudian malah enggak tanya balik, berapa, gitu.
      Sampai sekarang penasaran apa ya hasil psikotes saya waktu itu?
      Tapi beneran loh, saya rasa uji psikotes itu seru dan menyenangkan walau tidak mudah.

      Delete
    3. Wah padahal tanya aza mba, memang paling enak ketika psikotes itu kemudian interview langsung sama psikolog jadi sekalian ngerti hasil psikotes pribadi mumpung gratis pula hehehe. Dari sekian pengalaman saya mengikuti psikotes adalah yang paling enak saat dapet interviewernya seorang psikolog jadi dia akan memberikan hasil bahwa saya ini bla..bla..kemudian dikorelasikan dengan pengalaman maka itulah potensi dan pribadi saya.
      Kalau penasaran bisa tes ke biro aza mba :)

      Delete
  6. Paksu klo melakukan tes IQ hasilnya buruk, dan bila psikoyes selalu gagal krna efek dr disleksianya, jd sy sblm psikotes selalu ksh saran tapi bsknya lupa..msh blm menemukn solusi utk suami dlm melewati paikotes jika melamar kerja.pdhl butuh..ekhh curhat..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti akan saya japri y mba, saya konsul dulu sama guru besar terkait disleksia agar lolos psikotes :) salam kenal mba Mira ^^

      Delete
  7. Saya kayaknya belum pernah tes psikotes, lha wong pernah melamar kerja di perusahaan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...ntar dicoba y mba Tarry bisa searching sekarang dah banyak beredar alat tes *nangis kejer* padahal saya susah minta ampun belajar ni alat tes hahaha tp skrg bisa donload gratis tis tis

      Delete
  8. Hihi...saya sempat hafal beberapa soal psikotes karena nyari referensi yang muncul soal itu lagi itu lagi hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe memang begitu terus mba belum ada perubahan. Tapi pinter-pinter kita siy jika bisa mensiasati agar lolos baik psikotes maupun interview

      Delete
  9. Saya pernah ngelakuin sekali mbak .. tapi gak lulus. .. gak ngerti juga berapa nilainya. .. kayaknya sih gampang cuman pertanyaan objecktif gitu .. dan menggambar .. dah ternyata gak lulus ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti yang saya uraikan diatas terkadang yang diliat bukan hanya hasil yang bagus dari satu tes tapi dicombine dengan beberapa tes yang lain :)

      Delete
  10. pas lulus dari kampus dapet psikotest dan wajib semua mahasiswa yang mau lulus. inget banget hasil-hasilnya, sha pribadi seperti apa dan cocoknya kerja gimana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ada yang untuk memetakan potensi juga :)

      Delete
  11. Hihi terjawab sudah tanda tanya psiko test bagi banyak orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. akhirnya y mba hahaha makasi uda mampir mba

      Delete
  12. Dulu saat aku melamar kerja di sebuah stasiun tv, ada tuh lembaran soal lebar deh isinya angka2 yang ditambahkan ke bawah. Nanti petugasnya bilang stop terus kita coret/ garis bawah, lanjut lagi dll iihh puyeng deh hahaha...tes aku mah hasilnya biasa aja tuh, mbak Herva hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha pdhl gampang y mba cuman ditambahin doang tapi sayangnya paciweh sama waktu

      Delete

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design