Saturday, August 13, 2016

Sebuah Teguran

Adakalanya ketika kita membuat satu kesalahan barangkali ada orang lain yang peduli untuk menegur sebagai reminder untuk kita jangan sampai melakukan kesalahan lagi. Tapi sayangnya teguran tak pernah berujung manis jika yang menegur salah dalam pendekatan cara menegurnya. Yang terjadi justru konflik yang meruncing bukan memperbaiki kesalahan yang ada.

Kebanyakan dari kita lebih banyak menegur dengan fokus pada kesalahannya tanpa mengetahui terlebih dahulu sebab musabab mengapa orang lain berbuat seperti itu melakukan suatu kesalahan. Kadang pula kita melupakan situasi dan kondisi orang yang kita tegur. Balik lagi pasti bukannya menyelesaikan masalah tetapi memperburuk keadaan.
Ada yang bisa menyadari kesalahannya dan banyak pula yang tidak menyadarinya. Ego masing-masing yang mengendalikan rasa bersalah. Tidak mudah memang ketika ingin mengakui satu kesalahan. Lidah terasa kelu dan begitu sulit untuk mengakui kesalahan. Saya pun sama seperti itu, kadang saya merasa paling benar sehingga kena teguran menjadikan saya bukan merasa bersalah namun menganggap orang lain yang menegur itu sok tau. xixixi


Anak saya usia 3 tahun, jika dia berbuat salah dia belum bisa mengakui kesalahannya. Disini yang saya pahami anak kecil masih belum menyadari bahwa misalnya jalur A adalah sesuatu yang benar atau salah sehingga sulit membedakan. Saya tanyakan apa kesalahannya yang keluar hanyalah reflek permohonan maaf atau pura-pura tak melakukan kesalahan.

Tentunya berbeda cara menegur saya kepada anak, misalnya kejadian baru-baru ini anak saya ngompol di kasur. Reflek saya kaget dan jangan ditanya pasti kesel berujung marah. Lumrah bagi setiap orang reaksi refleknya kalau ga kaget, marah. Lalu setelah cooling down karena saya katarsis dengan mengganti sprei akhirnya energi marah saya hilang untuk beresin kasur yang basah. 

Selanjutnya saya panggil anak saya untuk bicara. Dia berulang kali bilang "maafin y bun qu ga sengaja" sambil nunduk. Bagi saya sebagai ibu stock maaf untuk anak pasti tersedia apalagi dia baru belajar mengenai true or false dalam kesehariannya. Lalu saya balik tanya apakah Neyna tau kesalahan Neyna? anak saya geleng-geleng kepala. Yang saya pahami dia sedih karena menyesal membuat saya kesal.

Saya jabarin akan 3 kesalahan yang telah dia lakukan :
1. sudah ngompol di kasur
2. ngompolnya di celana
3. tidak pernah mendengarkan nasehat 

Ketiga kesalahan itu saya tujukan dengan reasoning tentunya, saya jabarkan jika pipis itu harusnya dimana?dia bilang toilet. Saya tanyakan apa sebabnya sampe ngompol lagi di kasur?lagi-lagi anak saya menjawab maafin qu bun qu ga sengaja *pasang muka melas*. Saya hampir ketawa padahal lagi serius. Ujung dari pembicaraan tersebut membuat dia berjanji untuk tidak ulangi lagi dan bikin meleleh dia meluk saya sambil bilang terimakasih.

Ini yang bisa saya pelajari, bagi orang dewasa tak mungkin memberikan reaksi yang sama seperti anak-anak. Ditanya kesalahan tentunya sudah mampu menjawab tapi sayangnya kebanyakan menggunakan jurus defence. Mungkin juga cara yang salah dalam memberikan teguran kepada orang lain. Karena seperti yang saya ulas sebelumnya kita kebanyakan fokus pada kesalahan tanpa menggali terlebih dahulu historynya.


Belajar dari anak saya, ditegur ia minta maaf, ia mengucapkan terimakasih meskipun ia belum memahami akar kesalahannya. Mungkin berbeda dengan orang dewasa, butuh pendekatan khusus agar mereka mampu menyadari kesalahannya. Saya pernah ceritakan disini ketika saya meng-assessment seseorang berujung curhat. Sulit sekali saya menembus benteng defencenya harus menggunakan teknik membangun baru akhirnya saya bisa masuk ke ranah kekurangannya.

Teguran yang Alloh berikan pun sama kepada setiap manusia dengan berbagai macam bentuknya, hanya yang membedakan cara kita menangkap isyarat tersebut sehingga mampu membuka mata kita untuk segera bertobat dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Reaksi kita apakah kita menantang pemilik diri kita?marah kepada Alloh?atau bahkan cuek?jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Cukuplah mengingat setiap tingkah laku yang kita perbuat. Yang saya tahu setiap teguran yang datang merupakan tanda kasihNya kepada kita untuk tetap berada dalam koridor yang benar.

Demikian ulasan saya, menegur tak mesti harus menggunakan emosi, menegur perlu waktu yang tepat, jangan selalu fokus sama kesalahannya tapi mengkorek dulu alasannya, hingga di akhirnya sama-sama berkomitmen untuk perbaikan diri.



61 comments:

  1. Hhaa jadi anak nya ngompol di celana dan di kasur ya bun, awas negur nya jangan terlalu kasar ya kasihan karena pasti dia melakukan nya dengan tidak sengaja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan di atas saya ulas setelah saya katarsis memindahkan energi marahnya ke aktifitas beresin seprei barulah saya tegur. Makanya melihat dulu situasi emosi si penegurnya jangan sampe menyakiti orang yang ditegur :).

      Delete
  2. Yang nggak ngenakin itu memang, orang yang menegur saya di hadapan orang banyak, dengan intonasi yang lebih menghakimi dan menghina.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baiknya memang klo ingin menegur adalah face to face jika didpn org bnyk bkn menegur tp menjatuhkan y mba :)

      Delete
  3. Setuju banget! Kadang yang negur juga udah yang nyalahin duluan sih. Kalau negur orang, saya biasanya nanya dulu. Ini kok gini ya? Nah, biasanya dari situ terbuka diskusi sih.

    Ah, kadang kita memang perlu belajar dari anak-anak kita soal ketulusan hati :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba anak2 adalah cermin ketulusan :) makasih mba uda mau berkunjung ^^

      Delete
  4. biasanya banyak orang dewasa yang ditegur malah marah balik. ujung2nya yg ditegur lebih galak daripada yang negur...serem

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba karena sudah kebentuk defence hahaha..

      Delete
  5. Soal ego itu ya, org dewasa kalau lagi kuat2an ego yg ada masalah gak kelar2
    Jd malu sama anak kecil ya mbak...
    Moga2 bisa lha mengatur ego ini
    TFS :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 mba :)
      terimakasih sudah berkunjung

      Delete
  6. Perlu seninya emang tegur menegur ini ya. Agar kita ga berasa menghakimi juga yang ditegur ga tersinggung. Kalau udah dekat bisa ngomong pelan2 dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba ada seninya, apalagi kalau orang yang ga di kenal misal di jalan nemuin yang salah wajib di tegur nah seni menegur yang dibutuhkan biar sama2 enak :)

      Delete
  7. Memang benar ya, permasalahan teguran pada kesalahan itu harus memahami tekniknya. Bahkan dalam Islam sendiri pun, kalau menegur untuk kebaikan diusahakan tidak menyakiti, nah ini yang berat ya. Kadang maksud baik, ternyata perkataannya kurang sesuai, jadinya justru salah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mb alih2 ingin berbuat baik malah berujung konflik. Makanya disarankan jgn didpn org bnyk, memulai tnp fokus lgsg kesalahannya shg yg ditegur pun tak sungkan untuk menydari sampe akhirnya berkomit u/ tdk mengulangi lagi :)

      Delete
  8. menegur bercampur dengan kemarahan, cara terbaik adalah menunda. Ini yang biasa saya terapkan. Karena yg ditegur tidak akan mencerna nasehat kita cuma akan mengambil kemarahan kita yang biasanya dia akan marah balik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mba, emosi hanya membuat luka dibanding saat kita sudah reda dan menggunakan logika :)

      Delete
  9. Ya, menegur saat situasi dan kondisi tidak konfusif malah membuat yg ditegur menjauh. Pdhal maksud kita baik. Harus belajar menegur di saat yg tepat, nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mba, sama saya juga sedang belajar dan terus belajar :)

      Delete
  10. ga kebaayang wajah si dedeknya pas dikirain bundanya marah tapi malah nahan ketawa hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. mukanya uda mirip kucing si shrek mba :p

      Delete
  11. Saya masih mengelola emosi ini nahan-nahan nggak mempermalukan anak di depan umum, soalnya anak saya pecicilan bangeeeeeet... *Sabar--sabar*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar mba coba dengan strategi lain dalam bernego dengan anaknya :) semoga stock sabarnya ga tipis y mba ^^

      Delete
  12. Kalau aku habis marah sama anakku gitu rasanya menyesaaall banget, dan pasti tak kan terlewatkan aku akan minta maaf sama si kecil dan berusaha sharing dengannya mengapa tadi ibunya marah bla bla...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama kadang suka kasian melas liat mukanya yang unyu jadi sedih hahhaa

      Delete
  13. Apalagi bulan puasa ya bun, emosi kudu dijaga banget dalam mengurus anak-anak :-D Semangat selalu bun. Meski saya juga membayangkan wajah si adek memelas hahahah geli

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba bener hehehe aku klo bln puasa gini banyakin diem aja ntar pas buka langsung bla..bla..bla :D

      Delete
  14. panjang ya proses ngajarin anak utk menerima teguran dan memperbaiki kesalahan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. biar anak tahu kesalahannya memang ada prosesnya mba ketibang kita ngomel ga jelas tp anak ttp ga mudeng salahnya apa?hehehe

      Delete
  15. Tapi mbak emang bagusnya lebih baik sih ya mba ditegur kalau salah asal calm aja mba jangan pake emosi.. yang penting dia ud mulai tau mana yang salah dan yang bener. Karena jika dibiarin kita gakan tau dia tau kalau itu salah atau rngaknya

    ReplyDelete
  16. setuju.. teguran tak harus emosi. tapi aku masih susah prakteknya nih hihihi.. Btw templatenya cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi mba :) yuk kita praktekin ala biasa jadi bisa :)

      Delete
  17. Itu jadinya cuma 2 kesalahannya karena no 1 & 2 bisa digabung..kalau ngompol pasti di celana hehe... Anak saya masih ngompol setidaknya sampai umur 7 tahun karena kondisi tertentu, misalnya udara dingin atau setelah nonton film horor jadi mimpi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulilah anakku sudah ga ngompol lagi mba belum 4 tahun karena memang targetku jangan sampe nanti gedenya malu hahaha

      Delete
  18. Kudu sabar memang ya Mbak

    Btw btw, kadang menegur aku masih pake emosi hikss

    ReplyDelete
  19. Bundanya bijak banget...kadang kita marah2 lebih dulu ya mbak :)...

    ReplyDelete
  20. Pas banget mbak, aku lagi mengajari toilet training ke anakku. Jadi ibu memang harus sabar ya mbak, karena menegur anak-anak itu ada caranya sendiri. Aku kayaknya butuh katarsis nih :).

    Kalau negur orang dewasa tantangannya takut orang ybs sakit hati, menegur anak-anak beda lagi. Mengerti kalau sedang ditegurpun tidak, lebih ke memberikan penjelasan supaya mereka menyadari kesalahannya.
    Makasih mbak buat sharingnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mba makasi udah mampir kembali :)

      Delete
  21. Sama Bun, Erysha juga kalau suka mukul bundanya. Sudah mau minta maaf trus meluk bundanya. Udah gitu rasanya saya langsung meleleh hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kan belajar dari anak y mba mereka sll berpositif :)

      Delete
  22. Orang yang ditegur tekadang malah sakit hati. Padahal si penegur hanya ingin memberikan masukan misalnya. Susah juga kalau ada yang seperti ini. Cara negurnya aja kali harus diperbaiki. Begitu juga dg yang ditegur jgn apa2 langsung baper hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu dia mba makanya cara negur kita yang mungkin disiasati

      Delete
  23. suka banget tulisan bunda nameera pasti bijak banget deh, thanks yaa bisa untuk saya belajar mendidik anak tentang salah dan minta maaf :D

    ReplyDelete
  24. Nice sharing, mba.. aku juga melakukan hal yang serupa dengan si Abang waktu kecil. Akhirnya skrg jadi anak yg kritis. Selalu aja ada jawaban yg menurut kita logis tapi bikin kesel, mba.. hahaha.. mak ga sabaran. Karena defend dia. Tapi masuk akal loh..

    Skrg aku mengajarkan empati saat menegur dia. Dengan memposisikan dia di pihak yg dia bikin kesel.

    ReplyDelete
  25. Betul banget itu mbak. Saya juga setuju. Banyak hal juga yang bisa kita jadikan contoh. Berproses semoga menjadi lebih baik. Baik jadi sng penegur ataupun yang sudh ditegur 😁😁

    ReplyDelete
  26. Begitulah kehidupan mba. Gajah di pelupuk mata tak nampak sedang kuman di seberang lautan nampak.

    ReplyDelete
  27. iya, menegur memang perlu waktu yang tepat. kalo ga tepat malah jadi salah faham..

    ReplyDelete
  28. Semakin bertambah umur semakin pula belajar, kalau apa yang dilakukan anak-anak itu lebih mulia ketimbang kita yang lebih dewasa. Coba kalau yang melakukan kesalahan yang dewasa gini, pasti kebanyakan ngelak atau ngeles, dan bahkan ada yang g terima.

    ReplyDelete
  29. Suamiku cerita bahwa keponakan dia biar gak ngompol pusernya ditempeli capung...tapi jaman sekarang susah ya nyari capungnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha dulu aku gitu mba ga ngaruh aku ttp ngompol :p

      Delete
  30. Aku lagi ajarin keponakan biar dia bilang Maaf dan Terima kasih dan itu juga ngajarin aku sendiri biar tdk lupa ngucapin itu

    ReplyDelete
  31. saya mah skrg udah tuir mbak... hahahah... (siapa yg nanya). maksudnya udah capek bantah2an... udah kl memang salah biasanya saya ngaku aja dan minta maaf. Kecuali kl memang bukan salah saya ya... :)

    ReplyDelete
  32. teruguran bukan kita tak peduli malah kita pengen dia jadi lebih baik,,kan membantu dia juga.

    ReplyDelete

Selesai baca yuk tinggalin jejak komennya ^^
Haturnuhun

 

Bunda Nameera's Blog Template by Ipietoon Cute Blog Design