I'm writing about...

Teropong Dunia Influencer dari Kacamata HRD

Belakangan saya tuh lagi suka banget konten salah satu tiktokers dengan nama akun @mr.deedee. Isi kontennya edukatif, fokus pada bagaimana cara pronunciation bahasa Inggris yang benar, tapi disampaikan dengan cara yang jenaka namun mudah dipahami. 

Bahkan menghibur sekali karena ciri khas dari setiap videonya adalah bagi yang salah nantinya disuruh push up atau keluar melalui pintu taubat atau suruh ber-istigfar 😂😂. Cara penyampainya unik dengan gerak bibir yang luwes dan ciri khasnya yang gemulai sehingga membuat saya sebagai penonton tak hanya belajar namun juga terhibur.

Sebagai HRD, tentu saja saya melihat sosok yang dikenal dengan Mr. Deedee ini terlihat apik dalam membangun personal branding yang unik. Mungkin sudah banyak konten kreator yang memuat niche belajar bahasa inggris akan tetapi dengan cara unik yang dilakukan Mr. Deedee ini membuat penonton betah.

Tak heran jika akhirnya Mr. Deedee ini bisa diundang ke stasiun TV dalam acara yang dipandu Raffi Ahmad dan Irfan Hakim. 

platform-kol-id-bantu-cari-influencer

Membangun Personal Branding Influencer

Membicarakan tentang personal branding. Banyak mungkin yang mengira yah kalau personal branding itu harus selalu dirancang secara strategis, penuh pencitraan, bahkan terkadang terasa dibuat-buat. 

Padahal nih, dari kacamata saya sebagai seorang HRD, personal branding yang paling kuat justru lahir dari keaslian yang konsisten

Seperti Mr. Deedee ini, menurut saya loh yah ia mampu menjalankan satu peran yang ia kuasai, dengan gaya yang terasa natural. Gestur, mimik, hingga humor kecil seperti: push up, pintu taubat, atau istigfar terasa spontan *uhuy* namun tidak dipaksakan. Dan justru di situlah daya tariknya dia.

Lalu gimana dalam membangun personal branding di dunia kerja?

Dalam dunia kerja, tentunya tidak luput dengan karyawan dengan beraneka ragam personal branding-nya. Pasti ada aja yang memiliki personal branding yang sehat ((biasanya)) dan mereka ini tidak sibuk membangun citra, tetapi sibuk bekerja dengan caranya sendiri. Namun juga sebaliknya! paham kan? 😂😂.

Ok back to influencer..

Kalau ditarik kembali ke dunia influencer, pola yang sama sebenarnya juga terlihat jelas. Tidak semua influencer yang ramai di awal mampu bertahan. Ada yang cepat naik, tapi cepat juga tenggelam. Ada pula yang perlahan, tidak heboh, tapi konsisten dan akhirnya dipercaya.

Hal ini mirip sekali sih dengan dinamika di dunia kerja. Jika personal brandingnya bagus maka kepercayaan dari atasan maupun rekan kerja akan semakin meningkat. Ga ada deh drama kumbara ga akur sama rekan kerja.

Mencari Influencer Sama dengan Rekrut Karyawan

Dengan fenomena demikian, maka saya bisa ambil satu benang merah jika influencer itu sejatinya ya karyawan digital bedanya mereka punya waktu dan aturan sendiri yang tidak terikat, tidak berada dalam struktur organisasi. Namun tanggung jawabnya sama, bahkan bisa jadi lebih besar, karena mereka bekerja di ruang publik dan dinilai oleh ribuan hingga jutaan orang setiap hari.

Karena itu penting sih bagi perusahaan atau brand yang ingin bekerja sama untuk selalu memilih-milih influencer mana yang sesuai dan tentunya ramah budget *tetap ya finansial diutamakan kalau saya😂*.

Makanya sama halnya rekrut karyawan, milih influencer juga jangan yang asal saja mentang-mentang lagi viral langsung aja di-hire. Belum tentu kedepannya itu mampu mengangkat produk atau brand. Viral hari ini belum tentu juga masih muncul besok. Belum tentu juga influencer tersebut mampu merepresentasikan nilai brand atau mengangkat citra produk secara berkelanjutan.

False hire begitu istilah yang saya gunakan jika mendapati karyawan yang direkrut tidak sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.

Dalam dunia influencer pun saya yakin inginnya zero false hire, so penting banget nih biar memilih influencer yang sesuai. 

Saya jadi teringat  Kol.Id  yang merupakan platform untuk membantu siapapun cari seputar data obyektif mengenai nfluencer. Bahkan bisa lihat rangking para influencer-nya loh!

Menarik bukan? karena semuanya tercatat dalam platform ini sehingga kita bisa memilih siapa saja yang dikehendaki. Ga cuma itu saja tapi juga kasih kesempatan buat kita influencer untuk gabung di Kol.ID loh! 

Makin mudah dikenali oleh klien maka makin terbuka lebar untuk influencer berkolaborasi. Sebagai HRD, saya percaya bahwa kolaborasi yang sehat selalu diawali dari proses seleksi yang tepat. Baik itu merekrut karyawan maupun memilih influencer, prinsipnya itu sama cari yang sesuai, bukan sekadar yang terlihat paling bersinar.

platform-kol-id-bantu-cari-influencer

***

Demikian temans yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat yah! ada yang sudah cek ombak di Kol.ID? yuk sharing juga!