Wednesday, October 25, 2017

Berusaha Mencintai Pekerjaan

Apakabar temans semua?semoga berkah dan kesehatan senantiasa teriringi dalam setiap langkah kita. aamiin. Kali ini saya mau membahas tentang mencintai pekerjaan. Pekerjaan identik dengan profesi, namun pernahkah kita memikirkan tentang profesi yang tampak sepele ternyata memberikan andil juga?

Menjadi yang tidak terlihat, profesi yang tidak diminati banyak orang namun ternyata memberikan sumbangsih yang cukup besar untuk organisasi yang menaunginya atau memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Kira-kira profesi apa saja?

Kebanyakan dari kita bahkan ketika saya mengikuti "Kelas Inpirasi Bandung" untuk menjadi inspirator, jika saya tanyakan anak-anak apa cita-cita mereka. Banyak dari mereka yang hanya tahu segelintir profesi saja. Macam Guru, Dokter, Pilot cita-cita yang memang dulu pun jika saya ditanya saat kecil dengan mantap jawaban saya "Dokter".

Bersyukur adanya kegiatan seperti kelas inpirasi memberikan kesempatan ga hanya untuk saya tetapi rekan-rekan lain yang memiliki profesi unik untuk bisa dikenalkan kepada mereka generasi penerus. Sebut saja HRD, anak-anak masih ber-ooooo, melongo bahkan tidak tahu singkatan dari HRD. Apalagi kalau disebutkan ranah saya di People Development.

Makin maboklah istilahnya yang bikin anak-anak juga bingung. Sangat disayangkan karena sebenarnya di dunia ini banyak profesi yang mungkin tidak diketahui orang banyak namun jika tidak ada profesi ini bisa jadi dunia dalam berita tak tayang setiap jam 21.00 wib *yang se-angkatan pasti tahu


Mampir lagi dongPengalaman Menjadi Inspirator KIB 4

Berbicara tentang profesi yang tidak umum, saya jadi teringat kisah dalam novel yang telah saya rampungkan "Sirkus Pohon" karya Andrea Hirata. Gaya penulisan yang khas dengan setting Belitung tentu saja tidak bisa terlepas dari gaya khasnya Bang Andrea bahkan dengan bahasa Melayu kental yang pada akhirnya membuat saya latah dengan "Boi" ataupun "Ojeh".


Karyanya bang Andrea bagi saya selalu sukses mengaduk-aduk emosi *halah* dari ketawa, sedih lalu ketawa lagi, sedih lagi begitu seterusnya sampe Anggun pindah jadi duta sampo lain 😃. Menyoroti kehidupan menengah ke bawah selalu menjadi hidangan dalam setiap karyanya bang Andrea. Ini selalu menjadi poin plus yang mampu menyusup ke hati saya *duh.

Dan Sirkus Pohon-pun sama lebih banyak menceritakan kisah kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah. Menceritakan beberapa kisah namun yang saya soroti kali ini khusus tentang Sobri. Bujang yang sulit menjajakan diri dan kemampuannya dengan bermodalkan ijazah SMP. Hidupnya malang selalu tertipu atas nama persahabatan. Sobri yang lugu selalu kena getah atas perilaku sahabatnya Taripol.

Dalam keluarga hanya Sobri yang tak mapan. Mindset masyarakat disana, bekerja kantoran, membawa tas, pulpen dan kemeja dimasukkan menjadi hal yang luar biasa. Ulah Sobri yang selalu terkhianati Taripol membuat masyarakat sekitar menutup semua lowongan kerja untuk Sobri.

Hingga akhirnya Sobri bertemu Dinda, seorang gadis penyuka Delima yang mampu membuat Sobri gigih untuk mencari pekerjaan tetap tak serabutan seperti yang ia lakoni. Pasalnya Dinda setuju jika Sobri dapat pekerjaan tetap, mereka akan menikah.

Tibalah hari itu Sobri pergi ke desa lain bertemu ibu boss untuk wawancara, betapa senangnya Sobri ketika interview hari itu juga Sobri mendapatkan pekerjaan. Tak jauh dari judul bukunya Sirkus Pohon maka Sobri mendapatkan pekerjaan sebagai BADUT.


Bagaimana selanjutnya?Sobri sangat antusias latihan demi pentas sebagai Badut untuk panggung sirkus keliling. Ia sangat bangga dengan pekerjaannya, ia tekuni dan menghayati. Badut baginya tak sekedar pekerjaan akan tetapi ketika keluarganya diminta untuk menontonnya keponakannya, adiknya, iparnya bahkan ayahnya pun menjadi bangga.

Motto Sobri : Bangun Pagi, Let's GO! menjadi satu keyakinan untuknya bisa menjadi orang sukses, taklagi di pandang sebelah mata oleh orang-orang sekitarnya. Begitulah Sobri begitu Mencintai Pekerjaannya sebagai badut. 


Segelintir kisah itu membuat saya merenung, oh my God "Sudahkah Aku Mencintai Pekerjaanku Dan Bersyukur?" jawabannya mungkin ada dalam hati saya sendiri. Bagaimana dengan temans?rasanya memang melihat orang lain berjuang, ingin diapresiasi, termotivasikan oleh cinta membuat kita menjadi bersemangat bukan?bahkan apakah kita sendiri akan selalu bangga dengan profesi yang mungkin sepele dimata orang lain bahkan bisa jadi bully-an tapi kita tetap komitmen untuk berusaha dan bekerja. Sobri adalah kisah yang menurut saya patut diacungi jempol kawans!

Kemiskinan memang melabel pada keluarganya namun justru saya belajar dari kisah Sobri bahkan ayahnya yang menolak rumahnya ditempel stiker Rumah Tangga Miskin-Binaaan Desa. Dengan santun ayahnya menolak. Dan hati saya terenyuh dengan pesan sang ayah :

"Tuhan menciptakan tangan seperti tangan adanya, kaki seperti kaki adanya, untuk memudahkan manusia bekerja" (hal.37)
 
Makjleb yah pesen yang disampaikan, so masihkah kita malas untuk bekerja sementara masih ada orang lain yang lebih susah dan pekerjaannya selalu dipandang sebeleh mata. Saya sering pula mengamati cleaning service ketika di kantor, swalayan atau di bandara. Mereka terus mengepel, terinjak pengunjung di pel kembali atau menyapu tapi mereka terlihat enjoy masih bisa ketawa. Ngepel di rumah keinjek anak aja suara kita melengking beberapa oktaf apalagi yang seperti di swalayan tak henti terinjak terus.

Apapun pekerjaannya memang harus kita syukuri temans sehingga rasa cinta itu hadir dan menghindari kita dari ngeluh along day 😂. Meskipun pekerjaan atau profesi kita mungkin sepele hadirkanlah cinta untuk pekerjaannya sehingga seperti yang Sobri hadirkan ia penuh semangat latihan setiap harinya untuk menampilkan perfoma Badut dengan tujuan mampu membuat orang lain berbahagia.

Berbicara membahagiakan orang lain, saya pun teringat dengan salah satu Office Boy di kantor. Begini ceritanya *kayak pembukaan film setan zaman hebeul* Sebut saja Cecep laki-laki yang saya kenal murah senyum dan terlihat menyenangi pekerjaannya sebagai OB. Pagi itu di parkiran saya bertemu dengannya, seperti biasa bertegur sapa lalu tiba-tiba ia bercerita.

Cecep : Bu, waktu itu saya yang WA ibu malam-malam
Saya : Oalah maaf yah nda dibales soalnya HP saya baru ((pamer)) jadi ga kesave nomernya *alesan umum*
Cecep : Gapapa bu, begini bu saya pengen cari kerja lain
Saya : loh kenapa?cape ya kerja begini?
Cecep : Tentu tidak *nada iklan* hanya saja saya sedang mencari penghasilan tambahan karena saya mau melunasi ongkos haji ibu saya bu masih kurang soalnya. Saat ini gaji saya kan memang harus bagi-bagi saya menjadi tulang punggung keluarga sementara sodara-sodara lain kerjaannya tak tentu serabutan. Saya ingin bahagiakan ibu selepas bapak meninggal.
Saya : *speechless*

Temans bahkan dengan pekerjaan yang mungkin tak semua orang mendambakan Cecep pun menjadi salah satu seorang Sobri dalam kisah real yang saya tahu. Demi membahagiakan ibu, bahkan saya tahu rumahnya itu jauh banget dan harus ditempuh beberapa jam.  Tapi dia dengan senang hati datang ke kantor, bekerja dengan tulus dan ikhlas disertai dengan senyum bahkan masih bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menaikan haji ibunya.

Kisah-kisah sekitar kita bisa jadi luput akan perhatian namun nyatanya ketika kita mau membuka diri bahkan ada kisah yang menjadi inspirasi untuk kita semua. Kisah Cecep pun bisa dijadikan contoh bahwa ia bisa bersikukuh membahagiakan ibunya dengan caranya.

Oke temans, demikian yang bisa saya bagi saat ini. Yang penasaran dengan Sirkus Pohon mangga dibaca. Tak hanya Sobri kisahnya akan tetapi juga kisah lainnya yang sesuai dengan fenomena zaman now banget. Semua konflik yang ada dalam cerita dikemas menarik sesuai khasnya Bang Andrea. Penasarankan?




Judul buku   : Sirkus Pohon
Penulis          : Andrea Hirata
Penerbit        : Bentang Pustaka
ISBN             : 978-602-291-409-9
Cetakan pertama, Agustus 2017
410 Halaman





67 comments:

  1. Jadi ini review ya teh? Asyik banget gaya ngereviewnya (y) nggak berasa udah sampai bawah aja bacanya ihihi. Menarik. Kujadi penasaran pengin baca sendiri. Pinjemin dong teh bukunya ehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya review teh Gie hehehe makasi teh Gie :) sudah mampir dan baca sampai habis

      Delete
  2. Butuh proses untuk mencintai pekerjaan yang awalnya tidak disukai
    kalau nggk suka itu Biasanya ada alasannya nah kita cari juga alasannya bagaimana carsnya agar bisa mencintai pekerjaan itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. jika dalam prosesnya kita tidak menemukan something pasti ttp ga akan tumbuh cintanya y mba *halah

      Delete
  3. Mungkin dengan menemukan alasan mengapa tidak menyukai pekerjaan dan menemukan alasan untuk mencintai pekerjaan

    ReplyDelete
  4. Biasanya pekerjaan sesuai passion yang dicinta. Tapi, tak menutup kemungkinan, pekerjaan baru di luar kapasitas ilmu bisa bikin jatuh cinta juga. Tergantung niatan kita sepertinya:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mba semuanya memang tergantung Niat :)

      Delete
  5. Kalau kita mencintai pekerjaan jika maka kita akan melakukannya dengan sepenuh hati dong ya

    ReplyDelete
  6. Saya pernah nonton film Jepang, ceritanya agak mirip. Seorang gadis yang menjadi badut dan berlatih tiap hari dengan tujuan anak-anak senang ketika melihatnya.
    Duh, jadi ikut mikir, kayaknya saya masih belum mencintai pekerjaan, hiks.

    Cara mereview bukunya keren mbak, saya suka. Hehehe

    ReplyDelete
  7. Berarti settingan tahunnya agak jadul ya mb herv
    Boi itu panggilan buat anak laki laki dalam bahasa belitongkah? Aku belom baca.?.,
    Tapi klo dari covernya sih unyuk unyuk ini buku, khas andrea klo kataku selalu banyak pesan moralnya

    Ya memang mencintai pekerjaan apapauj jenisnya bisa ngebikin kita nrimo #haishhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boi buat laki2 & perempuan kalau di buku mba Nit :)

      Delete
  8. pekerjaanku apa ya tante?

    sekolah kali ya
    hehehe

    ReplyDelete
  9. Wah ada buku bang Andrea Hirata lagi.. Hmm intinya suka duka dlm kerjaan dinikmati aja ya mbak, tandanya kita memang mencintai pekerjaan itu

    ReplyDelete
  10. Kebetulan lagi nyari referensi buku yang bikin ngaduk-ngaduk emosi, buku Andrea Hirata ini masukin list :)

    ReplyDelete
  11. Aku masih susah nih mensyukuri pekerjaan sendiri, nengok rumput tetangga lebih hijau bawaannya jadi kepengen mulu. huhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha begitu aja terus y mba liat rumput tetangga :p

      Delete
  12. aq udah beli bukunya, tapi baru baca cerita pertama. hoho jadi mau baca cerita selanjutnya ah. iya bener banget soal pekerjaan ini

    ReplyDelete
  13. sering saya berpikir klo profersi sepele namun penting banget
    misal tukang angkut sampah, itu pahlawan banget, sehari beliau gak ada alamak bisa pening kepala,
    bersyukur dan terus bersyukur
    saya belum baca karya andrea ke sepuluh ini
    semoga ada rezeki bulan depan, masuk list

    ReplyDelete
  14. pinter sih mbak, mereview tap kayak gak ngeriview, keren deh

    ReplyDelete
  15. cinta bisa bikin seseorang berjuang keras buat wujudkan apa yang diinginkan ya, mba Herva. termasuk cari kerjaan yang mapan. kadang ada kan yang kudu dapet kerjaan mapan baru dapetin simpati dari mertua. huhu.

    Aku pengin beli buku ini. Aaak, hunting di tokopedia ah, mumpung ada voucher. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hati-hati buku KW mba klo beli ditokped hehehe

      Delete
  16. Review yang enak dibaca, mengalir begitu aja dengan cerita yang menarik.

    Dan dari judulnya sudah mengena banget buatku yang kadang masih mengeluh akan pekerjaan, padahal di luar sana masih banyak yg mati2 an mendapat pekerjaan.

    Di luar sana banyak sekali yg memulai dari nol yang sebelumnya tiada hasil namun terus tekun dan ulet yg pada akhirnya mampu memberikan inspirasi.

    ReplyDelete
  17. Jadi ingat ada satu dua teman yg katanya malu berprofesi hanya sbg guru les, bukan guru sekolah. Miris saya dengarnya, padahal dari penghasilan sbg guru les dia bisa hidup di Jakarta ini sbg perantau.

    Nggak usah jauh2, Mba. Orang paling dekat dalam hidup saya pun membanggakan anak orang lain yg bekerja kantoran. I don't care. Nggak suka bodo amat. Saya masih senang dg profesi saya yg sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tetep semangat miss yg penting kitanya bangga :)

      Delete
  18. Pekerjaan itu mau gimana pun sulitnya dan capeknya kita harus terbiasa. Insyaallah bukan jd beban..

    ReplyDelete
  19. Aku mencoba mencintai pekerjaan..apapun itu. Dan kisah badut jadi inget video clip tulus 😁 aku kira ini bkn review.. ternyata ripiew teteh Bella yg khas

    ReplyDelete
  20. Aku mencoba mencintai pekerjaan..apapun itu. Dan kisah badut jadi inget video clip tulus 😁 aku kira ini bkn review.. ternyata ripiew teteh Bella yg khas

    ReplyDelete
  21. aku terharu sama si cecep, gak nyangka ya mak

    bentar lagi adikku ultah, cocok nih buat kado buat adikku yg suka sama karya2nya andrea hirata

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bu Ayya ni karya terbarunya Andrea :)

      Delete
  22. Baca review ini seperti membaca bukunya langsung, langsung pada intinya dan tidak terlalu bertele2

    ReplyDelete
  23. Wah, sudah mengeluarkan buku baru saja ya penulis produktif muda berbakat kita satu inni. Semog bisa jadi seller juga deh ya, seperti buku hits doi sebelumnya

    ReplyDelete
  24. inspiratif bangetttt artikelnya mba Herva.. jadi pengen baca bukunya jugaa..

    ReplyDelete
  25. Novel sirkus pohon punyaku masih dlm antrian akan dibaca stelah novel2 sebelumnya selesai :p.

    Aku sendiri utk skr ini ngerasa seneng sih kerja di kantor cabang sekarang krn bosku baik, team yg aku pimpin juga udh mateng, jd enak ngarahinnya. Sbnrnya tergantung dr siapa atasan dan team kita juga sih mba :D. Seberat apapun kerjaannya, kalo team kita solid, jd berasa asyik dan ringan. Kerja jg lbh menikmati.

    ReplyDelete
  26. sedang mencoba untuk benar2 mencintai pekerjaan yg sekarang,karna sekejam apapun, menganggur itu lebih serem mba daripada omelannya atasan.. hehe.

    ReplyDelete
  27. mbaaaa iyaa, kena bangeeeet. kuncinya emang mensyukuri dan mencintai pekerjaan kita...makasih udah ngingetin <3

    ReplyDelete
  28. Wah ini dia mbak yang aku bingungkan...
    Aku tuh gak punya kerjaan ters aku harus mencintai siapa heheh#ups

    InsyaAllah mbak tak coba untuk mencintai hari2ku seperti biasanya!

    ReplyDelete
  29. Wah reviewnya keren teh.. jadi pengen baca bukunya :)

    ReplyDelete
  30. Yuhuu.. i love my job, sudah bekerja di instansi yang sama selama lebih dari 12 tahun, dari pekerja lapangan (pernah nulis blogpost judulnya "i love my job"), sekretaris dan sekarang di teknis, i still love my job.

    Ohiya, jadi berasa related, soal stiker rumah tangga miskin itu, beneran ada orang seperti itu lho, soalnya kantor saya yang menangani, dan saya jadi pekerja lapangan waktu itu. Masyarakat macam-macam dan gak banyak yang seperti ayahnya Sobri, apalagi sudah berhadapan dengan uang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi realnya masih ada ya mb yang mau mengerahkan kemapuannya tak hanya sekdar menerima :) share dong mba diblognya

      Delete
  31. Cecep luar biasa. Semoga dimudahkan segalanya ya, Cep...

    ReplyDelete
  32. Wah bukunya keren sekali.. kalau mau beli d gramedia ada kan teh herva?

    ReplyDelete
  33. Wah bagus penyampaian reviewnya Ibu psikolog^^ kangen nih sama karya Andrea Hirata :)

    ReplyDelete
  34. Belum baca bukunya Andrea Hirata yang ini, kayaknya lucu tapi menyentuh ya Mba?

    ReplyDelete
  35. jadikan pekerjaan sebagi amanah sehingga selalu ingat dan cinta sama profesi

    ReplyDelete
  36. Alhamdulillah Mbak, aku kok pede2 aja dan bangga dg profesiku skr ini. IRT sejati Mbak :) baca ulasan n reviewnya agak terharu dakuw huhuhu

    ReplyDelete
  37. AKu mikir, mungkinkah orang yang pada awalnya membenci pekerjaan yang dilakukan pada akhirnya bisa cinta sama pekejaannya itu? Kayaknya ada beberapa faktor penunjang seperti pendapatan, lalau tenyata eh bisa bikin orang tercinta bahagia dll ya hehe. Aku serius gini kok yach?

    ReplyDelete

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design