Search

Pengalaman Mengobati Bronchitis di Klinik Yudisman Cimahi

Apakabar temans sekalian semoga sehat selalu yah, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya saat bronchitis kambuh lagi setelah sekian lamanya.

Terhitung 3 (tiga) hari saya tidak masuk kantor dengan alasan sakit. Dan saya sendiri tidak menyangka penyakit yang sudah lama sekali saya derita ternyata si kumannya bangkit kembali ini lebih menyeramkan dari Suzanna bangkit dari kubur loh.

Sejak menikah dan punya anak, sakit saya ga jauh palingan flu atau radang tenggorokan yang membuat suara saya selalu serak. Dan masih bisa sembuh bila saya hanya konsumsi obat biasa.

Akhir bulan januari silam, aktifitas saya sedang padat-padatnya hingga saya sendiri mengabaikan alarm tubuh yang sudah memberikan sinyal kalau saya harusnya bisa istirahat.

Saya sudah terkena flu dan batuk dari bulan kemarin, awalnya saya diamkan namun tidak kunjung sembuh dan tepatnya tanggal 21 Januari 2019 saya pergi ke dokter Faskes Pertama. Sembuhkah saya? tidak malah terus-terusan batuk hingga bulan februari ini.

Puncaknya adalah jumat minggu lalu, saat saya di kantor tiba-tiba dada bagian kanan itu sakitnya luar biasa. Saat saya batuk dan bernafas panjang itu sakit bahkan ketika saya sholat pun rasa nyeri tak tertahankan lagi. 

Segera saya WA akang suami minta izin sepulang kerja mampir ke dokter faskes pertama kembali. Melalui pemeriksaan dokter faskes pertama, diagnosa yang diberikan adalaha saya hanya batuk saja tidak ada diagnosa aneh bahkan menurutnya paru-paru saya normal. 

Saya merasa lega dan pulang dari klinik dengan mengantongi sejumlah obat. Sayangnya bukan membaik, rasa nyeri di dada kanan semakin sakit bahkan batuk saya pun semakin menjadi tiada henti.


Berobat di Klinik Yudisman Cimahi, mengobati bronchitis di klinik Yudisman, bronchitis kambuh saat menyusui


Berobat Ke Klinik Yudisman Cimahi


Berobat di Klinik Yudisman Cimahi, mengobati bronchitis di klinik Yudisman, bronchitis kambuh saat menyusui

Saya mengalami ketakutan pasalnya rasa nyeri di dada kanan membuat saya juga kesulitan beraktifitas, bahkan untuk berjalan saja itu nyeri luar biasa. Sedih rasanya untuk menyusui saja saya susah.

Dengan kondisi seperti itu, saya kembali bertanya kepada teman saya yang merupakan nakes. Dan saran teman saya sebaiknya ke Internist alias dokter spesialis penyakit dalam. 

Saya langsung searching dokter spesialis penyakit dalam dan keluarlah nama "Klinik Yudisman". Alhamdulilah ternyata kliniknya tidak jauh, sayangnya hari itu adalah hari minggu maka saya harus bersabar menanti hari senin.

Mengapa saya tidak mau ke rumah sakit?aduh saya ga kuat untuk mengantrinya makanya saya lebih memilih klinik khusus spesialis penyakit dalam.

11 Februari 2019, pagi sekali pukul 08.30 wib saya bersama Neyna dan akang suami yang pada bolos sudah berada di Klinik Yudisman yang terletak di Jl. Baros No. 84 Utama Kota Cimahi. 

Kliniknya cukup besar dan masih terlihat bangunannya baru bahkan untuk masuk ke kliniknya sendal harus disimpan di rak besar yang tersedia depan klinik.

Saya kira pukul 08.30 wib klinik akan sepi ternyata salah, saya mendapatkan antrian 58 bo!sambil menunggu saya memperhatikan sekeliling klinik.

Klinik Yudisman ini tidak hanya menangani berobat jalan akan tetapi di lantai atas ada untuk rawat inap. Tak hanya untuk penyakit dalam tapi ada juga Spesialis Jantung, Spesialis Gigi, Dokter Umum hingga dokter Kecantikan.

Bangunan kliniknya didominasi dengan cat putih bersih, semuanya tertata rapi. Hal pertama yang saya lakukan setibanya di sana adalah mendaftar kemudian menunggu panggilan untuk ditensi plus cek berat badan oleh suster yang bertugas.

Berobat di Klinik Yudisman Cimahi, mengobati bronchitis di klinik Yudisman, bronchitis kambuh saat menyusui


Adalah Dr. Ade Yudisman SpPD yang praktek dan sepertinya pemilik klinik karena nama kliniknya menggunakan nama belakangnya.

Ketika nama saya dipanggil, saya bersama Neyan dan akang suami masuk ruangan periksa yang menurut saya ruangannya bersih, tata ruangnya rapih dan sejuk dengan suhu AC yang pas. Namun pagi itu batuk saya tidak bisa kompromi ruangan sejuk dingin membuat saya tak henti terbatuk.

Saya ceritakan awal mula saya batuk hingga akhirnya nyeri dada kanan, lalu Dr. Ade mulai memeriksa dada, punggung, mata hingga jari-jari kuku tangan sambil bertanya pekerjaan saya dan dengan tulus keluar kalimat doa "semoga apa yang ibu cita-citakan tercapai yah" aamiin.

Setelah pemerikaan tidak lantas dokter menyebutkan diagnosa akan tetapi saya diminta untuk cek darah dan rontgen terlebih dahulu.

Berobat di Klinik Yudisman Cimahi, mengobati bronchitis di klinik Yudisman, bronchitis kambuh saat menyusui


Nah ini yang saya suka di Klinik Yudisman ini terbilang cukup lengkap ada laboratorium tersendiri serta ruangan Rontgen. Jadi saya tidak perlu keluar klinik untuk pemeriksaan ini.

Saya diantar suster terlebih dahulu ambil darah kemudian dilakukan rontgen. Untuk hasilnya sendiri lumayan menunggu cukup lama namun tak selama seperti di rumah sakit. 

Berobat di Klinik Yudisman Cimahi, mengobati bronchitis di klinik Yudisman, bronchitis kambuh saat menyusui


Sambil menunggu hasil, saya bisa menyaksikan acara TV di ruang tunggu bersama pasien lainnya.

Bronchitis Itu Kambuh Lagi


Beberapa lama menunggu, akhirnya nama saya dipanggil kembali. Dr. Ade lalu memeriksa hasil cek darah dari pemeriksaan darah alhamdulilah semuanya normal.

Dan untuk hasil rontgennya, jeng..jeng...Dr. Ade cukup lama memperhatikan hasil foto paru-paru saya dia mengangguk, menunjuk-nunjuk ke arah paru-paru, sementara saya sendiri berdebar-debar takut hasilnya buruk.

Setelah mengamati cukup dalam hasil rontgen, terjadilah percakapan berikut :

Dr. Ade : Apakah ibu dulu saat muda pernah terkena bronchitis?
Saya : Ya dok waktu itu sudah lama sekali saat saya masih SMA kelas 3
Dr. Ade : yah ibu, paru-paru sebelah kanan ibu berwarna putih bagian bawahnya itu adalah bekas kuman-kuman. Dulu diobati hingga tuntas?
Saya : iyah karena saya ketergantungan dan baru kambuh lagi tahun 2012 saat itu saya langsung berobat ke spesialis paru-paru hasilnya broncus saya mengecil
Dr. Ade : Nah ini kuman-kumannya itu DORMAN jadi mereka tidak mati namun seperti pingsan dan kini bangun lagi
Saya : Speechless
Dr. Ade : Namun tenang saja ibu ini tidak membahayakan tulang iganya masih bagus, ibu jangan kecapean banyakin istirahat, untuk kerjaan di rumah biar bapaknya yang kerjain seperti cuci piring, cuci baju, ngepel, ngurus rumah, ibu kerjain yang ringan-ringan saja ngasuh anak. Dan ibu punya bayi yah?berapa bulan?
Saya : 10 bulan dok dan masih menyusui, apakah aman?
Dr. Ade : Tetap menyusui karena tidak ada kaitannya semuanya aman tidak akan tertular kepada bayi karena penularannya hanya lewat batuk, ibu sebaiknya pake masker saja yah.
InsyaAlloh atas izin Alloh semuanya baik-baik saja ya bu, pasrahkan sama Alloh. Dan terutama ibu menghindari pencetus bronchitis seperti debu, asap rokok, kecapean.
Sebelum pulang, saya diminta untuk diNebu (uap) terlebih dahulu kemudian menebus beberapa resep yang dokter tuliskan.

Biaya Berobat di Klinik Yudisman Cimahi


Untuk biaya yang saya keluarkan kemarin itu bisa dikatakan relatif murah, berikut rinciannya :

1. Cek Darah                             : Rp 75.000
2. Rontgen                                 : Rp 100.000
3. Biaya Nebu + Dokter + Obat  : Rp 245.000
Total                                           Rp 420.000

Sejak konsumsi obat dari dokter Ade, alhamdulilah saya sudah ga terlalu batuk dan muntah seperti sebelumnya. Saya sudah bisa jalan meski nyeri dada masih terasa tapi tak separah sebelumnya.

InsyaAlloh nanti saya akan check up kembali ke Dr. Ade karena saya ga mau lagi si kuman bronchitis ini pingsan tapi saya mereka mati *baru kali ini loh saya jahat pengen matiin :p

FYI : yah temans foto-fotonya saya ambil dari google karena di Klinik ada larangan memoto LOL tapi biar temans ada gambaran maka saya tampilkan.

Flashback Munculnya Bronchitis


Dulu saat saya SMA kelas 3, kondisi saya emang terlalu capek. Sepulang sekolah saya lanjut bimbingan belajar hingga sampe di rumah pukul 21.00 wib.

Selain siklus belajar yang warbiyasah, sebagaimana yang diketahui kondisi di Bekasi itu puanas, jadi saya lebih suka tidur di lantai beralaskan kasur tipis begitu seterusnya hingga akhirnya malam itu saya batuk tiada henti hingga menangis dan dilarikan ke klinik terdekat.




Pemeriksaan berlanjut esok hari dan fix diagnosa dokter adalah bronchitis kronis. Maka sejak saat itu saya suka sesak nafas.

Kecapean dikit sesak, minum es gula biang sesak, kena debu sesak apalagi asap kendaraan maupun rokok. 

Sampai kuliah saya masih dibekali obat sesak nafas yang harus saya konsumsi jika saya sesak. Namun dulu saya masih ingat saat mendiang ibu tidak ada saya merasa sudah waktunya saya tidak ingin hidup saya bergantung dengan obat.

Maka dibuanglah obat-obatan itu setoples, saya meyakini sendiri jika saya bisa tanpa obat. Jika kambuh sesaknya dulu saya hanya bisa minum air hangat lalu mencoba tidur dan cara ala saya ini berhasil. 

Tahun 2012, karena jarak rumah dengan kantor jauh dari Bekasi ke Cileungsi akhirnya saya kembali lagi ke spesialis paru-paru di salah satu Rumkit swasta namun sayangnya tidak ada treatment berarti hanya diNebu saja.

Setelah menikah, paling sesekali dulu saya kambuh karena MACEUH teuing kalau kata bahasa sunda kecapean namun bisa teratasi. 

Dan kini seperti yang saya ceritakan ternyata si kuman bangkit kembali dan saya tumbang.

****

Demikian pengalaman saya dalam rangka ikhtiar mengobati sakit bronchitis ini, semoga temans yang membaca bisa ambil hikmahnya yah.

Ada yang punya pengalaman serupa? yuk sharing 


1 komentar

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun