I'm writing about...

Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen

 “Ternyata mangrove bisa jadi bahan pangan juga loh?”😍

Kira-kira, kalau temans mendengar kata mangrove? Apa yang terlintas dalam benaknya? 

Selama ini, kalau saya mendengar kata mangrove, yang langsung terbayang di kepala saya adalah tanaman dari hutan di pinggir laut yang memiliki akar-akar menjulang, atau kawasan yang berfungsi menahan abrasi.

Ternyata nih, ceritanya jauh lebih luas dari yang ada di dalam bayangan saya.

Inilah salah satu hal yang membuat saya cukup tertarik ketika mengikuti webinar tentang ketahanan pangan lokal melalui penguatan kelompok perempuan dalam pemanfaatan mangrove di Kampung Friwen, Raja Ampat, pada tanggal 25 September 2026 lalu. Webinar ini diselenggarakan oleh Eco Bloggers Squad (EBS) bersama The Asia Foundation.

Menjelang Bangkok Climate Action Week 2026 di bulan Oktober, obrolan tentang solusi perubahan iklim tentu makin ramai. Tapi setelah webinar ini, saya melihat bahwa solusi tidak selalu berawal dari ruang diskusi. Kadang ia sudah lebih dulu tumbuh di kampung-kampung, dari masyarakat yang menjaga alam sambil menghidupi keluarganya.

ketika-mangrove-menjadi-sumber-kehidupan-dan-penghidupan-kampung-friwen.

Ketika mangrove bukan sekadar pohon di pinggir laut

Webinar berdurasi 2 jam ini menghadirkan narasumber Kak Steve, yang dipandu oleh host kesayangan EBS, Kak Ocha.

Bagi masyarakat Kampung Friwen, mangrove bukan hanya bagian dari ekosistem pesisir, tetapi juga ruang hidup dan sumber penghidupan. Kak Steve bercerita bahwa masyarakat Friwen dan Yenbeser mulai bergerak menjaga kawasan mangrove yang sempat terdegradasi akibat pengambilan kayu untuk pembangunan homestay dan resor. Mereka memetakan kawasan, mengenali jenis-jenis mangrove, melakukan pembibitan dan penanaman kembali, lalu mengembangkan mangrove sebagai pangan lokal.

Bahkan, dalam pengelolaan Hutan Desa Kampung Friwen, kelompok perempuan mempunyai peran yang cukup besar. Mereka terlibat dalam pengolahan produk mangrove, agroforestri, kerajinan, penjualan sayuran, hingga kegiatan perlindungan mangrove.

Di sini saya menangkap satu pelajaran:

"Menjaga lingkungan ternyata tidak selalu harus terpisah dari urusan perut dan penghidupan"

Ketika masyarakat merasakan manfaat dari alam dengan cara yang tepat, alasan untuk menjaganya pun makin kuat.

Dari Buah Mangrove Menjadi Beragam Produk Pangan

Ternyata buah mangrove dapat diolah menjadi berbagai produk, mulai dari tepung, minuman, hingga camilan. Dalam pengembangannya, buah jenis Bruguiera gymnorrhiza dapat diolah menjadi bahan baku tepung sebagai salah satu substitusi sumber karbohidrat lokal. Hayo siapa yang baru tahu ini?

Tidak berhenti di tepung saja loh, sari buah mangrove juga dapat dikembangkan menjadi minuman tradisional atau minuman kesehatan, sementara olahannya bisa dibuat menjadi kue dan keripik. Produk turunannya pun dikembangkan, menjadi produk seperti: mie dan madu yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Luar biasa bukan?

Tapi ada tantangannya. Buah mangrove tidak bisa dipanen sebanyak-banyaknya. Masyarakat harus menunggu buah jatuh secara alami, sehingga ketersediaannya bergantung pada musim dan jumlah buah yang jatuh, begitu penjelasan dari Kak Steve. Artinya, meski peluang produknya besar, produksi belum bisa dilakukan dalam skala besar dan terus-menerus.

Bagi saya, di situlah letak pelajarannya:

"Pemanfaatan mangrove bukan berarti mengambil sebanyak-banyaknya untuk mengejar produksi. Sebaliknya, masyarakat belajar menyesuaikan pemanfaatan dengan kemampuan alam menyediakan sumber dayanya".

Jadi, menjaga mangrove dan mendapatkan manfaat ekonomi ternyata bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Kuncinya adalah bagaimana masyarakat mengambil manfaatnya dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem.

Dan ketika perempuan ikut terlibat dalam pengolahan produk, pengembangan usaha, hingga kegiatan perlindungan mangrove, manfaatnya menjadi semakin luas, bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk pangan, penghidupan, dan ekonomi keluarga. 

Lalu saya berpikir, kalau di Cimahi ada apa?

Cerita Friwen membuat saya bertanya, bagaimana dengan tanaman di sekitar tempat tinggal saya sendiri?

Saya pun teringat Kampung Adat Cireundeu di Cimahi, tempat masyarakatnya mengolah singkong menjadi pangan selama lebih dari seratus tahun.

Jujur, meski tinggal di Cimahi, saya baru mengenal Cireundeu lewat pemberitaan saja. Ada rasa "Ke mana aja ya saya? Kok baru tahu sekarang" ketika menyadari praktik ketahanan pangan sebesar ini tuh begitu dekat dengan rumah saya, sementara untuk mengenal cerita mangrove di Raja Ampat, saya sampai ikut webinar. Mungkin memang begitu ya, yang jauh lebih cepat menarik perhatian, yang dekat sering terlewat.😂

Singkong di Cireundeu: dari kebun menjadi rasi

Di Cireundeu, singkong bukan sekadar umbi yang dimasak. Ia menjadi pangan utama dalam bentuk rasi atau beras singkong. Pemerintah Kota Cimahi mencatat tradisi ini berlangsung sejak sekitar 1918 dan pengolahan singkong menjadi rasi mulai dikembangkan pada 1924. Bayangkan, lebih dari 100 tahun😍. Di saat kita ramai membicarakan diversifikasi pangan dan ketahanan pangan, ada masyarakat yang sudah menjalankannya lintas generasi.

Singkong (Manihot esculenta) sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Ia berasal dari Amerika Selatan dan masuk ke Nusantara berabad-abad lalu, lalu tumbuh akrab dengan kehidupan masyarakat kita. Salah satu kelebihannya, singkong dikenal tangguh karena bisa tumbuh di lahan yang kurang subur dan tahan terhadap musim kering, sehingga cocok menjadi sumber pangan cadangan ketika padi sulit ditanam. Di sinilah ia menjadi contoh nyata tanaman berperan ganda, menjaga ketersediaan pangan sekaligus tetap bersahabat dengan kondisi alam sekitarnya. 

Prosesnya pun tidak sesederhana mengganti beras dengan singkong. Singkong dikupas, digiling, diperas, lalu dikeringkan beberapa hari hingga menjadi granul, baru kemudian diolah menjadi nasi singkong. Pemanfaatannya juga tidak berhenti di rasi saja. Pemkot Cimahi mencatat lebih dari 50 produk olahan singkong yang berkembang sebagai komoditas khas Cireundeu. 

Bagi yang penasaran, rasi dan aneka olahan singkong Cireundeu bisa ditemui langsung di Kampung Adat Cireundeu, yang ada di Kelurahan Leuwigajah, Cimahi Selatan. Saya sendiri belum pernah ke sana, dan cerita ini membuat Cireundeu masuk ke daftar tempat yang ingin saya kunjungi 😁👌.

Satu tanaman, banyak cerita, dari kebun menjadi bahan pangan, dari pangan menjadi produk, dari produk menjadi sumber ekonomi, sementara pengetahuannya terus diwariskan.

Benang merah dari Raja Ampat sampai Cimahi

Mangrove adalah ekosistem pesisir dengan fungsi ekologis yang penting, sedangkan singkong lebih dekat dengan pangan sehari-hari. Keduanya memang berbeda, tetapi ada satu benang merah yang saya bawa pulang dari webinar ini:

Alam bukan hanya untuk diambil manfaatnya, tetapi juga untuk dirawat agar manfaatnya terus terasa.

Di Friwen, pemanfaatan mangrove berjalan beriringan dengan restorasi dan perlindungan kawasan, dengan kelompok perempuan yang ikut dilibatkan. Di Cireundeu, singkong menjadi praktik ketahanan pangan yang diwariskan lintas generasi. 

Jangan-jangan nih, di sekitar kita masih banyak tumbuhan lain yang punya cerita serupa, bukan hanya "bisa dimakan", tetapi juga berfungsi bagi kehidupan, lingkungan, budaya, dan ekonomi.

Ketahanan pangan bisa dimulai dari yang dekat

Selama ini, ketika mendengar ketahanan pangan, saya membayangkan hal besar, yaitu produksi nasional, lahan pertanian, distribusi, dan harga. Setelah webinar ini, saya sadar ketahanan pangan juga bisa dimulai dari hal yang jauh lebih sederhana:

🌳Apa yang tumbuh di sekitar kita?
📒Pengetahuan apa yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya?
🌱Apakah kita masih mau mengenal, mengolah, dan menjaganya?

Karena pada akhirnya, pangan lokal bukan hanya soal apa yang ada di atas piring. Di dalamnya ada alam, budaya, pengetahuan, perempuan, ekonomi, dan masa depan.

Mangrove bukan hanya pohon di tepi laut, tetapi ia menjadi bagian dari kehidupan. Seperti singkong di Cireundeu, dari satu umbi bisa lahir pangan, tradisi, kemandirian, dan cerita panjang sebuah masyarakat.

Kalau di daerahmu, tumbuhan atau pangan lokal apa yang ternyata punya cerita lebih dari sekadar makanan? Yuk, cerita di kolom komentar!

***
Demikian yang bisa saya bagikan kali ini. Semoga bisa bermanfaat yah.

Referensi:
Materi webinar Membangun Ketahanan Pangan Lokal melalui Penguatan Kelompok Perempuan dalam Pemanfaatan Mangrove di Kawasan Hutan Desa Kampung Friwen - The Asia Foundation & PKPRA.

PPID Kota Cimahi, Pangan Abadi Warga Kampung Adat Cireundeu yang Tetap Membumi (2025). https://ppid.cimahikota.go.id/artikel/dinas-komunikasi-dan-informatika-pangan-abadi-warga-kampung-adat-cireundeu-yang-tetap-membumi. diakses 29 September 2026

Pemerintah Kota Cimahi, Mengenal Kampung Adat Cireundeu.https://cimahikota.go.id/index.php/artikel/detail/1139-mengenal-kampung. diakses 29 September 2026

Pemerintah Kota Cimahi, Pemkot Cimahi Upayakan Perjelas Status Lahan Kampung Adat Cireundeu (2024). https://cimahikota.go.id/berita/detail/82824-pemkot-cimahi-upayakan-perjelas-status-lahan-kampung-adat-cireundeu. diakses 29 September 2026