Dari Lovers Jadi Haters

Selasa, 30 Agustus 2016
Membuka diri di sosial media tentunya sudah siap dengan segala resikonya baik pujian maupun hinaan, dari sanjungan hingga nyinyiran, dari menyukai hingga membenci. Jangan salahkan bunda mengandung orang lain atau siapapun ketika orang lain yang tadinya menyukai menjadi membenci. Mungkin saja ada hal yang kita lakukan tidak sesuai dengan norma yang ada.

Melihat maraknya saat ini kelompok pembenci lebih ekstrim mengibarkan sayapnya di media sosial. Liat postingan dan komennya masyaAlloh bikin merinding. Sebegitukah membenci seseorang?. Berbeda pandangan dan pendapat menurut saya itu wajar, tetapi jika sudah ekstrim sekali kayaknya udah ga wajar deh. 

Saya contohkan kasus selebriti, ada yang memiliki haters terbanyak se-Indonesia raya, kalau saya kasian iya sama seleb itu karena apapun pasti dinyinyirin, sebel siy iya lihat perilakunya. Ya saya siy ga munafik untuk tidak menyukai seseorang karena perilakunya yang abnormal di lingkungan masyarakat. Tetapi juga saya ga berlebihan untuk membenci hingga menghina atau apapun. Sayang sekali respon yang seringkali saya temukan berbeda.

Ternyata lovers & haters ini tidak hanya di dunia maya saja. Di kehidupan nyata pun seringkali saya temukan. Jika ditanya apakah saya pernah masuk kategori haters?tentu saja pernah tetapi bagi saya yang akhirnya sadar setelah sekian lama pingsan termakan segala omongan maupun postingan yang disebarkan membuat saya berfikir aih ngapain juga siy saya benci ke dia. Bodo nanan si A mau ngapain juga tentunya dia punya alasan sendiri untuk lakuin itu semua. Akhirnya berubah deh jadi netral lagi.

Pertimbangan Dalam Memilih Tempat Kerja Yang Sesuai

Kamis, 25 Agustus 2016
Banyak dari “Jobseeker” yang “asal-asalan” bahkan kesulitan dalam memilih perusahaan yang hendak dilamar. Sama halnya ketika siswa yang baru lulus sekolah kemudian memilih jurusan dan perguruan tingginya. Biasanya mereka akan mengikuti teman-teman satu kelompoknya dalam memilih perguruan tinggi dan jurusan. Lalu apakah sama dengan para “jobseeker” yang akan mengikuti teman kelompoknya?dunia kerja akan berbeda dengan dunia ketika kuliah, disini akan terjadi persaingan dan belum tentu teman kelompok kita akan mudah berbagi informasi untuk memberikan pekerjaan kepada temannya meskipun adalah sahabatnya sendiri.

Memasuki gerbang baru ketika sudah lulus kuliah, tentunya ada banyak tuntutan-tuntutan yang diajukan baik dari keluarga bahkan pacar atau siapapun yang dekat. Karena itu biasanya “jobseeker” akan memilih perusahaan yang cepat menerima ia sebagai karyawan. Tidak peduli dengan background perusahaan, jenis perusahaan dan lain-lain. Hal ini terkait pula dengan gengsi serta gelar pengangguran yang tidak ingin lama-lama dimiliki oleh para “jobseeker”. 

Jika menjadi seorang Fresh Graduated maka hal yang perlu difikirkan pertama kali tentang melamar kepada suatu perusahaan adalah prioritas yang ingin dicapai ketika bekerja, apakah memang ingin bekerja karena tidak ingin disebut sebagai seorang pengganguran, atau karena hanya ingin mengisi waktu luang, atau ingin mengejar karier, atau  ingin prioritas salary yang besar.  

Mengapa Harus Berambisi?

Sabtu, 20 Agustus 2016
Dalam KBBI, berambisi memiliki pengertian berkeinginan keras dalam mencapai sesuatu. Saya yakin semua orang pasti berambisi tidak mungkin tidak memiliki satu goals dalam hidupnya. Adakalanya dengan menetapkan goals itu bisa memotivasi diri untuk terus stabil dalam berusaha. Jika sudah kendor semangatnya maka cukup mengingat goals lantas kita mampu bangkit. 

Namun yang saya ingin bahas kali ini adalah mereka yang berambisi tetapi akhirnya meresahkan dan memberikan tekanan kepada orang lain. Saya ga berani nyebut mereka berambisi negatif tetapi mungkin cara mereka yang salah dalam menyertakan orang lain untuk turut serta dalam mencapai goalnya.

Based on true sory maka saya coba untuk share disini, fenomenanya masih berbau dunia kerja bukan dunia lain atau dunia anak. Kenapa?jawabannya karena memang saya ada dalam lingkup dunia kerja terlebih kecemplung di "People" hehehe. Berbicara people maka ada saja yang berbeda karena teori yang selalu saya pelajari saat kuliah berulang kali menyebutkan jika individu itu unik.

Bisa Karena Biasa

Kamis, 18 Agustus 2016
Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita di hadapkan dengan sebuah tugas yang baru, tantangan yang baru, rutinitas yang baru membutuhkan keahlian, kecakapan dan utamanya kemampuan dalam menyelesaikan segala sesuatunya dengan baik. Namun sayangnya reflek kita akan menyerah terlebih dahulu, belum dicoba sudah berkata itu susah, belum di kerjakan sudah bilang ga bisa. Mindset kita sendiri, reflek kita sendiri yang akhirnya mematahkan usaha kita sendiri.

Salah satu contoh misalnya Anda di minta untuk menuliskan nama dengan menggunakan tangan yang tidak biasa menulis. Bagi mereka yang selalu menggunakan tangan kanan maka tangan kiri yang menuliskan dan sebaliknya. Bagaimana respon dari pengerjaan tugas sederhana tersebut?rata-rata ketika ditanyakan maka rangkuman jawabannya sebagai berikut :
1.  Ada yang menjawab Susah
2.  Bisa tapi jelek
3. Ga rapih
4. Rumit
5. De El El

Rata-rata memberikan respon negatif bukan?seperti kata susah, rumit, jelek. Padahal yang di minta adalah bisakah kita menulis dengan menggunakan tangan yang tidak biasa untuk menulis. Maka seharusnya jawabannya adalah BISA. Kalaupun di akhir jawaban bisa ada embel-embel juga. Sebenarnya kita bisa untuk mengerjakan sayangnya selalu terpatahkan oleh reflek kita dengan bilang susah, ga bisa dan lain sebagainya.

Sebuah Teguran

Sabtu, 13 Agustus 2016
Adakalanya ketika kita membuat satu kesalahan barangkali ada orang lain yang peduli untuk menegur sebagai reminder untuk kita jangan sampai melakukan kesalahan lagi. Tapi sayangnya teguran tak pernah berujung manis jika yang menegur salah dalam pendekatan cara menegurnya. Yang terjadi justru konflik yang meruncing bukan memperbaiki kesalahan yang ada.

Kebanyakan dari kita lebih banyak menegur dengan fokus pada kesalahannya tanpa mengetahui terlebih dahulu sebab musabab mengapa orang lain berbuat seperti itu melakukan suatu kesalahan. Kadang pula kita melupakan situasi dan kondisi orang yang kita tegur. Balik lagi pasti bukannya menyelesaikan masalah tetapi memperburuk keadaan.
Ada yang bisa menyadari kesalahannya dan banyak pula yang tidak menyadarinya. Ego masing-masing yang mengendalikan rasa bersalah. Tidak mudah memang ketika ingin mengakui satu kesalahan. Lidah terasa kelu dan begitu sulit untuk mengakui kesalahan. Saya pun sama seperti itu, kadang saya merasa paling benar sehingga kena teguran menjadikan saya bukan merasa bersalah namun menganggap orang lain yang menegur itu sok tau. xixixi

Atas Nama Silaturahmi

Selasa, 09 Agustus 2016
Silaturahmi memang di anjurkan sebagai upaya dalam menjaga dan membina hubungan baik dengan orang lain. Namun tidak di anjurkan berdalih silaturahmi untuk hubungan seorang pria dan wanita terlebih keduanya sudah berkeluarga. Tidak ada yang mengharapkan pasangannya mampu berbelok hati hanya demi hubungan semu dan nafsu sesaat.

Media sosial memang menjadikan salah satu wadah bagi mereka yang sedang di landa asmara. Saya dan suami pun dulu kenalan lewat facebook namun berujung menikah *alhamdulilah. Namanya juga jomblowati dan jomblowan kala itu jadi ga masalah mau chat di messenger dari pagi sampe tengah malam. Tapi beda kasus jika mereka sudah punya pasangan lalu ber-chat ria di messenger tengah malam. Dalih silaturahmi di berikan rasanya ga make sense. 

Apa sih yang di harapkan dari chat tengah malam dengan pasangan yang bukan muhrim?bahas kerjaan?hellow emangnya ga ada waktu pagi?bahas anak?hellow emangnya ga punya sahabat atau saudara yang bisa menampung pertanyaan dan memberikan solusi atas permasalahannya? Kenapa mesti menjadikan hal-hal sepele untuk di kambing merahkan (karena hitam udah biasa).

Rasanya sangat di sayangkan ketika pasangan mencari teman ngobrol dengan orang lain di waktu yang harusnya tercurahkan untuk keluarga. Ini adalah bibit dari perselingkuhan, keretakan biduk rumah tangga mulai tercium dari pesan singkat berujung zina.

Pentingnya Untuk Mendengarkan..

Jumat, 05 Agustus 2016
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita tidak terlepas dengan adanya masalah maupun konflik yang timbul entah itu dengan keluarga, teman bahkan dengan atasan di lingkungan kerja. Setelah mendapatkan bekal training leadership dan membaca beberapa buku ternyata konflik berkepanjangan bisa disebabkan salah satunya kita tidak mampu mendengarkan dengan baik. 

Konteks mendengarkan disini adalah bagaimana kita memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memberikan penjelasan mengenai hal yang memicu terjadinya konflik tersebut. Adalah hal paling menyebalkan ketika kita sudah tersulut emosi untuk dengan tenang duduk manis mendengarkan penjelasan orang lain. Tak perlu tunjuk orang lain tetapi saya pastikan kita semua pernah untuk memilih pergi begitu saja ketika orang lain sedang berusaha menjelaskan duduk persoalan.

Memang tak mudah ketika amarah sedang melanda diri untuk tetap diam mendengarkan yang terjadi adalah kita terus memberendeng dan mengcounter setiap pernyataan yang keluar dari mulut orang lain sebagai upaya kita untuk defence. Hal lumrah kali y karena biasanya kita tidak mau kalah, tidak mau disalahkan.

Tidak hanya ketika konflik tetapi menurut saya mendengarkan orang lain ketika kita sedang berbicara kepada orang lain tentunya akan menumbuhkan trust untuk orang lain. Siapa siy yang kepengen curhat sama orang yang pas diajak ngomong malah sibuk sendiri, malah main HP, malah main games, malah cari pokemon ngeselin bukan?

Dae-Ho's Delivery Mengingatkan Kita Untuk Berani Jujur

Selasa, 02 Agustus 2016
Buku dengan judul Dae-Ho's Delivery ini saya dapatin karena menang giveaway-nya mba cantik berprofesi Penyiar di RRI Bintuhan *dadah-dadah ke Mba Intan*. Saya ga nyangka aza dari sekian banyak yang ikutan GA buku ini ternyata saya yang kepilih. Padahal sama sekali saya ga contact batin ke mba Intan apalagi mengintimidasi lewat twitter biar blio ambil ketas yang bertuliskan nama saya. Mungkin saya sudah berjodoh untuk saling mengenal dengan blio *apasih* :p.

Awal liat judulnya siy kok saya jadi males bacanya sampe akhirnya buku ini terhalang oleh beberapa buku yang baru saya beli untuk di baca. Maapkeun buku :(. Setelah beberapa buku yang dibeli saya lahap dengan kecepatan 100kata/menit *agak ngawur* akhirnya Dae-Ho's Delivery sudah ada di pangkuan saya.

Buka bab pertama, "OMG saya paling ga suka kalau nama tokohnya susah kayak gini apalagi berbau Korea *punten kepada semua emak-emak pecinta drakor maupun segala bentuk berbau Korea, saya agak alergi entah kenapa saya ga suka sama drakor atau K-Pop dan kawan-kawan, padahal emak yang lain begitu cocokologi sama yang namanya produk Korea*. Oke abaikan saja bagian ini takut di demo emak pecinta Korea.

Usaha kali pertama baca buku ini gagal setelah baca istilah maupun nama tokoh di awal yang sulit bikin pening kepala hehehe. Istilah seperti Eomma, Harabeoji, Ahjumma deelel bikin lidah keseleo :p. Akhirnya usaha kedua saya berhasil buat membaca dengan sukses buku ini meskipun di awal cuman bisa bolak-balik bukunya untuk saya cari daya tarik agar saya bertahan dengan buku ini. Hingga akhirnya saya memutuskan membaca profil penulisnya sekilas. Tersebutlah nama Pretty Angelia W. langsung saya cek twitternya dan buat saya tersepona sama penulisnya. *rempong kan padahal tinggal baca doang* :p

Ini kapan ceritanya?prolognya kelamaan hahaha. Oke saya akan mulai, Cerita buku ini mengisahkan Dae-Ho yang memilih kabur dari rumahnya kemudian memilih untuk tinggal sendiri. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di dapatlah pekerjaan sebagai tukang antar surat. Namun tidak seperti tukang antar surat biasanya di dalam buku ini justru luar biasa karena Dae-Ho selain harus mengantarkan surat kepada si penerimanya langsung, ia bertanggungjawab untuk memastikan penerima membaca surat bawaanya sehingga jobdesc ia bertambah yakni membacakan surat yang diantarnya. Hal ini merupakan aturan dari Boss-nya Hyun-Ki.

Auto Post Signature

Auto Post  Signature