Social Media Sebagai Pencitraan

Blog ini berisikan parenting, travelling, lifestyle, maupun pengalaman sebagai working mom. Semua dikemas sesuai dengan pengalaman dan opini pribadi

Social Media Sebagai Pencitraan

Sekarang ini siapa siy yang ga punya sosial media dari mulai Facebook, Path, Instagram, Twitter, Linkedin sampai blog. Masing-masing dari kita mengisi sosial media dengan penuh macam rasa baik kebahagiaan, kesedihan hingga kegalauan. Tak menutup rasa malu untuk sekedar mengungkapkan perasaan hati dan sekedar mendapatkan like atau love.

Gembira rasanya saat status maupun picture yang kita upload di berikan jempol-jempol manis dan love yang buanyak. Sama halnya seperti menulis di blog, hal yang sama saya rasakan bahagia ketika ada yang mengomentari isi blognya syukur-syukur di komentarin dengan masukan sehingga menjadikan saya bisa menulis lebih baik lagi.

Namun sayangnya, alih-alih ingin berbagi justru mendapatkan kontra dari rekan yang tak sepemikiran. Tak pandai untuk menjelaskan berujung dengan UNFOLLOW berakhir UNFRIEND. Saya pribadi tentu pernah melakukan hahaha *maaf yang sudah saya unfriend* kalian rese kalau lagi laper.

Dalihnya adalah saya ga ingin banyak menuai kontroversi yang berujung sakit hati gara-gara perang status. Bukan masalahnya saya tak terima jika ada yang tak setuju dengan pemikiran maupun berita yang saya share tetapi justru ketika seseorang menampilkan attitude yang sebenarnya saat idenya tak selaras dengan orang lain. 


Dulu saat kali pertama saya mengenal Facebook tahun 2008, entahlah saya bisa terbilang alay dengan status "GEJE" ala-ala anak kekinian yang ga penting. Tapi sekedar lucu-lucuan ditanggapi oleh 4DL dia lagi, dia lagi...Menjadi permusuhan tentu tidak hanya saja ketika saya coba membuka memories yang lalu menjadi geli sendiri. Kenapa bisa se-alay ini lagi main di mall di update untung dulu ga ada tuh yang nyinyir kayak sekarang. *jadi kangen masa itu*. hahaha

Seiring berjalannya waktu teman saya di FB semakin banyak, saat ini tercatat hingga 3236 yang memang terdiri dari teman SD. teman SMP, teman SMU, teman kerja hingga guru maupun dosen serta orang-orang yang sempat saya interview bahkan rekan-rekan kerja yang kenalan dalam workshop kemudian menambahkan saya di list pertemanan. Awal mula hanya ada teman-teman dekat lama-lama teman yang hanya kenal di dunia maya. Sampai saat inipun masih banyak friend request yang belum saya approve hahaha (uda macam orang famous banyak yang nge-add).

Eksistensi saya saat ini mulai di rem, tak lagi membuat status yang menggambarkan kegalauan, keputusasaan, kemarahan ataupun kelebayan *uda insyaf* hahaha. Saya mulai menyadari ini terlebih saya sudah mempunyai seorang putri. Saya mulai belajar untuk tidak mengumbar yang menjadi masalah sensitif pribadi. 

Saya belajar dari seseorang yang statusnya penuh keluh dan kesah sementara ia sudah mempunyai seorang putri yang menginjak remaja. Ibu itu membuat status menjelekkan suaminya aduh pedih rasanya aib suami di umbar dan terbaca oleh semua orang khususnya anaknya. Saya ga bisa membayangkan bagaimana putrinya ketika membaca status ibunya. Akhirnya saya mencoba untuk buat status maupun upload gambar yang bisa bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Eksistensi di sosial media belum tentu mendatangkan hal baik jika kita tak pandai untuk mengelolannya. Cara saya dalam menjalani sosmed :

1. Be your self, saya pribadi kadang menginspirasi (huekk siapin baskom) dengan men-share hal-hal yang saya anggap bermanfaat ga hanya reminder buat saya tetapi juga buat orang lain. Kadang juga saya menyatakan ketidaksukaan dengan issue yang sedang kekinian, kadang saya upload foto atau status sekedar ingin update keberadaan saya dan posisi saat ini hahaha. Ya namanya juga saya wong biasa kadang bener kadang belok dikit hehehe.

2. Kembali ke niat dan tujuan dalam bersosmed, yang mau dibagikan untuk menyinyir, untuk menyindir, untuk memotivasi atau untuk menginspirasi?ingatlah tidak semua orang memahami apa yang kita bagikan dan tidak semua orang setuju dengan ide kita.

3. Selalu berpositif dalam pemikiran, jangan baper-an ada saudara bikin status dianggapnya nyindir kita, ada temen yang upload foto dianggap pamer.

4. Jangan jadi kompor, justru sebaliknya bertindak seperti air menenangkan, mengalir. Jadi ga perlu komen ga penting

Saya ga mau sosmed menjadikan pencitraan hingga akhirnya saya terjebak dalam ruang yang bukan menggambarkan diri saya sebenarnya. Menjalani apa adanya dan ga ingin terjadi kejenuhan karena pencitraan yang saya buat-buat sendiri. Dianggap menginspirasi bagi orang Alhamdulillah, dianggap sotoy ya sudahlah, dianggap pamer ya namanya juga persepsi orang lain. Beda kepala, beda pemikiran jadi beda pemahaman.

Akhirul kalam semoga kita bijak menggunakan sosmed bukan hanya sebagai sarana silaturahmi sampe sarana jualan tapi juga sebagai sarana informasi buat orang lain terlepas dari pencitraan. Ga enak loh pake topeng enaknya jadi diri sendiri.


18 komentar

Avatar
Vety Fakhrudin Senin, 04 Juli, 2016

Ah mirip yang aku rasakan beberapa hari lalu, karna ada miss komunikasi di medsos berdampak aku di sindir2 atau lebih tepatnya di maki2 seorang teman di medsos. Tapi karna support dari banyak teman yang menenangkan, aku nggak nanggepin maki balik, tapi justru menjadi perenungan dan pelajaran kedepan, trs malah jadi inspirasi tulisan di blog...hihihi...

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 04 Juli, 2016

puk...puk..puk sabar mba hehehe

Reply Delete
Avatar
Isnaini S Ibiz Selasa, 05 Juli, 2016

Saya biasanya terbuka dengan mereka yang beda pendapat tapi menyampaikannya dengan bijaksana, tanpa merasa paling benar, tidak juga mendebat, dan saling menghargai perbedaan. Tapi gak banyak orang seperti ini, mbak. Apalagi di FB tuh, beda dikit langsung debat hsbis-habisan. Seolah merasa paling benar. Alamat blokir ini. :D

Ya, tuh. Saya juga memanfaatkan socmed untuk berbagi hal yang manfaat ketimbang curcol gak jelas. :)

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 05 Juli, 2016

Saya terlanjur baper ketika seseorang yg beda pendapat hingga berkata tolol dan bodoh hanya karena tak sejalan dengan pemikirannya. hahaha. terlalu lebay..
memang sulit saat ini yg bisa santun menerima perbedaan mba..

Reply Delete
Avatar
adriana dian Kamis, 07 Juli, 2016

PErsonal branding ngerinya agak nyerempet pencitraan ya Mak, tapi aku sih memang memcitrakan diriku aja apa adanya aja. Yang pasti emang ngeluarin yang baik aja, yang buruk simpen. Hihi. Setuju banget, enaknya jadi diri sendiri aja yaaaa

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Senin, 11 Juli, 2016

Iya mba be your self n better everyday :)

Reply Delete
Avatar
Kang Nurul Iman Selasa, 12 Juli, 2016

Keren kata katanta mbak, tapi memang benar sih tapi kalau lebih bagusnya kita menulis kata kata dan mengaplikasikannya secara langsung oleh kita sendiri itu jauh lebih muantappp kalau menurut saya mah.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Selasa, 12 Juli, 2016

Makasih Kang, yup betul banget makanya sebagai reminder diri y kang :)

Reply Delete
Avatar
Aireni Biroe Kamis, 21 Juli, 2016

Yang no.3 itu yang susah, Mbak, status orang lain di-baperin, padahal yang dimaksud bukan nyindir dirinya, ckckck
Dulu saya juga alay bikin status FB, Mbak, tapi sekarang sudah lamaaaa gak bikin status kecuali share postingan blog (meskipun jarang juga) haha

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Jumat, 22 Juli, 2016

Hahahha uda insyaf juga y mba :p

Reply Delete
Avatar
Brian Sinna Rabu, 27 Juli, 2016

Alhamdulillah porsi alay sedikit demi sedikit berkurang...walaupun kadang "kumat" hehe...

Saya setuju sama quotes nya, dan kebanyakan tulisan dalam blog saya sendiri lebih kepada memotivasi diri sendiri, syukur-syukur memotivasi orang lain yang "mampir" membaca

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 28 Juli, 2016

Trimakasih sdh berkunjung :) memang menulis mjd proyeksi diri

Reply Delete
Avatar
indra hidayat Rabu, 04 Januari, 2017

Sepertinya pengguna sosial media lebih banyak menumpahkan rasa galau ketimbang rasa bahagia itu sendiri.
Beda sekali jika menumpahkannya di sebuah blog yang menurut saya lebih baik.

Reply Delete
Avatar
Gustyanita Pratiwi Sabtu, 07 Januari, 2017

Iya bener mb herv..sosmed dewasa ini akan aku gunakan sebaik baiknya buat nulis yang ga meletup2, takut euy hihi..takutnya kita salah ngucap bisa jadi melukai pihak2 tertentu #mulai berinstrospeksi

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Minggu, 08 Januari, 2017

hahahaha iya sekrang mah mesti waspada y mba :p

Reply Delete
Avatar
Nita Lana Faera Rabu, 14 Juni, 2017

Ada noh adek kakak yang saya leave out dari BBM dan FB karena masalah posting2 makanan yang bikin mereka kejang2. Saya cuma ga pingin hidup saya malah jadi terpancing berbalas nyinyir, mending leave out aja. Kalau masalah kesedihan, gagal, dll... makin ke sini memang udah ga pingin umbar2, karena saya ga mau dikasihani orang lain :)

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti Kamis, 01 Maret, 2018

hahaha semuanya pilihan y miss :)

Reply Delete