Wednesday, December 7, 2016

Membaca Bagi Saya Lebih Dari Sekedar Hobi

Bercerita hobi bagi saya merupakan suatu kegiatan yang saya sukai bahkan saya sengaja pula sisihkan budgetnya untuk menyalurkan hobi saya tersebut. Apabila ditanyakan hobi maka pasti tegas saya menjawab : "Membaca". Setiap resume tentang saya entah itu yang ada di Curiculum Vitae, Portofolio maupun jenis isian yang mengharuskan saya menulis tentang hobi maka dengan mantap saya tuliskan "Membaca".

Namun tak semua buku saya sukai, sebagian besar saya memilih jenis novel sebagai buku yang disukai. Sempat saya tuangkan disini bagaimana cara saya dalam memupuk dan memelihara minat buku saya. Dengan begitu hobi saya yang satu ini secara khusus saya tanam terus agar tidak pudar. Masing-masing individu tentu memiliki kegemaran dan kesukaan yang berbeda, semuanya yang dipilih sebagai hobi memiliki manfaat dan keuntungan tersendiri layaknya sebuah fungsi benda.

Adapun bagi saya, informasi penting dalam hidup tak hanya saya dapatkan dari bangku sekolah maupun media elektronik akan tetapi dengan membaca buku saya mampu menyerap informasi penting. "Ah baca novel emang apa yang bisa diserap informasinya?" menurut saya pribadi novel ga hanya seputar fantasi atau imajinasi penulis yang dituangkan dalam rangkaian kalimat apik menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Namun selalu dibalik cerita meskipun tergolong fiksi ada makna yang bisa kita ambil, ada hikmah yang bisa kita petik, ada manfaat yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan real.


@Monumen Bom Bali Legian

Monday, December 5, 2016

Perubahan Hidupku : Si Pemalu Menjadi Trainer

Sepanjang kehidupan saya, hampir 17 tahun saya terkungkung dalam kotak bernama "MINDER". Krisis kepercayaan diri baik karena fisik maupun strata sosial dalam lingkungan membuat saya menjadi sosok yang pemalu dan pendiam. Tak mampu sedikitpun bisa menjadi asertif ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak saya sukai meskipun itu menyakiti diri saya pribadi. Pudar sepudar-pudarnya keinginan untuk bisa tampil secara mandiri. Saya lebih menyukai untuk dibalik panggung karena merasa kurang dan perasaan tak nyaman menjadi konsumsi indera penglihatan orang lain.

Bertahun-tahun saya menerapkan konsep diri yang salah menjadikan perilaku yang saya tampilkan salah pula. Hingga akhirnya saya menemukan satu titik untuk memulai berubah. Memasuki bangku kuliah, mulai menyadarkan saya yang selama ini tersesat dalam kotak "MINDER" sehingga membatasi ruang gerak saya sebagai seorang insan di dunia *uhuk berat*. Biasanya jika berada dalam kerja kelompok, tipe saya adalah biarlah saya yang meng-konsep, biarlah saya yang mengerjakan asalkan jangan saya yang mem-presentasikan kedepan. Satu kali, saya sudah mengerjakan semuanya namun ternyata rekan satu kelompok meminta saya juga yang maju menjelaskan. Apa yang terjadi?saya langsung keluar kelas tidak mengikuti mata kuliah tersebut dan menangis pulang ke kosan. Kalau sekarang saya ingat kejadian itu rasanya saya pengen banget narik tangan sendiri dan ga perlu pake insiden nangis pulang ke kosan.


Sunday, November 27, 2016

Resensi Buku : Sukses Bekerja Dari Rumah

Judul buku    : Sukses Bekerja Dari Rumah
Penulis : Brilyantini
Editor : Herlina P. Dewi
Penerbit        : Stiletto Book
ISBN           : 978-602-7572-35-5
Cetakan pertama,  2015
241 Halaman



Blurb :
Berkutat dengan rasa bersalah karena harus membagi waktu antara anak dan pekerjaan, akhirnya banyak perempuan memutuskan berhenti bekerja setelah menikah dan punya anak. Namun, masalah lain pun muncul. Setelah berhenti bekerja, lalu ngapain?banyak sekali perempuan yang ingin bisa terus berkarya dari rumah, tetapi tak tahu bagaimana cara memulainya. 

Buku ini membeberkan pengetahuan serta trik yang bisa dilakukan perempuan untuk terus berkarya dari rumah, seperti :
  • Berbagai macam pekerjaan untuk freelancer
  • Bagaimana cara memulainya
  • Keahlian yang dibutuhkan
  • Strategi marketing yang harus dilakukan
  • Trik membangun jejaring
  • Manajemen waktu dan keuangan untuk pekerja lepas
  • Sampai, profil para perempuan inspiratif
Buku ini memang didedikasikan untuk anda, perempuan yang ingin tetap berkarya dari rumah, baik bagi yang masih lajang, terlebih untuk yang sudah menikah dan punya anak.
*** 

Saturday, November 26, 2016

Masalah Akan Menjadi Guru Bagi Kita

Berbicara guru maka mindset kita tentu akan mengingat kembali sosok-sosok bapak/ibu yang ada di sekolah. Selama 13 tahun saya menikmati proses belajar di bangku sekolah mulai TK, SD, SMP hingga SMA. Bahkan kemudian setelahnya saya mengenal dosen yang menemani selama ada di bangku kuliah. Begitulah siklus pendidikan pada umumnya. Namun entah kenapa saat dahulu saya masih cilik bahkan saya belum pernah memahami tujuan saya sekolah dalam arti yang mendalam bukan sekedar mendapatkan rapot, naik kelas, lulus UAN dapet NEM bagus. 

Yang saya tahu hanya itu, orangtua menyekolahkan agar mereka seolah membanggakan anaknya sekolah di Negeri dapet rangking 1 bahkan pernah menyabet juara umum dan gratis SPP. Lalu saya sendiri usaha jungkir balik karena diporsir dengan tujuan itu, goal saya hanya rangking, rapot ga kebakaran, masuk Negeri. Apakah saya belajar?ya saya belajar semuanya namun saya belajar teori saja. Jika kubus dengan tinggi sekian bla..bla maka luasnya adalah?nama latin tumbuhan padi adalah?bagaimana reaksi kimianya bila bla..bla. Ya sedemikian rupa saya menelan semua teori bahkan penuh drama tangisan untuk bisa menghafal semua teori dan rumus di luar kepala.

Dan saat menghadapi soal ulangan ada pula tatacaranya untuk meruntut persoalan yang diberikan guru, masih ingat dengan penjabaran seperti ini :

Soal > Ditanyakan > Jawab > Langkah-langkah penyelesaiannya > Hasil

Masih melekat dalam ingatan saya tata cara menjawab soal ini karena kali pertama saya masuk SMP kelas 1 saya mendapatkan pelajaran Fisika tak berapa lama kemudian ulangan dan hasilnya saya ga dapet nilai 10 padahal saya hafal banget rumusnya dan hitungannya pun benar sekali tanpa perlu saya menggunakan kalkulator. Saya kecewa lalu saya tanyakan pada gurunya, "Ibu hasil ulanganku mengapa tidak 10?padahal aku sudah menjawab dengan benar?" ibu guru pun tersenyum lalu menjawab "Herva meski kamu tahu rumus dan benar hasilnya tetapi cara kamu belum sempurna, kamu harus jabarin langkah-langkahnya seperti yang saya tuliskan diatas, hal ini ditujukan supaya ibu tahu sebenarnya kamu paham ga soalnya, yang ditanyakannya, langkah penyelesaiannya hingga ke hasil, semoga ulangan selanjutnya seperti itu". Jawab guru saya dengan senyumannya.
 

Thursday, November 17, 2016

Antara DLK dan Keluarga

Dalam kehidupan sehari-hari tak akan terlepas dengan namanya dilema. Hal-hal kecil pun tentu akan memberikan dilema tersendiri karenanya akan ada suatu hasil keputusan dari pilihan tersebut dan jelas ada konsekuensinya juga. Saya termasuk pribadi yang lamban dalam memutuskan karena mempunyai pertimbangan tertentu dalam memilih. Pertimbangan A-Z merupakan hal yang harus saya fikirkan karena saya tidak ingin ada salah satu pihak yang merasa tidak nyaman atas keputusan saya.

Dilema sendiri menurut KBBI adalah situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan/situasi yang sulit dan membingungkan. Dilema dalam hidup saya yang paling lumayan menyita fikiran saya adalah saat harus memilih Resign atau jadi IRT, Pengasuh vs Daycare, LDM vs Serumah. Namun akhirnya untuk ketiga masalah tersebut saya dapat mengambil satu pilihan dan menerima setiap konsekuensi yang saya pilih.

Hasilnya saya memilih menjadi ibu bekerja, memutuskan untuk menggunakan jasa pengasuh setelah akhirnya 6 bulan masuk daycare dan keputusan terakhir yang terpenting adalah saya, suami dan anak selalu bersama-sama meski bila kita berbicara kuantitas pendapatan lebih kecil dibandingkan jika suami melanglang buana namun semua itu kami putuskan secara matang. Bagi saya permasalahan ini tentu dirasakan pula oleh semua orang dan saya yakin hasil akhirnya berbeda-beda karena kita punya cara pandang yang berbeda.

Menjalani rutinitas sebagai ibu bekerja sudah mulus saya hadapi, tidak ada lagi keluh kesah capek dan sebagainya, tidak ada lagi drama pertengkaran dalam rumah karena pilihan saya sebagai ibu bekerja. Akang suami tersayang selalu mensupport saya dan inilah modal saya bisa percaya diri dalam bekerja. Tantangan saat ini yang bikin saya dilema dan berakhir galau adalah Ketika Pak Boss menugaskan saya untuk dinas luar kota. Selalu saya pengen pura-pura pingsan kalau ada penugasan keluar kota. Alasannya tentu keluarga yang saya fikirkan.



Wednesday, November 16, 2016

Bermalam di Aston Manado

Gembira rasanya bisa menginjakkan kaki ini di tanah Sulawesi, saya tak pernah menyangka bisa mendapatkan perjalanan dinas sampai ke kota ini. Saya bersyukur bisa menjejakan langkah kaki tanpa merogoh kocek sendiri yup karena semuanya dibiayai oleh kantor. Perjalanan ke Sulawesi Utara dari pulau Jawa saya tempuh dengan jalur udara.

Keberangkatan dimulai pada hari minggu yang cerah, saya memutuskan untuk memilih perjalanan ke Manado dari Bandung pasalnya penerbangan dari Jakarta schedule penerbangannya waktunya hanya di jam subuh pagi kisaran jam 3 - 5 pagi onde mande ga kebayang dari Bandung jam piro kalau saya ambil penerbangan ini. Maka dari itu saya memutuskan penerbangan melalui bandara Husein Bandung meskipun transit dulu di Balikpapan.

Dari rumah saya sudah siap sekitar pukul 06.00 wib menunggu armada taksi yang tak kunjung datang bahkan ada drama kejar jemput segala maklum Contong masih belum dikenal luas oleh sebagian armada taksi *sedihnya*. Selama perjalanan menuju bandara lagi-lagi saya dilanda kecemasan yup macet di Contong dan di Pasteur, duduk sudah gelisah bahkan saya sudah bikin drivernya juga panik karena Pak Boss sudah check in dari pukul 07.30 wib sementara penerbangan pukul 09.25 wib.

Tiba di Bandara pukul 08.15 wib saya bergegas memasuki kawasan bandara dan langsung menemukan pak boss yang sudah menunggu syantiek di ruang check in. Btw saya baru lagi ke Bandara Husein tampilannya sudah ciamik deh. Menunggu sekitar 1 jam akhirnya ada suara merdu memanggil kami yang hendak melakukan perjalanan ke Manado.

Baru kali ini saya menggunakan Lion Air dan bersyukur tidak ada drama delay seperti yang selalu jadi kisahnya itu. Tak terasa waktu sudah pukul 11.45 wib namun di jam HP menunjukan pukul 12.45 wita baru sampe di Balikpapan hanya numpang pipis pesawat melanjutkan kembali perjalanan hingga ke Bandara Sam Ratulangi pukul 15.00 wita. Disambut dengan guyuran gerimis mengundang membuat Manado terasa adem.

Tuesday, November 8, 2016

Caraku Pelihara Minat Membaca Buku

Bagi saya buku sudah menjadi kebutuhan pribadi meskipun kini saya sudah berkeluarga dan memiliki seorang putri. Akan saya bagikan kisah saya mengenai kecintaan saya kepada buku. Saya dikenalkan kali pertama budaya membaca melalui almh. mamah, selagi kecil saya sudah diberikan asupan nutrisi otak dari majalah ringan untuk anak hingga buku-buku bacaan anak. Namun seusia saya SD saya lebih menyukai cerita bergambar karenanya saya menyukai majalah Bobo.

Beranjak remaja, saya pun meninggalkan majalah bobo rasanya sudah tak pantas membaca seri cerita Bobo, Bona ataupun Nirmala. Saat itu saya sudah mengenakan seragam putih biru, ketertarikan untuk mencari dunia lain dalam membaca saya temukan di perpustakaan SMP dulu. Dan paling menyenangkan kala itu saya diangkat menjadi siswa penjaga perpustakaan yang ditunjuk langsung oleh Ibu guru pengajar bahasa Indonesia. Riang gembira mengemban amanah ini, tak hanya tahu buku-buku apa saja yang ada diperpustakaan tapi saya tahu juga siapa saja siswa tak bertanggung jawab yang menghilangkan buku perpustakaan.

Sangat disayangkan perpustakaan selalu sepi, hanya ada segelintir orang yang mampir teman-teman kelas pun lebih memilih nongkrong di kantin. Seiring berjalannya waktu saya sudah tidak lagi menjaga perpustakaan. Saya lupa alasannya ah memorinya udah mulai kehapus maklum sudah tua hehehe. Untuk minat membaca buku sendiri ketika SMP dulu saya memutuskan membaca komik yang dikenalkan teman. Namun sayangnya diperpustakaan tidak ada.

Hingga saya dikenalkan taman bacaan yang menyediakan beragam buku komik oleh teman SD saya. Letak taman bacaannya cukup jauh dari rumah namun saya dan Shanti nama teman SD saya memberanikan diri demi mengejar komik impian kami. Kali pertama mengunjungi taman bacaan tersebut kami langsung memilih komik sebagai buku yang hendak kami baca. Hingga akhirnya saya berniat meminjam sejumlah buku komik untuk di bawa pulang. Sore itu saya pulang dengan hati riang membawa setumpukan komik ke rumah. 

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design