Wednesday, July 19, 2017

Sudah Mantapkah Resign?

Halo semuanya pasca libur lebaran, seperti yang sebelumnya saya share di Google+ (yang belum follow mangga follow) merupakan masa-masa paling indah buat RESIGN. Kok bisa masa indah buat resign pasca lebaran?ya gimana ga indah coba? udah dapet THR lalu dapet gaji widih rezeki nomplok ga lagi nombok seperti bulan-bulan sebelumnya. Hayo ngaku?bener kan?

Ngomongin resign sendiri sudah pernah saya bahas sebelumnya mengenai alasan resign hingga status menjadi pengangguran. Sebenarnya tulisan ini dibuat atas request pembaca blog makasi mba Ifa yang mau membaca opini saya dari yang serius sampe ngawur LOL. Dan untuk yang lainnya yang masih mau menyempatkan mampir kesini, saya ucapkan terimakasih banyak yah. 

Sebagai bagian HRD tentunya bukan hal yang aneh jika ada yang mau resign terlebih kita sudah kebal hati kalau ada yang tiada angin tiada hujan tiada petir karyawan bilang ingin resign. Sudah terlihatkan gimana sabarnya dan kebalnya hati para HRD?hahaha ibaratnya nih kalau pacaran, orang HRD sering diputusin tapi reaksinya adalah “Aku Rapopo” so buat teman-teman yang single mangga cari deh orang-orang HRD sebagai pasangan hidup. Ngurus karyawan aja bisa apalagi ngurus dirimu *eaaaaaa 

Back to topic, resign sebenarnya adalah hak semua karyawan dan menurut pak boss tidak ada yang bisa menahan-nahan karyawan untuk pergi jika memang si karyawan ga ada masalah yah. Emang ada yang bisa nahan?ada aja kalau atasannya sudah klik dengan karyawan tersebut hingga keinginan resign si karyawan ditunda-tunda.


Keputusan resign tentunya ada alasan tersendiri tidak serta merta kita keluar tanpa alasan bukan?. Saya jadi teringat dengan karyawan sebut saja “B” seorang karyawan baru lulus dari kampusnya. Malang tak dapat ditolak ia mesti satu divisi dengan rekan kerja yang menyebalkan menurut saya.

Sebelum memutuskan resign ia pernah melaporkan keadaan yang terjadi pada dirinya. Bagaimana tertekannya ia dengan rekan kerja yang menyebalkan bahkan bisa dikatakan bermuka dua. 

Membuat si “B” selalu salah dimata atasan karena rekan kerjanya yang mengarahkan si “B” berbuat salah. Berhubung saya berbeda cabang maka sudah dipastikan posisi saya hanya sebagai penghibur saja untuknya tanpa bisa berbuat apapun. 

Celakanya “B” meminta pendapat saya apa yang harus dia lakukan sementara pilihan dia adalah RESIGN. Seperti dalam sinetron mendengar kabar tersebut saya hanya bisa berkata “Apaaaa” sambil muka saya di zoom In – zoom Out saking kagetnya. Namun tebak apa yang saya sarankan padanya?

Pas Tahu keputusannya RESIGN
Saya hanya menjawab “ DO IT ” kalau kamu mau resign!cukup Rhoma aku ga sanggup mendengar keluhanmu lagi teriak Ani sambil nyilok *apasih LOL. Sejujurnya agak sulit memberikan solusi untuk “B” karena saya tidak melihat langsung adegan demi adegan yang dilakukan oleh rekan kerjanya. Ga adil juga langsung menjudge rekan kerjanya tanpa mengkonfirmasi alasan rekan kerjanya berbuat seperti itu meskipun sepertinya ga perlu juga klarifikasi kepada ybs karena banyak yang mereport kelakuannya.

Dari kasus tersebut coba kita uraikan fokeus kepada si “B”. Menurut teman-teman apakah keputusannya untuk resign sudah tepat?

Jauh sebelum saya berkata “Do It” kalau mau resign saya menyarankan ybs untuk tetap stay kenapa?orang-orang semacam itu akan merasa diatas angin dengan kepergian kita. Setuju ga?akan ada kasus yang tiada henti karena ulah dia. 

Saya sempat bilang juga bahwa tempat kerja penuh dengan berbagai karakter orang dari yang suka jilat, suka iri, suka makan kek saya sampe suka menjatuhkan so kuat-kuatin lah kita hadepinnya. Jika next kita pindah ke tempat baru lalu ketemu lagi sama rekan kerja kek begitu maka akan terulang terus begitu saja solusinya sampe Upin Ipin rambutnya gondrong kalian masih jadi kutu loncat hahaha. 

Tempat kerja alias kantor emang tempat uji nyali kata siapa uji nyali cuman pas kita ada diruangan gelap malam jumat doang?menurut saya di kantor juga sama loh kita uji nyali bedanya kalau tayangan uji nyali tiap malam jumat ketika uda keringatan kita bisa lambaikan tangan ke kamera tapi kalau dikantor mesti siap mau sampe keringetan sampe nangis segede gundu juga tetap ada prosedur yang harus dijalani hingga akhirnya RESIGN.

Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya, saya juga pernah mengalami DILEMA untuk resign. Kalau saya rangkum pertimbangan sebelum Resign itu yakni :

πŸ’— Income

Jelaslah yah tak perlu ditampik, income selalu menjadi pertimbangan utama sebelum resign. Terlebih untuk kaum lelaki yang sudah berkeluarga mereka akan fikirkan baik-baik masalah ini. Namun tak jarang pula yang mengabaikan sehingga terjadi pengangguran tanpa ada kesiapan plan B-Z. 

Jika menjadi pegawai jelas hanya mengandalkan gaji yang masuk setiap bulannya berbeda jika selain menjadi pegawai memiliki sampingan lain tentunya tidak akan menjadi masalah besar. 

πŸ’— Usia

Mencari kerja memang susah-susah gampang, adakalanya kualifikasi job oke tapi mentok di usia. Semakin tua kesempatan mendapatkan lapangan pekerjaan di perusahaan semakin membuat sesak karena biasanya usia-usia tua diperuntukkan untuk posisi tinggi sementara jika usia tua minim pengalaman akan kesulitan. 

Usia muda juga kerap kali melatar belakangi alasan resign pasalnya mereka beropini masih muda tentunya masih ingin punya pengalaman lebih banyak. 

πŸ’— Kesempatan

Tidak semua perusahaan bisa welcome dengan career path karyawannya, satu hal yang biasanya buat dilema untuk resign adalah hilangnya kesempatan depan mata untuk promosi sementara ditempat lain belum tentu kita bisa mendapatkan kesempatan yang sama barangkali harus kembali lagi membangun karir dimulai dari NOL.

πŸ’— Lingkungan

Biasanya lingkungan turut andil juga dalam memberikan kebimbangan untuk resign. Segalanya sudah enak didapatkan nyatanya lingkungannya sama sekali tidak support hal ini tentunya memberikan ketidaknyaman bagi kita selama kerja.

Pun sebaliknya lingkungan yang buat nyaman sudah seperti keluarga membuat berat untuk meninggalkannya. Sama seperti saya yang dulu merasakan kenyaman dengan lingkungan kerja pada akhirnya mendapatkan lingkungan kantor yang enja banjet bikin saya jadi KEPU-KEPU *agak maksa tapi masih bermakna Kerja-Pulang. 

πŸ’— Fasilitas

Setiap perusahaan punya kebijakan masing-masing terkait fasilitas yang diberikan kepada karyawannya. Dari gadget hingga kendaraan, dari akses internet hingga telepon, dari asuransi kesehatan hingga kebugaran. 

Ini juga menjadi remahan yang memicu saya bimbang resign ga yah?meski pada akhirnya saya resign juga karena misalnya ditempat A saya dapat akses telepon tapi di tempat B dapat akses kendaraan nah yang seperti ini bikin pening kepala hahaha.

Dari kelima hal tersebut mungkin ada yang ingin ditambahkan lagi?tak jarang membuat saya atau teman-teman lain mengalami dilema yang akhirnya maju mundur ingin serahkan surat pengunduran diri namun saya yakin masalah akan selalu muncul yang pada akhirnya keputusan RESIGN akan muncul.

Nah buat teman-teman yang orang terdekatnya ingin resign misalnya suaminya, adiknya, kakaknya, sepupunya atau siapapun yang berada dalam lingkaran terdekat cobalah MENGERTI dan MEMAHAMI kondisi mereka. 

Maksudnya adalah kita tidak bisa menahan mereka untuk stay bekerja sementara keinginan hatinya dan keputusan akhirnya menginginkan mereka RESIGN. Tapi teteh Bella tau ga sih bayar listrik, bayar wifi, bayar sekolah, cicilan panci mau darimana kalau suami kita resign?

Jawabannya adalah percayakan sama pemilikNya, saya selalu percaya akan ada peluang lain yang Alloh atur untuk kita. Memaksakan mereka stay bekerja sama saja kita sudah membuat BOM yang sewaktu-waktu bisa meledak. 

Bekerja dari hati, bekerja dengan LOVE membuat nyaman dalam bekerja, hal itu sudah saya rasakan berbeda dengan bekerja tanpa kesenangan yang ada tiap datang manyun pulang ke rumah bΓͺte terus aja begitu sampe akhirnya meledaklah BOM yang sudah dipendam terus-menerus. 

Akang suami pernah ada di posisi tertekan, bagaimanapun solusi yang saya ajukan saat itu agar ia bertahan meleset semua karena  apa? karena yang merasakan langsung bukan saya tapi akang suami. So sebagai orang paling dekat dengannya saya hanya bisa support. 

Kejadian itu pernah saya tuangkan dalam tulisan di blog ini saat menjadi pengganguran. Teman-teman mari kita berpositif dan terus support siapapun untuk melakukan hal-hal baik. Jangan sampai tercetus keinginan buruk saking tertekannya. 

Kembali ke kasus “B” seperi yang saya bahas sebelumnya saya ga bisa merasakan langsung namun ybs yang merasakannya maka itu saya bilang Resignlah semoga ini terbaik untuk dirinya.

Akhir kata sudah mantapkah kalian resign?jika sudah bulat dan matang “Resignlah jika itu membuatmu Hepi dan terbaik untukmu”. Dan jangan menyerah ketika ternyata gagal tes kerjanya. Ciptakan peluang dan cepatlah Move on πŸ˜ƒ

Demikian yang dapat saya share kali ini, semoga bisa diambil hikmahnya. Ada yang mau sharing pengalaman?menambahkan atau menyanggah?mangga feel free to sharing ya gaes. Atau ada yang mau request tulisan lagi?hahaha silahkan semoga saya punya pengalaman yang bisa mewakilinya.

63 comments:

  1. Kalo akuma liat sikon bun, untuk saat ini gakan kerja dulu da gada yg bantu.. tapi suatu saat ngajar lagi meski part time kwkwkw tfs ya bu HRD

    ReplyDelete
  2. Postingan penyemangat banget ini mah Mba. Aku suka sama kata, "Percayakan sama pemilik-Nya" dan "Bekerja dari hati"

    Dulu pamanku juga pernah galau nih buat resign dari perusahaan lama, galaunya karena usia yang udah gak muda lagi. Tapi Allah mah Maha Bijak, setelah diberanikan untuk resign, Alhamdulillah beliau dapet kerja yang lebih baik. Baik dalam penempatan maupun upah kerjanya.

    Terima Kasih Mba untuk share-nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulilah makasi bnyk uda mampir y mba πŸ˜πŸ™πŸ»

      Delete
  3. uwaaaaa serupa nih sama topik yang lagi dibahas sama keluargaku akhir2 ini, tentang saudara yang resign dari tempat kerjanya.

    Mau cerita di sini, jadinya panjang lebar ntar. Kalo mau ditulis di blog, khwatir buka aib. Bingung.

    tetapi dari saudara saya itu, saya belajar bahwa: hmmm... ART itu harus ada apabila duit turah-turah (berlebih). Saya pernah baca ulasannya siapa itu ya tentang pentingnya punya ART.

    saudara saya itu, resign gegara anaknya ucul saat dijaga pengasuhnya, udah ketiga kalinya. anaknya baru umur 20 bulan. terus, si perempuan diminta resign sama suaminya, mengingat toko online nya sedang lancar jaya.

    Padahal maunya keluarga tuh mereka berdua tetap sama2 jadi guru aja, supaya jadi PNS, enak di masa tua. Pertimbangan lain juga, keluarga kami sependapat bahwa si istri lebih pintar dari si suami. kalaupun ada tes-tesan cpns gitu ya, paling ya si istri duluan yang kena.

    Gaji guru hari ini berapa sih? ya cuma segitu-gitu aja kan? si suami ini juga masih ditopang kebutuhan hidupnya oleh ortunya. duit ditambahin, beras dibelikan, telur, mie dsb. rumah dibelikan. kurang enak apa coba.. tapi ternyata seenak itu mengambil keputusan untuk istri dan anaknya.

    Padahal kan anaknya bisa dititipin ke tempat bermain. Ada kok di daerah kami tempat penitipan anak yang sambil belajar dan bermain, islami pula. Orang tuanya si suami, siap membayari pula, supaya si istri nggak resign.

    tapi ya begitulah. keputusan sudah tekad. bulat.

    eeeeeh, malah saya keceplosan cerita, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita hargai n support saja mb dg keputusannya xixixi makasi sharingnya mba smg bisa dipetik hikmah untuk pembaca lainnya termasuk aku πŸ™πŸ»πŸ˜

      Delete
  4. Udah teh 😁 hampir 5 thn yg lalu..
    Aku percaya rejeki pasti ada jalan lain yg penting anak aku yg pegang dulu 😊 alhamdulillah.. dimudahkan^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulilah semoga akupun sama mba πŸ˜πŸ™πŸ»

      Delete
  5. Krn aku belum kerja jdi ga bisa komen bngt nih sama hal kaya ginian hehe tp aku setuju yg penting kita pecaya rezeki udh ada yg ngatur dan rezeki ga bersumber dri satu tempat aja😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mba sehat2 y mb di Paris keren deh 😍

      Delete
  6. haduuuuh postingan mba herva bikin ami flashback ke masa lalu waktu kerja di pt
    cerita si A B itu, cerita nya ampir mirip juga sama ami.

    begitu ami ngajuin resign, orang yang bikin ami gak betah sikapnya jadi baik sama ami tau, tapi itu gak jadi alesan kedua buat ami batalin resign.

    yaa meskipun waktu itu, ami belum ada cadangan kerjaan hehe
    ngapain si, bertahan dalam kondisi yang bikin kita gak nyaman? nyiksa batin banget kan?

    kalo liat gaji, ya sayang banget.. tapi alhamdulillah Alloh kasih kerjaan yang sekarang lebih baik dibanding sebelumnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. intinya disyukuri y mb Ami πŸ˜πŸ™πŸ» makasi uda sharing semoga sll hepi

      Delete
  7. aku jg resign dr kantor besar beberapa tahun lalu. Kerja di kantor yg sekarang gajinya jauh lbh kecil. Tp begitulah hidup. Ada yg didapat ada yg kehilangan. Yg gue dapat adalah gaji kecil dgn jam kerja yg lbh okeh. yg dulu gaji gede tp kerja smp jam 11 malam baru pulang. Semua ada plus minusnya dan memang mesti dipikir lama sblm memutuskan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes mb Ria sll ada plus minusnya yg ptg kita hepi n mensyukuri yg kita dptin πŸ˜πŸ™πŸ» makasi y mba uda sharing

      Delete
  8. Kalau aku resign masih dalam pertimbangan, banyak banget selain ini yang saya pertimbangkan, huhu semoga pertimbangan saya segera mantap untuk resign dan back to rumah menjadi IRT seutuhnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin aku juga teh next pgn jd IrT smg terkabul dan ttp produktif

      Delete
  9. Kalau saya resign karena suami. Yah disyukuri saja, toh walaupun di rumah ternyata bisa tetap aktif berkarya menjadi blogger.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulilah masi bisa produktif y mba 😁

      Delete
  10. aku belum mau resign tapi diresign in sama kantor :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu lebih jahat daripada si rangga ga kasi kabar brp purnama ke cinta :((

      Delete
  11. Mbaaak, jadi HRD itu mirip2 dengan ibu yang anaknya merengek2 pengen pindah sekolah, nggak? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. bedanya aku ga perlu mikirin sekolah barunya mba hahaha cuman suka sesek napas aja klo ada yg keluar hahaha

      Delete
  12. Saya cuma menikmati masa kerja di luar selama 3 tahun pertama setelah lulus kuliah. Resign karena diminta stay di rumah sama suami. Sebenarnya sih kepengen banget kerja di luar lagi, semoga nanti dimudahkan dan ada jalannya ya Teh. Kudu ngrayu-ngrayu suami dulu nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe yg penting keputusan dr suami y teh

      Delete
  13. sebelum resign memang harus dipikirkan matang-matang yaa Mba akibatnya. Sebelum resign harus udah punya rencana terutama masalah keuangan agar tidak kalang kabut nantinya.

    kalo saya alhamdulillah sampai saat ini masih enjoy bekerja di kantor yang sekarang walau beberapa teman yang seangkatan udah pada resign :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul tergantung pertimbangan masing2 mba Ira 😁

      Delete
  14. Aku udah lama resign, mb Herva. Begitu merid langsung gak kerja kantoran lagi.Jadi gak terlalu merasa dilema
    Alhamdulillah juga siy, dengan aku gak kerja malah mendukung kerjaan suami yang pindah dari satu daerah ke daerah lain. Begitu pusat telpon suruh pindah, ya kami pindah

    Suami tenang kerjanya, anak-anak bisa dikawanin kalau istri di rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulilah pokoe mesti pertimbangan kedua belah pihak y mba klo masalah pekerjaan 😁makasi sharingnya mb

      Delete
  15. Saat ini nyari kerja susah, jangan malah resign deh.

    ReplyDelete
  16. Beuh rekan kerja bermuka dua itu ada di mana-mana, memang menyebalkan. Kalau mau bertahan tapi nggak nyaman ya resign ya. Tapi, benar kata mbak, di manapun rekan kerja itu tetap ada, kita harus tau celah si rekan kerja ini biar dia nggak gitu ke kita. *sok teu..

    Aku kemarin resign karena keadaan, ikut suami.. memang sih sayang tinggalin kerjaan tapi berhubung kondisi kantor jg gak kondusif ditambah capek LDM, jadi resign is the best way.. ^^

    Nice sharing, mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi sharingnya jg mb n makasi uda mampir 😁

      Delete
  17. Kalo akuuuu..... biasanya (kesannya udah biasa resign gitu ya. Hahahahahaha) resign karena udah nggak ada hal baru dan yang menantang untuk dikerjakan di kantor. Jadinya tiap berangkat ke kantor berasa beraaaat gitu. Nah itu deh pertanda waktunya resign. Ya nggak langsung bilang mau resign, curhat curhit dulu sama bos nya. Barangkali dikasi tantangan baru. kalo nggak ada solusi, baru deh cabut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk nah klo boss enaknsi ga masalah y mb Fel klk yg rese kelar idup lo πŸ€£πŸ˜‚

      Delete
  18. saya resign krn ga tega ninggalin anak, padahal awalnya cuma cuti melahirkan heuheu...

    ReplyDelete
  19. "Suka makan kek saya"... Nyahahaha aduh aku ngakak.. Tos ah teh, aku di kantor juga dikenal sebagai tukang makan.. :D Btw, bahas resign gini aku jadi galau.. Masih seneng kerja tapi ada aja hal-hal yang bikin pingin resign.. Jadi pingin curhat teh.. :)

    ReplyDelete
  20. Di kantor tempat saya bekerja, justru HRD Head yg bolak-balik ganti..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha...kukira cuma ada di tempatku aja yang kaya gini LoL

      Delete
    2. bebannya berat kesian 😒

      Delete
  21. mhhh..belum kepikiran resign sih kalau saya mbak, krn kerjaan saya ngak terlalu sulit menurut saya heheheheh

    ReplyDelete
  22. setelah kedua anakku dewasa malah aku memutuskan untuk resign dg alasan aku ingin bisa lebih santai dlm hdp dan bisa banyak berbagi, makanya aku buatlah kominitas anak Circle of happines yg menjadi bagian kebahagiaanku kelak di masa tuaku, kalau ada waktu senggang bisa traveling berdua dg suami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah ibu mah inspirasi banget bikin komunitas next aku jg pengen kyk ibu πŸ™πŸ»

      Delete
  23. Aku pernah menulis hak serupa. Dan sama-sama mengajak kita untuk mempertimbangkan sebelum menentukan resign atau bertahan.
    Ya... pikirknlah...

    ReplyDelete
  24. Saya uda resign jugaa ini mbak bell, menikmatii waktu" di rumaah. . hehehe Makasih sharingnyaa mbak, banyak pertimbangan yg saya lakukan juga sebelum resign. Salah satunya juga peluang pengganti income :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah mba Lucy mau konsen buat study yah?gudluck mba smg lancar aamiin makasi uda mampir :)

      Delete
  25. wah, pengennya gitu mbak, tapi belum kuat ni, hehe salam kenal mbak

    ReplyDelete
  26. Aku dulu resign dari pekerjaan untuk melakukan perjalanan ini. Sedikit menyesal dan enggak sih

    Semua pasti ada plus dan minusnya. Tergantung pencapaian apa untuk hidupnya, bukan soal materi atau kemapanan. Namun kenyamanan menikmati setiap detik ketika hidup adalah yang mendasari hidup bebas seperti ini hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. pasti ada pilihan masing2 ketika memutuskan ini y mba

      Delete
  27. Saya karena beberapa tahun belakangan udah punya privatan, walau cuma 1 atau 2 kalau lagi kerja full time, jadi ga takut amat pas memutuskan resign dari full time job. Cuma salah satu resign saya ada yg karena ga bisa berhijab. Kalau ini andai ga punya another income pun harus saya lepas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semuanya ada pilihan masing-masing y miss :)

      Delete
  28. Saya belum mantap resign mbak, karena saya belum punya pekerjaan haha -_-
    Memang banyak yang bilang lingkungan pekerjaan itu keras. Semua orang ingin menunjukkan kehebatannya pada atasan dan bahkan sampai menganggap rekan-rekan kerjanya adalah lawan yang harus disingkirkan satu per satu. Seraaaam!

    ReplyDelete
  29. Kalau saya, Keputusan yang lumayan berat ketika tiga tahun lalu memutuskan untuk tidak kerja kantoran lagi. Alhamdulillah sekarang saya bersyukur telah mengambil keputusan itu, lebih happy hehe

    ReplyDelete
  30. Emang pilihan yang kudu pikir mateng-mateng ya mba sebelum resign. Kecuali kalau suami masih bisa mengcover kebutuhan keluarga, istri bisa resign tanpa membuat ekonomi keluarga pincang. Semoga temannya segera ketemu pekerjaan lain yang lingkungannya nyaman.

    ReplyDelete
  31. Aku sampai anak mau 2 gini masih betah aja mbak jadi karyawan :(
    Pengennya siih resign, jadi IRT sejati. Tapi dipikir-pikir lagi memang bener banget, Income, Usia, dan Kesempatan terkadang buat kita pikir-pikir lagi kalau mau resign ya mba.

    ReplyDelete
  32. baca artikel ini jadi inget suka dukanya waktu masih ngantor sampe akhirnya mutusin resign juga. Bener bgt, saat mau resign, pikirin dulu matang2 karena nanti cuma ada dua kemungkinan, nyesel, atau enjoy, hehehe..

    ReplyDelete
  33. Saya pernah menyarankan teman untuk kerja lagi. Abis setelah resign kayaknya dia banyakan mengeluhnya. Bukan berarti saya gak suka dicurhatin orang tapi kasihan aja lihatnya karena yang saya tau saat masih kerja teman saya ini selalu ceria. Jadi maksud saya menyarankan kerja lagi supaya dia kembali ceria. Kan kalau hati senang melakukan apapun juga kayaknya lebih nyaman. :D

    ReplyDelete
  34. Saya sih udah mantap banget pas mau resign. Nggak pake nyesal.
    Kangen dikit iya. (idih)
    Btw, suka makan itu karakter ya.. kirain (masih) pembentukan karakter

    ReplyDelete
  35. Resign itu susah loh. Pergolakan batin. Sebelum nikah saya bahagia bgt bs kerja di instansi walau honorer karena ikut cpns gak lulus2...ups. terus sebelum nikah, perjanjian dulu kalau udah nikah gak boleh keRja. Rasanya?? Nyesek! Tapi kudu ikhlas...

    ReplyDelete

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design