Selasa, 28 Juni 2016

Perlukah Anger Management?

Minggu kemarin saya telah melakukan feedback kepada salah seorang manager di kantor. Feedback yang diberikan sebagai hasil Assessment Center yang telah ia lakukan. Sebelumnya pernah saya singgung mengenai feedback AC disini. Yang menarik dalam kasus feedback kali ini adalah beliau curhat panjang x lebar x luas hahaha. Sebagai HRD yang baik hati dan selalu mendengarkan hahaha akhirnya saya menelaah kisah sedihnya dalam bekerja. 

Sebutlah Kamboja yang menduduki posisi manager di salah satu divisi yang kaitannya sama tung ngitung uang. Kesan pertama melihatnya memang ybs terlihat "judes" mungkin kurang vitamin senyum kalau dipoles dengan sedikit vitamin senyuman saya yakin takkan ada orang yang melabelkan "judes" padanya.

Setelah memberi masukan perihal kekurangannya dalam kompetensi, akhirnya ia mulai terbuka dan bercerita bahwa dirinya termasuk individu yang jika tidak menyukai orang lain maka ia akan berwajah masam dan keluar tanduknya. Hasil akhirnya ia menarik diri dan tak akan pernah tertarik untuk bergabung dengan rekan-rekan yang telah ia labelkan nyebelin versi dirinya.



Saya mencoba menggali terus memberikan option terkait permasalahannya, hingga akhirnya menemukan titik bahwasanya menurut saya, Kamboja masih kurang dalam pengendalian diri untuk regulasi emosinya. Pasalnya ini tidak terjadi pada satu event saja tetapi continue dan konsisten muncul setiap apapun yang tidak selaras dengan pemikirannya maka ia langsung berubah mood dan sikapnya. Hingga ia sempat terlibat cekcok dengan kepala bagian divisi lain. *tepokjidat*

Dalam sesi curhatan ini, ia akhirnya menginginkan perubahan dengan meminta saya untuk memberikan satu training. Dan anger management menjadi pilihannya. Anger Management sendiri merupakan suatu cara/tindakan untuk mengatur perasaan, nafsu amarah dengan cara yang tepat dan positif sehingga dapat diterima oleh lingkungannya dan dapat mencegah sesuatu yang buruk terjadi yang dapat merugikan dirinya maupun orang lain.

Lingkungan kerja menuntut kita untuk bekerja bersama tidak hanya dengan rekan kerja satu divisi namun dengan rekan kerja lintas fungsi. Anger management membantu kita untuk bisa menjalin hubungan yang baik dengan rekan kerja sehingga target dari perusahaan bisa terpenuhi.

Melalui Anger Management kita bisa memposisikan sesuai dengan peran yang ada di kantor sesuai porsinya. Lebih menyenangkan bukan bekerja dengan hati gembira dan tulus dibandingkan bekerja dengan dumel sendirian, ngeluh sepanjang hari. Jadi menurut saya Anger Management perlu kita lakukan tidak hanya di kantor tapi dimanapun kita berada.


sumber :google


22 komentar:

  1. saya baru tahu ada anger management mbak, lama-lama saya bisa jadi HRD nih setiap kali baca artikel mbak herva :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha semoga saja kang berarti saya berhasil menginfluence :p

      Hapus
  2. Kalau daku, anger management buat ngadepin anak-anak :D
    Tapi benaran lho, kalau ngak bisa anger management itu, bawaannya rungsing terus, jadi berat menjalaninya.

    Thanks for sharing ya, senang baca-baca blogpostnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh senang banget di komen sama blogger senior, terimakasih banyak Mba Indah kunjungannya :)

      Hapus
  3. Saya pertama kali tahu anger management dari filmnya adam sandler yg berjudul sama. Memang benar, amarah perlu dikuasai. Saya belajar lebih banyak kala mengajar. Saya juga punya buku ttg anger management ini dari kickandy.com. tapi ya kok lupa udah ada dimana, hehehe
    Lha itu terus si Kamboja apa kabarnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya justru belum nonton filmnya mba :)
      Kamboja masih proses mba hehehehe masih menanti progress perubahan dari dirinya sendiri

      Hapus
  4. Aku anger management terhadap anak-anak. Masih kacau. Tapi tetap berusaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe semangat mba, qu juga up n down :p makasih uda berkunjung ^^

      Hapus
  5. Oh ya film Anger Management bagus banget mba. Memang perlu untuk mengatur emosi kita. Apalagi di urusan keluarga :)

    BalasHapus
  6. Waaah, kayaknya saya juga butuh anger nanagement nih, Mbak Herva. Kalau deadline naskah di depan mata, kadang hati bawaannya kemrungsung. Pusiang, huhuhu...

    BalasHapus
  7. Sepertinya anger management juga yang coba diterapkan Butet terhadap Owi jadi yang dulu kelihatan muka masam kalau Owi bikin kesalahan di lapangan, sekarang Butet terlihat lebih sabar dan tenang #MasihTerbulutangkis :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oiya y mba klo atlet badminton siy pasti klo kesulut emosi bakalan blunder hehehe

      Hapus
  8. Hmm,, anger Management sepertinya cocok ketika lagi buat budgeting bulanan di kantor, biar pada tepat waktu kirimnya. HIihihihi

    BalasHapus
  9. Baru tau istilah anger management Mbak. Cuma pernah banget ngerasain posisi atau keadaan yang kurang lebih sama dengan cerita Mbak Herva. Daaan, jadi HRD itu kudu strong luar dalem,ahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe semoga sekarang udah ga spt itu y mba :) ember mba jd HRD mesti netral tidak mihak dan obyektif ^^
      makasi y uda mampir

      Hapus
  10. kaya nya perlu deh mbak, soal ny tiap lingkungan kerja pasti ada aja yg bikin nyebelinnya *curhat..dan mau gak mau emang harus di cari solusinya demi kemaslahatan bersama hahah :D

    btw salam kenal mbak :)

    diniratnadewi.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi gpp curhat jg mba makasi uda mampir ^^

      Hapus
  11. Ah saya banget ini. Kalau ada satu hal yang menyinggung hati, tunjukkin aja muka jutek. Kalau nggak gitu, orang nggak tau diri, Mba, haha...

    BalasHapus
  12. Ini bisa banget ya diterapin di organisasi juga :D

    BalasHapus

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design