I'm writing about...

Joykiller atau Haters? Jangan-jangan Aku yang Minder!

Jadi beberapa waktu lalu, saat sedang scroll asik di media sosial, saya nemu threads Dr. Tirta yang saya kenal tuh kalau di podcast ia bercerita dengan nada-nada tinggi tapi lucu kok dia berhasil branding diri jadi Dokter dengan gaya rambut, medoknya bahasa Jawa plus pastinya emosi meletup saat bernarasi panjang.

Siapa sih ga kenal dengan beliau? oke tapi sekarang saya ga mau bahas tentang personal branding-nya ya tapi lebih ke utas yang bikin saya mikir oh iya yah jangan-jangan saya alias diri ini yang jahat ke orang lain.

Wait...wait...langsung ke jahat aje? oke inti dalam utas threads-nya adalah Dr. Tirta menuliskan jika ia telah membeli mobil incarannya lalu temannya komen "harga bekasnya jatuh tuh".

See....saya sudah langsung membayangkan perasaannya Dr. Tirta mendengar langsung komenan tersebut. Apalagi mobil yang ia beli adalah incaran sejak dulu. Kerasa banget sama kita saat punya keinginan lalu Allah izinkan untuk kabul betapa bahagianya bukan?

Tapi..tapi..kebahagian itu bisa sirna seketika dengan nyinyiran, komen orang lain yang menurut saya sih temannya itu "JOYKILLER" kalau Dr. Tirta bilangnya Partypooper

Apa yang terjadi selanjutnya? iyass...sudah pasti hati menciut denger komen ga enak sementara awalnya kita tuh cuma mau berbagi kebahagiaan sama orang lain tapi nyatanya ga semua orang bisa menerima kebahagiaan kita yang ada MENCELA dan MENJATUHKAN.

Emang kuvret sekalih jika berjumpa dengan seorang Hamba Tuhan tak ber-akhlak dan tak ber-etika. Hufttt...sabar...((Ga bisa))😂.

Kalau tidak bisa ikut bahagia, setidaknya jangan merusak kebahagiaan orang lain.

Jangan-jangan Saya Joykiller atau Haters?

Setelah membaca utas tersebut, saya jadi mikir duh jangan-jangan saya juga pernah menjadi Joykiller untuk orang lain dengan celotehan saya yang tidak manuk akal?

Selama ini berfikir "buset deh si A kalau ngomong ga disaring", "si B nyinyir amat", "si C dih komen ga pernah kumur-kumur dulu". Ada ego yang membuat kita melabel demikian dan merasa "SAYALAH si paling Benar".

Istigfar...istigfar...inget lagi Iblis diusir dari surga karena "Ana Khoirun Minhu". Nah ini kadang ya karena kita punya standar dan memegang prinsip yang diyakini benar pada akhirnya selalu mengarah orang lain tuh salah.

Dan akhirnya saya nemu lagi nih utas tandingan yang komennya persis seperti temannya Dr. Tirta dan ia bilang kenapa sih jadi orang sensi banget padahal cuma komen "harga jualnya jatuh". ((CUMA)) ngana fikir cuma? sekali lagi cuma?...

Nah kan dari sisi dia tuh ga ngerasa banget kalau dirinya itu tanpa disadari adalah Joykiller atau partypooper!

Enteng banget bilang orang lain sensi tapi dirinya sendiri juga sama malah bikin utas melabel orang lain baper bin sensi.

Lucu bukan? tapi yang begini ga bisa dianggap lucu sih karena lama-lama jatuhnya juga kayak haters yang semua dilakukan orang lain itu selalu salah!

Jleb banget...dari hal tersebut membuat saya merenung, jangan-jangan saya pun sama pernah menjadi jahat dalam cerita orang lain, pernah menjadi Joykiller atau partypooper untuk kebahagiaan orang lain bahkan haters untuk dunia indahnya orang lain. *ketawa kicil* 😂😂😂

Tanpa disadari dari celetukan beberapa kata itu nyatanya mampu untuk melukai perasaan orang lain huhuhu sedihnya.

Kalau tidak bisa ikut bahagia, setidaknya jangan merusak kebahagiaan orang lain.

Ternyata Iri bikin Minder?

Manusiawi ga sih temans kadang melihat kebahagiaan orang lain tuh langsung merasa "ih kok dia bisa"? atau lihat postingan tentang anaknya yang meraih prestasi langsung deh menjalar api iri, dengki yang akhirnya komen "halah cuma gitu doang".

Sebenarnya rasa insecure itu memang terjadi karena ga mampu aja sudah cukup disitu ga usah dipanjangin dengan segala alasan yang memang tidak masuk akal. Lalu mencoba membuat narasi ga enak ditujukan ke orang lain.

Astagfirullah...manusia macam apa kau ini? 😂

Tapi ada kan ya yang demikian? OH JELAS ADA...ngaku deh pernah kan ada dalam situasi demikian lalu bukannya berbahagia dengan kebahagiaan orang lain yang ada malah menyudutkan orang lain. 

Yang masih seperti ini, pintu tobat masih TERBUKA yah 😂....

Dan pada akhirnya, saya sampai di satu titik, ternyata menjaga lisan itu bukan cuma soal sopan santun, tapi soal EMPATI!

Kita sering merasa komentar kita biasa saja, padahal bisa jadi itu adalah kalimat yang diingat orang lain seumur hidup. Kita menganggap “cuma bercanda”, tapi bagi orang lain itu bisa jadi “luka yang nyata”.

Mungkin yah..mungkin kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain katakan ke kita, tapi kita punya kendali penuh atas apa yang keluar dari diri kita sendiri.

Kalau tidak bisa ikut bahagia, setidaknya jangan merusak kebahagiaan orang lain.
Kalau tidak bisa memberi pujian, setidaknya tahan diri untuk tidak menjatuhkan.

Karena dunia ini sudah cukup keras ges! jangan sampai kita ikut jadi bagian yang menambah kerasnya.

Dan teruntuk diri saya sendiri…Hi Herva!!
Kalau suatu hari nanti ingin berkomentar, semoga yang keluar bukan sekadar “kata”, tapi juga “rasa”.

Biar orang lain tidak perlu pulih dari ucapan kita.  

Jangan sampai kita merasa sedang berbicara biasa saja, padahal dalam cerita orang lain… kita adalah tokoh jahatnya!


***
Well, demikian yang bisa saya bagikan kali ini...gimana setuju ga? awas ya ga setuju wkwkwk....Semoga bermanfaat!


ความคิดเห็น

  1. Nah ucapan itu gak bisa dikembalikan
    Sekali didengar orang bakalan diingat selamanya
    Nasib baik kalau orang itu pelupa
    Tapi yang karakternya ingat terus apalagi karena tersinggung dan tersakiti pasti akan diingat sampai mati
    Dan saya tidak mau mati jika ada orang yang merasa tersakiti dengan perkataanku...
    Hmm... hati hati berkata dan memang lebih baik diam jika memang tidak tahu dan untuk berjaga jaga

    ตอบลบ
    คำตอบ
    1. nasib baiknya juga apabila orangnya moodnya lagi happy mungkin perkataan itu bisa dianggap pintas lalu ya mba :D

      ลบ
  2. Aaakk jleb sangaatt ini mba.
    Bisa jadiii, aku juga pernah euyy party pooper_in orang lain.
    Mungkin ga ada niat buat jahat , kayak sekadar nyablak gitu ajaaa....tapi yhaa, namanya org sakit hati akibat ucapan kita tuh wadidaww banget yha.
    dan emang setuju bangett, kalo asal muasal insecuree tuh bibitnya (salah satunya) iri dengki ga terkendali😷🫣😭Istighfaarrr

    ตอบลบ
  3. Mbaaaaa, ini bener2 reminder, trutama buatku, supaya hati2 kalau ngomong . Kita kdg ga sadar memang, kalau Kata2 yg diucapkan mungkin buat orang lain menyakitkan. Sebatas hal yg kayak sepele, seperti yg ditulis di atas, buat orang lain jadi bikin kepikiran.

    Bisa jadi aku pernah seperti itu, dan malah ngeri ngebayangin nya 😭.

    Mending diam dulu jika ga bisa mengeluarkan Kata2 bagus utk orang lain. Bener mba, kita biasakan utk mengeluarkan ga hanya sekedar kata, tp ada rasa di dalamnya. Pikir dulu, seandainya kita dpt perkataan yg seperti itu, bakal mengguris hati atau ga.

    ตอบลบ
    คำตอบ
    1. Betul mba, makanya aku sekarang cuma bisa jadi silent reader kadang gatal sekali pengen komen tp ditahan pernah juga sampe komen tapi ga lama aku hapus..aku memikirkan gimana rasanya jika aku yang mendapat celaan demikian :D

      ลบ
  4. Jangan - jangan saya juga pernah seperti itu ya, menjatuhkan motivasi orang lain hanya gara - gara sebuah perkataan walaupun konteksnya bercandapun hati orang siapa yang tau, hanya Allah yang mengetahui, semoga kita selalu dijauhkan dari sifat Syiaton yang "Ana Khoirun Minhu".

    ตอบลบ
  5. Aku suka statement dibawah irtu...semoga yang keluar bukan saja kata namun juga rasa,,berasa langsung nyess sekaligus jleb langsung mikir aku sering gitu juga gak ya..karena kalo sudah bertemu dengan teman akrab itu biasanya yang keluar suka2 kita tapi dalam mode becanda dan kita sudah sama2 tahu itu tapi semoga saja kedepannya aku juga bisa lebih baik lagi dengan menjaga lisan agar tidak menyakiti yg lain

    ตอบลบ
  6. Kalau saya pribadi percaya, pasti saya pernah jadi tokoh jahat dalam cerita orang lain, pernah menjadi joykiller atau partypooper untuk kebahagiaan orang lain juga.

    Entah disengaja atau enggak, pasti pernah menyakiti hati orang lain. Karena saya manusia biasa, tempatnya salah dan lupa.

    Jujur, saya nggak pernah benci orang lain. Kalau bersikap egois sih pernah beberapa kali. Mungkin saat itu saya jadi tokoh jahatnya 🤣🤣🤣

    Nah, kalau jadi joykiller atau partypooper itu biasanya nggak sengaja sih. Bukan karena benci atau iri. Habis ngomong terus mikir, "Duh kenapa ngomong gitu sih. Jangan-jangan dia tersinggung." Dan bener, pernah beberapa kali ada teman ngambek gara-gara omongan saya dan berujung saya kalang kabut minta maaf. Ya kerena aslinya nggak bermaksud manyakiti 😣

    Jadi, semakin ke sini saya makin takut buat ngomong karena kayanya saya kurang peka. Dari pada menyakiti, mending diem sekalian 😆

    ตอบลบ
  7. Salah satu yang bikin aku males posting2, maksud aku biasanya aku filter aja postinganku. Misal ya, aku beli HP A, menurut aku itu udah pencapaian, tapi ternyata buat orang lain B aja haha. Daripada dapat komen kek gitu wes aku keep sendiri ajaa :D
    Tapi emang nyebelin sih ya orang kek gitu dna itu banyak beut di postingan2 orang. Kyk yawda sih orangnya juga happy, kenapa kudu merusak momen orang :D
    jauh2 deh kita dari orang seperti itu dan juga semoga kita selalu saling mengingatkan supaya nggak kyk gitu juga :D

    ตอบลบ
  8. Aduuuuhhh duhhh jangan jangan diriku juga pernah jadi tokoh jahat tanpa sadar. Benar banget, kadang kita merasa cuma kasih fakta, seperti harga jual jatuh, tapi lupa kalau kebahagiaan orang lain itu tak ternilai harganya.
    Menjaga lisan memang butuh empati tingkat tinggi ya, bukan sekadar teori.
    Dunia memang sudah cukup keras, yuk kita jadi bagian yang melembutkan dengan ikut bahagia atas pencapaian orang lain!

    ตอบลบ
  9. Aku sangat bisa bayangin perasaan Dokter Tirta mendapati komentar seperti itu, karena kebetulan baru-baru ini aku pun menang hadiah umroh jalur 32 hari bercerita kan. Ternyata oh ternyata, diantara ucapan selamat dan doa baik, masih ada juga nih tipe Joykiller yang mampir di komentar.

    Rasanya? Tarik nafas dalam-dalam dan istighfar banget. Bener sih, better kita diam aja misal nggak bisa ikutan bahagia sama kebahagiaan atau pencapaian oranglain. Dari pada malah komentar menohok hati. Di era digitalisasi mesti tahan hati dan jari, jangan sampe toxic di kebahagiaan dan berkah oranglain. Pengingat Sekai ini tulisannya.

    ตอบลบ
  10. Kalau haters cenderung jelas menyerang atau mengkritik secara negatif di ruang publik , joykiller ini lebih halus tapi tetap berdampak, bahkan kadang datang dari orang terdekat. Itu yang bikin lebih tricky, karena sering bikin kita jadi ragu sama diri sendiri tanpa sadar.

    ตอบลบ
  11. Daku pernah diposisi seperti itu Teh, yang pada mengulik tanya:
    "kok bisa sih Fenni ngajar?"
    "Kok bisa Fen dapat job itu? Memang minimal DA blognya berapa?"
    Dari situ memang memungkinkan, suka ada aja yang memandang kita seperti kurang layak untuk suatu hal. Kitanya tidak memusingkan seseorang dapat suatu hal dari mana, tapi suka ada aja orang yang pusing melihat kita hehe.
    Padahal pastinya rejeki datang dari mana aja, ini yang daku tanamkan agar syukuri apa yang ada di tangan tanpa perlu risau dengan tangan orang lain.

    ตอบลบ
  12. Setuju nggak setuju sih kak. Emg setiap org tuh punya cara berkomunikasi masing2. Ada yg meletup2 kyk dr Tirta. Atau yg soft spoken kayak dr Gia. Semua ada pasarnya masing2. Buat yg bebal, omongan dr Tirta bs jadi lbh msk. Tp bagi yg lembut, perkataan dr Gia malah lbh mengena. Kita sesuaikan aja dgn siapa lawan bcr kita. Dan pasti, omongan kita, baik buruknya, lembah lembut/kerasnya, pasti ada aja yg ga suka.

    Kalo minder, tentu saja sih semua perasaan itu semua punya. Entah krn prestasi, karier, skill, hingga harta benda. Tp kembali lagi ke kitanya. Kalo kita mampu bersyukur dan tetap berusaha yg terbaik, minder itu akan hilang. Percaya diri kita perlahan2 ditumbuhkan.

    ตอบลบ
  13. Iya Teh sekarang suka nemu aja komenan yang jatohnya kayak joy killer gitu.. Tapi banyak juga sih netizen yang udah dewasa dan ngingetin ke si komentator itu kalo itu tuh nggak oke.. Bisa jadi si joy killer itu pun karena udah terbiasa kali ya jadinya nganggap hal itu biasa aja.

    Makanya bener-bener deh kalo komen di socmed tuh jangan asal jeplak. Mesti dipikirin dulu. Kadang aku pernah juga udah nulis komen tapi aku hapus lagi wkwkwk.. Walaupun komennya netral ya, tapi pas aku baca lagi ada perasaan udahlah nggak penting komen2 begini ahahaa akhirnya dihapus lagi... :D

    ตอบลบ
  14. Aku ngerasain ini bangett pas 2 hari lalu bikin satu postingan thread yang bikin aku dibully sama warganet. Sumpah, pas aku baca kok ini ketikannya pada serem-serem ya? Kayak gak takut gitu lho suatu saat sumpah serapah yang mereka ketik itu bisa kembali ke diri sendiri.

    Dari situ, aku coba berbenah diri si. Rasanya, daripada komen asal dan tanpa disadari menyakiti perasaan orang, mendingan aku ubah outputku jadi lebih positif. Daripada komen jelek, lebih baik menyemangati ajah. Toh, banyak juga kan orang diluar sana yang sepertinya sedang butuh asupan semangat. Itu lebih baik, daripada merusak hari-hari orang lain.

    Dalam gitar ada benang senar
    Jika ditekan nadanya merendah
    jangan karena merasa benar
    orang lain dianggapnya rendah

    ตอบลบ
  15. Ya Allah tulisannya mak jleb, bener-bener jadi reminder buat kita semua, buatku juga. Soalnya aku pernah mbak dikomentarin orang kayak dimentahin gitu. Rasanya nggak enak banget. Jangan-jangan selama ini aku juga pernah kayak gitu ke orang tapi aku nggak sadar hiks. Bener-bener harus hati-hati kalo ngomong ya. Yaaa karena emang omongan nggak bisa ditarik lagi. Makasih banyak remindernya..

    ตอบลบ
  16. Ya Allah tulisannya mak jleb, bener-bener jadi reminder buat kita semua, buatku juga. Soalnya aku pernah mbak dikomentarin orang kayak dimentahin gitu. Rasanya nggak enak banget. Jangan-jangan selama ini aku juga pernah kayak gitu ke orang tapi aku nggak sadar hiks. Bener-bener harus hati-hati kalo ngomong ya. Yaaa karena emang omongan nggak bisa ditarik lagi. Makasih banyak remindernya..

    ตอบลบ
  17. Kata anak-anakku gini juga niih.. "Mah, ternyata partypooper itu REAAALLL"
    Di saat kita sadar, kita baru istighfarr.. kek "Ngape ngomong gitu siih.. meski itu bisa jadi sebuah data."
    Tapi sekali lagi, kalimat menusuk itu.. bisa jadi "sudut pandang" yaa..

    Sama seperti sebuah konsep.
    Tergantung sudut pandang.

    Kadang nadanya tinggi, tapi kita ngerasa "deket" dan "kenal" sama karakter orang tersebut, jadiii kincana kincana ajaa..
    Kadang dari mimik wajah, kita juga bisa tersinggung, meski kalimatnya oke.

    ((pernah ngalamiiin.. sampek nangis berhari-harii... karena suatu omongan))
    Tapi setelah aku telaah dan utak-atik lagii.. bisa jadi.. orang berkata berdasarkan pengalaman.. berdasarkan latar belakang profesi, dll.
    Paiitt siih.. tapi kadang yang pait itu bisa jadi obat yang bikin kita memahami realita.

    ตอบลบ
  18. Ini sama kayak kalau kita beli produk a trus tahu-tahu ada yang nyeletuk beli di toko sebelah lebih murah. Pasti jengkel yaa. Makasih buat Pengingatnya mbak kadang memang kita itu harus lebih bijak ya dalam berkomentar

    ตอบลบ
  19. Saat kita memutuskan posting sesuatu di media sosial, maka kita memang harus siap dengan hati. Karena pasti ada yang mendukung, ikut senang, mendoakan kesuksesan tambah, tapi ada juga yang sebaiknya. parahnya kalau kenal dengan orang itu. Masa sih, teman kayak gitu? tapi begitulah kenyataannya.
    Contoh saja saat saya posting cerita yang dimuat di majalah. ada yang kaish selamat, ada yang bilang pamer atau ria. Padahhl niatnya berbagi kebahagiaan dan semangat menulis.

    ตอบลบ
  20. Kalau nemu orang partypooper gini bikin ilfeel sih emang. Walau gak musuhan ya jadinya seperlunya aja. Misalnya awalnya peduli, jadi no hard feeling aja.
    Tapi balik lagi kita ga pernah tau isi hati orang lain. Dan kita ga pernah tau apa yang sedang dilalui setiap orang yang berinteraksi dengan kita. Pilih baik baik aja lah ya..

    ตอบลบ
  21. Di media sosial banyak banget makhluk party pooper begini.. terutama medsos kayak Threads lho ada orang yang share baru beli rumah subsidi langsung dibilang boncos nanti renovasi butuh dana gede ya ampun aura iri dengkinya kental sekali.. nggak bisa kah ngucapin selamat saja atas kebahagiaan orang lain?

    ตอบลบ
  22. Sepakat pakai banget ini, kata-kata itu bagai angin yang berhembus tanpa bisa ditangkap kembali. Hmm lebih baik diam daripada berkata yang tidak menyenangkan hati

    ตอบลบ
  23. Weh iya juga ya
    Jangan jangan selama ini nggak nyadar dengan perilaku diri sendiri
    Emang paling baik itu jaga omongan ya. Jangan sampai perkataan kita menyakiti orang lain

    ตอบลบ
  24. Punya banget pengalaman, bahkan sering, dapat kata-kata yang merusak mood kita, sesederhana ada yang bilang " harusnya gini lho..." atau "coba kalau begini..."

    Tapi ini juga jadi pengingat buat saya pribadi, jangan-jangan saya pun pernah ada di posisi menyakiti orang lain, bahkan merusak momen kebahagiaan mereka dengan kata-kata yang kadang tak sdar kita ucapkan.

    Next harus lebih berhati-hati lagi dalam berucap. Terima kasih Kak tulisan reminding nya

    ตอบลบ

แสดงความคิดเห็น

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun