Pengalaman Khitan Bayi 6 bulan

Rabu, 10 Oktober 2018
Halo temans apa kabar semuanya?punya kabar gembira apa temans?kalau saya Alhamdulilah punya kabar gembira, akhirnya saya telah meng-khitan baby Rayi pada tanggal 05 oktober 2018 silam. 

Keputusan saya untuk meng-khitan itu sudah tercetus sejak baby Rayi lahir, jika saya ingin Rayi sudah dikhitan sedari bayi. Namun saat itu ternyata kondisi fisik saya pasca melahirkan secara sesar tak memungkinkan dan juga tidak diperbolehkan oleh beberapa orang terdekat dengan alasan KASIHAN MASIH BAYI. 

Padahal pertimbangan saya sendiri juga didukung dari beberapa informasi yang pernah saya terima dan diperkuat saat saya melihat video ceramah Ustd Khalid Basalamah. Beliau meng-khitan anak lelakinya sedari bayi.

Pun di zaman Rasulullah SAW, bayi lelaki baru lahir segera dikhitan. Karena itu jauh lebih baik ia tidak akan merasa lebih sakit dibandingkan ketika sudah besar dikhitan. Dan juga menurut survey pertumbuhan fisik, mental apabila dikhitan dari bayi akan lebih baik. (demikian petikan ceramahnya).

Namun masalah ini juga menuai kontra katanya masalah trauma sakit ada yang mengatakan jika bayi juga bisa merekam di alam bawah sadarnya. Wallahualam karena kalau saya pribadi sih masa-masa bayi saya blank ga ingat sama sekali. 

Nah karenanya saya bersikukuh ingin sekali meng-khitan Rayi sedari bayi. Sebenarnya hal ini sempat ditunda-tunda juga karena beberapa alasan padahal saya sudah survey tempat khitan bayi di Cimahi.

pengalaman-khiitan-bayi-6 bulan




Khitan Di Klinik Paramedika Bandung


Keinginan saya untuk khitan Rayi akhirnya terjawab, jadi minggu lalu Rayi tertular batuk pilek. Dahaknya begitu banyak. Karena belum bisa mengeluarkan dahak sendiri, Rayi mengeluarkan lewat PUP-nya dan terakhir pup-nya bercampur darah sedikit plus air pipisnya juga ada bercak darahnya.

Melihat hal tersebut, segera saya larikan ke DSA langganan Dr. Niken di RS. Mitra Kasih Cimahi. Saat pemeriksaan itulah, akhirnya saya mengetahui jika Rayi mesti segera disunat. DSA tidak memberitahukan istilahnya hanya berkata penisnya kecil sekali.

Sepulangnya dari dokter, saya bergegas menceritakan kepada akang suami. Akhirnya setuju untuk segera meng-khitan Rayi.

Berhubung tanggal 04 oktober tepat dimana Rayi akan MPASI, maka sekalian saja pada hari itu saya mengajukan cuti resmi dari kantor untuk melaksanakan khitan.

FYI yah temans, untuk khitan anak kita mendapatkan cuti resmi sebanyak 2 hari jadi cuti tahunan tidak akan terpotong. 
Saat kontrol dengan DSA, kami fokus menyembuhkan bapilnya Rayi. Jadi DSA tidak memberikan rujukan langsung untuk melakukan bedah di RS.

Akhirnya berbekal tanya sana sini plus juga sempat baca pengalaman khitan dari blogger Bandung Teh Mita, saya dan akang suami sepakat meng-khitan Rayi di Klinik Paramedika Bandung.

Sebelum datang ke klinik khitanan-nya, saya menghubungi terlebih dahulu customer servicenya untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan dan yang perlu saya lakukan sebelum mendaftar khitan disana.

Dengan kondisi Rayi masih cimit, maka CS menyarankan saya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter disana.

Konsultasi Khitan Dengan Dokter di Klinik Khitanan Paramedika Bandung

Kamis pagi setelah saya menyuapi Rayi untuk MPASI pertamanya, bergegas saya berangkat bersama akang suami ke klinik. 

Saya tiba disana pukul 07.45 wib, klinik masih sepi. Saya langsung mendaftarkan diri untuk ke pendaftaran untuk berkonsultasi dengan dokter.

Setelah itu saya diminta membayarkan Rp 50.000,- sebagai biaya pendaftaran konsultasi. FYI yah temans untuk semua proses pembayaran dilakukan di kasir yang ruangannya ada diluar.

Jadi dari meja pendaftaran saya keluar kembali untuk membayarkan uang pendaftaran dan menerima bukti pembayaran lalu kembali lagi ke meja pendaftaran guna mendapatkan nomer antrian.

Pagi itu ternyata saya mendapat antrian konsultasi nomer 1 namun tak lantas saya bisa langsung konsultasi karena konsultasi dibuka pukul 09.00 wib.

Sembari menunggu 1 jam lamanya, saya yang kala itu hanya berdua saja dengan Rayi menunggu di kursi duduk depan televisi. 

Tak terasa 1 jam menunggu, akhirnya saya dipanggil oleh dokter masuk ke ruang pemeriksaan. Saya lupa nama dokternya hehehe.

Saya diminta menidurkan Rayi untuk melihat kondisi penisnya, setelah dicek dokter langsung menyatakan Rayi terkena FIMOSIS.

Selanjutnya dokter menjelaskan tentang fimosis yakni kondisi dimana kulup melekat pada kepala penis. Sungguh waktu yang tepat bagi saya karena fimosis tidak bisa disepelekan. Menurut dokter bisa menyebabkan ISK hingga ginjal.

Tak berfikir lama, saya pun langsung memutuskan untuk segera meng-khitan Rayi. Saya juga bertanya bagaimana dengan kondisi Rayi yang masih 6 bulan apabila dikhitan secara dini.

Dokter mengatakan bahwa saat ini sudah banyak bayi yang dikhitan jadi tidak perlu khawatir. Nah semakin yakin saja saya dengan pernyataan dokter. Dokter pun merekomendasikan paket reguler dan vvip untuk khitan disini.

Serta menjelaskan tidak ada perbedaan kecuali jam khitan antara paket Reguler dan VVIP. Ya sudah saya pilih paket reguler saja.

Keluar dari ruangan dan mendapatkan diagnosa Fimosis, saya bergegas ke meja pendaftaran untuk mendaftarkan Rayi khitan esok harinya tanggal 05 oktober 2018. 

Berhubung remvong, admin pendaftaran membantu saya mengisi formulir pendaftaran dan segera saya bayarkan sejumlah uang ke kasir. 

Temans berikut rincian khitanan Rayi Paket Reguler di klinik Khitanan Paramedika Bandung :

1. Biaya Khitan             Rp 270.000,-
2. Biaya Konsultasi        Rp 150.000,-
3. Biaya Daftar Khitan  Rp 50.000,-
Total                              Rp 470.000,-

Wah saya ga menyangka biayanya semurah ini xixixi, sehabis membayar saya kembali lagi ke meja pendaftaran dan adminnya lalu meminta saya esok pagi pukul 04.30 wib sudah ada di klinik.

Khitanan Paket Reguler di Klinik Paramedika Bandung

ruang-tunggu-paramedika-bandung

Tanggal 05 Oktober 2018, tepatnya hari jumat jam 04.00 wib saya ditemani akang suami, baby Rayi serta Neyna siap melakukan khitanan rayi.

Fikir saya jika hari itu tidak akan penuh apalagi hari kerja makanya saya dan akang suami santai.

Sesampainya disana pukul 04.20 wib ternyata sudah penuh sodara-sodara, kami dapat parkiran di luar klinik.

Di luar klinik sudah banyak sekali calon-calon yang dikhitan anak-anak sekitar usia 4-6 tahunan mengenakan baju gamis berpeci yang dikelilingi tak hanya orang tuanya akan tetapi rata-rata membawa sanak saudaranya.

Saya jadi merasa sepi cuman ada akang suami dan Neyna doang yang antar Rayi hahaha.

Selepas adzan subuh, barulah klinik dibuka. Kami yang sedari tadi menanti diluar berbondong-bondong masuk ke klinik.

MasyaAlloh sesak sekali ga sangka sepenuh ini, jadi pengen VVIP deh kalau liat keadaan begini :D.

Setelah dapat nomer antrian yang akan dipasangkan di baju masing-masing anak. Kami diminta naik ke lantai 3 mengenakan tangga padahal ada lift tapi justru hanya diperbolehkan naik tangga.

Buat yang ingin solat subuh ada mushola besar di lantai 1 namun bergiliran karena memang banyak sekali yang datang pagi itu.

Sampai di lantai 3, kami menanti panggilan. Saya rasa pagi itu ada sekitar 40-an anak deh yang hendak dikhitan soalna buanyaaak sekali. Dan hanya Rayi yang masih bayi selebihnya sudah pada gede.

Setelah dipanggil, anak akan diminta duduk dikursi tunggu depan ruangan tindakan. Pukul 05.05 wib nama Rayi dipanggil dan saya diminta menyerahkan Rayi ke suster. 

FYI nih buat khitan kelas reguler orang tua ga boleh ikut masuk, ga tau deh kalau kelas VVIP apakah orang tua boleh ikut menemani. Tapi katanya yang membedakan kelas VVIP dan reguler banyaknya anak yang dikhitan kalau reguler lebih banyak kalau VVIP sedikit dan bebas jamnya.

Saya mulai gelisah, karena ada beberapa anak yang menangis dan tangisannya kencang ketika ortunya menyerahkan kepada suster untuk masuk ke ruang tindakan. 

Saya lihat ada ibu yang ikutan nangis menanti keluarnya anak yang telah dikhitan. Di lantai 3 itu ada beberapa pintu. Jadi Rayi masuk lewat pintu paling ujung sebelah kanan keluar lewat pintu ujung sebelah kiri dekat tangga.

Saya menunggu sendirian pasalnya akang suami dan Neyna mengantri untuk ambil obat. Jadi makin dag dig dug aja ga karuan rasanya.

Tak berapa lama setelah masuk dipanggil, tepat pukul 05.18 wib, nama saya dipanggil dan Rayi sudah menangis dalam pangkuan perawat dengan mengenakan celana sunat.

Sebelum pergi, suster memberikan kertas bukti pembayaran yang digunakan untuk kontrol 3 hari kemudian.

Perawatan Pasca Khitan Untuk Bayi 6 bulan

Keluar dari ruang tindakan, Rayi menangis antara sakit dan pilu karena saya tidak ada disisinya jadi single fighter gitu hahaha.

Saya langsung menyusui Rayi dan setelah itu memberikan obat yang terdiri dari antibiotik 2,5 ml, anti nyeri 2,5 ml dan vitamin.

Sepanjang perjalanan pulang Rayi tertidur, tidak lagi menangis. Namun drama tangisan dimulai sesampainya dirumah saat Rayi kali pertama pipis pasca khitan. Sepertinya ngilu bener karena tangisannya membahana tak seperti biasa.

Jadi gimana perawatan pasca khitan buat bayi 6 bulan?

✔ Siapkan Celana Khitan Lebih Dari 1

Model celana khitan ini yang tengahnya menggembul gitu. Kalau dari klinik Paramedika hanya diberikan 1 buah sisanya harus merogoh kocek sendiri ya temans. Saya sendiri akhirnya membeli 4 buah celana jadi Rayi hanya punya 5 celana khitan saja.

✔ No Pospak

Kusalut sama emak-emak yang anti pospak. Aku sungguh tak kuasa selama pasca khitan cuci setrika celana khitan Rayi. Tahu sendiri kan kalau bayi belum bisa ngomong jika pipis jadi we-weran begitu saja.

✔ No Mandi

Sementara baby cukup di elap saja jangan terkena air lukanya. Kalaupun pipis langsung dielap dan dibasahi dengan antiseptik pada sekeliling luka agar luka tidak basah.

✔ Teratur Memberikan Obat

Obat yang diberikan klinik jangan lupa diminumkan yah. Minumnya 3x sehari sesuai aturan dan takarannya. Selain 3 jenis obat yang diminum ada 1 antiseptik yang digunakan nanti saat akan melepas perban serta sejenis betadine gitu.

Sudah deh tinggal nunggu kontrol aja dan kemarin pas kontrol alhamdulilah lukanya bagus jadi tidak khawatir lagi meski Rayi itu ga mau diam, tengkurep, telentang, merayap yang bikin saya linu liatnya hahaha.


Beberapa Pertanyaan Seputar Khitan Bayi

Ternyata khitan bayi memang masih belum se-familiar yang anak-anak gede. Saat saya ((pamer)) Rayi sudah dikhitan banyak yang berondong pertanyaan seputar khitan bayi.

Apa saja nih pertanyaannya?

❤ Metode Khitannya Apa?

Zaman now ada beberapa metode untuk khitan, ada yang konvensional, laser dan clamp. Dulu sih pengennya laser atau clamp akan tetapi saya mendapat berita ada yang dikhitan pake metode laser dan berujung terpotong bikin saya dan akang suami bergidik.

Akhirnya kami putuskan konvensional saja, lagian secara yang saya tahu lebih baik metode mengikuti sunnah saja so Rayi pake metode konvensional yah.

❤ Kliniknya Dimana?

Sudah jelas dong di Klinik Khitan Paramedika Bandung, yang sudah terpercaya sejak dulu bahkan sejak akang suami kecil juga sudah ada klinik ini.

Alamat Lengkapnya : Di Jl. Soekarno Hatta No. 111 babakan Ciparay
Akses dari Cimahi : Lewat tol baros 2 keluar tol pasir koja, dari lampu merah tol pasir koja ke arah kanan. Lalu ambil kiri ga berapa lama sudah deh ada kliniknya.

❤ Apa Mesti Konsultasi Dulu?

Jika baby tidak ada keluhan, bisa langsung daftar ke klinik H-1 yah temans. Berhubung saya memastikan kondisi dari DSA makanya saya konsultasi dulu.

❤ Apakah Bayinya Jadi Rewel?

Beberapa jam pasca dikhitan memang rewel saat pipis namun kedepannya Rayi gembira bahkan H+1 sudah langsung tengkurep lagi dan aktif. Jadi jangan ketakutan nanti gimana-gimana, terlebih luka pada bayi itu cepat sembunya loh.

❤ Apa Keuntungannya Khitan Bayi Usia 6 bulan?

Mendapati Rayi Khitan usia 6 bulan saya bersyukur karena Rayi sudah makan jadi PUP-nya ga buyatak kalau kata bahasa sunda tapi sudah mengeras. 

So ga geleuh teuing (jijik) kalau pas bersihin secara puasa pospak dulu pasca khitan ini. Dan juga usia 6 bulan ini saya juga tahu kapan dy merasa nyeri dan kapan dia berbahagia. 

Jika nyeri pasti Rayi nangis kejer tapi kalau ga sakit ketawa alhamdulilah.


***

pengalaman-khitan bayi-6-bulan


Demikian curhatan saya kali ini, bagi yang lain mungkin ada yang mikir eh bucet mamaknya tega banget masih bayi udah di khitan. Ini juga yang harus temans perhatikan yah! kuatkan mental untuk menerima tanggapan begitu.

Fokus saja perawatan pasca sunat dan yakin bahwa keputusan untuk khitan ini sudah paling baik demi anak kita. Ga perlu menjelaskan banyak karena bagi mereka yang punya pemikiran lain akan selalu meng-counter apa yang kita yakini. 

Wes selow sajah saya mah, setiap ortu punya pilihan terbaik buat anak-anaknya tidak ada ortu yang ingin menjerumuskan anaknya *halah* jadi kadieu.

Oke temans semoga bermanfaat yah, jangan galau insyaAlloh semuanya baik-baik saja.
63 komentar on "Pengalaman Khitan Bayi 6 bulan "
  1. Selamat sudah dikhitan Rayii. Luar biasaa. Untung ketahuan fimosisnya ya dan segera dikhitan semoga jadi baik-baik ajaa. Aku kayaknya nggak tega kalau gada kondisi khusus. Tapi ternyaya enakan pas udah mpasi ya karena bab nya sudah padat, hihi. Wellnoted Mba kali2 nanti ada yang butuh info ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba Nia :) makasih semoga bisa bermanfaat

      Hapus
  2. Baahahaha aku jadi inget cerita suami pas dia disunat, subuh2 udah berangkat trus yang nganter nya dua angkot cenah hahahaha. Suami saya disunat nya di sana juga ternyata.

    Kalau lihat dari cerita teteh kayanya sakitnya cuma sehari ya, aku ragu nyunat teh bisi sakitnya sampe berhari-hari, hehe.. Ditambah lagi di keluarga mertua mah kalau nyunat kudu hajat tehh.. haha pusing hayati

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk meni heurin matakan mun 2 angkot sadaya ngiring mah teh :p iya terpercaya banget disni

      Hapus
  3. "Mantab gaes," ceuk Arfan teh.

    Murce ya teh. Akram mah malah belum (emaknya sibuk nyanyi lagu Abdulloh), jadi ngiri-nganan kalo ada yg anaknya udah khitan akutuh. Semoga tahun ini bisa nyunatin Akram. Aamiin.

    BalasHapus
  4. Alhamdulilah semua lancar ya, Teh. Saya malah yang deg2an bayangin gimana rewelnya bayi yang dikhitan, secara anak2 yg usia SD atau TK kadang rewel.
    BTW, ttg cuti ini, perusahaan tempat saya bekerja ga pakai aturan itu. Pokoknya mau cuti apa pun, ttp memotong cuti tahunan. Kalo cuti kebanyakan, dianggap utang dan diakumulasikan terus menerus. Untuk cuti melahirkan, 1 bulan pertama dapet gaji full. Bulan kedua,gaji cuma 50%. Bulan ketiga,gigit jari ga dapet. Untunglah saya sdh resign.hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ampun itu aturannya meni begitu aih :( untung ya teh dah resign

      Hapus
  5. Duh kamu setrong pisan ih Teh..! Aku tak kuasa kalau jadi kamu mah ngeliat bayi kecil gitu dikhitan. Semoga tumbuh menjadi anak yang soleh ya bayi Rayi.. *ketjup

    BalasHapus
  6. Barakallah dek Rayi,Dek Rayi kerennn bangettt *_*
    Bahkan di desa untuk khitanan lumrah juga waktu anak usianya saat sudah sekolah
    Malah banyak yang diadakan hajatan khitan, xixixixi
    Makanya Dek Rayi kerenn ihhh, Mama Neyna jugaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulilah makasih mba semoga Rayi sehat selalu dan jadi anak soleh :)

      Hapus
  7. Aku baca nya semangat banget, hebat kasepp, makasih banyak ya infonya teh

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mamih Gen semoga gen lekas khitan juga

      Hapus
  8. Rayiii hebaaat. Selamat ya teh, anaknya udah di khitan. Suami saya juga dulu pengen anak2nya di khitan saat bayi. Dia justru taunya kalo di khitan itu bagusnya masih bayi. Saya nya yg ga tega. Padahal bagus, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mba iya tapi da alhamdulilah no drama kumbara kok teh :)

      Hapus
  9. Sodaraku juga dikhitannya waktu masih bayi dulu. Kalau untuk anak perempuan sebetulnya dikhitan juga ga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas denger ceramah ust. Khalid Basalamah mah apa yang mau disunat dari perempuan coba aja teh cekidot video ceramahnya bisi aku salah :p

      Hapus
  10. Alhamdulillah Rayi udah sunat juga. Semoga dengan disunat fimosisnya langsung hilang ya. Untung segera ketahuan dan tertangani dengan baik ya Teh.
    Aku juga gak nyangka loh di Paramedika itu seramai itu. Kayak pasar kalau pagi. Padahal bukan musim liburan anak sekolah ya. Rayi berarti pas mau disunat, di kasih ke susternya ya? Teh Herva nunggu di luar ya
    Aku dulu juga deg-degan nungguin Akmal di luar, soalnya gak boleh masuk kan ortunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin nuhun teh Mita :) berkat baca blog teteh oge hahaha
      iya aih teh ga bole masuk :D

      Hapus
  11. Saya bacanya sambil ngeri, Mbak.
    Selamat ya dek Rayi. Alhamdulillah sudah dikhitan. Semoga menjadi anak yang soleh.


    Itu kliniknya mantep juga ya.. Subuh-subuh buka. Bahkan ngantrinya sebelum subuh.

    BalasHapus
  12. Hiks, saya masih takut kalau anak dikhitan.
    Atuh maahh, emak lebay kok saya.
    Anak pertama saya udah minta dikhitan aja, saya masih mikir2.

    Tapi enak juga ya dikhitan sejak bayi.
    Karena luka bayi lebih cepat sembuh :)

    Selamat khitan ya baby lucu :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba lekas kering n yg pasti no drama kumbara

      Hapus
  13. Selamat ya baby soleh...sehat selalu...dan jadi ke banggan agama...inshallah bulan depan pun saya akan mengkhitan kan anak saya tp usianya 9th

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin makasih mba semoga lancar juga y khitannya

      Hapus
  14. Kalau teman2 di linvkungan saya skrg malah lbh memilih bayi usia 2 atau 3 bulan dikhitan. Anaknya msh blm bs gerak jd cepet sembuhnya...
    Kalau Rayi cpt dikhitan krn ketahuan fimosis ya...tdnya sy heran enam bulan kan sdh mulai nalaktak n blm paham jd takut dia tarik2 krn gatel misalnya hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya teh tapi pas usia segitu suka sedih kan banyak tidurnya jadi ga bis aukur sakit banget apa ga hahaha

      Hapus
  15. Wah selamat Baby Rayi udah dikhitan ya 😘. Aku juga pernah denger Bun kalau sebaiknya bayi laki-laki itu dikhitannya memang sejak bayi. Yang bikin aku bingung sebenarnya apa anak perempuan perlu dikhitan juga nggak ya soalnya masih pro kontra

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulilah makasih bun, iya coba aja sesuaikan dengan keyakinan bun

      Hapus
  16. Beberqpa bulan lalu aku juga dnegar soal bayi baiknya dikhitan lgsg mba tapi merasa sudha teelanjut krn si baby udh usia 10 bulanan. Terus baca ini jd galau lg, hihi pngn diskusi lg dulu sama suami.
    Barakallah dedek Rayi

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ga galau ya mba :) yuk khitan yuk

      Hapus
  17. Alhamdulilah ya, Teh. Akhirnya dedek Rayi udah dikhitan. Ternyata khitan kalo pas masih bayi itu kayak gitu ya, Teh. Setelah baca ini jadi tahu deh aku.

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah Rayi sudah dikhitan..
    Wah, biasa di tradisi keluargaku sudah gede baru khitan Mbak..hihihi, jadi ngikut aja aku, nunggu juga anaknya minta. Dulu pasa naka pertama kelas 5 dia minta khitan. Dan Alhamdulillah di klinik khitan di pas pulkam ke Kediri..lancar
    Nanti Insya Allah si Adik, Desember nanti khitan. Dia minta sendiri sama kayak si kakak, di Kediri :)
    Semoga sehat selalu, makin pintar dan jadi anak soleh ya Rayi

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin makasi doanya mb Dian semoga juga adik lancar ya khitanannya

      Hapus
  19. alhamdullilah dede rayi sudah khitan, kalah nih kaka zaidan sudah 4 tahun belum di khitan juga, dulu pengen waktu bayi tapi orang tua kurang setuju, inshaa allah pingin tahun depan, thanks info2nya teh herva

    BalasHapus
  20. masha Allah 6 bln sudah dikhitan ya, sehat2 ya nak

    BalasHapus
  21. Mbaaakkk, kita senassiibb! Tapi bukan fimosis sih, anakku yanh pertama ISK dan akhirnya sunat di usia 18 bulan.

    Emang kerasa segalanya lebih mudah kalau sunat di usia masih segini. Proses recovery nya juga cepat, minim rasa sakit

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes mb semoga anak kita sehat sll y mb

      Hapus
  22. Dek Rayi hebat.. Sehat selalu yaa..
    Emang nggak tega sih liatnya kalau lihat anak bayi yang disunat, tapi mau gimana kasian ke dedeknya daripada nantinya sakit terus.

    btw jadi hemat atuh teh, pas gede teu kudu singa depok-an deui nyak :D

    BalasHapus
  23. Wah aku baru pertama kali loh bund tau kalo anak laki2 bs dikhitan sejak bayi begini. Pdhl udh zaman begini msh kudet haha, mgkn krn anak aku cewek kali ya (ngeles). Tyt biayanya terjangkau ya bun, bs sekalian selamatan aqiqah jg y klo msh bayi banget. Eh tp kok sy msh tkt2 nyeri. Huhu pdhl udh baca sedetail ini. Btw, thanks banget infonya.

    BalasHapus
  24. Halo Rayi cakeep. Aku setuju bun. DLu pas sebelum punya anak, aku udah berjanji kalau anak laki ya pas bayi khitan aja. Pas anak perempuan nindik telinga pas bayi. Soalnya pas jaman dlu liat adik dan sepupu sunat pas agak SD an gitu nangis sampe kejer. Pa sliat sepupu perempuan nindik pas udah gede ya nangis. DUh trauma. Ayyas nidik di RS saat lsetelah lahir itu juga. Bapak yang nemanin :)

    BalasHapus
  25. #SemangatCiee terus untuk Dek Rayi, cepat sembuh sehat selalu, dan semoga jadi anak yang membanggakan keluarga, aamiin

    BalasHapus
  26. Alhamdulillah sehat terus yah De semoga jadi anak yang sholeh
    Memang bagus ktnya di khitan sedini mungkin

    BalasHapus
  27. Ternyata banyak manfaatnya yah mom khitan diusia dini, aku juga baru tau ketika ustadzah saya 3 anaknya dikhitan pas mereka masih bayi malah...

    BalasHapus
  28. wah khitan dini ya mba, ponakan ku juga semua kitan saat masih bayi, paling ngga mereka belum begitu ngerti jadi rasa takutnya tidak berlebihan. beda sama nak yang sudah memasuki akil baligh baru disunat.

    BalasHapus
  29. Zaman Maxy kecil dulu jg hampir mau sunat. Krn Bb gk naik diduga fimosis, namun setelah cek lg ternyata fimosisnya fisiologia krn emang anaknya kecil jd lubang burungnya kecil gtu. Akhirnya yg dikoreksi makanannya.
    Btw enaknya sunat pas kecil tu gk rempong ya. Ini Maxy rencananya jg pengen aku sunatin, tapi bnyk bener maunya. Jd nyesel knp gk taksunatin aja dulu haha ;p

    BalasHapus
  30. Zaman Maxy kecil dulu jg hampir mau sunat. Krn Bb gk naik diduga fimosis, namun setelah cek lg ternyata fimosisnya fisiologia krn emang anaknya kecil jd lubang burungnya kecil gtu. Akhirnya yg dikoreksi makanannya.
    Btw enaknya sunat pas kecil tu gk rempong ya. Ini Maxy rencananya jg pengen aku sunatin, tapi bnyk bener maunya. Jd nyesel knp gk taksunatin aja dulu haha ;p

    BalasHapus
  31. Waah makasih mbak cerita pengalamannya. Aku juga lagi mulai baca baca soal ini biar nanti pas saatnya tiba aku siaaap hihi

    BalasHapus
  32. masih kecil udah di khitan wah keren banget, cuma kalau masih bayi memang menurunkan resiko rasa sakit pas udah besar ya teh

    BalasHapus
  33. Naufal juga dulu khitan pas masih bayi 8bulan.. cuma katanya dokter besok klo. punya anak lagi mendingan sebelum 3bulan jadi belum tau sakit gt ya.. bener mbak enak banget pas sesi toilet training. dia 1tahun udah lepas pempes Alhamdulillah nggak capek juga soalnya sekali pipis itu buanyak hehehhe

    BalasHapus
  34. ternyata boleh ya khitan di usia 6 bulan

    BalasHapus
  35. Disini ada tetangga yang anaknya dikhitan umur 1 bulan karena hernia. Katanya juga baik2 saja, tapi bayangin kok ikutan ngilu ya mbak. Apalagi kayak Rayi sudah bisa tengkurep. Saya mAh nunggu gede aja 😁

    BalasHapus
  36. Duh iya sih, klo aku jadi ibu yang nunggu di luar ruang operasi pasti bakal kayak ibu yang kamu ceritain mba, bakal nangis. Ngeliat anak nangis krn diimunisasi aja aku ngilu banget.

    BalasHapus
  37. Selamat Dede Rayi sudah di khitan. Tapi, soal khitan anak cewek wajib juga nggak sih?

    BalasHapus
  38. Aku jd bingung baca biaya khitan ini. Soalnya kenapa jomplang ama pas ponakanku sunat :D. Ga tau deh apa metode dan RS nya yg bikin biayanya melejit sampe 10 jutaan? Makanya pas kaka ipar bilang biayanya segitu, aku udh siapin dana aja dr skr wkwkwkwk.. Kmrn dia metode clamp di RS bunda Menteng. Kalo memang ada yg murah, aku pilih konven aja lah wkwkwkwk

    BalasHapus
  39. Tempat khitannya yang di bypass ya? anakku dulu juga dikhitan di situ lho. Begitu juga suami dan semua saudaranya yang laki-laki. Memang itu tempat khitan paling ngetop di Bandung ya..

    BalasHapus

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

Auto Post Signature

Auto Post  Signature