Bagaimana Upaya Pemerintah Untuk Mengatasi Penyakit Akibat Rokok?

strategi pencegahan rokok, pemerintah harus aware dengan rokok, mencegah rokok

Bagaimana Upaya Pemerintah Untuk Mengatasi Penyakit Akibat Rokok?

Memasuki jam istirahat kerja, saya bergegas menuju ATM. Sesampainya di sana, saya menyaksikan seorang pria tua yang sedang asyik menikmati sebatang rokok sambil menanti calon pembeli dagangannya.

Abah begitu sebutan untuknya, seorang kakek yang berjualan rujak. Iba hati ini melihat beliau namun jujur saja saya menyayangkan sekali takkala menyaksikan pemandangan dimana abah dengan khusuknya menyesap nikotin tanpa ada ketakutan jika penyakit sedang mengintainya setiap saat.

"Susah berhentinya Neng" begitu jawaban Abah saat saya menanyakan mengapa masih merokok?
Beliau tetap mengupayakan membeli rokok setiap harinya. Tak peduli lagi dagangannya mengalami untung atau rugi, rokok harus tetap dibeli baik eceran atau sebungkus.

Bahkan yang menyesakkan dada saya adalah saat Abah mengatakan jika ia tak memiliki jaminan kesehatan seperti BPJS apabila kelak ia menderita penyakit akibat nikotin yang setiap harinya ia hembuskan.

Miris bukan?

strategi pencegahan rokok, pemerintah harus aware dengan rokok



Dekatnya Rokok Dengan Keluarga Miskin


Fenomena ini banyak sekali terjadi tak hanya Abah saja yang terjerat dengan candunya nikotin, namun banyak juga yang berpenghasilan rendah justru mementingkan sebungkus rokok dibandingkan dengan prioritas kebutuhan untuk dirinya dan keluarga.

Rasanya campur aduk sedih, kecewa mengetahui jika Rokok menjadi prioritas kedua bagi keluarga miskin. Padahal penyakit yang disebabkan oleh rokok itu lebih banyak dan berbahaya tanpa disadari oleh mereka perokok aktif.

Kesulitan untuk berhenti merokok juga disebabkan karena lingkungan dalam lingkarannya yang memaksa mereka untuk menghisap nikotin ini.

Seperti yang Abah ceritakan kepada saya, dirinya mengaku sempat berhenti selama sakit namun kembali lagi untuk merokok karena ditawari oleh teman-temannya.
Artikel yang ditulis oleh Keith Humphreys seorang profesor dan direktur bidang kebijakan kesehatan mental di Stanford University yang dimuat washingtonpost.com mencoba memberikan jawaban, kenapa orang miskin dekat dengan rokok. Persoalan lingkungan, kalangan atas lebih berpeluang mendapat dukungan lingkungan yang membuat orang bisa berhenti merokok, sedangkan kalangan bawah sebaliknya, bahkan bisa terus kecanduan. Faktor ketidakmampuan dalam mengakses pengobatan kesehatan mental seperti depresi bagi kaum berkantong tipis, juga berperan membuat mereka sulit berhenti merokok. (source : https://tirto.id/)
Meskipun lingkungan memiliki andil besar dalam menekan angka perokok aktif namun tentu saja kebijakan pemerintah menjadi tugas utama dalam upaya mengurangi perokok aktif yang menyebabkan meningkatnya penyakit tidak menular di Indonesia.




Akan selalu menarik membahas upaya pemerintah dalam mengurangi beban kesehatan masyarakat terlebih yang disebabkan oleh rokok.

Dan hal ini juga menjadi salah satu pembahasan dalam ruang publik KBR. ID #putusinaja yang dipandu oleh Don Brady.

Menariknya dalam sesi talkshow ini, KBR. ID menghadirkan 2 perwakilan dari 2 kubu Capres Indonesia 2019, ada Bapak  Prof. Dr. Hasbullah Thabrany dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo – Ma’ruf Amin, dan juga hadir dr. Harun Albar SpA, M.Kes dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Apakah Penyebab Permasalahan Beban Kesehatan di Indonesia Saat Ini?


Bagaimana Strategi Capres 2019 Untuk Mengurangi Beban Kesehatan Akibat Rokok?

Sebelum pemaparan mengenai langkah preventif yang direncanakan oleh kedua capres terkait dengan pengurangan beban kesehatan akibat rokok, terlebih dahulu talkshow diawali oleh pemaparan dari Bapak Dr. Abdillah Ahsan, Wakil kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI.

Dr. Abdillah mengatakan jika saat ini, Indonesia sedang Ada yang namanya transisi epidemologis, biasanya di negara lain penyakit menular mendominasi sementara di Indonesia semua penyakit sedang meinngkat.

Dari data terakhir peningkatan paling cepat di Indonesia adalah Penyakit yang tidak menular seperti stroke, kanker dan penyakit yang dipengaruhi oleh gaya hidup tidak sehat. Yakni penyakit-penyakit yang dipengaruhi gaya hidup seperti merokok, minum yang manis, Stress, hingga aktifitas fisik yang tidak banyak, pola makan, khusus yang bisa dicegah adalah merokok. Rokok ini menyebabkan penyakit berbahaya.

Istilah yang disampaikan adalah Kastratopik jadi orang yang terkena penyakit itu tidak akan bisa ngapa-ngapain, tidak bisa bekerja karena sakit, hal ini tentu saja membebani pelayanan kesehatan, keluarga namun itu semuanya bisa dicegah. Caranya adalah dengan berhenti meorkok atau melalui kebijakn pengendalian maka kualitas kesehatan akan naik dengan baik.

strategi pencegahan rokok, pemerintah harus aware dengan rokok, mencegah rokok



Sejalan dengan pembahasan Dr. Abdillah, sebagaimana yang saya sampaikan di awal fenomena Abah yang merelakan uang dagangannya untuk membeli rokok barangkali ini adalah kasus nyata yang saya temui berbanding dengan data yang relevan dimana berdasarkan persentase keluarga miskin itu memiliki pengeluaran hingga mendominasi untuk memprioritaskan rokok dibandingkan kebutuhan prioritas seperti makanan bergizi.

Data menunjukkan jika di Indonesia, 6 dari 10 keluarga memilih prioritas konsumsi rokok padahal negara lainnya sekitar 2 dari 10 keluarga miskin dengan perilaku merokok tersebut. Kembali dada ini sesak melihat fakta mengerikan ini.

Penyebab Konsumsi Rokok Meningkat Di Indonesia

Sebenarnya dengan fenomena yang terjadi saat ini menyebabkan rokok menjadi beban kesehatan, dimana menurut Dr. Abdillah ada beberapa penyebab konsumsi rokok meningkat di Indonesia, diantaranya adalah :

  • Penjualan rokok masih laku keras
  • Harga rokok sangat murah dimana harga termurah 5000 isi 12 batang sehingga sangat terjangkau oleh anak-anak 
  • Peringatan bergambar masih 40% padahal negara lain sudah mencapai 80%
  • Adanya iklan rokok yg menampilkan murahnya harga rokok
  • Para elite masih menganggap rokok itu tidak masalah, hal ini terlihat dimana anggota DPR masih banyak merokok, politisi yangg kunjungan ke industri rokok masih dipuji-puji sedangkan di negara lain sudah blaming. Hal inilah yang berpengaruh terhadaa pembuatan kebijakan 
  • CSR Rokok masih banyak
  • Kawasan tanpa rokok sudah meningkat tapi pelaksaanaanya masih minim sekali
Melihat beberapa penyebab tersebut menjadikan Indonesia sebagai surga terakhir untuk Industri rokok.

Harapan kedepannya pemerintah mampu mendorong kesehatan masyarakat. Namun kenyataan di lapangan tahun ini saja harga rokok dan cukainya tidak naik artinya pemerintah lebih memprioritaskan industri rokok dibandingkan dengan kesehatan masyarakat.

Bahkan iklan rokok seharunya dilarang di Indonesia karena di negara lain iklan rokok sudah dilarang dan tidak berpengaruh terhadap ekonominya semua baik-baik saja.

Dari riskes 2018 prevalansi anak usia 10-18 tahun meningkat dari 7,2% - 9,1% sehingga harus menaikkan harga rokok agar tidak terjangkau oleh anak-anak.


strategi pencegahan rokok, pemerintah harus aware dengan rokok, mencegah rokok
source : https://tirto.id/


Hal-hal inilah yang semestinya menjadi pusat perhatian pemerintah yang terus mengupayakan untuk menekan angka penyakit maupun kematian akibat rokok.

Upaya CAPRES 01 Vs CAPRES 02 Mengurangi Beban Kesehatan Akibat Rokok


strategi pencegahan rokok, pemerintah harus aware dengan rokok, mencegah rokok


Menjadi tugas pemerintah untuk membenahi kasus ini, bagaimana kira-kira upaya yang direncanakan kedua capres tahun 2019 ini terkait permasalahan rokok?Berikut paparan dari kedua perwakilan capres 01 maupun 02.

Upaya Stategis Dari Capres 01


Bapak Prof. Dr. Hasbullah selaku perwakilan capres 01, memaparkan jika upaya yang direncakan pemerintah selanjutnya adalah lebih concern untuk kenaikan harga rokok, menurutnya harga menjadi faktor penting sebagai bahan pertimbangan dalam membeli.

Namun bagi mereka yang sudah kecanduan, masalah harga tidak akan menjadi masalah pasti tetap mereka akan membelinya hanya saja upaya kenaikan harga rokok diupayakan agar anak tidak membeli. Yang belum kecanduan jangan sampai memulai. Dan yang sudah kecanduan bisa menguranginya.

Dengan concern kenaikan harga, diharapkan baik pemerintah maupun DPR tidak perlu takut dengan masalah perekonomian, justru dengan harga rokok dinaikkan maka pemerintah akan mendapatkan uang lebih banyak dari cukai rokok.

Prof Hasbullah juga menjelaskan tentang Cukai yang merupakan denda atas perilaku yang tidak sesuai aturan,  sehingga cukai rokok yang didapat itu bisa untuk memberdayakan petani tembakau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan dalam keadaan yang sama dapat mencegah anak-anak untuk tidak merokok.

Penyebab penyakit tidak menular meningkat pada dasarnya tidak hanya karena rokok tapi juga karena perilaku, semakin makmur maka semakin ga bagus pola makannya banyak garam, banyak faktor tapi rokok ini bagian yang mengancam. Rokok itu tidak hanya mengancam kesehatan tapi juga mengancam sosial ekonomi. 

Masyarakat yang sudah kecanduan jadi lebih banyak menhabiskan rokok daripada membeli makanan yang bergizi baik untuk anak-anak juga masalah keagamaan. Dari sisi agama merusak diri dan orang lain harusnya kita berani deklarasi haram.

Upaya Strategis Dari Capres 02


Bapak Harun Albar selaku perwakilan Capres 02 memparkan jika para perokok itu merupakan korban dari nikotin, sehingga ada baiknya tidak memberikan stigma bahwa mereka perokok aktif adalah biang kerok masalah kesehatan.

Perilaku merokok itu hanya aktifitas menghisap lalu meniup karena stress menunjuukan kegalauan seseorang.

Bagi pihak 02 sendiri, upaya pencegahan merokok bagi kesehatan itu terdiri atas 2(dua) langkah yakni langkah medis dan non medis. Pihak 02 sudah mempersiapkan bagaimana caranya agar bisa mengurangi defisit. Dengan sektor non medis diperbaiki semuanya akan senang.

Langkah yang diupayakan kelak dari tim CAPRES 02 diantaranya adalah :

✔ Revitalisasi Puskesmas, yakni dengan mengkader emak-emak di puskesmas dan posyandu caranya dengan menyebarkan hestek Bahagia tanpa nikotin. 
✔ Memprioritaskan Say NO DNER (depresi, narkoba, aids dan rokok) 
✔ Bekerja sama dengan pihak terkait diantaranya ada pemerintah mengajak komisi perlindungan anak, komisi TV, DINSOS bahkan juga merangkul MUI dan melakukan terobosan yang holistik. Yakni dengan mengupayakan agar industri rokok bisa inovasi membuat rokok tanpa nikotin atau melegalkan VAPER namun sebaiknya memang tidak usah merokok.

Mau berapapun harga rokok, kalau sudah kecanduan nikotin maka akan dibeli, narkoba saja harganya selangit terbeli. Keluarga miskin itu harusnya nomer satu itukan membelinya beras, keduanya adalah rokok, jika menaikkan harga rokok maka pengeluaran pertama itu adalah rokok bukan beras lagi maka pencegahannya harus holistik. Jangan hanya menaikkan harga tapi pencegahan yang holistik. 

***

Dari pemaparan upaya strategis yang dipaparkan oleh perwakilan masing-masing CAPRES, menurut Dr. Abdillah tidak adanya statement yang jelas bagaimana upaya untuk menurunkan konsumsi rokok secara eksplisit. Sebagain besar upaya yang hendak dilakukan baik dari CAPRES 01 maupun 02 hanya concern pada penanganan kuratif saja. Langkah-langkah pencegahannya sendiri tidak ditulis ini menunjukkan komitmen yang lemah.

Menurut temans bagaimana?Semoga kedepannya siapapun presidennya mampu berkomitmen untuk action dalam kasus rokok ini.

Senada dengan kesimpulan Dr. Abdillah, pendapat pribadi saya selaku masyarakat yakni masih menghendaki komitmen yang kuat dari segenap pemerintah untuk memerangi rokok sebagai salah satu penyebab menurunya kesehatan.

Well, apa yang bisa temans support untuk kasus ini? yuk sharing di kolom komen.

Demikian pembahasan mengenai rencana upaya pemerintah dalam mengurangi kesehatan akibat rokok. Semoga baik itu Capres 01 ataupun Capres 02 yang terpilih kelak mampu merealisasikan segala upaya yang telah dituliskan sebagai visi misi pemerintahan 2019 -2024 menjadi Indonesia hebat!


Source :
  • http://www.depkes.go.id/article/print/16060300002/htts-2016-suarakan-kebenaran-jangan-bunuh-dirimu-dengan-candu-rokok.html
  • https://tirto.id/perokok-indonesia-semakin-muda-cG73
  • https://www.facebook.com/beritaKBR/videos/791506327902890/

86 komentar

Avatar
Maya Rumi Kamis, 25 April, 2019

alhamdullilah kalo dirumah aq bebas asap rokok, bokap, suami ade2 ipar gak ada yg ngerokok, aman banget buat kesehatan terutama anak-anak deh. jadi dirumah tuh kalo ada tamu yang ngerokok agak sungkan karena kita gak punya asbak dan korek.

tapi dikantor ada bos yang merokok dan suka ngerokok diruangan, sedih deh pengen negur tapi dia bos, jadi aq pake masker kalo dia lagi ngerokok, untungnya dia jarang2 datang ke kantor.

berharap banget deh pemerintah lbih tegas untuk aturan merokok, sempet denger kalo ada wacana yang akan menerapkan denda bila ada pengemudi motor atau mobil yang merokok di jalan, mudah2an benar2 bisa realisasi

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 25 April, 2019

iya mba semoga kebijakan baik untuk rokok bisa terealisasi next :)

Reply Delete
Avatar
Ipeh Alena Kamis, 25 April, 2019

Baca ini aku pun mikir karena aturan bagi perokok belum begitu berpengaruh. Daku hidup di lingkungan perokok aktif, teh. Rasanya capek aja untuk debat kusir masalah rokok. Emang dibutuhin campur tangan pemerintah yang ketat buat nanganin masalah ini

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 25 April, 2019

Yes komitmen kuat pemerintah emang modal buat nanganin masalah ini :)

Reply Delete
Avatar
Irena Faisal Kamis, 25 April, 2019

Aku pernah lihat beberapa SPG sexy menawarkan rokok ke kumpulan anak2 SMA :(( dan sambil menggoda2 genit... alhasil dibelilah rokoknya sama anak2 SMA itu :((

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

SPG rokok emang cantik2 dan menggoda y mba wkwkwk kesel deh

Reply Delete
Avatar
Dwi Kamis, 25 April, 2019

Agak gemes juga sebetulnya, kalau memang tak ingin ada rokok, ya tutup aja sekalian pabriknya. Jangan nanggung-nanggung, pabriknya boleh beroperasi tapi masyarakat diimbau gak boleh beli.

Aku sih berharap pemerintah bisa tegas dgn hal ini. Miris, negara lain sudah sampai ke bulan, kita masih bicara soal rokok aja, sesuatu yg kita buat sendiri masalahnya.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

sabar mba heheehe semoga ada upaya yang win win solution untuk penanggulangan rokok ini aamiin

Reply Delete
Avatar
dudukpalingdepan Kamis, 25 April, 2019

Saya aja kalau lihat remaja yang kayaknya lusuh banget dan ngamen gitu rasanya kasihan, tapi pas lihat hasil ngamennya dibeliin rokok jadi auto ilfeel, huhuhu. Menurut saya baik pemerintah atau masyarakat harus tetap gencar mengkampanyekan stop rokok, dan lebih penting untuk mencegah generasi muda jangan coba-coba merokok. Kalau yang sudah terlanjur, semoga bisa berhetni sebelum kena batunya.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya sih harus ada sinergei antara semua pihak mba agar rokok bisa berhenti pada kalangan masyarakat miskin atau menengah kebawah mendingan dipake makan kan?

Reply Delete
Avatar
Aminnatul Widyana Kamis, 25 April, 2019

sebenarnya masalah rokok Ini masalah yang cukup rumit sejak dulu. Karena apa? kalau pun ditutup pabriknya pasti akan berdampak secara sosial yaitu dengan banyaknya pengangguran bekas karyawan pabrik rokok. sedangkan kalau pabriknya ini terus beroperasi ya otomatis rokoknya juga akan tetap dan terus bertambah. Coba ada percobaan-percobaan ilmiah yang bisa mengganti rokok dengan sesuatu yang mungkin bisa menghilangkan kecanduan nya.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

betul mba makanya perlu banget kerja sama untuk menemukan win solution :)

Reply Delete
Avatar
Okti Li Kamis, 25 April, 2019

Di kampung saya saja, meski orang tak mampu, ketika saya kasih makanan, eh dia malah nawar, katanya Bu, ada rokoknya gak?
Ketika saya jawab ga ada, suami saya juga gak merokok. Eh malah nawar lagi uangnya aja. Biarin buat satu batang saja juga, katanya...

Ya Allah... Segitunya eta demi rokok.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya suka sebel ya teh bela-belain rokok dibanding buat makanan yang bergizi duh

Reply Delete
Avatar
CatatanRia Kamis, 25 April, 2019

di puskesmas dekat rumah ada loh teh konsul masalah rokok ini, jadi bagi yang mau berhenti merokok bisa datang konsul di puskesmas. Murahhh donk puskesmas kan cuma bayar 3000 pendaftarannya hehehe semoga saja Indonesia bisa bebas asap rokok.

Reply Delete
Avatar
CatatanRia Sabtu, 27 April, 2019

sepertinya kalau harga rokok di naikkan bagus juga deh teh :D tapi kalau kataa suami yang perokok aktif, dia lebih milih gak beli makan daripada gak beli makan hmmmm... semoga saja perokok di Indonesia bisa berkurang

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

keren puskesmanya sediainn sesi konsul buat yang mau berhenti semoga bisa ditiru puskes yang lain aamiin

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

wah semoga suaminya bisa berhenti teh, suamiku juga alhamdulilah berhenti

Reply Delete
Avatar
Irra Jumat, 26 April, 2019

Persis nih, merek yang sudah kecanduan rokok akan sangat sulit selai buat berhenti. Temen-temen juga banyak yang merokok dan susah berhenti, katanya mau berhenti kalau udah punya anak. Nyatanya bukam berhenti, tapi mengurangi.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya betul susah semoga nanti anak lelakiku bebas rokok aamiin

Reply Delete
Avatar
Natrarahmani Jumat, 26 April, 2019

So sad sebenarnya ini, rokok disini barang murah dan bisa didapatkan. Padahal kerugian bagi bayi dan dewasa baik aktif maupun pasif sama mematikan

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

betul mba murah tapi membahayakan huhuhu

Reply Delete
Avatar
lita chan lai Sabtu, 27 April, 2019

bokap dirumah tuh paling susah dilarang. padahal udah stroke lho. Aku juga sudah coba larang, tapi bokap kekeuh utk tetap merokok. aku selalu amankan rokoknya atau aku ambil dalam tangannya kalau sudah keseringan. susah banget utk melarang orangtua. padahal rasa sayang tujuan melarangnya.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya sama mertua sama bapak juga gitu dua2nya udah kena stroke lahdalah masih ngisep juga :(

Reply Delete
Avatar
emanuella aka nyonyamalas Sabtu, 27 April, 2019

Saya setuju tentang harga rokok dinaikkan si Mbak. Setidaknya untuk meminimalisasi akses anak-anak bisa membeli rokok dengan uang sakunya. Daripada beli rokok mending beli cilok atu lah, kemana-mana.... Hihihi....

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

betul harapannya anak-anak sekolah ga bisa beli ya mba Ela jadi setidak mengurangi pecandu rokok

Reply Delete
Avatar
Dian Restu Agustina Sabtu, 27 April, 2019

Dulu syarat pilih suami kalau aku yang enggak ngrokok kayak Bapakku kwkwk
Karena aku emggak suka perokok, yang lebih banyak mudharat daripada manfaat
Maka, program mengatasi merokok ini dari pemerintah seharusnya ada dan perlu aksi nyata

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

betul mb Dian perlu aksi nyata dan utamanya kerja sama banyak pihak serta komitmen ya

Reply Delete
Avatar
Cilya Sabtu, 27 April, 2019

I agree dgn statement Rokok dekat dgn keluarga yg middle down. Krn awarenes tentang kesehatan sangat minim dikalangan mereka. Di kalangan milenial kota rata-rata sdh mulai mwnciptakan hidup sehat. Bahaya Rokok ini sangat luar biasa

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

nah iya semoga ada upaya nyata buat kurangi rokok ya mba

Reply Delete
Avatar
Wiwin Pratiwanggini Sabtu, 27 April, 2019

Saya suka heran kalo melihat para perokok. Kenapa mereka tidak melakukan sesuatu yang kreatif dan produktif daripada merokok? Kebetulan suami saya juga perokok, sejujurnya saya sebellll, karena seringkali hanya membuang waktu dengan ngabisin rokok. :(

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

semoga suaminya berhenti ya mba :) karena suamiku alhamdulilah dah berhenti rokok

Reply Delete
Avatar
Mechta Sabtu, 27 April, 2019

Keluarga kami masih ada yg merokok, sedih sih tapi sulit untuk membuatnya berhenti. TFS utk artikel ini ya..

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

semoga bisa berhenti ya mba

Reply Delete
Avatar
Uniek Kaswarganti Sabtu, 27 April, 2019

Nah, itu dia yang anehnya. Bagi keluarga yang pas-pasan kan sebenarnya anggaran lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan pokok. Kok malah digunakan untuk keperluan yang sama sekali tidak ada urgensinya seperti itu. Suka kesel ya kadang kalau memikirkan hal ini.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

betul mba sedih ya anak-anaknya makan ga bergizi sementara bapaknya belain rokok

Reply Delete
Avatar
Ira Hamid Sabtu, 27 April, 2019

Suamiku perokok, Mba. Saya sering ngambek pada suami kalo dekat-dekat tapi masih bau rokok :(

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

semoga cepet berhenti ya mba suaminya

Reply Delete
Avatar
Utie Adnu Sabtu, 27 April, 2019

Ingat rokok ingat bngt almarhum bapakku mba, perokok berat,, alhamdulillah anak2 nya gAk ada yg ikutin semoga Aja smakin sadar y

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

aaminn semoga ga ada yang kecadu lagi rokok y mba

Reply Delete
Avatar
Hidayah Sulistyowati Sabtu, 27 April, 2019

Aku selalu tegas menolak orang merokok di rumahku. Biasanya aku bilang, kepala pusing kalo mencium asap rokok. Terlebih suami emggak merokok. Makanya anak-anak ku pun aku kasih warning gak boleh merokok dan memberikan pengarahan bahwa rokok itu bahayanya lebih banyak dibandingkan manfaatnya. Gak ada manfaatnya malah, udah ngabisin duit, bikin sakit pula

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iyass setuju ntar juga anak lelakiku akan kuajari begitu mba

Reply Delete
Avatar
Helena Magdalena Sabtu, 27 April, 2019

Rokok dinaikin harganya tetap dibeli. Aku rasa perlu juga edukasi yang mendasar ttg bahaya rokok ke masyarakat. Kalau yg aku perhatiin ya biasanya ini masyarakat ekonomi bawah, rokok adalah jalan yg mudah untuk melupakan masalah sejenak dari hecticnya problema kehidupan...

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya katanya begitu mb padahal ada cara lain yah sealin merokok

Reply Delete
Avatar
Farida Pane Minggu, 28 April, 2019

Iya, ya. Kalau sudah candu sama rokok, duit tipis pun tetap dibelain buat beli rokok. Hiks.

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Minggu, 28 April, 2019

Hiks jadi ingat papa aku yang perokok berat bun. Dan aku udah bilang berulangkali agar dia berhenti minimal kurang merokok. Tapi susah. Moga pemeritah makin ketat pengaturan larangan merokok ya

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

aamiin moga ya upaya pemerintah tanggulangi semakin diterima

Reply Delete
Avatar
Indah Nuria Savitri Minggu, 28 April, 2019

Rokok memang memabwa banyak dampak negatif, terutama kesehatan. Kita yang perokok pasif aja bisa kena penyakit berbahaya

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya ebtul mba In smeoga ada jalan baik yah

Reply Delete
Avatar
Nia Haryanto Minggu, 28 April, 2019

Ngeri banget deh lihat jumlah perokok yang makin hari makin banyak aja. Mana yang nambahnya itu di usia produktif, bahkan anak-anak. Semoga nanti ada aturan tentang rokok yang sangat ketat ya, biar jumlah perokok menurun, dan lingkungan kita bisa bebas dari asap rokok.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

aamiin bteul teh semoga ada aturan ya anak-anak sekolah utamanya jangan sampe jadi pecandu

Reply Delete
Avatar
Kurnia amelia Minggu, 28 April, 2019

Siapa pun capresnya semoga kebijakannya bener2 terealisasikan sehingga perokok bisa mikir ulang kalau mau merokok.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

aamiin semoga diterima juga ya mba

Reply Delete
Avatar
Nyi Penengah Dewanti Minggu, 28 April, 2019

Memang tidak mudah untuk langsung menghentikan perokok
semoga pelan-pelan tapi pasti ini bisa diikuti seluruh lapisan masyarakat ya Mba

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

aamiin semoga terealisasi upayanya ya mba

Reply Delete
Avatar
April Hamsa Minggu, 28 April, 2019

Nah justru yang ngrokok tu yg ekonomi bawah ya, ya sopir angkot, pedagang2. Aku tu suka ilfil kalau beli makanan ke abang2 yang merokok, males aja gtu.
Pemerintah sampai skrng kyknya jg gak teges ttg rokok ini. Moga2 beneran nih pemrintahan ke depan lbh teges lagi masalah rokok.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya sekarang juga suka males kalau beli eh si abangnya ngerokok -__-

Reply Delete
Avatar
lendyagasshi Minggu, 28 April, 2019

Suka sedih memang melihat para perokok aktif ini susah berhenti.
Masku juga perokok aktif, lalu berhenti karena terpaksa, beliau harus operasi mata dan pasca operasi, tidak boleh merokok.

Sekarang sudah enakan, mulai lagi..
Walau menurut pengakuannya, tidak sesering dulu.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

semoga masnya berhenti ya teh

Reply Delete
Avatar
Siti Hairul Dayah/ catatansiemak Minggu, 28 April, 2019

Aku gemes banget sama org yang merokok dg santainya padahal di tempat publik yg banyak anak2. Pengen ta pakein helm

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya biar ngisep sendiri y mba asepnya

Reply Delete
Avatar
fenni bungsu Minggu, 28 April, 2019

Atasi rokok ini boleh dikatakan masalah yang pelik yah, butuh kerjasama semua pihak

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

yass mba Fen butuh kerja sama semoga kedepannya ada aturan baik yang bisa terealisasi

Reply Delete
Avatar
Guru Kecil Minggu, 28 April, 2019

Rokok yang dijual bebas itu lah yang sebenarnya memang meresahkan.lebih meresahkan lagi kalau edukasi mengenai bahaya rokok tidak dilakukan. Semoga bisa lebih bijak lagi menyikapi bahaya rokok.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

betul mba edukasi minim, penjualan bebas klop sudah dengan banyaknya pecandu :( semoga pemerintah bisa mengupayakan kebijakan yang paling tepat

Reply Delete
Avatar
Ida Tahmidah Minggu, 28 April, 2019

Wah asyik banger kalau pemerintah punya langkah2 positip memperbaiki kelemahan2 saat ini yg msh terliat pro kpd industri rokok daripada kepada kesehatan masyarakat..

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

betul teh semoga ada perbaikan positif yah

Reply Delete
Avatar
Desi Minggu, 28 April, 2019

Iyaa.. Semoga tercipta lingkungan yg aman dan menghargai perokok oasif yg lebih banyak jd menderita

Reply Delete
Avatar
Visya Al Biruni Senin, 29 April, 2019

Aku juga Sebel banget sama perokok sembarangan mom, huhu emang dipikir cuma merekamyang menghirup asapnya? Duh jadi emosi deh aku. Siapapun yg terpilih semoga bener bener terealisasi ya mom

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

aamiin kini sudah terpilih 01 mba semoga presiden terpilih bisa merealisasikan upaya yang sudah direncanakan

Reply Delete
Avatar
Leyla Hana Senin, 29 April, 2019

Si abah itu ngingetin aku sama bapak mertua yang ngebul terus. Sempat berhenti pas operasi batu ginjal, tapi sekarang ngebul lagi. Emang susah ya berhenti merokok.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya mba Ela sama kayak mertuakuu ga ada takutnya hahaha

Reply Delete
Avatar
Leyla Hana Senin, 29 April, 2019

Si abah itu ngingetin aku sama bapak mertua yang ngebul terus. Sempat berhenti pas operasi batu ginjal, tapi sekarang ngebul lagi. Emang susah ya berhenti merokok.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya mba, mertuaku juga abis stroke eh diam2 merokok bapak juga sama duh susah

Reply Delete
Avatar
Faradila Putri Rabu, 01 Mei, 2019

Miris ya kalau orang yang berpendapatan rendah malah fokus beli rokok daripada nabung untuk menghidupi keluarganya huhuhu. Semoga semua strategi di terapkan deh. Biar rokok tidak terlalu banyak beredar di negeri ini

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

aamiin semoga ya mba yang terbaik

Reply Delete
Avatar
Wahyu Widyaningrum Rabu, 01 Mei, 2019

Duh, dilema juga Mbak, bapakku yang sudah sepuh mania rokok, suamiku juga hikss... dan para pejuang tembakau juga. Hm, semoga ada kebijakan yang apik untuk semua ya. Padahl pasti udah tahu bahaya dan efek ngerokok. Tapi susah buat hentiinnya.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

semoga bisa kalau aturannya mantap mba Wah

Reply Delete
Avatar
Hendra Suhendra Kamis, 02 Mei, 2019

Saya gak suka sama rokok, makanya di rumah saya harus bebas asap rokok dan gak punya asbak, jadi kalo mo ngerokok silahkan di luar rumah bawa asbaknya.

Pajak rokok harus dinaikkan semahal mungkin, jadi imbasnya ke naiknya harga rokok, jangan tanggung-tanggung, yang mahal sekalian, misalnya sebungkus jadi 50ribu. Hmmmm, mikir deh tuh kalo mo beli

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

iya bener kang semoga dinaikkan harga bisa pada mikir kalau mau beli

Reply Delete
Avatar
ruziana Kamis, 02 Mei, 2019

suami saya masih merokok
gemes banget
udah dilarang..tetap aja
bahkan anak sy klu liat rokok ayahnya sering buang.
mungkin dgn menjual rokok setinggi mungkin bisa membuat berhenti

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

semoga nanti aturan dan kebijakan pemerintah bisa turut andil biar suami berhenti ya mba

Reply Delete
Avatar
Ima Satrianto | www.tamasyaku.com Minggu, 12 Mei, 2019

Sejak kecil sampai nikah, saya berdampingan dengan papa seorang perokok aktif banget. Alhamdulillah thn 2008 papa stroke krn sumbatan yg disebabkan hobi merokoknya, dan membuat kami sekeluarga bebas asap rokok.

Reply Delete
Avatar
Herva Yulyanti Selasa, 02 Juli, 2019

mertua dan bapak juga stroke yang mengakibatkan sumbatan tapi kini masih saja merokok sedih akutu

Reply Delete