Search

Sudah Mantapkah Resign?

Halo semuanya pasca libur lebaran, seperti yang sebelumnya saya share di Google+ (yang belum follow mangga follow) merupakan masa-masa paling indah buat RESIGN.

Kok bisa masa indah buat resign pasca lebaran? ya gimana ga indah coba? udah dapet THR lalu dapet gaji widih rezeki nomplok ga lagi nombok seperti bulan-bulan sebelumnya. Hayo ngaku? bener kan?

Ngomongin resign sendiri sudah pernah saya bahas sebelumnya mengenai alasan resign hingga status menjadi pengangguran.

Sebenarnya tulisan ini dibuat atas request pembaca blog makasi mba Ifa yang mau membaca opini saya dari yang serius sampe ngawur LOL.

Dan untuk yang lainnya yang masih mau menyempatkan mampir kesini, saya ucapkan terimakasih banyak yah.


Sebagai bagian HRD tentunya bukan hal yang aneh jika ada yang mau resign terlebih kita sudah kebal hati kalau ada yang tiada angin tiada hujan tiada petir karyawan bilang ingin resign.

Sudah terlihatkan gimana sabarnya dan kebalnya hati para HRD? hahaha ibaratnya nih kalau pacaran, orang HRD sering diputusin tapi reaksinya adalah “Aku Rapopo” so buat teman-teman yang single mangga cari deh orang-orang HRD sebagai pasangan hidup. Ngurus karyawan aja bisa apalagi ngurus dirimu *eaaaaaa 

Back to topic, resign sebenarnya adalah hak semua karyawan dan menurut pak boss tidak ada yang bisa menahan-nahan karyawan untuk pergi jika memang si karyawan ga ada masalah yah.

Emang ada yang bisa nahan? ada aja kalau atasannya sudah klik dengan karyawan tersebut hingga keinginan resign si karyawan ditunda-tunda.

Pertimbangan Resign mantap untuk resign, apa yang difikirkan sebelum resign,sebelum resign wajib fikirkan hal ini

Keputusan resign tentunya ada alasan tersendiri tidak serta merta kita keluar tanpa alasan bukan?. Saya jadi teringat dengan karyawan sebut saja “B” seorang karyawan baru lulus dari kampusnya. Malang tak dapat ditolak ia mesti satu divisi dengan rekan kerja yang menyebalkan menurut saya.

Sebelum memutuskan resign ia pernah melaporkan keadaan yang terjadi pada dirinya. Bagaimana tertekannya ia dengan rekan kerja yang menyebalkan bahkan bisa dikatakan bermuka dua. 

Membuat si “B” selalu salah dimata atasan karena rekan kerjanya yang mengarahkan si “B” berbuat salah. Berhubung saya berbeda cabang maka sudah dipastikan posisi saya hanya sebagai penghibur saja untuknya tanpa bisa berbuat apapun. 

Celakanya “B” meminta pendapat saya apa yang harus dia lakukan sementara pilihan dia adalah RESIGN. Seperti dalam sinetron mendengar kabar tersebut saya hanya bisa berkata “Apaaaa” sambil muka saya di zoom In – zoom Out saking kagetnya. Namun tebak apa yang saya sarankan padanya?

Pertimbangan Resign mantap untuk resign, apa yang difikirkan sebelum resign,sebelum resign wajib fikirkan hal ini
Pas Tahu keputusannya RESIGN
Saya hanya menjawab “ DO IT ” kalau kamu mau resign!cukup Rhoma aku ga sanggup mendengar keluhanmu lagi teriak Ani sambil nyilok *apasih LOL. Sejujurnya agak sulit memberikan solusi untuk “B” karena saya tidak melihat langsung adegan demi adegan yang dilakukan oleh rekan kerjanya.

Ga adil juga langsung menjudge rekan kerjanya tanpa mengkonfirmasi alasan rekan kerjanya berbuat seperti itu meskipun sepertinya ga perlu juga klarifikasi kepada ybs karena banyak yang mereport kelakuannya.

Dari kasus tersebut coba kita uraikan fokeus kepada si “B”. Menurut teman-teman apakah keputusannya untuk resign sudah tepat?

Jauh sebelum saya berkata “Do It” kalau mau resign saya menyarankan ybs untuk tetap stay kenapa?orang-orang semacam itu akan merasa diatas angin dengan kepergian kita. Setuju ga?akan ada kasus yang tiada henti karena ulah dia. 

Saya sempat bilang juga bahwa tempat kerja penuh dengan berbagai karakter orang dari yang suka jilat, suka iri, suka makan kek saya sampe suka menjatuhkan so kuat-kuatin lah kita hadepinnya.

Jika next kita pindah ke tempat baru lalu ketemu lagi sama rekan kerja kek begitu maka akan terulang terus begitu saja solusinya sampe Upin Ipin rambutnya gondrong kalian masih jadi kutu loncat hahaha. 

Tempat kerja alias kantor emang tempat uji nyali kata siapa uji nyali cuman pas kita ada diruangan gelap malam jumat doang? menurut saya di kantor juga sama loh kita uji nyali bedanya kalau tayangan uji nyali tiap malam jumat ketika uda keringatan kita bisa lambaikan tangan ke kamera tapi kalau dikantor mesti siap mau sampe keringetan sampe nangis segede gundu juga tetap ada prosedur yang harus dijalani hingga akhirnya RESIGN.

Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Resign


Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya, saya juga pernah mengalami DILEMA untuk resign. Kalau saya rangkum pertimbangan sebelum Resign itu yakni :

💗 Income


Jelaslah yah tak perlu ditampik, income selalu menjadi pertimbangan utama sebelum resign. Terlebih untuk kaum lelaki yang sudah berkeluarga mereka akan fikirkan baik-baik masalah ini. Namun tak jarang pula yang mengabaikan sehingga terjadi pengangguran tanpa ada kesiapan plan B-Z. 

Jika menjadi pegawai jelas hanya mengandalkan gaji yang masuk setiap bulannya berbeda jika selain menjadi pegawai memiliki sampingan lain tentunya tidak akan menjadi masalah besar. 

💗 Usia


Mencari kerja memang susah-susah gampang, adakalanya kualifikasi job oke tapi mentok di usia. Semakin tua kesempatan mendapatkan lapangan pekerjaan di perusahaan semakin membuat sesak karena biasanya usia-usia tua diperuntukkan untuk posisi tinggi sementara jika usia tua minim pengalaman akan kesulitan. 

Usia muda juga kerap kali melatar belakangi alasan resign pasalnya mereka beropini masih muda tentunya masih ingin punya pengalaman lebih banyak. 

💗 Kesempatan


Tidak semua perusahaan bisa welcome dengan career path karyawannya, satu hal yang biasanya buat dilema untuk resign adalah hilangnya kesempatan depan mata untuk promosi sementara ditempat lain belum tentu kita bisa mendapatkan kesempatan yang sama barangkali harus kembali lagi membangun karir dimulai dari NOL.

💗 Lingkungan


Biasanya lingkungan turut andil juga dalam memberikan kebimbangan untuk resign. Segalanya sudah enak didapatkan nyatanya lingkungannya sama sekali tidak support hal ini tentunya memberikan ketidaknyaman bagi kita selama kerja.

Pun sebaliknya lingkungan yang buat nyaman sudah seperti keluarga membuat berat untuk meninggalkannya. Sama seperti saya yang dulu merasakan kenyaman dengan lingkungan kerja pada akhirnya mendapatkan lingkungan kantor yang enja banjet bikin saya jadi KEPU-KEPU *agak maksa tapi masih bermakna Kerja-Pulang. 

💗 Fasilitas


Setiap perusahaan punya kebijakan masing-masing terkait fasilitas yang diberikan kepada karyawannya. Dari gadget hingga kendaraan, dari akses internet hingga telepon, dari asuransi kesehatan hingga kebugaran. 

Ini juga menjadi remahan yang memicu saya bimbang resign ga yah?meski pada akhirnya saya resign juga karena misalnya ditempat A saya dapat akses telepon tapi di tempat B dapat akses kendaraan nah yang seperti ini bikin pening kepala hahaha.

***

Dari kelima hal tersebut mungkin ada yang ingin ditambahkan lagi?tak jarang membuat saya atau teman-teman lain mengalami dilema yang akhirnya maju mundur ingin serahkan surat pengunduran diri namun saya yakin masalah akan selalu muncul yang pada akhirnya keputusan RESIGN akan muncul.

Nah buat teman-teman yang orang terdekatnya ingin resign misalnya suaminya, adiknya, kakaknya, sepupunya atau siapapun yang berada dalam lingkaran terdekat cobalah MENGERTI dan MEMAHAMI kondisi mereka. 

Maksudnya adalah kita tidak bisa menahan mereka untuk stay bekerja sementara keinginan hatinya dan keputusan akhirnya menginginkan mereka RESIGN. Tapi teteh Bella tau ga sih bayar listrik, bayar wifi, bayar sekolah, cicilan panci mau darimana kalau suami kita resign?

Jawabannya adalah percayakan sama pemilikNya, saya selalu percaya akan ada peluang lain yang Alloh atur untuk kita. Memaksakan mereka stay bekerja sama saja kita sudah membuat BOM yang sewaktu-waktu bisa meledak. 

Bekerja dari hati, bekerja dengan LOVE membuat nyaman dalam bekerja, hal itu sudah saya rasakan berbeda dengan bekerja tanpa kesenangan yang ada tiap datang manyun pulang ke rumah bête terus aja begitu sampe akhirnya meledaklah BOM yang sudah dipendam terus-menerus. 

Akang suami pernah ada di posisi tertekan, bagaimanapun solusi yang saya ajukan saat itu agar ia bertahan meleset semua karena  apa? karena yang merasakan langsung bukan saya tapi akang suami. So sebagai orang paling dekat dengannya saya hanya bisa support. 

Kejadian itu pernah saya tuangkan dalam tulisan di blog ini saat menjadi pengganguran. Teman-teman mari kita berpositif dan terus support siapapun untuk melakukan hal-hal baik. Jangan sampai tercetus keinginan buruk saking tertekannya.


Kembali ke kasus “B” seperi yang saya bahas sebelumnya saya ga bisa merasakan langsung namun ybs yang merasakannya maka itu saya bilang Resignlah semoga ini terbaik untuk dirinya.

Akhir kata sudah mantapkah kalian resign? jika sudah bulat dan matang “Resignlah jika itu membuatmu Hepi dan terbaik untukmu”. Dan jangan menyerah ketika ternyata gagal tes kerjanya. Ciptakan peluang dan cepatlah Move on 😃


Demikian yang dapat saya share kali ini, semoga bisa diambil hikmahnya. Ada yang mau sharing pengalaman?menambahkan atau menyanggah?mangga feel free to sharing ya gaes. Atau ada yang mau request tulisan lagi? hahaha silahkan semoga saya punya pengalaman yang bisa mewakilinya.

ટિપ્પણીઓ નથી

ટિપ્પણી પોસ્ટ કરો

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun