Search

Introvert Vs Ekstrovert Atau Ambievert?

Ada satu tes dimana hasilnya akan terlihat jika seseorang itu Introvert atau Ekstrovert. Kebanyakan dari kita mengartikan istilah introvert adalah seorang yang pendiam dan ekstrovert kebalikannya yang banyak bicara. Namun nyatanya tidak seserhana itu definisinya, jika dalam buku yang sedang saya baca mengenai hal ini, bahwasanya introvert dan ekstrovert berkaitan dengan bagaimana seseorang mengarahkan energi mentalna. 

Orang introvert lebih banyak mengarahkan energi mentalnya ke dalam diri, sehingga ia lebih sering melakukan refleksi. Ia membutuhkan waktu soliter lebih banyak untuk melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, orang introvert senang melakukan aktifitas soliter seperti membaca, menulis, pelukis dan para penemu seringkali adalah introvert. Mereka lebih menyukai fokus pada satu aktifitas. Mengamati terlebih dahulu sebelum terlibat dalam suatu kegiatan. Dan berfikir serta menganalisis terlebih dahulu sebelum bicara. Berbeda dengan seorang pemalu yang memiliki kecemasan dalam berinteraksi sosial. Orang introvert yan sehat, tidak memiliki kecemasan namun memang lebih suka situasi soliter.
Sementara orang yang ekstrovert lebih banyak mengarahkan energi mentalnya ke luar diri. Ia merasa lebih terbangkitkan bila berada dalam kelompok atau melakukan relasi sosial yang intens. Sehingga ia tampak mudah terlibat dan beradaptasi dalam lingkungan baru.

Ada satu istilah lagi yang relatif kurang dikenal yaiu Ambievert. Tipe seperti ini dapat berubah-ubah antara ekstrovert dan introvert. Pada dasarnya tidak ada orang yang 100% introvert dan 100% ekstrovert. 
Masih ada saja pemikiran bahwa orang sukses adalah mereka dengan tipe eksrovert. Padahal introvert juga bisa sukses loh.

Nah beberapa bulan ke belakang saya sempat menerima share dari salah satu grup HR mengenai sebuah buku yang menarik judulnya adalah ‘The Power of Introvert’ karya Susan Cain. Intinya dia menyoroti bahwa orang introvert memiliki keunggulan karena sifatnya itu. Menurut Susan mereka lebih cermat, lebih teliti, lebih telaten daripada orang ekstrovert. Mereka mampu bekerja sendirian, mandiri, tidak terlalu tergantung pada dukungan kelompok. Mereka adalah orang yang memiliki kreativitas tinggi dan memiliki leadership bagus. Jadi dunia membutuhkan mereka bekerja untuk masyarakat.

Dia sebutkan beberapa nama besar di dunia ilmu, bisnis dan politik sebagai pendukung argumennya. Introversion, katanya, beda dengan sifat pemalu. Pemalu adalah orang yang takut terhadap social judgment sedangkan introversion adalah ‘how do you respond to stimulation, including social stimulation’ Orang introvert peka dengan stimulasi itu. Inilah yang mengganggu mereka. Untuk memaksimalkan bakat kita maka kita harus dihadapkan pada situasi yang mendukung. Dia yakin bahwa selama ini ada bias di masyarakat yang menyebabkan salah pemahaman kepada mereka yang introvert.

Dia juga menyoroti kelemahan di dunia pendidikan yang menurut dia tidak terlalu mendukung orang introvert. Para guru, katanya, masih menganggap bahwa murid ideal adalah murid yang ekstrovert. Mereka dianggap mampu bekerja sama dengan kelompoknya sedangkan orang introvert dianggap kalah mahir dalam bekerja sama. Menurut Susan angapan ini tidak sepenuhnya benar.

Dia sampaikan bukti bahwa banyak orang introvert juga bisa berhasil dalam profesi yang menuntut kerjasama tim. Jadi dia anjurkan agar dunia pendidikan lebih banyak lagi mendukung orang introvert dengan memberi tugas2 yang sifatnya individual. Dia sebutkan bahwa menurut riset Adam Grant para pemimpin introvert memiliki hasil yang lebih baik daripada pemimpin yang ekstrovert karena ketika mereka mengelola anak buah yang pro aktif mereka lebih mampu menampung gagasan anak buah tersebut sedangkan kasus pemimpin ekstrovert sebaliknya.

Akibatnya gagasan anak buah sulit berkembang. Meskipun demikian sebenarnya tidak ada orang yang murni introvert atau murni ekstrovert. Ketika berbicara tentang kreativitas dan produktivitas maka penelitian psikolog menunjukkan bahwa orang yang paling kreatif dan produktif adalah orang yang introvert. Mereka tidak hanya mampu mengutarakan gagasannya dan juga mampu bertukar pikiran dengan orang lain. Hal ini karena solitude adalah salah satu unsur pokok dalam kreativitas. Darwin, DR Zeuss, Steve Wosniak dari Apple Computer, adalah contohnya.

Jadi jangan berkecil hati y kalau kita tergolong introvert, ulasan dari Susan Cain membuka paradigma kita bahwa introvert y ga masalah terima saja dan ada banyak cara memanfaakan kecenderungan introvert tersebut untuk menjadi sukses. Kalau saya sendiri kayaknya masuk Ambievert deh hahaha.

*Bagi yang ingin baca tentang Introvert Susan Cain, saya punya E-Bookna, silahkan tuliskan emailnya dalam kolom komentar dan akan saya kirim. Semoga bermanfaat.
sbr : google

Sumber : - Buku Sebening Air perigi Ananda (Yati Widiati)
                - The Power of Introvert (Quit) Susan Cain
                     

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun