"Belum makan kalau belum nasi?”
Ada yang begini juga? Saya sih iya. 😄 Mau sarapan roti, makan mi, atau ngemil gorengan beberapa potong, tetap saja ada suara kecil di kepala yang bilang, “Itu mah belum makan.”
Namanya juga orang Indonesia. Nasi itu sudah seperti anggota keluarga. Ada terus di rumah dan rasanya aneh kalau sehari saja tidak ketemu.
Tapi beberapa waktu lalu saya justru diajak berpikir tentang satu pertanyaan sederhana, Bagaimana kalau makanan pokok kita tidak selalu harus nasi?
Bukan karena sedang diet loh. Bukan pula karena harga beras sedang naik. Tetapi ternyata, sejak dulu Indonesia punya banyak sekali pilihan pangan.
Pertanyaan itu muncul setelah saya mengikuti webinar “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan” dalam rangkaian kegiatan Eco Blogger Squad x Pantau Gambut.
Dan saya senang sekali bisa ikut acara ini pada Jumat, 16 Oktober 2026. Bukan cuma karena dapat materi baru, tetapi karena pembahasannya membuat saya melihat sesuatu yang selama ini terasa jauh, karhutla dan gambut, ternyata ujung-ujungnya bisa sampai ke meja makan kita, loh.
Webinar ini menghadirkan dua narasumber dengan sudut pandang yang saling melengkapi, ada Mas Yoga Aprillianno dari Pantau Gambut yang membahas gambut dan karhutla, serta Mas Ahmad Arif yang membawa saya masuk ke cerita tentang pangan, biodiversitas, dan kedaulatan pangan.
Dari sinilah saya kemudian kembali mengingat satu cerita yang sebenarnya pernah saya tulis sebelumnya, Cireundeu. Kampung adat di Cimahi yang masyarakatnya sudah puluhan tahun menjadikan singkong sebagai makanan pokok.
Baca lagi yang ini: Rasi di Cireundeu Cimahi
Namanya Rasi, beras singkong. Dan ternyata, semakin saya pelajari, cerita tentang rasi ini bukan sekadar cerita tentang singkong. Ada lingkungan, ada hutan, ada budaya, ada pengetahuan yang diwariskan, ada ketahanan pangan. Dan ada pelajaran menarik tentang bagaimana kita seharusnya melihat makanan.

Gambut Bukan Sekadar Tanah Kosong
Webinar dibuka oleh Mbak Dessy, lalu diperkenalkan narasumber pertama, yaitu Kak Yoga Aprillianno dari Pantau Gambut. Mengawali sharing dengan judul yang menohok, Peatland Is Not Wasteland. Gambut bukan lahan kosong.
Saya suka sekali cara pandang ini. Sebab kalau mendengar kata “lahan gambut”, mungkin sebagian dari kita langsung membayangkan tanah basah, semak-semak, atau lahan yang tidak terlalu produktif. Padahal ternyata jauh lebih penting dari itu. Indonesia memiliki sekitar 24,2 juta hektare ekosistem gambut tropis yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Gambut sendiri terbentuk dari tumpukan material organik selama ribuan tahun dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Yang membuat saya semakin mudah membayangkannya adalah ketika gambut diibaratkan sebagai spons raksasa.
Ia bisa menyerap air hingga sekitar 13 kali berat keringnya. Coba deh temans bayangkan spons dapur di rumah. Kalau sedang penuh air, dia basah dan berat. Tapi kalau diperas sampai kering, kondisinya tentu berbeda. Kurang lebih begitu gambaran tentang gambut.
Ketika tetap basah, ia membantu menjaga ekosistem. Tetapi ketika dikeringkan, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Dan ternyata dari sekitar 24,2 juta hektare gambut tersebut, sekitar 16 juta hektare tergolong rentan terbakar.
Yang membuat persoalannya semakin rumit adalah bahwa kebakaran gambut tidak selalu seperti kebakaran hutan yang kita lihat di televisi. Api bisa membara di bawah permukaan. Kelihatannya sudah padam. Eh, beberapa waktu kemudian asap muncul lagi. Jadi ternyata gambut itu bukan sekadar “tanah yang kebetulan basah”. Ada sistem kehidupan yang cukup kompleks di sana.
Kalau Gambut Rusak, Kok Bisa Sampai ke Piring Kita?
Nah, ini bagian yang membuat saya mulai menghubungkan titik-titiknya. Awalnya saya juga berpikir:
“Gambut terbakar… lalu hubungannya dengan menu makanan saya apa?”😐
Ternyata ada rantainya. Di bawah gambut terdapat mineral yang mengandung pirit atau FeS₂. Selama tetap terendam air, kondisinya relatif aman. Justru masalah muncul ketika gambut dikeringkan. Pirit terpapar oksigen dan dapat membentuk asam sulfat.
Akibatnya? Tanah menjadi sangat asam. Dalam kondisi tertentu, pH bahkan bisa turun sampai sekitar 2–3. Air dengan tingkat keasaman tinggi kemudian dapat mengalir ke kanal dan sungai. Kalau kondisi sungai terganggu, kehidupan di dalamnya ikut terdampak. Ikan terganggu. Tanaman air terganggu. Ekosistem terganggu.
Dan kalau sungai merupakan bagian dari sumber penghidupan masyarakat, maka sumber pangan dan mata pencaharian mereka pun bisa ikut terdampak.
Jadi ternyata ketika gambut rusak, yang hilang bukan cuma pohon. Ada air, ikan, tanaman, habitat, mata pencaharian, dan sumber pangan masyarakat yang ikut berada dalam rantai dampaknya. Di sinilah saya mulai benar-benar memahami kenapa webinar ini diberi judul:
“Dari Gambut ke Meja Makan.”
Ternyata memang ada perjalanan panjang dari kondisi sebuah ekosistem sampai apa yang akhirnya tersaji di piring.

Angka-Angkanya Bikin Saya Bengong
Dalam webinar juga dibahas kondisi karhutla tahun ini. Sekitar 243 ribu hektare lahan terbakar berdasarkan data yang dipaparkan.
Kemudian, berdasarkan data hingga 12 Oktober 2026, luas karhutla di enam provinsi prioritas Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau mencapai sekitar 129.899,59 hektare.
Ya ampun, membayangkan 129.899,59 hektare. Otak saya ga nyampe juga membayangkan seluas ini. Bayangkan hutan, lahan pertanian, kebun, sungai, habitat satwa, rumah. Baru terasa bahwa angka sebesar itu sebenarnya berbicara tentang banyak sekali kehidupan.
Dalam materi juga disebutkan bahwa titik panas meningkat di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, misalnya, titik panas meningkat dari 5.041 menjadi 7.703. Lalu Kalimantan Barat dari 2.165 menjadi 3.384. Kemudian, Kalimantan Selatan dari 899 menjadi 1.354. Dan sekitar 5,4 juta warga di tujuh provinsi juga disebut terdampak langsung oleh asap.
Di Palangka Raya, sejak status siaga ditetapkan pada 1 Juni 2026 hingga awal September, tercatat 422 kejadian yang menghanguskan sekitar 484,46 hektare lahan.
Angka memang hanya angka. Tetapi di balik angka itu ada manusia. Ada anak-anak yang tetap harus sekolah. Ada orang yang tetap harus bekerja. Ada keluarga yang harus menghirup asap. Ada petani yang mungkin kehilangan lahan. Dan ada sumber pangan yang bisa ikut terdampak.
Ternyata El Nino Bukan Satu-satunya Masalah
Selama ini kalau mendengar karhutla, saya mungkin seperti kebanyakan orang. Pikiran langsung: El Niño. Musim kering. Panas. Padahal ternyata ceritanya tidak sesederhana itu.
Dalam materi Pantau Gambut dijelaskan bahwa El Niño bukan satu-satunya penyebab. Kondisi kering memang dapat memperparah kebakaran, tetapi gambut yang sudah dikeringkan menjadi jauh lebih mudah terbakar.
Jadi, persoalannya bukan sekadar: “Ya sudah, semoga hujan.” Ada tata kelola lahan. Ada tata air. Ada cara kita memperlakukan ekosistem. Dan dari sini pembahasannya kemudian bergeser ke sesuatu yang lebih dekat dengan kita sehari-hari. Yaitu Pangan.
Ternyata persoalan lingkungan bukan cuma soal pohon. Tetapi juga soal apa yang kita makan.

Piring Kita Kok Makin Seragam?
Di sesi berikutnya, Mas Ahmad Arif membawa saya masuk ke topik keragaman biokultural dan kedaulatan pangan. Dan di sinilah saya mulai melihat isi piring saya sendiri. 😄
Ada satu fakta yang cukup bikin saya mikir. Sekitar 70 persen kalori masyarakat Indonesia berasal dari beras dan gandum. Padahal kalau melihat sejarah, sumber pangan kita dulu jauh lebih beragam.
Pada 1954, misalnya, beras menyumbang sekitar 53,5 persen, singkong sekitar 22 persen, jagung hampir 19 persen, dan umbi-umbian lainnya sekitar 5 persen. Kemudian pada 2017, komposisinya semakin mengerucut. Beras sekitar 74,6 persen dan gandum 25,4 persen.
Saya langsung membayangkan dapur sendiri. Beras? Ada. Tepung terigu? Ada. Mi? Jelas ada. Singkong? Ada juga. Tapi biasanya berubah menjadi gorengan. 😂 Padahal Indonesia punya banyak sekali sumber pangan lain. Sagu, jagung, ubi, singkong, gembili, keladi, dan masih banyak lagi.
Jangan-jangan selama ini bukan Indonesia yang kekurangan pilihan. Akan tetapi, kita saja yang terlalu lama memilih pilihan yang sama.
Ketika Pangan Terlalu Bergantung pada Sedikit Pilihan
Masalahnya, ketergantungan pada sedikit jenis pangan juga membuat sistem pangan lebih rentan. Indonesia sendiri mengimpor sekitar 11 juta ton gandum per tahun. Sementara perubahan iklim juga bisa memengaruhi produksi pangan.
Dalam materi webinar disebutkan bahwa kenaikan suhu global 1°C diperkirakan dapat menurunkan produksi padi sekitar 3,2 persen dan gandum sekitar 6 persen. Kalau iklim berubah, sementara sumber pangan kita hanya bergantung pada beberapa jenis, tentu risikonya menjadi lebih besar.
Maka, keragaman pangan bukan sekadar soal “Biar menunya nggak itu-itu saja.” Tapi lebih jauh dari itu. Keragaman pangan adalah salah satu cara kita membangun ketahanan. Dan ternyata Indonesia punya modalnya. Tinggal kita mau kenal lagi atau tidak.
Indonesia Tidak Kehabisan Pilihan
Salah satu hal yang saya suka dari pembahasan Mas Ahmad Arif adalah cara melihat pangan lokal. Pangan lokal tidak harus berarti tanaman yang sejak awal berasal dari Indonesia.
Yang penting adalah bagaimana pangan tersebut hidup bersama masyarakat, sesuai dengan potensi sumber daya, budaya, dan kearifan lokalnya. Contohnya? Singkong.
Singkong memang bukan tanaman asli Indonesia. Tetapi di Cireundeu Cimahi, singkong sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bahkan menjadi makanan pokok. Dan di sinilah saya kembali ke cerita rasi.
Dari Singkong Menjadi “Nasi”
Saya sendiri jujur belum pernah datang langsung ke Kampung Adat Cireundeu padahal dekat banget dari rumah. Jadi saya tidak mau sok tahu bilang sudah makan rasi langsung di sana. 😄
Tulisan ini lebih merupakan catatan belajar saya setelah mengikuti webinar dan membaca kembali berbagai informasi tentang Cireundeu. Kampung Adat Cireundeu berada di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan.
Masyarakatnya dikenal mempertahankan tradisi leluhur Sunda dan sudah puluhan tahun menjadikan singkong sebagai makanan pokok. Namanya Rasi yang merupakan singkatan dari beras singkong. Menariknya, rasi memang dibuat dalam bentuk menyerupai nasi. Jadi, bukan sekadar singkong rebus yang dimakan sebagai pengganti nasi.
Akan tetapi, ada prosesnya. Singkong diparut dan diperas untuk diambil acinya. Ampas atau onggok yang tersisa kemudian dikeringkan, ditumbuk atau digiling hingga menjadi butiran yang dapat dikukus seperti nasi. Hasilnya berwarna putih agak kekuningan, dengan tekstur cukup pulen dan rasa yang relatif netral.
Sehingga bisa masuk jika dipadukan dengan lauk kesukaan keluarga. Pake Ikan asin? Bisa. pake Pepes? Bisa. pake Sambal? Kalau saya sih wajib. 😂
Yang menarik, bagian singkong juga dimanfaatkan. Aci bisa diolah menjadi berbagai makanan, sementara ampasnya menjadi bahan utama rasi. Ada pula olahan seperti cimplo dan cireng.
Saya jadi berpikir, konsep memanfaatkan bahan pangan secara maksimal ini sebenarnya bukan tren baru. Masyarakat dulu sudah melakukannya. Kita saja yang sekarang baru sibuk memberi nama keren zero waste. 😄
Nah. Ini pertanyaan yang menurut saya paling realistis. Sebagai ibu, saya bisa saja semangat bicara tentang biodiversitas, ketahanan pangan, perubahan iklim, gambut, dan segala macam.
Tapi begitu makanan sampai di meja, “Bun, ini nasi apa?” Waduh. Diskusi iklim bisa langsung bubar. 😂 Makanya saya tidak membayangkan keluarga harus tiba-tiba meninggalkan nasi. Menurut saya, bisa dimulai pelan-pelan. Misalnya, mengenalkan rasi dengan lauk yang sudah familiar seperti yang ada dalam bayangan menu saya:
- Rasi + ikan asin, sambal, dan lalapan. Kalau ini, rasanya lidah orang Sunda cukup aman. Rasi-nya pemain baru. Lauknya pemain lama.
- Rasi + pepes ikan. Bumbu pepes yang kuat bisa membantu mengenalkan rasa dan tekstur rasi.
- Rasi + sayur asem, segar, berkuah, dan familiar.
- Campur nasi dan rasi, dan menurut saya ini jurus paling aman.
Jadi tidak harus langsung 100 persen. Campur sedikit dulu. Kalau keluarga cocok, porsinya bisa ditambah.

Ternyata Setiap Daerah Punya “Nasi” Sendiri
Setelah mengikuti webinar ini, saya jadi melihat makanan Indonesia dengan kacamata yang sedikit berbeda. Di Papua dan Maluku ada sagu. Di Jawa ada singkong, ubi, uwi, gembili, dan keladi. Di Nusa Tenggara ada jagung bose.
Setiap daerah punya cerita pangannya sendiri. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari pengganti nasi, padahal Indonesia sebenarnya sudah memiliki banyak pilihan sejak dulu.
Tinggal kita mau mengenalnya kembali. Dan yang perlu dikenali bukan hanya makanannya. Tapi juga ada orang-orang yang menjaga benihnya. Ada petani yang menanamnya. Ada keluarga yang mengolahnya. Ada masyarakat yang mewariskan pengetahuannya.
Karena ketika pangan lokal hilang, yang hilang bukan hanya satu menu. Bisa jadi ikut hilang benih, resep, pengetahuan, budaya, dan identitas masyarakat.
Pangan Ternyata Tidak Bisa Dipisahkan dari Alam
Di sinilah, menurut saya, dua materi dalam webinar ini benar-benar bertemu. Materi Mas Yoga mengajak kita melihat gambut sebagai ekosistem yang harus dijaga. Sementara Mas Arif mengajak kita melihat pangan sebagai bagian dari keragaman hayati dan budaya.
Dua hal yang sekilas berbeda. Tapi ternyata nyambung. Alam yang sehat memberi ruang bagi kehidupan yang beragam. Dan kehidupan yang beragam memberi kita pilihan pangan yang lebih beragam. Cireundeu menunjukkan bagaimana pangan, budaya, dan lingkungan bisa berjalan bersama.
Sementara cerita gambut mengingatkan kita bahwa ketika ekosistem rusak, dampaknya bisa merambat ke air, tanaman, hewan, dan sumber pangan. Jadi, benang merahnya bagi saya sederhana: kalau kita ingin punya pangan yang beragam, kita juga harus menjaga alam yang menyediakan keberagaman itu.
Hutan bukan cuma kayu. Gambut bukan sekadar lahan. Sungai bukan hanya aliran air. Dan singkong bukan cuma bahan gorengan. 😄 Semuanya terhubung.
Berani Coba Sehari Tanpa Nasi?
Ada satu hitungan dari materi Mas Arif yang membuat saya kembali melihat sepiring nasi dengan cara berbeda. Konsumsi beras Indonesia mencapai sekitar 64.800 ton per hari.
Kemudian muncul pertanyaan:
Bagaimana kalau satu hari dalam seminggu kita tidak makan nasi?
Berdasarkan perhitungan yang disampaikan dalam materi, jika satu hari dalam seminggu kita tidak mengonsumsi nasi, potensi penghematan beras bisa mencapai sekitar 3,37 juta ton dalam setahun. Ini tentu bukan ajakan untuk memusuhi nasi. Saya sendiri juga belum siap. 😂
Nasi tetap bagian dari budaya makan kita. Pesannya menurut saya jauh lebih sederhana: beri ruang untuk pangan lain. Tidak perlu ekstrem. Tapi berjeda satu hari, satu kali makan, satu menu baru.
Kalau tinggal di Jawa Barat, mungkin singkong bisa dicoba. Kalau di Papua atau Maluku, mungkin sagu lebih dekat. Di daerah lain bisa jadi jagung, ubi, atau pangan lokal lainnya. Tidak harus seragam. Justru keberagaman itulah kekuatannya.
Jadi, Apa Hubungan Gambut dengan Rasi?
Sekarang pertanyaan di awal tulisan ini mulai terjawab. Apa hubungannya kebakaran gambut di Kalimantan dengan rasi di Cireundeu? Ternyata ada. Dan cukup dekat loh Temans!
Gambut yang sehat mendukung ekosistem. Ekosistem yang sehat menjaga keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati menyediakan berbagai sumber pangan. Masyarakat yang punya akses terhadap lahan, benih, dan pengetahuan lokal memiliki lebih banyak pilihan pangan.
Dan semakin beragam pangan yang kita konsumsi, semakin kecil ketergantungan kita pada satu atau dua sumber pangan saja. Jadi perjalanan dari gambut ke meja makan memang nyata. Apa yang terjadi pada alam hari ini bisa menentukan apa yang tersedia di piring kita di masa depan.
Sepiring Rasi dan Pelajaran yang Saya Bawa Pulang
Saya senang bisa mengikuti webinar Eco Blogger Squad x Pantau Gambut ini. Bukan cuma karena mendapat bahan tulisan (maklum ya jarang update). 😄 Tetapi karena saya pulang dengan cara pandang yang sedikit berbeda.
Sebelumnya, kalau mendengar berita karhutla, mungkin yang langsung terbayang adalah api dan asap. Sekarang saya mencoba melihat lebih jauh. Bagaimana dengan ikan? Bagaimana dengan tanaman? Bagaimana dengan petani? Bagaimana dengan benih? Bagaimana dengan sumber pangan? Bagaimana dengan budaya masyarakat yang bergantung pada alam di sekitarnya?
Dan sebaliknya, apa yang bisa kita pelajari dari masyarakat yang masih mempertahankan pangan lokal?Cireundeu memberi saya salah satu jawabannya. Kedaulatan pangan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Bisa dimulai dengan mengenal kembali apa yang tumbuh di sekitar kita. Bisa dimulai dengan mencoba makanan yang selama ini kita anggap “bukan nasi”. Bisa dimulai dengan memberi kesempatan kepada singkong, ubi, jagung, sagu, dan pangan lokal lainnya untuk kembali hadir di meja makan. Karena ternyata apa yang kita makan bukan cuma soal kenyang.
Di balik satu piring makanan ada tanah, air, hutan, petani, benih, budaya, dan lingkungan yang semuanya saling terhubung. Dan mungkin mulai sekarang, sesekali kita bisa bertanya, “Hari ini makan apa selain nasi?”
Siapa tahu jawabannya bukan cuma membuat perut kenyang. Tapi juga membuat kita semakin kenal dengan kekayaan pangan negeri sendiri. Kalau di daerah temans ada pangan lokal yang bisa menjadi pendamping atau pengganti nasi, apa itu?
****

Demikian yang bisa bagikan kali ini. Yuk, bisa sharing di kolom komentar. Siapa tahu pangan dari daerah kita justru menjadi inspirasi menu keluarga minggu depan. ❤️
- Tulisan ini merupakan catatan personal setelah mengikuti webinar “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan” dalam rangkaian kegiatan Eco Bloggers Squad x Pantau Gambut.
- Materi yang menjadi rujukan utama adalah paparan “Peatland Is Not Wasteland” oleh Yoga Aprillianno dari Pantau Gambut dan “Keragaman Biokultural, Kunci Kedaulatan Pangan dan Iklim” oleh Ahmad Arif.
- Pemerintah Kota Cimahi, Mengenal Kampung Adat Cireundeu.https://cimahikota.go.id/index.php/artikel/detail/1139-mengenal-kampung. diakses 23 Oktober 2026
- Pemerintah Kota Cimahi, Pemkot Cimahi Upayakan Perjelas Status Lahan Kampung Adat Cireundeu (2024). https://cimahikota.go.id/berita/detail/82824-pemkot-cimahi-upayakan-perjelas-status-lahan-kampung-adat-cireundeu. diakses 23 Oktober 2026





