I'm writing about...

Pengalaman Nyeri Kepala Selama 2 Minggu karena Infeksi Bakteri

Apa kabar, temans? Semoga yang mampir dan membaca tulisan ini dalam kondisi sehat dan bahagia selalu ya. Aamiin..

Qadarullah Wa Maa Syaa a Fa'ala, 2 minggu ke belakang pada bulan Agustus ini saya mengalami sakit kepala yang luar biasa. 

Bukan sakit kepala yang biasa saya rasakan, karena ini tuh sakitnya nyeri banget. Sebelum saya ke dokter, awalnya saya minum obat sakit kepala yang biasa saya konsumsi jika sakit. Namun, sudah 2 strip obat ekstra dengan kemasan warna merah itu saya konsumsi, sakit tak kunjung reda, bahkan membuat leher saya kaku.

Astaghfirullah... Setiap bangun tidur dan berjalan, rasanya seperti ditusuk-tusuk sampai saya jenggut-jenggut atau pukul-pukul kepala saking nyerinya.

Saya kira ini sakit kepala biasa, maka saya tetap memaksakan diri untuk beraktivitas seperti biasa untuk bekerja. Namun, sakitnya tak kunjung reda. Akhirnya saya memutuskan untuk ke dokter saja.

Saya secara pribadi juga takut karena sudah mengonsumsi obat pereda nyeri dan takutnya ketergantungan terus, Sebaiknya saya periksakan ke dokter.

Pengalaman Nyeri Kepala Selama 2 Minggu karena Infeksi Bakteri

Periksa Sakit Kepala ke Dokter Umum BPJS 

Setelah banyak saran untuk periksa, saya izin setengah hari ke klinik Faskes 1. Hari itu Rabu sore, saya sudah tiba di klinik Dokter Nur (salah satu klinik di Cimahi yang kini berkembang pesat). 

Sebelum ke loket pendaftaran, di jalan saya sudah mendaftar di JKN karena memang bagi peserta BPJS jika ingin periksa di sana, wajib mendaftar melalui aplikasi JKN. 

Alhamdulilah sore itu, antrian tidak mengular, klinik tergolong sepi biasanya kalau pagi dan menjelang magrib wow bludak sekali antriannya.

Tidak menunggu lama setelah daftar ulang, nama saya dipanggil untuk cek tensi, suhu, serta konfirmasi keluhan yang saya rasakan.

Awalnya saya berpikir bahwa sakit kepala begini pasti tensi saya rendah. Namun ternyata saya salah, justru tensi normal pun, dengan suhu tubuh juga normal. Tapi kenapa sakit kepala ini tidak tertahankan?

Baiklah, daripada saya menerka-nerka, baiknya nanti mendengarkan penjelasan dan anamnesis dari dokter saja perihal sakit kepala ini.

Nama saya dipanggil kembali untuk kedua kalinya, kali ini oleh suster di ruang periksa. Saya dipersilakan masuk, dan setelah duduk, saya menceritakan keluhan yang saya alami.

FYI, dokternya perempuan yah ges, jadi saya leluasa ketika dokternya meraba bagian kepala serta memeriksa bagian perut dan dada.

Selesai pemeriksaan, dokter mengatakan perlu diobservasi sehingga hanya diberikan obat antinyeri dan vitamin. Yang dokter sarankan jika tidak kunjung reda, maka saya diminta untuk cek kolesterol.

Apa? Cek kolesterol? Sekurus ini? Masih belum menyangka sih dengan saran tersebut. Namun, keyakinan saya bahwa saya akan segera sembuh dengan obat yang diresepkan.

Saya pun bergegas pulang ke rumah karena tidak sabar untuk mengonsumsi obatnya. 

Kembali Periksa Kedua & Ketiga Kalinya ke Dokter Umum BPJS

Tidak sesuai dengan keyakinan, ternyata setelah 3 hari mengonsumsi obat sampai ludes, sakit kepala ini tidak kunjung reda.

Maka pada hari Sabtu, saya kembali ke Klinik Dokter Nur sepulangnya saya dari acara sekolah Neyna.

Sayangnya, pada hari Sabtu itu, saya tidak mendapat dokter yang sama. Maka diulangi kembali saya ceritakan semua, keluhan, dll.

Pada pemeriksaan ke-2 ini, dokternya meminta saya untuk menendang, memegang tangannya, hingga menarik tangannya. Mungkin beda cara periksa ya!

Dan saya dapat resep obat yang berbeda lagi *unch sekali* dengan diagnosis yang berbeda pula. 

Apakah saya sembuh? TEADUCK...

Sakit kepala saya semakin parah, hingga saya tidak bisa tidur, bahkan leher makin kaku dan membuat saya sulit bicara. 

Saya kehilangan "power" untuk berbicara lantang 😂😂. Rasanya untuk ngomong sulit, bawaannya lemas saking nyeurinya. 

Pada akhirnya saya memutuskan untuk kembali berobat. Ini periksa yang ke-3 kalinya. Qadarullah, dapat dokter yang sama sehingga tidak perlu menjelaskan dari awal.

Pemeriksaan ke-3, sama dengan sebelumnya, tetap diminta menendang, menarik. Bedanya sebelum diresepkan obat, dokter meminta saya untuk mengulangi perkataannya yaitu:

"Ular melingkar di atas pagar"


Sebagai pasien yang mengeluhkan sakit kepala lalu diminta seperti itu, saya tetap menuruti sampai akhirnya dokter bilang begini: "Karena sudah 1 minggu lebih, maka saya akan rujuk ya ke dokter saraf, Silakan pilih rumah sakit mana?"

Sejujurnya, saya berat memilihnya, namun karena arahan dokternya demikian, ya mau tidak mau saya turuti dan memilih salah satu rumah sakit di Cimahi.

Tapi..tapi...dokternya bilang kembali, "Sebentar ditanyakan ke pengawas dulu, silakan tunggu dulu ya nanti dipanggil lagi".

Saya makin gelisah dibuatnya, Jangan-jangan saya sakit parah 😭😭.

Lama menanti di ruang tunggu, akhirnya nama saya dipanggil kembali. Dan ternyata saya ga jadi dirujuk ke dokter saraf, tapi diberikan dulu obat dengan dosis (650 mg), padahal saya sudah cerita jika saya sebelumnya mengonsumsi obat dengan kandungan 500 mg langsung bereaksi, di mana kaki menjadi merah dan bengkak.

Ya sudah, namanya ikhtiar siapa tahu cocok, sepulang dari klinik saya kembali ke kantor. Pas banget makan siang, saya bergegas minum obat. 

Reaksi awal berupa gatal-gatal di tangan, lalu gatal di paha, dan menjalar ke kaki hingga kedua tangan menjadi merah. Saya pun diberitahu oleh rekan kerja saya jika mukanya BENTOL-BENTOL MERAH.

Fix saya alergi obat ini 😭, Saya ga berani minum obat lagi. Nyeri kepalanya pun hilang sekejap efek obat tidak ada, lagi-lagi saya tidak bisa tidur.

Periksa lagi ke dokter umum non-BPJS

Peristiwa alergi tersebut membuat parah, hari itu hari rabu tepat 1 minggu sudah saya periksa pertama kali namun nyeri tak kunjung reda.

Saat masuk kantor, karena bicara saya sudah melemah, atasan saya bilang "Bu, pulang saja sekarang segera periksa kembali".

Rekan kerja saya merekomendasikan klinik yang tak jauh dari kantor namanya Klinik Pratama Sumber Sehat, karena waktu ia sakit cacar, berobat ke sana langsung rontok cacarnya dan tak berbekas.

Maka tepat jam 10.00 wib saya sudah ada di klinik tersebut, Kliniknya kosong, terbilang hanya saya sebagai pasien yang ada di klinik. 

Beres pendaftaran, lalu seperti biasa periksa tensi dan konfirmasi keluhan sakit. Tak lama, saya diperiksa oleh dokternya. 

Dokternya sangat detail dalam memeriksa, sehingga saya harus membuka jilbab. Lalu dokter juga memberikan contoh gerakan yang bisa saya lakukan di rumah.

Obat yang diberikan dokternya buanyak sekali, untuk dokter umum non-BPJS saya harus keluarkan Rp 200.000,- tergolong murah bukan?

Bagaimana kondisi saya? Ternyata TIDAK kunjung baikan juga wkwkwk. Saya sampai di titik lelah sudah 4x berobat, namun tak kunjung sembuh jua. 

Dikarenakan saya sudah lama tidak masuk kerja, saya memutuskan untuk kembali bekerja. Namun, ternyata saya masih pucat dan terlalu lemah untuk aktivitas di kantor.

Beruntung, atasan saya akhirnya merekomendasikan ke dokter penyakit dalam di klinik dokter Nur juga, namun non-BPJS. 

Rencana saya mau ke dokter tersebut pagi hari, Ternyata prakteknya sore jam 16.00 wib. Selepas ashar, saya langsung menuju ke sana.

Alhamdulillah, dapat antrean ke-2, namun nyatanya saya dipanggil pertama. Adalah dr. Andreas, maka sebelum saya berobat, saya juga izin dulu ke akang suami untuk ke dokter laki-laki sebagai ikhtiar kesembuhan saya. 

Melihat riwayat keluhan, dokter akhirnya memberikan 2 kesimpulan jika sakit saya karena infeksi bakteri atau dari saraf. Maka, observasi selama 5 hari, jika tidak kunjung sembuh, saya diminta untuk pemeriksaan lab dan dirujuk ke dokter saraf.

Namun keyakinan dokter jika hanya dari infeksi bakteri saja dan diberikan lagi-lagi obat yang banyak mulai anti nyeri, obat tidur, obat kram hingga vitamin. Total biayanya hingga 450k-an, sudah termasuk cek kolesterol. Ini sudah termasuk biaya konsul dan obat. Jauh lebih mahal karena namanya juga dokter ahli. 

Bagaimana hasilnya setelah berobat ke dokter spesialis penyakit dalam? Alhamdulillah, dalam 3 hari sakitnya sudah hilang, Saya bisa tidur nyenyak tanpa tersiksa rasa sakit.
.
 

Obat nyeri kepalanya manjur banget. Kata dokter, ini adalah obat yang saya pilihkan PALING BAGUS, Namanya Lacosib Etoricoxib-90 😍, Terima kasih ya, dok, Sakitnya benar-benar hilang.

***
Demikian, teman-teman, yang bisa saya bagikan. Hati-hati ya, entah bakteri dari mana yang bisa menyebabkan saya nyeri kepala hebat.

Saran saya, coba terus untuk berikhtiar opsi ke dokter lain jika dirasa belum sembuh terus, karena kesembuhan saya akhirnya pada dokter yang ke-4 xixixi.

Doakan saya sehat selalu ya.