Menyikapi Pembicaraan Rahasia

Senin, 31 Oktober 2016
Tak bisa dipungkiri dalam kehidupan tentu kita pernah membicarakan orang lain entah rahasianya, keburukannya, kejelekannya namun sangat jarang untuk membicarakan kebaikan orang lain dengan rekan terdekat, saudara, rekan kerja atau teman main kita. Dan ternyata kita juga pernah menjadi objek yang dibicarakan mereka dalam pembicaraan tersebut.

Saya tak memungkiri masih suka untuk membicarakan orang lain *istigfar* lalu tetap melakukannya lagi..lagi..lagi...dan lagi. Apalagi membicarakan artis-artis entah kenapa diri ini termotivasi untuk sekedar mencari tahu, mengomentari saja beritanya. Berita di TV, medsos banyak sekali mengumbar kehidupan seseorang bahkan privasinya sampe dikorek abis demi apah?demi mereka yang kepo. *ngacung sayah* padahal beritanya kebanyakan ga penting. *gubrakk*

Tapi bagaimana jika posisi kita dibalik ternyata kita ini termasuk objek yang sering dibicarakan oleh orang lain?bagaimana rasanya?saya mengalaminya, rasanya kecewa, ga keruan, langsung berfikir jauh padahal ga ada artinya juga mikirin omongan orang. Yang menjadi kecewa bagi saya justru orang yang saya nilai tak mungkin ngomongin di belakang malah ternyata ruar biasa jauh dari ekspektasi saya. Yang saya kenal personanya begitu baik, nyatanya jauh di belakang punggung saya mereka asik mencibir, menyinyir bahkan menjadi fitnah.

Kenapa kita bisa tahu ada yang ngomongin?menurut saya pribadi sesungguhnya orang-orang yang terlibat dalam pembicaraan yang menurut mereka rahasia ada saja orang yang tak mampu menjaga rahasianya dan menyampaikan kembali kepada orang yang menjadi objek pembicaraan rahasia mereka. Akhirnya tidak perlu ditanyakan pasti ada keributan dan permusuhan jika kita ga slow menyikapinya.


Berusaha lapang dada dan ikhlas menerimanya namun tak semudah seperti melarutkan gula dalam kopi, saya sendiri pun butuh waktu untuk menetralisir kembali keadaan dan saya sulit untuk memakai persona atau topeng manis jika kembali berhadapan dengan mereka. Rasanya kok ya aneh saja saya sudah berpositif thinking tetapi ternyata dalamnya hati orang lain tak akan pernah bisa saya selami.

Bebas Anyang-Anyangan Pada Ibu Bekerja

Selasa, 25 Oktober 2016
Sebagai ibu bekerja di kantoran, menuntut saya untuk bisa bekerja dalam ruangan ber-AC. Terlebih kantor saya bekerja saat ini menggunakan sistem AC central sehingga mengharuskan saya menerima dengan legowo suhu ruangan yang kadang dinginnya minta ampun atau kadang panasnya ga ketulungan bikin gerah bila tiba-tiba mati. Padahal kondisi daerah tempat tinggal saya Cimahi ini termasuk dingin. Kebayangkan di luar sudah dingin masuk kantor tambah dingin berasa ada di kulkas.

Jika hujan turun terus seperti kondisi saat ini, sungguh bikin saya malas pergi ke kantor yang AC-nya dingin banget. Bahkan rekan kerja saya yang mengalami kondisi sakit akhirnya merelakan pindah ruangan karena AC di gedung corporate ini dingin banget. Dampak bagi saya sendiri karena dinginnya suhu ruangan di kantor adalah bulak balik ke toilet untuk buang air kecil (anyang-anyangan).

Kondisi kayak gini bikin ga nyaman pasalnya saya duduk dekat dengan atasan yang secara langsung memonitor saya. Kalau terus-terusan bulak balik toilet kesannya saya ninggalin meja kerja dan ga fokus sama kerjaan sementara kerjaan menanti untuk diselesaikan dan di report ke atasan. Untuk meminimalisir fikiran yang tidak menyenangkan pada atasan akhirnya saya memutuskan untuk "JARANG MINUM AIR PUTIH".

Namun pilihan untuk jarang minum air bukan langkah yang tepat pasalnya tenggorokan suka kering juga. Karenanya untuk mengatasi minimalisir bulak balik ke toilet saya selalu menahan buang air kecil. Hingga akhirnya ini menjadi habit untuk saya, ga di kantor, ga di rumah apalagi kalau sedang di jalan saya sering menahan-nahan buang air kecil.  



On Job Training di Toko, Siapa Takut?

Jumat, 21 Oktober 2016
Tepatnya tahun 2010, setelah saya memutuskan resign dari tempat kerja sebelumnya akhirnya saya lolos mengikuti serangkaian tes dan interview user yang mengubah status saya menjadi Karyawan. Sungguh tak terduga dari bayangan karena saya bisa diterima menjadi bagian di tim recruitment & selection salah satu ritel terkemuka di Indonesia dengan icon Lebah unyu tersebut.

Menjadi karyawan baru tentunya ada tradisi yang harus saya lewati disana agar memahami sekali jobdesc sebagai recruitment. Tradisi tersebut adalah training, selain mendapatkan training seputar knowledge mengenai human capital khususnya mengenai Planning and Development. Ternyata manajemen memutuskan saya dan rekan-rekan dalam batch training tersebut harus mengikuti training tentang Toko setelah pembelajaran Planning and Development selesai. Karena core business kantor saya dahulu ya ada di Toko Minimarket tersebut.

Training pengenalan seputar toko saya ikuti dengan menggunakan atribut pakaian hitam putih lengkap dengan sepatu dan kaos kaki hitam. Bagi saya menggunakan pakaian hitam putih ke kantor tidak seperti biasa itu adalah tantangan, terlebih memasuki area kantor seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak enak sama security kantor. Mereka selalu galak bagi mereka yang berpakaian hitam putih dikarenakan mereka yang berpakaian hitam putih adalah para pramuniaga dan kasir.

Review "Kebahagiaan Yang KuTahu" -Datuk Stella Chin-

Kamis, 20 Oktober 2016


Judul buku    : Kebahagiaan Yang Kutahu
Penulis : Datuk Stella Chin
Penyelaras Akhir : Leo Paramadita
Penyunting    : Saptono Raharjo
Penerbit        : Bhuana Ilmu Populer (BIP)
ISBN           : 978-602-394-231-2
Cetakan pertama,  2016
208 halaman


  Blurb :
"Kisah seorang wanita yang ditulis secara tulus untuk menunjukan bahwa semua wanita berhak untuk bahagia. 
Stella Chin adalah pendiri StarLadies, organisasi pengembangan diri kaum wanita. Pada 2012, dia mendapat penganugerahan gelar Datuk di negara Malaysia, sebuah gelar kehormatan yang ditujukan kepada individu yang dianggap berkontribusi besar bagi bangsa dan negara. Uniknya, gelar ini biasa diberikan kepada kaum pria. Hanya sedikit wanita yang pernah memperolehnya.  
Lahir dari keluarga miskin, Stella Chin telah menikah di usia muda dan memiliki anak ketika berumur 21 tahun. Diusia yang masih belia, Stella sempat dua kali menghadapi ujian berat saat membangun bisnisnya. Semuanya dapat dilalui dengan gemilang berkat pola pengelolaan diri yang hebat.
Prestasi ini mengantar Stella memenangkan penghargaan Hua Guan sebagai Top Ten Outstanding World Chinese Business Women, America Stevie Award-Women in Business dan banyak penghargaan lainnya. Kini, Stella dipandang sebagai ikon wanita bisnis yang sukses di Asia.  
Tanpa bimbingan siapapun, Stella berjuang menemukan sendiri pola untuk menyeimbangkan antara pengelolaan diri, karier, hubungan pribadi dan keluarga. Stella mengamati  banyak permasalahan sosial didalangi oleh kondisi yang ada dalam keluarga. Atas dasar pengamatan ini, dia memutuskan untuk membangun organisasi pengembangan diri khusus wanita, yaitu StarLAdies. Stella mendorong para wanita muda menemukan empat kunci utama untuk mencapai kehidupan yang bahagia. Keempat kunci tersebut adalah Success (Kesuksesan), Transformation (Transformasi), Achievement (Pencapaian), dan Recognition (Penghargaan). Keempatnya akan membawa kita menuju pemahaman atas makna hidup yang sebenarnya. 
Kebahagiaan Yang Kutahu merupakan saripati dari pengalaman hidup Stella Chin. Semoga melalui buku ini, semakin banyak wanita yang terinspirasi untuk dapat mengelola hidup dengan cara yang lebih mudah, menemukan konsep kebahagiaan yang hakiki, dan melakukan transformasi diri menuju masa depan yang cerah. Karena Anda pasti bisa menjadi wanita hebat tanpa kehilangan pesona kewanitaan Anda!"

*** 
Buku ini saya dapatkan sengaja membeli karena penasaran dengan gelar "Datuk" yang diperoleh Stella Chin. Selain tentunya hadiah yang menggiurkan dengan menuliskan review buku ini xixixi. Apabila melihat secara fisik cover buku yang ditampilkan dengan foto Stella dan sedikit warna pink, tanpa harus membaca blurb saya yakin pembaca akan mengetahui bagaimana isi buku ini.  

Bicara Tentang Reward

Selasa, 18 Oktober 2016
Rasanya sebuah kompetisi dimanapun akan terasa hambar jika tidak ada reward yang bisa diberikan bagi peserta yang turut meramaikan kompetisi tersebut. Sebab reward sendiri merupakan salah satu motivasi bagi pesertanya untuk menampilkan maupun mengerahkan segala kemampuannya sebaik mungkin. Pada dasarnya memang kita akan selalu menyukai reward terlepas sedang mengikuti kompetisi atau bukan. Dan tentunya saya pribadi termasuk salah satu penggemar atas reward apapun yang dilimpahkan karena achievement yang saya capai. 

 Tidak ada yang membanggakan ketika sebuah reward kita dapatkan karena usaha yang telah kita lakukan. Namun tentunya usaha yang positif ya karena akan hadir kepuasaan berbeda dengan usaha yang menghalalkan cara-cara ga sesuai dan selaras sama koridor aturan tentunya penyesalan yang hadir bukan kepuasaan. Tapi itu semua tergantung dari pribadi masing-masing, indikator puas dan tidak puas akan memiliki kadar yang berbeda-beda.

Saya yakin kita semua mendambakan satu reward dari usaha yang maksimal. Beda gitu rasanya bener-bener puas. Bicara melulu reward saya teringat akan satu film yang menurut saya bagus sekali isi ceritanya. Sebuah film kartun berjudul "Wreck It Ralph". Berkisah tentang kehidupan dalam game. Ralph yang berperan sebagai penjahat dalam game "Fix It- Felix" memiliki tubuh dan tangan besar yang bertugas menghancurkan gedung begitu seterusnya permainan akan terhenti jika Felix bisa memperbaiki semua kehancurannya lalu diakhir games Felix mendapatkan medali. Sedangkan Ralph di buang dari atas gedung. Ralph merasa ia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil oleh teman-temannya di games tersebut dan Ralph merasa jenuh untuk menjadi penjahat. Ia menginginkan sebuah medali seperti yang selalu Felix dapatkan agar semua teman-temannya bisa menghargainya.

Terlebih ketika perayaan ultah games tersebut Ralph sama sekali tidak diundang padahal ia menjadi core personal dalam games tersebut. Salah seorang temannya melabelinya jika Ralph hanya seorang Penjahat. Perkataan tersebut sontak membuat Ralph tersinggung hingga akhirnya memutuskan pergi dari games tersebut. Dan ia akhirnya menyelinap ke games peperangan setelah ia melihat sebuah Medali pada salah seorang prajurit yang ia temui. 


Menghadapi Si "Pengeluh"

Rabu, 12 Oktober 2016

Kapan sebaiknya ngeluh?menurut saya pribadi itu adalah saat anda bulak balik toilet tak henti, saat anda demam ga turun-turun, saat kepala meriang dan badan pusing, saat perut tak bisa kompromi, saat gigi berdering nyut-nyutan maka silahkan datang ke dokter mangga aduin keluhan penyakit anda sesuka hati. 

Keluhan anda pasti ditanggapi oleh dokter dan diberikan obat yang manjur. Kalau sudah minum obat dan atas izin Alloh selesailah sudah penyakitnya. Coba keluhan anda diatas anda keluhkan ke tukang bangunan bukannya sembuh malah di semen bikin tambah drop bukan?harapannya sembuh malah sakit berkelanjutan jika kita salah mengadukan keluhan.

Itu adalah analogi yang saya fikirkan terkait dengan keluhan. Sama dengan hidup pasti ga akan selancar tol Cipali ada aja yang bergerinjul, maka dari itu ya sudah jalanin yang sudah anda pilih tinggal usahain saja biar jalan menuju kebaikannya mulus semulus pahanya Anya Geraldine *Eh nyambung aja kesini :p

Jujur saya pribadi paling ga suka dengerin orang yang ngeluh all day long. Nambahin sampah fikiran kalau didengerin apalagi kalau sampai dibaperin. Makanya saya lebih suka diam saja lalu hempaskan segala macam keluhan orang ke Benua lain. Alasannya sederhana saja meski tak sesederhana rumah makan di depan kantor, karena saya ga mau puyeng gegara mikirin hal yang ga penting doank.

Hindari Proses Recruitment Berbayar

Kamis, 06 Oktober 2016
Bekerja tentunya menjadi tujuan utama bagi sebagian orang yang memang menginginkan karier meningkat ketika bergabung dalam suatu perusahaan.

Mereka para pencari kerja tentunya akan berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan mereka di perusahaan. Ada yang berusaha setengah mati ingin lolos tes dengan gigih terus menerus melamar dan ikut psikotes walau hasilnya belum bisa bergabung.

Saat ini banyak sekali beredar di toko buku soal-soal psikotes bahkan sempat saya melihat di salah satu web menjual alat tes dengan harga semurce-murcenya lengkap dengan kunci jawaban (pliz jangan di searching).

Untuk menguasai alat tes dan penggunaannya saja saya harus menempuh dan bersusah payah prakteknya di kampus dulu. Tetapi sekarang dengan kelincahan jari, sudah bisa menemukan kemudahan mengenai alat tes tersebut.

Saya tahu mencari kerja itu tak semudah membalikan tempe di wajan. Ada saja kendala yang dihadapi atau dilema tertentu tapi kalau kitanya mau berusaha dan bisa menciptakan peluang saya rasa kendala itu bisa terhempas dengan mudah.

Jangan mengecilkan diri sebelum memaksimalkan usaha apalagi menyepelekan takdir Alloh saking berputus asa karena kegagalan yang dialami.

Baca Lagi : Susahkah Mendapatkan Pekerjaan?

hindari pns berbayar

Selalu ada jalan menuju target yang ingin kita capai. Akan tetapi balik ke diri kita sendiri jalan itu bisa jadi boomerang bagi kita.

Seperti membeli alat tes yang beredar di Internet okelah itu bagian usaha kita tapi saya rasa sama saja membohongi kemampuan kita sendiri.

Saya pernah ditawari untuk masuk bisa gabung berstatuskan pegawai negeri oleh seseorang cukup dengan membayar sejumlah uang yang funtastis bombastis bagi saya.

Apakah saya lantas menyetujuinya?tentu tidak, hati nurani bicara bahwa itu cara yang salah.

Tips Agar Tetap Sehat Sebagai Ibu Bekerja

Minggu, 02 Oktober 2016
Terlahir sebagai seorang perempuan pastilah akan menghadapi dilema dalam hidupnya antara pekerjaan atau keluarga. Sudah menjadi alasan umum dimanapun tempat bekerja ketika seorang perempuan resign dengan alasan fokus berkeluarga. Saya sebagai ibu bekerja yang berada dalam ranah HRD tentunya sangat memaklumi kondisi mereka para ibu yang resign mendadak tidak sesuai aturan, yang izin masuknya melebihi hari kerjanya, yang cutinya minus tiap tahunnya, yang memohon maaf menyerahkan pekerjaannya kepada orang lain karena anaknya sakit, yang setiap hari mengeluh karena pekerjaan rumah tangga tak terselesaikan, yang akhirnya menangis di kantor karena kehilangan pengasuh.

Kondisi ini sudah sering bahkan menjadi makanan utama bagi seorang HRD menyikapi ibu bekerja. Tak munafik saya pun ternyata termasuk golongan emak-emak galau di kantor kalau kondisi di rumah tidak sesuai harapan dan rencana. Saya sangat merasakan kondisi menjadi ibu bekerja tidaklah mudah. Tapi please jangan memberikan solusi "ya sudah resign aja" disertai dengan segudang opini yang memojokkan bahkan menusuk kalbu kami seorang ibu bekerja.


Ada banyak alasan yang tidak perlu di sharing ke media mengapa masih ada ibu bekerja. Semuanya sudah menjadi pilihan masing-masing dan siap menangung setiap konsekuensinya tersebut. War opini di medsos mengenai Ibu Bekerja Vs Ibu Yang Memilih full time di rumah masih saja beredar. Tak ayal ada yang baper hingga memutuskan tali kasih pertemanan hanya karena berbeda mindset, beda cara berfikir, beda keputusan mengenai hal ini. 

Auto Post Signature

Auto Post  Signature